
Leo menjalani beberapa pemeriksaan sebelum meninggalkan pintu tol, malam semakin larut, dua mobil yang menabraknya tidak kunjung tiba dipintu tol Jagorawi.
"Kemana mereka?" batin Leo masih memperhatikan badan jalan.
Paras masih menghubungi Berlin, Simon dan Maride.
Tentu semua keluarga panik atas kejadian yang baru menimpa anak menantunya. Dengan sigap Simon menunggu Leo dikediamannya Jagakarsa. Leo diizinkan pergi untuk memberikan laporan kepada pihak berwajib dengan bersedianya pihak tol memberikan laporan cctv jika dibutuhkan.
Mobil sport yang kokoh hanya mengalami kerusakan ringan dibagian belakang dan hantaman peluru di kaca depan.
Leo bergegas meninggalkan pintu tol, menuju kediamannya, "anjiiing, jika aku tahu siapa pelakunya, akan aku habisi mereka," batinnya melirik Paras yang masih tampak tenang, tapi hanya diam.
"Ndut kamu kenapa?" tanya Leo sedikit khawatir.
"Hmmm," Paras tersenyum, suasana gelap tidak memberikan penerangan bagi keduanya saat berada didalam mobil yang dibalut kaca film 75%.
Leo semakin panik, menyalakan lampu sen untuk menghentikan kendaraannya.
Benar saja, Paras mengalami luka tembak dibahunya, cucuran darah mengalir deras membasahi jok penumpang.
"Nduut, kamu terluka!" Panik Leo saat menyalakan lampu kecil untuk menerangi mereka.
"Ba ng sat! tenang yah Ndut, aku bawa kamu ke rumah sakit," ucap Leo semakin panik..
Siapa yang nggak panik, Paras yang tidak merasakan apa-apa tiba tiba harus terluka karena pantulan peluru menembus lengannya.
Leo menghubungi Simon, Berlin dan Baros. Agar menyusulnya ke rumah sakit swasta di daerah Jakarta Selatan. Tentu saat ini Paras harus ditangani dokter spesialis kandungan handal, Leo segera menghubungi Fredy, agar menyusul mereka dirumah sakit yang berbeda.
__ADS_1
"Ndut, bertahan sayang," ucap Leo.
Paras hanya tersenyum, tidak mampu berbicara, dia tidak ingin Leo semakin panik karena akan berdampak pada keselamatan mereka.
Setibanya dirumah sakit, Leo meminta pihak perawat menangani Paras segera karena kondisi kehamilannya. Tentu dengan gerak cepat pihak rumah sakit melakukan sesuai perintah Leonal.
"Bapak silahkan lunasi semua administrasi disana," tunjuk perawat pada sebuah meja tempat pembayaran.
"Tangani istri saya segera," tegas Leo sedikit menggeram.
Tidak ingin berdebat, perawat langsung memanggil pemilik rumah sakit yang ternyata adalah sahabat Maride.
Dokter Kevin, sahabat wanita gendut itu saat sama sama sekolah di Medan. Ternyata kini sudah menjadi pengusaha sukses sebagai pemilik rumah sakit didaerah Jakarta Selatan.
"Leonal!" sapa Dokter Kevin.
"Siapa yang tertembak? ada masalah apa keluarga kalian?" tanya Kevin penasaran.
Leo malas untuk menjelaskan, "nanti saya cerita Om, selamatkan istri saya Paras, karena dia tengah mengandung anak kembar kami," jelasnya pelan.
Dokter Kevin bergerak cepat, meminta para perawat dan anastesi mempersiapkan semua kebutuhan untuk operasi.
"Bagaimana darahnya? normal?" tanya Kevin pada perawat.
"Normal, tapi kondisi pasien masih shoock Dok," jelas perawat.
"Baik, segera bawa keruang operasi dan siapkan semua. Cari darah sesuai darah pasien, kita akan melakukan tindakan cepat, karena pasien mengandung," jelas Kevin.
__ADS_1
Perawat bergegas melakukan perintah Dokter Kevin segera membawa Paras keruang operasi.
"Leo, kalian pakai dokter kandungan siapa?" tanya Kevin agar tahu riwayat pasien.
"Kami pakai dokter Fredy yang praktek didaerah Lebak bulus, tidak begitu jauh dari sini dok," jelas Leo jujur.
"Sudah diberi tahu saat ini istri kamu ada disini?" tanya Kevin.
"Sudah Dok, Fredy sudah menuju rumah sakit," jelasnya tenang.
Kevin mengangguk, berlalu meninggalkan Leo untuk melakukan tindakan cepat agar janin didalam rahim Paras dapat diselamatkan.
Berlin dan Luqman datang dengan wajah panik. Simon datang bersama petugas kepolisian untuk meminta laporan Leo karena sudah diancam oleh orang yang tidak dikenal.
Baros dan Maride yang masih berada di Kalimantan, terpaksa pulang kembali, karena khawatir pada menantunya. Tentu saja ini kedua kalinya Maride dan Baros meninggalkan Kalimantan dengan cara tergesa gesa.
"Aduuuh Papi, rasa turun darah ku ke kaki. Babi itu Silutak anjing. Akan aku buat meninggal dia didalam penjara," celoteh Maride saat naik ke jet pribadi miliknya.
"Tenang, jangan menyumpah. Sekarang bagaimana cucu kita selamat, Paras juga selamat, semua selamat. Untung bahu yang kena, kalau kepala? matilah," jelas Baros.
Maride hanya komat kamit menahan sumpah serapahnya agar tidak keluar, karena akan menjadi bara api yang siap membakar gendang telinga Baros sepanjang penerbangan mereka.
Semoga Kak Paras tidak apa apa yah, 🤧
Panik, 🤬
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️