
Leo lebih dulu memasuki ruang meeting Kennedy dari Maride. Mereka memerankan sangat baik. Jika di kontrak produser, Kennedy lah pemenang Actor Award terbaik..
Leo menyalami Baros tanpa canggung, mencium dan memeluk tubuh kekar Baros. "Apa kabar Tuan?" Senyum Leo.
"Hmm!" Jawaban Baros dengan wajah kaku, ingin segera tertawa.
Leo memeluk Kennedy, memilih duduk disebelah Paras.
Paras menatap penuh curiga pada Leo, "Siapa dia? Kenapa dia sangat dekat dengan Tuan Baros dan Tuan Kennedy." Batin Paras.
Leo duduk meremas lembut paha sang direktur. "Sory lama!" Bisiknya menggeram.
"Hmm!" Paras memberi senyuman indah pada Leo.
"Kapan kau dari Australia Leo?" Tanya Kennedy berbasa basi.
"Hmm! 3 bulan lalu Uncle!" Senyum Leo berbohong.
"Kenapa kau tidak berkerja dengan ku? Aku akan memberi gaji lebih tinggi dari Baros memberimu!" Goda Kennedy menunggu reaksi Paras.
Paras ternganga, " siapa seeh Leo? Kok beraninya mereka menjanjikan gaji tinggi padanya!" Lagi-lagi Paras membatin.
"Hmm! Leonal sangat baik selama bergabung dengan kami Bang Kennedy!" Puji Paras tersenyum.
"Ya, iyala! Lulusan Australia!" Puji Maride pada putranya menaikkan turunkan kedua alisnya.
"Apakah kita akan makan saksang malam ini?" Tanya Kennedy menatap kearah Baros dan Leo.
Paras menelan salivanya, "aduuh, gue gimana kalau mereka makan saksang!" Paras menatap Leo minta jawaban yang lain.
Saat ini Paras seperti mati kutu, tidak berani untuk membentak ataupun keras pada Leo.
"Hmm! Jangan malam ini Uncle! Besok siang saja! Malam kita makan seafood." Jelas Leo.
"Oogh, oke! Aku setuju." Jawab Kennedy.
"Oya, Mba Paras! Document kita bisa segera di tanda tangani? Aku minta 10 unit di sediakan dalam waktu dekat. Aku tidak bisa lama disini, karena akan menyusul kekasih ku di Jakarta." Senyum Kennedy menatap Baros dan Maride.
Tentu Maride tak kuasa menahan lambenya untuk menggoda calon menantu, tapi tidak di depan Paras.
"Kenapa lah si gendut ini ikut! Jadi terasa sesak dada ku menahan lambeku!" Bisiknya pada Baros.
"Hmm!" Baros meminta menahan.
"Mana foto dan berkasnya Paras?" Tambah Kennedy, memanggil bagian legal melalui intercom agar mempersiapkan perjanjian, memberikan cek dengan nominal fantastis.
Airbus buatan Marcedes Bendz.
"Ini khusus area jalan tol Paras. Disini mana bisa kami menggunakannya." Jelas Kennedy.
__ADS_1
"Ini bagaimana Bang?" Tanya Paras kemudian mendekat.
"Yah, bolehlah! Siapkan! Aku tunggu." Tegas Kennedy.
"Baik bang." Jawab Paras lembut setelah menerima cek.
Bagian legal Kennedy menghampiri Paras keruangan, membawa Paras menuju ruangan lebih privasi, untuk menanda tangani perjanjian.
"Silahkan Mba Paras! Biar Leo disini! Popy akan menemani kamu! Saya ada sedikit urusan dengan Leo!" Ucap Kennedy dapat di pahami oleh Paras.
Paras menatap Leo, "aku sama Popy! Kamu disini yah!" Jelas Paras.
"Iya!" Senyum Leo menatap Paras dengan penuh pesona khayangan.
"Tuan, Ibu, saya permisi! Beresin project kita!" Senyum Paras menatap tunduk pada Baros dan Maride.
Maride hanya mengangguk tersenyum manis, begitu juga Baros.
Tentu Baros dan Maride sangat paham body language sang putra. Maride sudah tak tahan ingin menjambak bulu di wajah putranya.
Paras berlalu. Kennedy berusaha beramah tamah menemani hingga pintu, kemudian menutup pintu rapat dan menguncinya.
"Iiisgh! Kok kayak gitu kali kau lihat wajah si Paras? Pacarannya kalian? Kata kau tadi malam kau panjat Sintya! Pagi tadi kau panjat si Paras, Leo? Ndak Bapak, ndak anak terpesona sama Paras! Jijiknya aku Ken! Macam tak ada perempuan lain kayak kakak ni! Kau lihat lah Ken, body aku! **** kan! Kulit aku exotik!" Rungut Maride dihadapan ketiga pria itu.
"Iiighs, Mami suka kali dengan pikirannya!" Kesal Leo.
"Aaagh! Aku nggak terpesona! Dia yang terpesona sama aku." Jelas Leo.
"Sama aja itu Leo! Tu kan Pi! Betul ku cakapkan? Jatuh cintanya orang ini! Matilah kita Baros! Kalau punya menantu Paras, semakin tak bisalah kita makan saksang!" Kekeh Maride.
"Nggak Mi! Aku hanya mau rujuk sama Sintya!" Rundung Leo.
"Apaaa??? Sintya? Kau macam laki-laki lemah syahwat! Nggak ada cewek lain selain Sintya, Leo?" Tanya Baros.
"Aaagh, Papi! Aku mau di jodohkan karena aku punya perasaan! Masak aku mau mengalah hanya karena Paras? Please, biarkan aku bahagia! Aku udah dewasa Pi!" Mohon Leo.
"Jangan lah nak! Sintya itu anak Silutak, masak kita mau balik lagi sama mereka?" Baros menatap lemas wajah putranya.
"Hmmm, ck! Malas kali aku kalau kayak gini! Aku susul Paras ajalah ke ruang sebelah!" Rungut Leo.
Kennedy tertawa, menganggap Baros dan Maride terlalu mengatur kebahagiaan Leo. "Biarlah Kak, Bang! Mereka mau bahagia dulu!" Kekeh Kennedy mendukung keputusan Leo.
"Iya Uncle! Kami saling cinta, Sintya udah cerita sama aku! Kenapa dia tinggalin aku! Dia pun tak baik sama Papi Silutak! Dia aja sendirian di Jakarta!" Jelas Leo.
"Jadi Sintya tinggal sendiri dimana? Kau bawa dia pulang ke Bandung! Mamak siapkan kamar sepesial buat kalian! Biar cepat kalian punya anak! Pengen kali aku punya cucu Leo! Biar nggak si Baros aja mainan ku!" Tawa Maride mencubit pipi putranya.
"Di apartemen satu tower sama Paras, Mi! Beda lantai!" Jelas Leo.
"Hmmm! Hati-hati kau membagi burung perkutut mu itu! Jika ketahuan kau selingkuh atas bawah, aku bakar kau! Jangan buat malu keluarga dengan selingkuh. Kayak Silutak, banyak orang gosipin mereka! Nanti aku sibuk gosipin Silutak, rupanya anak aku dapat karma! Ini untung Papi kau aku ikat! Mungkin kalau aku bebaskan beeegh, udah beserak Leo dan Berlin di luar sana!" Tambahnya menatap sang suami.
__ADS_1
"Manalah pula aku mau selingkuh dari Mami! Kau wanita ku, paling cantik, paling bohai, paling pintar di ranjang!" Goda Baros pada Maride.
"Iighs Papi! Jangan buat aku kayak balon melayang layang di udara, habis tu kau pecahkan!" Rungut Maride menatap Baros.
Kennedy dan Leo terkekeh mendengar kedua Romeo and Juliet super duper asyik itu.
"Ke mana kita lagi Mami? Shooping kita ke Martin? Udah lama aku tidak memborong disana!" Kekeh Baros.
"Kalau belanja, beliin ****** aku yah Mi, sama baju kaos! Pake card aku aja!" Ucap Leo memberi cardnya pada Maride.
"Iiighs! Macam tak ada duit ku membelanjakan kau? Kau anak aku! Baju aja? Celana ndak? Oya, kau nginap dimana?" Tanya Maride menatap dalam mata Leo.
"Swiss-bell kak!" Jawab Kennedy santai.
"Ooogh, kami di Jatra! Nanti malam, kau kasih tau aja kita jumpa dimana! Aku mau ngedate dulu sama Papi! Kali aja jadi adik kau buat nemanin cucu ku!" Kekehnya.
Leo memeluk tubuh gemuk Maride, mengecup leher Maride penuh kerinduan.
"Iiighs, jangan kau cium pula susu aku! Cukup Baros aja yang ngelendot disini!" Tolaknya saat sang putra menyandarkan kepalanya ke dada miliknya.
"Siapa yang mau cium dada Mami! Dada Paras ada kok!" Goda Leo menatap Maride dan Baros.
"Terserah kau lah! Mau susu Paras, Sintya, Alondo, Alicia yang penting kau kasih aku menantu Cina, Korea, Jepang, bukan bule blesteran! Titik! Aku udah berusaha menerima Uncle Kennedy jadi menantu! Masak mau nerima Sintya! Habis lah keturunanku digarap bule!" Tegas Maride menggenggam tangan Baros.
"Kakak pergi sekarang?" Tanya Kennedy masih terkekeh.
"Iyalah! Ku tunggu kau melamar Berlin seminggu lagi! Kalau nggak datang kau, tinggal kolor lah kau Kennedy!" Maride membuka pintu ruang meeting berlalu keluar bersama Baros meninggalkan Leo.
Para pengawal mendekati, membawa Maride dan Baros memasuki lift meninggalkan perusahaan Kennedy.
Kennedy saling tatap dengan manik hezel Leo. "Kau mau kemana abang ipar?" Goda Kennedy pada Leo.
"Apalagi? Menggarap yang dekat lah Uncle!" Kekeh Leo.
"Ingat, jangan pakai hati! Ikutin apa kata Mami! Cari wajah oriental!" Tepuk Kennedy pada pundak Leo.
"Ini ni yang buat aku dilema Uncle! Nggak aku ikutkan, rasa berdosa hati ku! Ku ikutkan, rasa gila otak ku sama Mami!" Gerutu Leo.
"Ya udah! Kau kencani Paras! Kau nikahi Sintya! Kau bawa pulang anak toke depan kantor! Beres, bahagia hidup mu! 3 wanita mu!" Kekeh Kennedy memberi ide pada Leo.
"Boleh juga ide Uncle!" Tawa Leo mengangguk bodoh.
Hingga akhirnya Paras menyelesaikan kontrak kerja mereka, Leo menyusul Paras karena dia adalah secretaris. Saat selesai juga. Mereka merencanakan dinner bersama, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
_______________*****
Author masih malu-malu untuk mengeskplore adegan 21+ yah, karena masih fokus sama perjalanannya.
Read and wait... 🤭🤗
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️
__ADS_1