Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Tak ceria..


__ADS_3

Part ini bahasanya campur aduk readers, ada logat Maride dan Minang.


Tinggalkan comment jika tidak mengerti... terimakasih...🌹🙏


Leonal dan team akhirnya kembali lebih cepat, sesuai dengan jadwal yang di tentukan oleh pihak pabrik. Tentu Bendhard sangat kecewa, rencana akan jalan jalan batal karena kejadian malam itu.


Bendhard menepati janjinya memberikan syal dan beberapa coklat yang telah dia persiapkan sebagai tanda mata untuk sahabat barunya selama di Duetchland.


Pukul 14.00 waktu Jakarta Leo menginjakkan kaki di Jakarta, segera menuju kediaman mereka di Jagakarsa. Begitu dalam kerinduan Paras dan Leo pada baby four dan ingin mencurahkan perasaannya tentang Luna.


Yani dan Sinta di antar ke kosan mereka, sementara Berlin dan Luqman searah dengan Paras dan Leo di apartemen Kalibata.


Paras enggan banyak cerita, dia tidak mau tersenyum bahkan bercerita dengan Leo selama perjalanan membuat semua orang menjadi salah tingkah.


"Bu, nanti malam Mba Laura dan Willion datang ke rumah," jelas sopir Maride.


"Hmmmm,"


Paras memalingkan wajahnya, menikmati kemacetan selama perjalanan.


Saat mobil terparkir di depan rumah, Maride dan Kirai membawa serta baby four bersama menyambut Paras dan Leo dengan rona bahagia.


"Aaaaaagh," teriak Paras melihat baby four dengan wajah bahagia.


Leo menggendong Stela dan Steiner sementara Paras mengambil Stefan dan Stevie. Mereka sangat merindukan baby four.


Mereka masuk ke dalam rumah, membawa serta baby four ke kamarnya. Tentu Paras meminta Maid mempersiapkan makan siang untuknya dan Leo, karena memang mereka belum makan siang sama sekali.


Maride merasakan keanehan pada Paras, tapi enggan bertanya pada menantunya. Dia justru membiarkan Paras bermain bersama baby four dan menarik tangan Leonal membawa ke kamarnya.


Saat tiba di kamar Maride mendengar semua cerita Leonal tentang Paras dan Luna. Entah kenapa emosi Maride meledak ledak seperti tabung gas 12 kilogram.


"Dasar wanita rendah, maunya enak saja," geram Maride.


"Mi, biar Paras menyelesaikan dengan Amak dan Apaknya," jelas Leo.


"Tapi mana bisa kayak begitu Leo! kau nggak lihat wajah Paras kayak apa? udah macam pulut tepijak aku lihat, tidak ada keceriaan di wajahnya. Malah strees dia, karena kebusukan kakaknya. Padahal ni yah, Paras itu sudah banyak mengalah sama si Luna. Dia yang merayu Silutak! dia yang di belikan apartemen oleh Silutak, malah dia yang di serang habis habisan oleh Margareta di kantor kita kala itu. Ampe di jambaknya si Paras! tau kau Leonal?" geram Maride.


"Satu lagi yah Leo, mereka itu nggak tahu diri kalau Mamak bilang. Udah berapa juta Paras mengirimkan duit setiap bulan pada orang tuanya, tapi di manfaatkan oleh Luna. Kirai yang cerita sama aku, tau mu! syukur dia tidak di cerai oleh si Juan, kalau di campakkan, aku yakin manjat dinding lah perempuan angkuh itu. Aku rasa dia mau merebut kau dari Paras, kerat telinga ku kalau nggak percaya. Karena Kirai sangat menyanjung kau di hadapannya. Tentulah dia merasa tersaingi. Iiighs geramnya aku! untung nggak dekat aku dia begitu, kalau ada aku udah aku lipat 3 perempuan itu," racau Maride panjang lebar membuat Leo memijat pelan pelipisnya.


Leo sangat paham, jika Maride merepet akan memakan waktu 7 hari 7 malam.


"Udahlah Mi, aku ke kamar yah? main sama anak anak, udah rindu aku sama mereka," jelas Leo memilih berlalu.

__ADS_1


"Hmmmm jangan lupa makan, nanti mati pula kalian tak makan karena mikir si Luna,"


Maride mengingatkan.


Leo mengangguk berpapasan dengan Baros.


"Pi," sapa Leo.


"Hmmm kok pulang jalan jalan nggak happy?" tanya Baros memeluk putranya.


"Capek Pi, aku ke kamar yah?" izin Leo pada Baros.


Baros lah yang selanjutnya menjadi bulan bulanan Maride. Mendengar racaunya membuat Baros memijat tubuh gemuk istrinya penuh suka cita.


"Jalan jalan kita Mi? ketemu Berlin, Papi udah rindu sama anak gadis itu," ajak Baros.


"Apanya yang gadis? udah di panjat Luqman apa lagi yang gadis!" jelas Maride.


"Hmmmm setidaknya kita tidak mendengar Paras akan bercerita dengan Kirai dan Faisal. Pasti ada rasa sungkan. Sekalian kita kasih tau, Berlin kan sudah kita belikan rumah di deket sini, ngapain juga di apartemen Leo. Nggak enak kita," ucap Baros.


"Hmmmm yook lah, tapi Laura sama Will mau ke rumah? cemana?" tanya Maride.


"Papi udah share ke group Langhai, besok jam 10.00 rapat besar di kantor. Jadi semua cabang turun. Mau aku rolling dulu karyawan, biar semakin kompak mereka," jelas Baros.


"Lama lama di kamar nanti lain pula kepalamu sama tembem ku," kekeh Maride me lu mat kasar bibir Baros.


"Aaaaugh sakit Mami," geram Baros.


"Sakit tapi enak kan?" tawanya menggoda Baros.


Mereka berlalu menitip pesan pada Maid yang sangat sigap menjadi orang nomor satu di kediaman Leo.


Setelah melepas Maride, Maid menuju kamar Leonal.


Tok tok tok,


"Bu, makanan sudah siap," panggil Maid.


"Ya, Mba tolong panggilkan baby sitter. Minta mereka mandiin baby four yah? kami mau jalan jalan," jelas Paras.


"Baik Nyonya,"


Maid meminta semua baby sitter melakukan tugas mereka, atas perintah majikan.

__ADS_1


Leo masih di dalam kamar mandi melakukan ritualnya.


"Bowl makanan sudah siap," panggil Paras.


"Ya Ndut, sebentar lagi. 5 menit," jelas Leo, karena masih menjalin komunikasi dengan Juan suami Luna.


Paras mencari keberadaan Kirai dan Faisal yang tengah menikmati secangkir teh dan kue buatan Amaknya.


"Pak," sapa Paras mencium punggung tangan ayahnya.


"Gimana Luna?" tanya Kirai antusias.


"Hmmmm dia jahat masih sama seperti dulu," tunduk Paras menangis.


"Apa? kenapa kau indak menghubungi Apak atau Amak Paras? manganyo?" tanya Faisal geram.


"Minta piti 2000 euro, emang Paras ado piti, tapi kan Apak tahu sendiri Paras menabung untuk anak anak Mak? manga Uni ndak nio barubah? malah tega menyakiti hati Paras di depan urang rami," isak Paras.


"Ya Allah Luna, manganyo tega samo adiaknyo," rungut Kirai.


"Apak samo Amak pailah ke Jerman, bia tanang kapalo Paras. Sakik Paras di gikoannyo, ndak habis habis. Dulu inyo yang di balian apartemen, Paras yang di serang, nionyo apo? sampai teganyo samo Paras,"


Paras semakin larut menangis, tanpa dia sadari Leo berdiri di belakangnya.


"Ndut," panggil Leo.


Paras menyeka air matanya, mencoba tersenyum walau perasaan masih sedih teriris.


"Mau makan sekarang?" tanya Paras.


"Iya, Apak sama Amak kita makan bareng yook, biar enak ngobrolnya. Oya, ini ada oleh oleh buat Amak dan Apak, kami nggak ada belanja banyak," senyum Leo memberikan paper bag pada Faisal.


"Makanlah, nanti selesai makan kita sambung," jelas Faisal.


Paras mengangguk, berlalu menuju ruang makan.


Ada perasaan iba di hati Faisal dan Kirai melihat anak bungsunya. Pikiran mereka sama,


"Apa yang di irikan Luna pada Paras?" membuat mereka jadi serba salah.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2