Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kesabaran...


__ADS_3

Pagi di Untertuerkheim. Suhu udara saat ini -5 derajat celcius. Perlahan Paras menuju kamar mandi melakukan ritual seperti biasa. Paras sengaja memutar kran ke air hangat. Dingin di sana sangat mengganggu pernafasan mereka. Sesekali terdengar,


"Hachiiiin, hachiiiin..."


Paras membalut tubuhnya dengan handuk mencari minyak angin aromatherapy untuk menghangatkan tubuh gendutnya.


"Kamu sakit Ndut?" tanya Leo saat membuka mata.


'Nggak, cuma hidung ku mampet," jelas Paras mendekat pada Leo.


"Tolong balurin ini dong Bowl ke punggung," rengek Paras.


Leo mengambil minyak angin, mengusap lembut di punggung padat Paras. Kemudian meminta Paras agar menghirup aroma minyak angin dari tangannya.


"Bentar, aku nyalain pemanas dulu. Biar tubuh kamu hangat. Aku sekalian mandi yah Ndut! I love you, Gutten Morgen." kecupnya.


Leo berlalu mengambil handuk dari kepala Paras.


"Aaaaugh itu kan ada handuk di kursi! kenapa mesti yang di kepala aku?" geram Paras menepuk lengan Leo walau pria iseng itu menghindar.


"Nggak wangi kamu, aku maunya yang di tubuh kamu!" kekeh Leo berlalu masuk ke kamar mandi.


Paras tersenyum bahagia, entah sampai kapan Leo akan seperti ini padanya. Setidaknya sangat menggelitik hati. Canda tawa yang di berikan Leo sangat berkesan setiap hari.


Paras melanjutkan menata rambut agar terlihat lebih rapi. Kali ini dia mengikat rambut lebih tinggi dan sangat licin. Bulu bulu halus sengaja diturupi dengan semprotan hair spray agar tidak tampak bahkan lebih tepatnya seperti wanita berkelas. Menggunakan sepatu boots hitam, celana jeans biru, baju kaos ketat berwarna putih dengan leher sedikit tertutup, senada dengan warna baju hangat berbulu tebal yang di beli Leo beberapa waktu lalu. Anting kecil bertahtakan berlian dikelilingi permata indah menghiasi kedua cuping istri Leonal.


"Suiiit suiiiit," goda Leo saat keluar dari kamar mandi.


Paras menoleh ke arah Leo, "gimana?" tanya Paras.


"Cantik, kamu memang wanita ku. Walau kamu gendut tapi kamu sangat se*xy, itu hanya untuk ku Mama baby four," goda Leo mencium puncak hidung Paras.


"Hmmmm," rengek Paras memeluk tubuh Leonal.


Tiiiing,


Sebuah pesan melalui whatsApp masuk ke handphone milik Paras. Dia berlalu meraih handphone di nakas membukanya.


📨 "Paras, Uni bisa minta tolong nggak? pinjam uang agak 2000 euro. Ada keperluan."-Luna


Paras tertegun, selama mereka bersama, Luna tidak pernah melakukannya. Kecuali jika Luna ingin menyakitinya.


Paras membalas pesannya,


📨"Maaf Un, uang sebanyak itu Paras nggak punya. Sekali lagi maaf." tegas Paras.


Tentu di seberang sana Luna sedang memikirkan sesuatu agar adiknya tidak bahagia seperti saat ini.

__ADS_1


Paras terdiam, sesekali menatap ke arah Leo.


"Siapa sayang? Ndut?" tanya Leo mendekati Paras.


"Uni, dia minjam uang 2000 euro, kayak kita pencetak uang saja," geram Paras.


Leo menautkan kedua alisnya, "kenapa nggak di kasih?" tanyanya.


"Nggak usah, dia masih seperti dulu," geram Paras yang sudah mengetahui siapa Luna.


"Kenapa? ada yang mengganggu pikiranmu Ndut?" tanya Leo.


"Ntahlah Bowl, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik, tapi selalu kecewa oleh sikap Uni," jelas Paras.


"Semoga aku selalu di beri kesabaran dan keteguhan hati untuk memaafkannya," tambahnya lagi memeluk Leo.


Paras benar benar di hadapkan dengan situasi sulit. Satu sisi Luna kakak kandungnya, sisi lain Luna selalu menjadikan Paras sebagai adik yang gampang di manfaatkan.


"Kamu sabar yah? aku akan selalu melindungi mu dan anak kita. Apapun itu, aku ingin yang terbaik untuk kita," usap Leo pada punggung Paras.


"Kita jalan sekarang?" tanya Paras saat mendengar tertawa Berlin dan Yani.


Leo mengangguk.


"Semua sudah masuk di travel bag Ndut? malam ini kita akan menginap di Hamburg, nanti aku ajuin kita menginap di hotel," jelas Leo mendorong travel bag.


"Beeeegh, cakep banget kakak ipar gue. Gimana Kak Leo nggak kejang," goda Berlin.


"Iya dong, aura positif selalu terpancar jika hati kita bersih yah Mba?" kekeh Yani.


"Terserah. Kalian udah sarapan?" tanya Paras.


"Belum Mba, masak kita di kasih sosis anu, hmmmm anu, malas makannya. Aku kan nggak makan Mba," bisik Yani menggerutu.


"Kenapa nggak minta sapi atau ayam?" tanya Paras.


"Nggak aaaagh. Kita sarapan di luar aja. Kemaren aku lihat ada Mc.D saat menuju kesini," ucap Yani.


"Ya udah, hayoo jalan," tegas Leo menggandeng tangan Paras.


Sopir membukakan pintu untuk mereka, berangkat menuju Hamburg.


Leo dan team menikmati keindahan Jerman sangat memukau perhatiannya. Banyak pengusaha muda yang tumbuh di sana. Mengembangkan bisnis lebih luas di negara lain.



Will come Zu Hamburg, Duetchland country.

__ADS_1


Mereka menikmati hidangan yang sangat menggugah selera, makanan khas Indonesia yang sangat di rindukan saat berada di negara orang.


"Benar kata pepatah, hujan emas di negera orang, hujan batu di negara kita, tetap akan merindukan negara sendiri."


"Bu Paras, bisa kita tanda tangani beberapa kontrak?" ucap Armin mendekati Paras di sela sela makan siang mereka.


"Ooogh ya, Tuan," tunduk Paras hormat.


"Besok adalah penutupan acara kita. Saya harap kalian menggunakan dress code hitam karena kita akan mengadakan makan malam untuk bertemu dengan beberapa pengusaha dunia," jelas Armin.


"Ada Mr. Lucas, Mr. Ken, dan Mr. Huang," tambah Armin mengajak Paras duduk di kursi ruangan mereka.


"Ya,"


Paras mengangguk.


Leo dan Yani menghampiri Paras untuk memberikan beberapa giro dan cek pada Armin. Pembelian Airbus 500 unit lebih, akan di rakit di Indonesia dengan nilai fantastis.


"Kami membawa beberapa alat rijek dan bisa di return untuk segera di kirim ke Bogor Tuan," jelas Paras memberikan document yang akan di setujui oleh pihak pabrik.


"Ooogh ya, Tuan Baros telah memberi tahu dari awal," senyum Armin.


Mereka menandatangani kontrak.


⚡Sangat berbeda dengan kondisi Luna yang frustasi saat berada di sekolahan.


Luna sejak tadi uring uringan memikirkan bagaimana cara untuk merebut kebahagiaan Paras, menjadi pusat perhatian Juan suaminya.


"Luna, sudahlah. Masuk ke kelas mu," tegas Juan melihat istrinya sibuk melihat foto foto Paras yang di kirim oleh Yani.


Luna mendengus kesal, melempar handphonenya ke arah Juan.


"Kamu lihat, mereka tersenyum bahagia bahkan mereka sangat hebat karena dapat berkumpul dengan orang hebat. Aku? aku hanya fokus pada dunia menjijikan ini," geram Luna.


Braaak,


Juan menggeram.


"Setidaknya kau harus bersyukur Luna, bukan mengeluh, meratapi hidupmu! apa aku kurang di matamu? aku selalu memberikan yang terbaik pada mu! jika kau ingin seperti adikmu, kau jual dirimu sama pengusaha kaya, yang mampu memberikan mu segalanya. Aku sudah muak mendengar keluhanmu sejak semalam!" tegas Juan berlalu meninggalkan Luna sendiri di ruangannya.


Braaak,


Lagi lagi Juan membanting pintu tanpa peduli dengan Luna yang semakin terpojokkan.


"Kenapa Paras? kenapa mesti dia? kenapa bukan aku?" teriaknya...


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2