Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Aku minta maaf...


__ADS_3

Suasana kota metropolitan sore itu sangat cerah, secerah hati kedua insan yang tengah dilanda cinta bersemayam di kepala Albert dan Yani, chemistry terjalin dengan sangat baik dan cepat, membuat keduanya semakin sulit berucap. Usia yang hanya berselisih beberapa tahun sangat memungkinkan mereka untuk bersama.


Sangat berbeda dengan Fredy yang sejak tadi menunggu balasan whatsApp dari Yani pujaan hati. Entahlah, perasaan pria Jerman itu sangat was was dan merasa khawatir.


"Kenapa dia tidak menjawab pesanku?" batin Fredy menyelesaikan pekerjaannya.


"Lili, aku sudah selesai dengan semua pasien. Hari ini aku tidak ada kegiatan lagi sampai malam, jika ada pasien urgent, kamu langsung telfon saja," jelasnya pada asisten pribadi.


"Baik dok. Pasien atas nama Mba Paras tadi nelfon, mau kontrol, tapi sepertinya dia enggak jadi datang," jelas Lili membantu Fredy membereskan ruangan praktek.


"Oooogh yah, nanti aku yang hubungi Mba Paras," jelasnya.


Fredy meraih handphone miliknya, mencari nomor Albert, sang Abang somplak yang tidak pernah mau mengikuti aturan keluarga mereka. Kuliah Kedokteran yang ditawarkan oleh Mami, ditolak mentah mentah oleh Albert karena dia ingin meraih karier di otomotif.


Nada panggilan tersambung.


Tuuuuut, tuuuuut, tuuuuut,


πŸ“ž"Hmmmm," Albert.


πŸ“ž"Dimana?" Fredy.


πŸ“ž"Udah mau sampai di Rich Carlton, cepet yah!" tegas Albert.


πŸ“ž"Oke,"


Fredy menutup telfonnya, bergegas menuju mobil diparkiran. Ternyata Paras turun dari mobil Maride tanpa Leo.


Mata Fredy menatap Paras sedikit terkejut, karena wajah sembab sambil mengusap sudut mata indahnya.


"Mba," sapa Fredy mencari keberadaan Leonal.


"Oooough Fred, kebetulan bertemu disini," senyum Paras.


Fredy melihat wajah Paras, merasakan sesuatu yang mengganjal. Wajah biasanya dihiasi senyuman, kini terlihat lebih lecek bak kain cucian yang teronggok didalam keranjang.


"Mba mau ketemu saya?" tanya Fredy sedikit membungkuk.


Paras menatap Fredy dengan posisi wajah menekuk sedikit pias. Ada kekhawatiran di benak Fredy.


"Pasti Mba Paras sedang tidak sehat," batin Fredy.


"Yuuuk Mba, kita ke ruangan saya saja," ajak Fredy masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang kerjanya.


Paras masih terlihat sedih bahkan air mata terus mengalir deras membasahi pipi tembamnya.


Saat berada diruangan, Paras meminta Fredy mengunci ruangannya, agar tidak ada yang mendengar obrolan mereka. Tentu Fredy dibuat penasaran, karena belum jadwal kontrol bagi Paras.


"Duduklah Mba. Mau minum apa?" tanya Fredy masih menatap wajah Paras.


"Air mineral saja," ucap Paras pelan.


Fredy mengambilkan air mineral, meletakkan di atas meja, kembali menatap wajah cantik istri Leonal.


"Ada apa Mba? ada masalah sama kehamilannya?" tanya Fredy penasaran.


Paras menggeleng, dia menangis sejadi jadinya membuat Fredy menjadi salah tingkah. Dengan sigap dokter muda itu memberikan tisyu pada Paras dan mencoba menenangkannya.


"Bantu saya untuk menggugurkan kandungan ini," ucap Paras membuat mata Fredy terbelalak.


Pupil mata itu membesar, tidak menyangka bahwa Paras berniat untuk membuang janin yang ada didalam kandungannya. Fredy menelan salivanya, menarik nafas panjang.


"Mba, Bang Leo mana?" tanya Fredy berusaha tenang.


Paras semakin menangis kuat, hingga bahu wanita dewasa itu bergetar.


"Denger Mba, kami dokter sudah berjanji akan menyelamatkan nyawa yang sudah tumbuh dan berkembang di rahim seorang wanita. Bagi kami sumpah itu tidak mudah untuk dilanggar, jika saya melakukan itu, berarti saya telah melanggar sumpah Mba. Saya tidak berani, karena setiap nyawa yang berkembang dengan baik, layak kita pertahankan," tegas Fredy.


"Kalau boleh tahu, Mba ada masalah dengan Bang Leo?" tanya Fredy lembut menatap lekat hezel mata Paras.


Paras mengangguk, tapi enggan membicarakan semua permasalahannya. Dia datang hanya untuk bertemu Fredy karena tidak sanggup menghadapi semua tuduhan dari suaminya.

__ADS_1


Fredy melihat jam tangan, memijat pelan pelipisnya, "Mba ikut saya saja, kita makan malam di Rich Carlton, kebetulan mau bertemu Abang saya," ajaknya agar Paras tidak fokus pada masalahnya.


Paras mengangguk setuju, "saya bilang dulu sama sopir Mami, agar tidak dicari oleh Leo," jelasnya.


Fredy mengangguk mengerti, sungguh memilukan baginya melihat wanita tangguh itu ingin melakukan hal buruk yang dilarang oleh agama.


Tidak lupa Fredy menghubungi Berlin agar menyusul mereka di Rich Carlton memberi tahu bahwa Paras bersamanya dengan kondisi tidak baik. Menceritakan sedikit maksud Paras menemuinya di rumah sakit.


Tentu Berlin murka kepada Leo saat mereka berada disalah satu pusat perbelanjaan terbesar di metropolitan, harus menerima kabar bahwa Paras berniat untuk melakukan aborsi.


"Lo baca whatsApp Fredy! apa yang sudah lu katakan sama Kak Paras?" teriak Berlin menggeram.


"Gila Lo yah Leonal! gue akan menghubungi Mami jika Lo nggak meminta maaf kepada Kak Paras," tegas Berlin menatap wajah Leo.


Tangan Leo menggigil membaca pesan dari Fredy. Tentu menjadi suatu pukulan keras bagi Leo karena kebodohannya.


"Oke kita ke Rich Carlton sekarang, anak gue. Enggak enggak, Paras nggak boleh lakukan ini sama anak gue,"


Leo berlari kencang menuju parkiran disusul oleh Luqman dan Berlin. Kepanikan terlihat jelas diwajahnya. Dia sangat mencintai baby twins bahkan itu adalah satu keajaiban baginya, karena kecemburuan yang tidak mendasar, Leo harus kehilangan baby twins bahkan tidak menutup kemungkinan Paras akan membawa baby four dan meninggalkannya.


"Paras jangan lakukan ini, maafkan aku," teriaknya panik di setir kemudi.


"Biar Luqman yang bawa, jangan Lo!" tegas Berlin.


"Ba ng sat, gara gara Albert gue mesti kehilangan baby twins!" geramnya semakin panik dan tersulut emosi.


Berlin sangat memahami Leo dalam menghadapi emosinya, "dia pasti akan membuat perhitungan pada Albert ini, jangan sampai terjadi, bisa gagal total semua masalah bercampur aduk jadi gado gado," batinnya.


"Kak, Lo tenang. Jangan emosi," ucap Berlin lembut mengusap bahu Leo.


Perhiasan yang dia beli sebagai permintaan maaf tidak berarti bagi Paras karena niat istrinya ingin menggugurkan kandungan.


"Maafin gue Paras," isak Leo frustasi.


"Sabar kak, untung Fredy ngasih tahu, jika tidak kita fikir Kak Paras sudah di rumah," jelas Berlin sedikit menyayangkan keputusan kakak ipar.


Leo menatap kosong, kali ini kepalanya penuh dengan penyesalan, kata kata yang terlontar tadi pagi membuat petaka bagi pernikahan dan anak mereka.


Leo memukul kepalanya keras, bahkan menyumpahi diri sendiri dengan deraian air mata penyesalan.


Rich Carlton, hotel berbintang yang sangat di sukai para bule untuk menghabiskan waktu disana, tampak sangat ramai lalu lalang orang untuk menghabiskan waktu, tentu dengan pencahayaan yang elegan dan mewah saat matahari mulai terbenam digantikan oleh cahaya lampu yang berkilauan.


Leo bergegas turun dari mobil, menuju loby, menanyakan posisi restoran pada security. Tentu security mengarahkan tangannya menunjukkan sebuah tempat yang sangat romantis dan mewah.


Mata Leo tertuju pada wanita gendut yang masih duduk bersama Fredy, Yani dan Albert dengan posisi mereka diam tanpa bicara.


Fredy mengenyampingkan masalah pribadi terlebih dahulu, demi menyelamatkan jiwa seorang ibu yang terguncang.


Perlahan langkah Leo mendekati Paras dan Fredy di meja yang sudah ditemani Albert dan Yani menatap heran pada kehadiran Leo.


"Paras," sapa Leo pelan.


Paras enggan menjawab, hatinya masih terasa sakit dan perih.


Fredy menepuk pundak Leo, "selesaikan masalah kalian, maaf jika saya membawa Mba Paras," bisik Fredy berpindah duduk disamping Yani yang mematung.


Albert menautkan kedua alisnya, menatap kehadiran Leo penuh tanda tanya, tapi dia tidak bersuara karena hatinya seketika patah.


"Sayang kita pulang! aku minta maaf, jangan lakukan apapun yang membahayakan buah cinta kita. Aku sangat mencintaimu," bisik Leo memeluk tubuh gendut itu penuh perasaan.


Tangis Paras tumpah, dihadapan Albert, Yani, Fredy, Berlin dan Leo.


Kepala Albert sangat bingung melihat drama yang dia saksikan dihadapannya.


"Kenapa mereka?" bisiknya pada Yani.


"Ssssst," wajah Yani berubah sendu diapit dua pria adik kakak yang mencintainya.


Leo mendekap tubuh gendut itu, memberi ruang bagi Paras untuk melepaskan semua kekesalan dan kecewanya.


"Kita pulang? atau mau menginap disini," pujuk Leo.

__ADS_1


"Aku mau disini, aku nggak mau pulang. Aku malu sama Amak dan Apak," isaknya.


"Oke, kita nginap disini! nanti Berlin dan Luqman yang mengantarkan perlengkapan kita. Kita selesaikan diatas yah? jangan disini," pujuk Leo memberi kode pada Berlin agar memesan kamar.


Berlin dan Luqman mengangguk mengerti, bergegas menuju resepsionis untuk memesan satu kamar.


"Sepertinya Yani lagi ada masalah," bisik Luqman pada Berlin saat mereka berdiri didepan reseptionis.


"Biarin deh, aku mentingin Kak Paras dulu. Palingan besok kalau kenapa napa Yani cerita kok," ucap Berlin mengambil card yang diberikan padanya.


Berlin segera mendekati Leo memberi card kamar pada sang kakak, agar menyelesaikan masalah mereka.


"Hmmmm permasalahan rumah tangga itu harus diselesaikan di ranjang biar aman," kekeh Albert membuat spaning Leo meningkat sepuluh kali lipat.


Leo menggeram, menatap tajam kearah Albert.


"Lo bisa diam nggak njiiing!" tegas Leo.


Albert menantang Leo, "heeeii boy, santai dong! gue sama Paras santai saja," kekehnya.


"Dasar bule somplak,"


Leo akan melayangkan bogemannya di tahan cepat oleh Luqman.


Albert berdiri tegap menatap tajam kearah Leo, "kenap Lo? cemburu? haaah, heeeii.... gue udah biasa bersahabat sama Paras dari sebelum Lo masuk. Mungkin dari sebelum Lo di Langhai, ingat yah Lo cuma anak Mami Maride boy, bukan orang yang menjalankan sepenuhnya perusahaan, otaknya Paras, naaah Lo apa? palingan sistem doang!" ejek Albert membuat Leo benar benar murka.


Paras menahan tubuh Leo yang akan memukul Albert, tapi Leo lebih dulu menepis tubuh Paras agar tidak menahannya, seketika....


Bhuuug,


Tubuh gendut itu terhempas dilantai karena keegoisan kedua pria Leo dan Albert.


"Aaaaagh," pekik Paras membuat Leo benar benar menghantam wajah Albert tanpa memperdulikan Paras.


Fredy segera membantu Paras, suasana semakin ricuh dan sulit di kendalikan. Berlin berhasil melerai Leo dan Albert yang sudah seperti kucing jantan berkelahi.


"Kak stop, Kak Paras jatuh," teriak Berlin menyadarkan Leo.


Sementara Yani dan Luqman memeluk Albert agar tidak terjadi sesuatu.


Leo mendekati Paras, meja kursi sudah berserakan, bahkan security datang melerai mereka.


Fredy menghubungi ambulans karena Paras mengalami pendarahan, kehilangan kesadaran.


"Mba Paras, Mba jangan tidur yah!" tepuk Fredy pada pipi Paras.


"Huufzzh,"


Paras meremas perutnya, menutup mata menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Nduuut, jangan begini. Berlin, call Mami," teriak Leo terlihat semakin frustasi.


Albert mendekati Fredy, "lakukan yang terbaik, jangan sampai Paras kehilangan baby-nya, gue akan bayar berapapun," bisiknya menarik tangan Yani meninggalkan mereka menunggu di apartemen milik Fredy.


Fredy mengangguk, membiarkan Abangnya berlalu, demi menenangkan Leo.


"Ada apa ini? kenapa sepertinya banyak masalah antara Leo dan Albert!" batin Fredy.


30 menit menunggu, ambulans datang membawa Paras dan Fredy menuju rumah sakit, disusul Berlin, Leo dan Luqman.


Baros dan Maride segera meninggalkan Kalimantan, karena mendengar Paras mengalami pendarahan. Tentu Maride merasakan sesuatu yang janggal, karena telah mendengar cerita dari Maid dan sopir lebih dulu.


"Kenapa napa sama cucuku! aku gantung Leonal," geram Maride ditelinga Baros.


Oooough my God...🀧


Panik nggak', panik nggak', masa enggak...πŸ₯Ί


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2