Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Memilih...


__ADS_3

Suasana Jagakarsa masih diselimuti keceriaan baby four dan buah hati Sintya dan Kennedy baby Alea.


Maride dan Berlin hadir dikediaman Leo, membawa serta Linslei dan Baros. Tentu dengan berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan oleh owner Langhai Group pada Tina baby sitter Keluarga Silutak.


"Kau tahu, ini bukan panti asuhan yang bisa menerima orang luar. Apalagi kehadiran mu sangat menggangu pikiran anak anak ku! berapa kau dibayar Kennedy untuk menjadi mata mata di keluarga ini haaah?" tanya Maride dengan suara lantang pada Tina.


Tina menunduk ketakutan, ada perasaan sungkan dihatinya.


"Saya diantar polisi kesini Bu, bukan diminta Kennedy," jawab Tina terbata bata.


Maride tersenyum tipis melihat wajah gadis lugu dihadapannya, "dengar, jika kau berani macam-macam dengan keluargaku! aku habisi kau!" tegasnya dengan tunjuk mengarah diwajah Tina.


Tina benar benar menunduk takut, mendengar ancaman Maride. Berkali-kali dia susah payah menelan salivanya sambil memeluk baby Alea.


Berlin yang jatuh hati saat melihat baby Alea pertama kali, mengusap lembut punggung Maride, "Mami, tenang yah? dia nggak akan berani melakukan apapun selain menyelamatkan baby ini. Aku akan menjaganya," tegasnya menatap kearah Tina.


Maride menatap wajah Berlin putrinya, "apa kau sudah bicara pada Luqman? mana dia? ingat, ini anak Kennedy! aku tidak mau rumah tangga kalian bermasalah karena kau mengasuh anak ini," tegasnya.


Berlin memasang wajah sendu, enggan untuk menjawab Maride. Baginya hanya ingin membantu, tidak lebih.


"Terserahlah, aku ikut apa keputusan kalian," tambah Maride lagi.


"Luqman ke kantor, Mi. Hari ini Mama, mau antar smur jengkol dan kepiting saos padang," jelas Berlin memeluk Maride dapat didengar oleh Paras dan Leo.


"Mauuu," rengek Leo dibahu adiknya Berlin.


Berlin melirik wajah Leo yang berubah menjadi menggemaskan, "iya, kekantor yah? Mama antarnya ke kantor," kekehnya.


"Hmmm, enaknya yang disayang mertua," goda Leo mengacak rambut Berlin yang panjang.


Berlin mendengus kesal akan tingkah Abang tersayangnya, "kamu nanti ikut saya, pukul 17.00 minta sopir mengantarkan ke rumah saya, karena nggak ada orang yang akan menjemput kalian," ucapnya tegas.

__ADS_1


Tina menunduk, "baik Bu," jawabnya patuh.


Berlin melanjutkan perjalanan menuju kantor tentu ditemani Leo. Sementara Paras tinggal dirumah karena kondisi masih belum membaik pasca keguguran dan penembakan beberapa waktu lalu.


"Aku berangkat yah Ndut, nanti jam 15.00, Dokter Kevin ke rumah, ganti perban kamu dan melihat kondisi kamu, jangan capek capek. Main saja dikamar baby four," pesan Leo pada istri tercinta.


Paras mengangguk, mencium bibir Leo, mengecup punggung tangan suami tersayang.


Maride dan Linslei melihat anak menantunya, sangat senang. Bagaimana tidak, sudah lama mereka merindukan Leo mendapatkan wanita yang mampu merubah cara hidupnya yang sangat bebas, kini menjadi pria setia bahkan enggan untuk bermain-main diluar sana semenjak menikah dengan Paras sehingga memiliki baby four.


"Beda kalilah Leo sama Will," gerutu Linslei.


Maride tertawa, "jelas beda, ini anak Baros. Will nggak jelas anak siapa!" jawabnya asal membuat Linslei menyunggingkan senyum tipisnya.


"Jangan cemberut kau!" tambah Maride lagi, mengusap lembut wajah Linslei.


"Ck," Linslei mendengus kesal melanjutkan sarapannya.


Baros mencari Paras, meminta salah satu baby sitter untuk memanggil menantunya.


Baby sitter mendekati Paras, sedikit berbisik, "Bu Tuan Baros memanggil ibu," ucapnya.


Paras melirik kearah Baros, yang lumayan jauh dari ruang makan, "Mi, aku ngobrol dulu sama Papi yah," izinnya pada Maride dan Linslei.


Maride mengangguk, masih berceloteh bersama Kirai dan Linslei tidak ada habisnya, "cok kau telepon Laura, dimana dia. aku rasa dia masih tidur jam segini," gerutunya menatap sepupu dan besan terbaik.


"Aaagh, anak itu pasti malas jumpa aku. Dia kan nggak boleh aku nikah lagi. Maunya Laura aku menjanda seumur hidup, tanpa harus memikirkan perasaan dan kesepian hati ini. Nggak merasa dia bagaimana beratnya menahan sentuhan lembut pria," jujur Linslei tanpa malu.


Maride dan Kirai tertawa mendengar racauan Linslei yang tidak terima akan permintaan Laura saat terakhir kali meninggalkannya di Melbourne.


"Iya, dia nggak mau kau menikah dengan Kevin. Menurutnya kau tidak pernah mencintai Kolin," cerita Maride pada Linslei.

__ADS_1


Bola mata wanita gembul itu membulat, "kepalanya aku nggak mencintai Kolin, justru karena memilih Papinya Laura itu, aku kehilangan Kevin. Bagaimana tidak, Kolin menjanjikan Puncak Himalaya padaku. Sementara Kevin masih dalam dunia kedokteran yang belum ada kejelasan masa depan," ceritanya jujur.


Maride ternganga mendengar penuturan sepupunya dihadapan Kirai, "serius Kevin belum menjadi sekarang? bukankan dia juga anak orang kaya? dia kuliah kedokteran Melbourne kan?" tanyanya penasaran.


Linslei menatap lekat wajah Maride nan cubi, "kau dengar yah, Kevin memang menyusul ke Melbourne, tapi itu untuk meneruskan spesialisnya menjadi ahli bedah. Papa, tidak merestui hubungan kami, karena siperjaka tua itu orang susah. Tidak akan mungkin dia mampu pestakan aku dengan memotong dua ekor kerbau, seperti janji Kolin pada Papa," jelasnya.


Maride dan Kirai membulatkan bibirnya, menatap lekat wajah Linslei saat menceritakan semua tentang perjalanan cinta yang tidak mudah. Hanya karena harta, dia harus menerima pinangan Kolin, dengan meninggalkan Kevin.


"Aku tidak sama sepertimu, mau berjuang hidup bersama Baros dari nol. Sementara kita sama sama anak manja. Rasa ketakutan aku lebih tinggi. Sementara kau, mampu menutup mulut Pardede karena cintamu sangat besar pada Baros," tambah Linslei diangguki oleh Maride.


"Aku memang mencintai Baros, karena hanya dia yang mau mendengarkan bibir ku ini merepet. Kau ingat si Landong mundur karena kenak makianku? Paul dan si Adek, ingat kau kan?" tanya Maride terkekeh geli.


"Ya, tapi hanya Baros yang membuat kau kejang bahkan menangis semalaman di pelukanku," tawa Linslei pecah.


Kirai menggelengkan kepalanya, mendengar dua wanita gendut saling bercerita, dengan drama percintaan yang sangat berbeda-beda.


.


Dipinggir kolam, rumah Leo. Justru Paras dan Baros tengah berbicara tentang kelanjutan kantor pusat Langhai kedepannya, karena keterbatasan waktu Baros dan Maride.


"Papi akan ke Kalimantan dan Bali seperti biasa. Saya harap kamu masih mau mengabdikan diri pada perusahaan. Saya tidak bisa percaya sepenuhnya pada Leo," jelas Baros.


Paras menarik nafas dalam, "kenapa tidak memberikan kepercayaan pada Leo, Pi? agar mereka bisa menunjukkan siapa diri mereka," jelasnya.


Baros menggeleng, "saya belum bisa melihat jiwa kepemimpinan Leo yang baik seperti kamu dan Laura. Saya rasa Maride mampu mendidik kalian wanita dibandingkan pemimpin pria, tapi jika ada masalah, kita masih membutuhkan Leonal dan Luqman. Saya berharap sama kamu Paras," ucapnya sedikit memohon.


Paras mengangguk, bagaimana dia harus menolak, selama ini dia juga yang menyelesaikan semua polemik yang ada di Langhai atas bantuan Leo dan Yani, tapi kini semua sudah berubah. Wanita gendut itu harus mengikuti ucapan mertuanya untuk sementara waktu.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2