Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Ce eL beka...


__ADS_3

Suasana terik matahari menyinari kota Jakarta, membakar tubuh Linslei, setelah mengetahui bahwa menantunya menghabiskan waktu dengan Sintya. Ibu mana yang tidak akan murka menyaksikan putri kesayangannya dikhianati oleh suami sendiri.


"Aaaaagh, geramnya aku!" ucap Linslei mengacak rambut Maride yang duduk disampingnya.


"Aduuuh, jangan aku yang kau gomak! kenapa tidak Laura yang kau marahi agar mau berpisah dari Will?" tanya Maride menatap lekat wajah sepupu gendutnya.


Baros mendehem, "jangan campur adukkan masalah. Laura sudah dewasa dalam bersikap, banyak hal yang menjadi pertimbangan mereka. Kita tidak boleh mencampurinya," tegasnya agar kedua wanita subur itu berhenti membicarakan kelakuan Willion.


Linslei semakin kesal mendengar penuturan Baros barusan, "kita antar saja opung satu ini pulang! kita jalan yuk? kemana gitu!" idenya pada Maride.


Maride menggeleng, "enak saja kau! bagaimana kalau kita bertemu Dokter Kevin, cinta lama mu. Biar jernih kepalamu, nggak fokus pada masalah Will dan Laura," pujuknya lada Linslei.


Linslei mengangguk setuju, hanya mengalihkan pandangannya kebalakang, melihat mobil Laura dan Will yang masih mengikuti mereka.


"Aku rasa, dipelet anak ku itu! sampe sampe nggak bisa dia lepas dari, Will," rungut Linslei.


Maride dan Baros tertawa, termasuk sopir pribadi mereka.


Linslei semakin geram melihat keluarganya, seperti tidak memikirkan perasaan keponakan mereka Laura.


"Ck, akan aku bawa Laura menjauh dari Will," geram Linslei melirik Maride dan Baros.


Baros memijat pelan pelipisnya, "jika kau menjauhkan Laura dari Will, coba bawakan ke kehidupan mu. Kau dijauhkan dari suamimu!" jelasnya pelan.


Linslei terdiam, dia enggan berdebat tentang masalah Laura dan Will lagi, karena apapun keputusan putrinya, itulah kebahagiaan saat ini. Buktinya Laura tampak biasa saja, bahkan lebih tenang, walau sering merasakan cemburu.


Mobil terparkir didepan rumah sakit milik Kevin di daerah Jakarta Selatan.


Maride merogoh tas kecilnya, menghubungi Kevin sahabatnya. Matanya mengarah ke gedung yang memiliki lantai 13 itu.


📞"Aku diparkiran bersama Linslei, bisa kau keluar? ajak kami makan, atau dimana kita akan menghabiskan waktu," tegas Maride.


📞"Aku segera menyusulmu, kita makan didaerah sini saja, karena dua jam lagi aku akan melakukan tindakan," jalas Kevin menutup telfonnya.


Maride tersenyum lega, "sebentar lagi cinta mu keluar dari kesengsaraannya," kekehnya.


Linslei hanya tersenyum tipis, menatap kesamping, terlihat anak menantunya sangat mesra tanpa harus mengalami perdebatan panjang.

__ADS_1


"Pasangan yang aneh! jelas jelas suaminya selingkuh, masih saja mau mencium bibir suami jelek itu," rungut Linslei, saat melihat Laura begitu mesra.


Maride mengusap lembut punggung sepupunya, "biarkan mereka, mungkin dengan begitu mereka sangat bahagia. Cara orang berbeda dalam meraih kebahagiaan," jelasnya.


"Apakah Leonal pernah tidur dengan wanita lain selain Paras menantuku itu?" tanya Linslei mengalihkan pandangannya kearah Maride.


Maride hanya menaikkan kedua bahunya, "setahuku tidak pernah, tapi Leo memiliki masa lalu yang buruk jugakan?" jelasnya menenangkan Linslei.


"Hmmm, ya," Linslei mengetahui bagaimana Leo saat di Melbourne.


"Tapi Leo berubah setelah menikah. Ini, dia sudah lima tahun menikah dengan Laura, bahkan mereka belum memiliki keturunan. Aku yakin, jika Will berhenti cucuk sana cucuk sini, pasti mereka memiliki anak yang banyak seperti Paras," geramnya.


Maride dan Baros hanya geleng-geleng kepala, mendengar racauan Linslei yang sangat mereka rindukan.


Tok tok tok,


Kevin mengetuk jendela mobil Maride. Wanita gembul itu membuka lebar jendela mobilnya dengan tersenyum sumringah.


"Aku menepati janjiku untuk membawa Linslei padamu," jelas Maride.


Kevin menatap lekat wajah Linslei yang sudah hampir 30 tahun tidak pernah bertemu. Ingin sekali dia memeluk tubuh gendut cinta pertamanya, hingga dia tidak mampu untuk mencari pengganti Linslei.


Linslei yang tadi meracau seketika tertunduk malu, mencuri perhatian Kevin yang masih menatapnya dengan lekat.


"Ha hai," Linslei melambaikan tangan pada Kevin.


Darah yang mendidih seketika menjadi sejuk, sesejuk hatinya yang dikelilingi bunga mawar merah di negeri kincir.


Maride melihat reaksi keduanya, sedikit risih, "mau berapa jam aku menunggu kalian malu malu, macam anjing kurap ini?" ucapnya tanpa sungkan, hingga menyadarkan Kevin dan Linslei.


Baros dan sopir tertawa keras saat mendengar Maride berceloteh.


Kevin beralih ke pintu mobil Linslei, membukakan pintu untuk wanita yang dicintainya.


Maride menatap kesal pada Kevin, "eeeeh amang! ditinggalnya aku. Pi, bukakan dulu pintu mobil Mami, kayak si lapet itu," kekehnya melirik kearah Linslei dan Kevin.


Baros bergegas keluar membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta, "mau Papi kecup pula keningmu dihadapan mereka?" tawanya memeluk Maride.

__ADS_1


"Iiighs, nggak perlulah! aku nggak mau terlihat bar bar kayak mereka, kau peluk aja tubuh mungilku ini, sudah menggelepar aku kayak ikan lohan," tepuk Maride pada lengan Baros yang tegap dan dihiasi tato.


Sopir mereka semakin tertawa geli mendengar kelakuan majikan yang sangat kocak, jika sudah berkumpul.


Kevin mengajak mereka makan siang menjelang sore disalah satu restoran dekat dengan rumah sakit.


Tidak lupa Laura dan Willion mengikuti langkah orang tuanya tampak kebingungan.


"Nantulang, kenapa Mami sama Dokter itu?" tanya Laura penasaran.


Maride menahan lambenya agar tidak terlalu jujur pada anak menantunya sebelum ada lampu hijau dari Linslei dan Kevin.


"Kami sahabatan sejak dulu, jadi mau reunian," jelas Maride.


Laura mengehentikan langkahnya, "jangan bilang Om itu cinta lama Mami? aku tidak akan pernah memberikan izin kepada mereka," tegasnya pada Maride dapat didengar oleh Baros dan Willion.


Deg,


Maride membalikkan tubuhnya, menatap lekat wajah cantik keponakannya.


"Jika Mami mu kembali pada cinta lamanya, apa itu salah Laura? Kevin laki laki baik!" jelas Maride.


Laura mendengus kesal, "berarti ini cinta lama belum kelar Nantulang? apakah Dokter ini yang selalu dicemburui Almarhum Papi? jangan bilang kalian ingin menjodohkan Mami sama dokter itu. Aku tidak akan setuju, karena aku masih mencintai Papi," tegasnya memilih meninggalkan mereka.


Laura menarik tangan Willion, agar tidak menjadi saksi untuk Linslei dekat dengan pria manapun, karena baginya hanya Kolin Sibuea yang akan menjadi Papinya sampai Linslei menutup mata.


"Laura, Laura!" panggil Maride tapi diacuhkan oleh keponakannya.


Baros mengusap lembut punggung istrinya, "biarkan dia, ada Will yang menenangkannya. Jangan terlalu cepat untuk mengenalkan mereka. Laura sudah dewasa, pelan pelan, pasti dia akan mengerti," jelasnya membawa Maride mengikuti langkah Linslei dan Kevin memasuki restoran.


Maride masih menatap punggung Laura, "tapi aku nggak tenang, Pi. Aku merasa bersalah," ucapnya masih berdiri bingung.


"Mereka sudah masuk, jangan buang mood Linslei dan Kevin yang sedang berbunga bunga, hanya karena keegoisan Laura. Dia masih belum menerima, karena Kolin akan selalu dihatinya," usap Baros pada lengan Maride agar istrinya tenang.


Maride mengangguk, mengikuti langkah suaminya, untuk menemani Linslei dan Kevin yang tengah menikmati indahnya cinta lama mereka.


Ooogh, Laura... mengertilah...🤧

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2