Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Sedingin salju...


__ADS_3

Gedung perkantoran Langhai Group yang berada di lantai 28 sedingin salju tanpa ada yang berani menyapa. Apalagi Leo tengah menatap tajam ke arah pintu ruangan sang direktur setelah time makan siang, menunggu Paras atau Albert keluar dari ruangan yang tengah ditemani Berlin dan Yani.


“Kenapa lama banget mereka didalam?” batin Leo seperti security menunggu di sofa ruang tamu lantai 28.


Lantai 28 khusus untuk para petinggi dan keuangan hanya di isi oleh orang orang penting tanpa menutup akses untuk karyawan yang lain.


“Lo ngapain disini? masuk aja,” ucap Luqman menyuguhkan cemilan yang dia ambil diruangan Berlin.


“Hmmmm kalau gue masuk, pasti besar kepala si somplak jelek bak anjing kurap itu. Semakin gencar dia godain Paras,” rungut Leo menahan kesedihannya.


“Eeeeh bro, setahu gue ni yah! Mba Paras enggak pernah dekat dengan Albert. Sebelum Lo gabung mereka jarang bersama, ini setahu gue yah! bukan ngebela karena dia direktur, tapi gue lihat sendiri bagaimana Mba Paras ngadepin rekan kerja. Cukup propesional kok, apalagi semenjak nikah sama Lo,” jelas Luqman sedang memasukkan makanan ke mulutnya.


“Lo jangan terlalu negatif thinking bisa membuat over thinking, Mba Paras hamil Leo,” tambahnya.


Luqman menemani Leo duduk di sofa, sambil menghubungi Berlin tanpa sepengetahuan sahabatnya yang masih memandang kearah pintu.


“Kita masuk yuuuk, jangan disini! Lo mau semua karyawan tahu masalah Lo sama Mba Paras?” ejek Luqman.


“Hmmmm,”


Leo berdiri, merapikan pakaian dan wajahnya memberanikan diri masuk ke ruangan Paras. Tentu dengan hati masih bergemuruh, bahkan kecewa masih terasa karena mengingat cincin indah pemberian Albert.


Saat mereka sudah ada didepan pintu ruangan, Paras membuka pintu membuat keduanya saling menatap.


“Bowl, aku baru mau nyari kamu. Albert mau minta tanda tangan kamu untuk keabsahan, karena Papi enggak ada disini,” senyum Paras mengembang seperti tidak terjadi masalah.


Sheeeer,


Leo menelan saliva menarik tangan istrinya. Entah ada perasaan apa yang berkecamuk dikepalanya membuat dia memeluk tubuh gembul yang sangat dia cintai itu.


Paras tertegun, tidak membalas pelukan Leo.


“Udah yuuk, kita dikantor, bukan dirumah, propesional sedikit yah?” usap Paras tersenyum melepas pelukan mereka.


Luqman tersenyum memilih masuk keruangan Paras mendekati Berlin.


“Ndut,” panggil Leo.


“Hmmmmm udah cepetan, aku mau pulang, aku nggak mau berbasa basi terus bahas masalah disini. Aku capek ribut, otak ku penuh, tolong paham yah?”


Paras menarik tangan Leo masuk keruangannya.


Albert menyambut kedatangan Leo, tersenyum simpul.


“Cemburu kan sama aku,” kekehnya membatin.


Leo tidak menyambut tangan Albert, dia hanya tersenyum menahan emosinya.


“Malam ini kita ke Rich Carlton yah. Yani biar bareng saya aja, kebetulan mau ngenalin dia sama adik kandung saya,” jelasnya menatap kearah Yani.


Berlin dan Luqman saling tatap, Paras yang berada disamping Leo tersenyum sumringah melihat Albert bisa move on dari bayang bayang dirinya.


“Paras, kamu enggak cemburu kan saya bawa Yani?” goda Albert menatap penuh bahagia pada Paras.

__ADS_1


Paras tersenyum, “lanjut saja, saya sangat senang kamu tertarik dengan secretaris Langhai,”


Paras mengusap lembut punggung Leo pelan.


Sheeeer,


Sentuhan Paras seperti memberikan arus listrik yang dahsyat mengalir deras hingga ke si unyun.


“Nduut,” rengek Leo meringkuk di perut Paras.


Albert yang tadi tersenyum sumringah, berubah menatap kesal kearah Leo.


“Hmmmm jadi pengen nikah,” kekehnya menggoda kemesraan Leo dan Paras menatap kearah Yani yang tengah menunduk malu.


Paras tersenyum mengusap lembut wajah berbulu suaminya yang masih belum bisa dia maafkan sepenuhnya. Dia tidak ingin karyawan Langhai mengetahui bahwa suaminya terlalu kekanak kanakan seperti ini.


“Pakai dress code kah?” kekeh Paras.


“Buat Paras aku ingin kamu memakai gaun hitam agar terlihat indah. Jangan lupa, pakai pemberian ku, karena aku membelinya setahun lalu,” jujur Albert membanggakan dirinya.


Sheeeer,


“Anjiiiing, ni orang kagak ada malu malunya!” batin Leo berkecamuk mendidih.


Paras tersenyum tipis mendengar ucapan Albert, “hmmmm maafkan aku Albert,” batinnya.


Mereka berpisah, karena ada beberapa pekerjaan lain yang akan Albert kerjakan jika sudah berkunjung ke Jakarta, termasuk mengunjungi Adik satu satunya Fredy Einstein di rumah sakit Jakarta Selatan.


“Oya Paras, bisakah aku membawa secretaris mu lebih cepat?” tanya Albet meminta izin.


“Ooough ya, silahkan. Kebetulan saya juga mau langsung pulang,”


Paras tersenyum sumringah melepas Albert dan Yani didepan pintu ruangannya.


Saat mereka berlalu, Paras menarik nafas panjang, ada perasaan lelah dan harus berlalu meninggalkan kantor segera untuk beristirahat melepas beban yang sejak tadi mendera.


“Ndut,” peluk Leo dari belakang tubuh gendut itu.


“Hmmmm,”


Paras kembali sedingin salju, bahkan lebih dingin daripada harus berbasa basi. Cara Leo menyelesaikan masalah, membuat Parassani Chaniago harus bermuka dua agar tampak lebih profesional didepan rekanan mereka.


“Apa hmmmm?” tanya Paras membalikkan tubuhnya menatap tajam kearah Leo.


“Aku minta maaf,” rengeknya memeluk erat dan menyandarkan kepala dikrakatau miliknya.


Plaaak,


Tamparan keras Paras layangkan pada Leo yang tampak menggampangkan semua pekerjaan.


“Auuugh sakit Ndut! kok aku ditampar?” tanya Leo kaget.


“Kamu buat malu aku! pantas Papi enggak mau mengalihkan sepenuhnya sama kamu! karena apa Leonal, karena Papi merasa kamu belum mampu mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi semua tantangan bersama rekan kita. Kamu tahu apa itu rekanan Leo? kita harus baik baik, menyanjung mereka agar mau menyelesaikan semua permintaan kita tepat waktu, itu rekanan. Kita sama Albert bukan bos dan bawahan. Kita saat ini meminta agar dia bisa menyelesaikan semua unit sesuai schdul agar tidak kenak finalti. Aku manis manis bukan mau berharap apa apa, sedikit pun tidak ada didalam kepala ku tertarik sama dia. Albert itu, hanya segelintir laki laki penakut yang tidak berani menyentuh wanita sebelum menikah. Kamu tahu siapa gadis dikantornya? itu adalah wanita yang dia pakai untuk membantu melakukan oral, bukan untuk di tidurin. Jika aku mau, mungkin sudah sejak dulu aku tidur dengannya Leo! aku benar-benar terhina sama kamu, sangat terhina. Kalau aku mau nakal, saat kamu menghilang dua bulan aku cari pria lain atau bahkan aku menemui dia di Bogor. Kamu ngecewain aku, benar benar nyakitin aku karena kebodohan kamu Bowl, aku benci sama kamu!”

__ADS_1


Paras mengambil tas miliknya, bergegas meninggalkan ruangan.


Cekreeek,


Berlin dan Luqman ternyata masih menguping di balik pintu dengan penuh perasaan cemas.


Mata Paras menatap penuh keanehan pada dua pasutri yang terlihat bodoh dimata Paras.


“Kak,” sapa Berlin salah tingkah mencubit perut Luqman.


“Hmmmm,”


Paras berlalu meninggalkan mereka dengan langkah sangat cepat.


“Nduut, nduuut,” kejar Leo.


“Apa? apaaa??? mau bilang kata maaf? mau nangis nangis minta maaf? kamu hancurkan harapan kita karena cemburu dikepalamu Leonal, aku jengah, aku muak sama sifat kekanak kanakan kamu! Kamu anggap aku Sintya atau siapa? gadis yang ngaku cantik tapi nggak bisa menjaga dirinya, kamu anggap aku sama seperti mereka? maaf, level aku sangat berbeda dengan wanita yang ada di kepala kamu. Selamat siang Tuan Leo,”


Paras berlalu, membawa kepedihan hati yang teramat sangat penuh dengan luka. Wajah gendut itu berderai air mata. Ingin rasanya dia memeluk suami yang sangat dia cintai, tapi kapan lagi memberi pelajaran padanya, agar bisa mengerti dengan tuntutan pekerjaan yang sangat berbeda dengan kondisi di lapangan. Berbagai macam tantangan di luar sana, yang harus dihadapi, jika tidak pandai pandai seperti pesan Maride, mungkin akan menjadi arang dan abu diluar sana. Itulah mengapa Baros masih enggan memberikan sepenuhnya perusahaan kepada Leo, karena putra mereka belum bisa mengendalikan emosi dan memilah semua kasus.


Leo tidak berani mengejar Paras jika sudah begini, kecemburuan yang menari nari di kepalanya membuat dia tampak bodoh karena pemikirannya sendiri.


“Aaaaagh,”


Leo kembali ke ruangannya, mengambil tas tangan miliknya, beranjak meninggalkan ruangan.


Berlin dan Luqman masih tertegun melihat peperangan Paras dan Leo yang sangat mengejutkan mereka.


“Kak, minta maaf giih? susul, kasihan Kak Paras lagi hamil,” ucap Berlin terlihat khawatir.


“Ya, gue mau pesan perhiasan. Temanin yuuuk, puyeng gue kalau udah begini,” sungut Leo lemas.


“Naaaah, Lo bego! Kak Paras nggak selingkuh, kepala Lo mikirnya selingkuh. Dia enggak sama kayak Lo,” ucap Berlin melihat secara gamblang kebodohan Leo sang kakak.


Luqman hanya merangkul bahu Leo, tersenyum tipis, “apa gue bilang, otak kalau ngomong tuh harus singkron bro, biar enggak gagal ginjal, eeeh gagal paham, jadinya salah paham,” kekeh Luqman.


Leo mendengus kesal, “bisa enggak kalian menghibur gue? Bukan malah menjadge gue terus terusan,” rungutnya.


“Leo Leo, untung Mami nggak disini, kalau disini, mati kita!” kekeh Luqman.


“Gue bakal lapor ke Mami, biar tahu rasa Lo! Kak Paras menantunya lagi hamil, Lo giniin. Bisa balik arah jet pribadi Langhai detik ini juga,” ancam Berlin mengikuti langkah kaki suami dan abangnya.


Leo menoleh kearah Berlin, “jangan dong, bisa habis aku di unyek unyek Mami,” mohonnya.


“Makanya beliin juga aku perhiasan inisial nama yang kayak punya Gigi istrinya Rafii Ahmad, biar terlihat elegan gitu, walau bertubuh sintal tapi sexseh bebeh,” godanya pada Leo dan Luqman yang semakin kesal menatap kearah adiknnya.


“Gila Lo yah, bayarannya mahal banget!” teriak Leo mengapit kepala adiknya mengacak rambut panjang itu.


Bego' bego',🤧


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2