Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kebahagiaan berubah duka.


__ADS_3

⏳Hampir 2 minggu waktu berlalu, Leo dan Paras semakin mesra dan romantis. Walau terkadang ada beberapa perselisihan kecil, merupakan hal biasa yang terjadi pada pasangan suami istri. Namanya juga sendok sama garpu bertemu, pasti ada brisik. Yaaaah, biasa banget khaaan.


Kebahagiaan keduanya berubah saat Paras mengalami pendarahan hebat pukul 01.00 dini hari waktu Jakarta. Saat keduanya sudah terlelap tiba tiba Paras merasa mandi cairan merah.


"Bowl, Bowl, Bowl," Kejut Paras pada lengan Leo.


"Hmmm! Kenapa Ndut?" Tanya Leo berusaha duduk dikepala ranjang kamar mereka.


"A ak aku pendarahan Bowl!" Tangis Paras menahan rasa mulas dan sakitnya.


"Apa?" Leo terlonjak kaget dan panik, segera menghubungi ambulance rumah sakit agar menjemput mereka ke Kuningan. "Nduuut, kamu bertahan yah! Baby, daddy disini nak! Jangan pergi sayang!" Tangis Leo mengelus perut istrinya.


"Hzzzzt... sakit baget sayang!" Paras meringis menahan rasa sakit yang seperti diperas peras bagian bawah perutnya.


"Sabar sayang! Sebentar lagi ambulance akan datang."Jelas Leo masih mengecup punggung tangan Paras.


⏳20 menit kemudian, petugas ambulance menjemput Paras, mengikat tubuh sintal Paras di tandu, membawa istri Leo segera kerumah sakit. Benar saja, darah segar sudah menembus sprei kamar mereka.


Leo bergegas menyusul istrinya di ambulance, meminta petugas apartemen membawa mobilnya ke rumah sakit. Pukul 03.00 dini hari waktu Jakarta, Paras dinyatakan kehilangan janinnya, dikarenakan keracunan makanan.


"Maaf Pak Leo, kita akan melakukan tindakan, menguret janin yang ada didalam rahim Ibu Paras!" Jelas Dokter Fredy.


Leo mengusap kasar wajahnya, tak kuasa menahan sedih. Dia segera menghubungi Maride dan Baros,


πŸ“ž"Mi, Paras Mi! Dia keracunan makanan." Isak Leo ditelfon membuat Maride terlonjak dari atas ranjang.


πŸ“ž"Sekarang bagaimana keadaan menantuku? Kalian dimana?" Tanya Maride risau.


πŸ“ž"Kami dirumah sakit Jaksel Mi, kesinilah yah!" Pinta Leo masih menangis.


πŸ“ž"Iya iya! Mamak kesana, kau tenang yah nak!" Maride mencampakkan handphone miliknya ke arah Baros, agar Baros terjaga.


Bener saja, Baros terjaga kemudian mereka bergegas ke rumah sakit Jakarta Selatan.


⏳1 jam kemudian dokter keluar dari ruangan tindakan, menenangkan Leo yang tengah duduk termenung dengan perasaan khawatir.


"Bagaimana istri saya dok?" Tanya Leo.


"Saat ini Ibu masih pengaruh bius, beberapa menit lagi akan siuman. Usia kandungan memasuki 12 minggu, jadi ada makanan yang di konsumsi Ibu Paras mengancam kehamilannya." Jelas Fredy.


"Makanan? Setau saya, istri saya selalu memakan masakan rumahan dok?" Kenang Leo. "Nanti saya tanyakan." Senyum Leo.


"Beberapa hari ini dia pergi dengan Berlin, mungkin mereka mengkomsumsi makanan mentah, karena Paras tidak begitu suka masakan Jepang dan sejenisnya, sementara Berlin sangat menyukai masakan Jepang!" Batin Leo kembali mengingat.


"Saya permisi Pak Leo! Tenang saja, jika Ibu sudah sembuh, bisa di program kembali!" Senyum Fredy menepuk lembut bahu Leo kemudian berlalu meninggalkan Leo dalam keadaan berduka.


Leo bergegas masuk ke ruangan tindakan, menyelimutkan tubuh Paras yang kedinginan.


"Bowl, maafin aku! Anak kita Bowl!" Tangisnya dipelukan Leo.


"Ssst, sudah! Yang penting kamu sehat dulu! Jangan dipikirkan. Mungkin ini yang terbaik agar kita lebih sabar Ndut!" Titah Leo.

__ADS_1


"Tapi Mami Bowl, Mami sama Papi sangat berharap punya cucu dari kamu!" Tangis Paras semakin terisak, membuat bahunya bergetar.


"Nggak apa apa! Kamu habis makan apa sama Berlin, hmmm?" Tanya Leo lembut mengusap air mata istrinya di pipi tembem itu.


"Aku makan direstoran Jepang. Makan beberapa yang mentah, aku lupa kalau aku hamil, maaf Bowl! Aku benar benar minta maaf." Isaknya.


Leo menarik nafas dalam, kali ini kebahagiaannya berakhir duka karena kecerobohannya tidak bisa menemani sang istri karena kesibukannya. "Sabar yah!" Bisik Leo di telinga Paras.


Cekreek,


Maride dan Baros datang mendekati Paras dan Leo. "Bagaimana dengan cucuku nak?" Tanya Maride dengan raut khawatir.


"Mami!" Tangis keduanya pecah dipelukan Maride yang sudah dirangkul Leo dan Paras.


"Maafkan aku Mi! Aku nggak bisa menjaga cucu Mami!" Tangis Paras pecah diperut Maride.


"Hmmm, tenang lah yah! Belum rejeki, nggak apa apa! Yang penting kalian semangat terus. Jangan menyerah. Ini ujian untuk pernikahan kalian. Diberi cobaan agar kalian kuat. Mamak yakin, akan ada Leo junior yang akan tumbuh sehat di rahimmu! Ingat, lain kali jangan kau ikutkan Berlin. Dia itu pencinta japanes food. Nggak sama dengan selera mu! Telor aja kau nggak suka! Cuma telor Leo aja yang kau telan." Kekeh Maride menghibur menantunya yang tengah berduka.


"Mami iiighs!" Rengek Leo.


"Kok kau pula yang nangis nangis? Kau sebagai suami harus menenangkan istri! Bukan sama sama nangis kalian! Mungkin juga, kalian terlalu kecapeaan. Kesana kemari, belum lagi kau kun*ap kali! Pasti setiap malam kau hajar bini kau kaaan?" Usap Maride pada bahu Leo.


"Iya," JujurLeo.


"Haaah, kalau istri lagi hamil tu di hemat hemat untuk tahun depan Leonal!" Geram Maride.


"Ck, Mami sok tau!" Rungut Leo.


Baros hanya geleng geleng kepala, mendengar racauan istrinya untuk menghibur anak menantunya.


Paras diperbolehkan pulang, tentu dalam pengawasan Maride dan juga Maid hingga Paras dinyatakan benar benar sembuh.


Paras melakukan pengobatan tradisonal sesuai anjuran Maid yang merawat Paras agar selalu bahagia disela sela menunggu Leo pulang kantor. Untuk beberapa waktu Maid tinggal bersama Paras dan Leo. Maid memberikan jamu rempah rempah untuk Paras agar tubuhnya tetap hangat dan segar. Melakukan perawatan agar darah kotor yang menempel terkikis dan kembali pulih seperti sedia kala.


⏳1,5 bulan sudah berlalu, Paras benar benar menyerahkan seluruh perkerjaan kantor pada Leo. Membuat Leo lebih sering menghabiskan waktu di kantor. Sesekali Paras ikut menemani Leo untuk menanda tangani beberapa kontrak.


"Ndut, udah sembuh belum?" Tanya Leo memeluk tubuh berlemak Paras dari belakang.


"Seminggu lagi sayang!" Jelas Paras diruang kantor mereka.


"Aku kangen ndut! Pengen banget, lihat deh wajahku kusut banget belum kenak tembem kamu!" Goda Leo.


"Iiiighs! Sabar yah, seminggu lagi kita buat lebih hot! Aku ada baca beberapa artikel. Kita bulan madu yuuukz Bowl! Kemana gitu! Bali, lombok, atau Jerman?" Kekeh Paras.


"Hmmm, tunggu yah! Rumah kita hampir rampung, selesai rumah beres, kita bulan madu. Oke!" Goda Leo di puncak hidung istri tercintanya.


Paras mengangguk.


"Boleh ini nggak?" Kecup Leo pada krakatau Paras.


Paras mengangguk, tentu disambut oleh Leo dengan penuh suka cita. Perlahan Leo menc*iumi krakatau Paras dari luar baju, sampai akhirnya Leo merebahkan tubuh Paras di sofa ruangannya.

__ADS_1


Membuka kancing kemeja Paras, mengeluarkan krakatau dari sarangnya.


"Huuuufgh Bowl!" Des*ahan Paras kembali terdengar di telinga Leo.


"Des*ah Ndut! Aku kangen dengar des*ah kamu." Jujur Leo.


Paras menggigit bibir bawahnya, menikmati lum*atan tiap lum*atan yang diberi Leo pada krakataunya.


Leo yang sudah on dari kapan tau, membuka gesper dan celana panjangnya mengarahkan siunyun ke wajah Paras. "Mainin Ndut! Dia kangen banget sama bibir kamu!" Rengel Leo manja.


"Serius mau disini?" Tanya Paras sedikit ragu.


"Ho'oh! Aku kangen banget! Nggak bisa nahan lagi!" Mohon Leo.


Perlahan Paras mengurut si unyun yang sudah mengeras, pelan memasukkan kemulut se*xynya.


"Hmmmfhh, aaaagrh! Ya Ndut ooogh!" Racau Leo memejamkan matanya menikmati pijatan dan sedotan dari mulut sang istri.


"Ndut, aku kelu*arin dimulut kamu yah?" Pinta Leo saat merasa akan mencapai pelepasannya.


Paras tak menjawab, dia hanya ingin Leo merasa lega dan bahagia. "Nggak apa apa deh!" Batin Paras.


⏳15 menit kemudian, "Oooogrgh aaaagh, ooogh! Enak banget Ndut! Kamu luar biasa! Sed*otan kamu indah banget Ndut!" Ucap Leo yang telah mengeluarkan gizi terbaik di mulut Paras.


"Huuuweeek, huuuwweek!" Paras lari kekamar mandi merasakan gejolak dari cairan itu membuat isi perutnya menggelora. Paras mencuci mulutnya, mencari antiseptik pencuci mulut.


Jujur Leo tertawa melihat kelakuan istrinya. "Kamu kenapa? Kenapa nggak nolak, kalau nggak mau aku keluarin dimulut." Goda Leo.


"Aku nggak mau kamu kecewa Bowl! Tapi aneh yah rasanya! Seumur umur baru kali ini aku seperti pemain bok*ep Bowl!" Kekeh Paras kembali menggoda Leo.


"Suka nggak?" Tanya Leo mengecup leher Paras meninggalkan jejak disana.


"Suka pake banget. Pengalaman kamu ternyata banyak tentang s*ex! Nggak kayak aku!" Tunduk Paras malu.


"Heeii, lebih baik aku jadiin kamu pemain bok*ep aku, dari pada aku sok baik depan kamu tapi bajingan di luar sana. Kita harus menciptakan semua demi kebahagiaan kita sayang. Apapun itu, akan kita coba! Jujur ini yang pertama aku ngeluarin dimulut wanita, dan itu istri ku yang paling pintar ini!" Kecup Leo dikening Paras. "Makasih yah! I love you ndut! Kita nonton?" Tanya Leo.


"Hmm, karauke boleh nggak? Kita ambil room aja! Ajakin Luqman dan Berlin juga, ajak Yani juga boleh." Jelas Paras.


Leo mengangguk setuju, meminta sahabat dan adiknya menunggu mereka di loby kantor, saat time pulang kantor.


Mencari kegiatan, untuk melupakan permasalahan sejenak karena baru kehilangan kehidupan baru yang sangat dinantikan. Semoga akan mendapat pengganti yang baru.


Bersambung...


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯

__ADS_1


__ADS_2