
Leo dan Paras mengundang beberapa anak yatim piatu agar mendo'akan untuk keselamatan kehamilan Paras dan bertambah usianya. Karyawan Langhai Group turut hadir disana memberi ucapan selamat pada sang direktur yang tak selincah dulu.
"Mba, selamat yah! Semoga baby four sehat semua dan tidak berkurang satu apapun." Ucap Luqman pada Paras.
"Terimakasih Luqman." Senyum Paras menyambut tangan dan kado dari Luqman.
Paras mengerenyitkan kening, "apa ini?" Tanya Paras membolak balikkan kotak kecil ditangannya.
"Kado, dari saya dan Berlin!" Jujur Luqman enteng.
"Hmmm, makasih yah! Calon adek ipar." Kekeh Paras menatap mata Luqman.
Luqman teratawa, "nggak lah mba kita temenan aja! Belum boleh pacaran sama Mami Maride." Jelas Luqman.
"Ooogh!" Paras membulatkan bibirnya. "Kalau nikah di bolehin kali!" Kekeh Paras.
"Enggak tau Mba, Berlinnya aja masih angot angotan." Jelas Luqman.
Paras tertawa mendengar cerita Luqman. Baginya Luqman cowok paling lembut. Jika di banding Kennedy lebih baik Luqman, batin Paras.
"Paras, jan lamo bana tagak nak! Beko bangkak kaki kau!" Ucap Faisal menepuk bahu sang putri bungsu.
Paras tersenyum, memeluk lengan Faisal. "Makasih yo Pak! Apak alah namuah basobok jo Paras. Rindu samo Uni Luna Pak!" Mata Paras berlinang seketika mengenang kakak pertamanya.
"Hmm, kalau nadak di paso dek Mami mintuo kau, Apak maleh kasiko! Jakarta ko buek paniang!" Jelas Faisal.
"Main aja ke kantor kalau Apak paniang ndak ado kegiatan. Bisa Apak guliang guliang dari lantai 32 ka lantai 1!" Tawa Paras menggoda Faisal.
"Hmmm, galak kau lai! Yuuuk, kesana kita." Ajak Faisal.
Leo sibuk memberikan bingkisan kepada anak anak panti bersama Berlin, Maride dan Kirai.
Paras melihat Leo penuh semangat memberi bingkisan yang cukup untuk para anak anak yang tidak beruntung itu. "Bowl, sini!" Panggil Paras saat melihat Leo mulai lega.
Leo menghampiri Paras membawa segelas minuman segar untuk istri tercintanya. "Kamu mau? Mba buatkan untuk kamu!" Jelas Leo memberi segelas air melon bercampur kelapa muda dan biji selasih.
__ADS_1
"Sluuurp, hmmm. Seger wangi." Ucap Paras memeluk perut Leo yang masih berdiri di hadapannya. "Bowl, bawa aku ke kamar, aku lelah!" Ucap Paras berusaha berdiri dari duduknya.
"Sabar yah Ndut, ini baru 4 bulan. Kamu begini, gimana sampe 9 bulan Ndut!" Khawatir Leo melihat kondisi Paras semakin sulit berjalan atau duduk lebih lama.
"Iya, enggak apa apa Bowl! Aku udah baca beberapa link tentang kehamilan lebih dari dua. Akan lebih lelah, bahkan butuh asupan makanan lebih sering dan banyak! Aku nikmati Bowl, ini anak kita! Anak pria brewok yang jelek ini," Goda Paras tertawa dilengan Leo.
"Hmm, kita akan menjaganya dengan sangat baik, yang penting kamu jangan ngapa ngapain dulu!" Jelas Leo menegaskan.
"Iya Bowl! Bawel. Oya, tadi Luqman ngasih ini sama aku!" Paras mengeluarkan kado dari Luqman yang dia masukkan ke baju yang berkantong seperti doraemon.
Leo menautkan alisnya. "Apa ini Ndut? Ada ada aja tuh anak! Ngasih kado segala. Padahal, dia datang aja udah seneng banget kita! Buka yah?" Izin Leo diangguki setuju oleh Paras.
Keduanya penasaran isi kotak kecil itu, ternyata berisikan cincin mutiara yang di lapisi berlian kiri kanannya. "Hmmm, indah banget! Tau aja Luqman aku suka mutiara!" Kekeh Paras mencoba cincin pemberian Luqman itu.
"Ini dari Luqman Ndut?" Tanya Leo sedikit kesal dan cemburu.
Paras mengangguk, "Berdua Bowl, Berlin ama Luqman. Bagus yah?" Senyum Paras mengembang menghiasi wajah cantiknya yang semakin gembul.
Leo hanya tersenyum, "bagus kalau ada Berlinnya." Ucap Leo memeluk Paras. "Tidurlah, istirahat! Kamu capek. Aku tinggal dulu yah! Orang yayasan masih diluar." Senyum Leo.
Paras mengangguk membiarkan Leo mengurus tamu di luar.
"Dikamar Mi! Dia kelelahan! Apaan seeh Mi, enggak usah kasih kado! Dengan Mami disini aja kami sangat senang sekali!" Peluk Leo pada ibu gendutnya Maride.
"Eeeh, dia itu hamil cucuku! 4 orang yang dia kandung Leonal! Rumah ini pun kau kasih enggak akan cukup Leo! Dia mengandung keturunan kita! Ini satu mukjizat nak! Aku terharu, kau jadi lebih baik semenjak menikah dengannya." Tunduk Maride sedih. "Ntahlah, Mami rasa Paras tu memang gadis baik kali untuk mu!" Usapnya pada sudut mata bulatnya.
Leo tersenyum memeluk Maride, "yuuk, aku antar! Pasti dia senang dapat kado dari ibu mertua yang se*xy ini!" Kekeh Leo.
Maride masuk kekamar Paras di temani Leo, "Ndut, Mami mau ngasih sesuatu!" Ucap Leo menghampiri Paras.
Paras berusaha duduk dari tidurnya, tapi Maride menahannya. "Tiduran saja. Mami cuma mau ngasih seritifikat ini untuk mu! Besok kita ke notaris untuk balik nama. Mami ngasih villa yang di Puncak untuk mu. Selamat ulang tahun yah! Jaga cucu ku, biar selalu sehat!" Ucap Maride mengusap perut Paras yang sudah membuncit.
Paras menatap Leo, "Mami ini berlebihan! Aku hanya ulang tahun biasa!" Isak Paras penuh rasa haru.
"Hmm, ulang tahun biasa. Tapi kau memberi aku cucu yang sangat luar biasa banyaknya." Kekeh Maride. "Langsung 4 kau kandung, macam kucing kau hamil!" Tambah Maride.
__ADS_1
"Anugrah Mi, rejeki! Biar air bus Mami ada pewarisnya selain Leo!" Tawa Paras menggoda suaminya.
"Iya, Dokter Preed tadi nyariin kalian! Dia bawa buket cantik sekali. Ngalahin ngasih kado sama pacar!" Tawa Maride.
"Tolong suruh Fredy masuk aja Mi! Ada yang mau aku tanya!" Pinta Paras pada Maride.
"Iya, tunggu yah!" Paras meletakkan surat yang diberi Maride di laci nakas.
"Kamu hamil dikasih villa! Gimana kamu mgelahirin Ndut! Mami terkadang suka berlebihan!" Ucap Leo menggoda puncak hidung istrinya.
Tok tok tok,
"Masuk," Teriak Leo.
Fredy dan Berlin ditemani Maride dan Baros masuk ke kamar mereka.
"Selamar ulang tahun Mba Paras!" Ucap Fredy.
Paras tersenyum, "thankyou dokter!" Jawab Paras, "Nafas ku rasanya sesak kalau duduk dokter, tapi makan, jalan, masih enakan! Duduk aja yang sesak!" Cerita Paras pada Fredy.
"Hmm, ini udah bulan ke 4. Berarti Mba harus lebih aktif, tapi jangan capek capek. Istilahnya biar enggak sesak, Mba bisa jalan pagi atau berenang, aktifitas ringan saja. Nanti minta asisten rumah buatin juice lebih sering. Ingat, kita sama sama menjaga yah Mba! Aktif bukan berarti melakukan akitifitas lain di luar, yang ringan saja! Mba paham kan?" Jelas Fredy panjang lebar.
Paras mengangguk mengerti.
Leo berbisik, "udah bisa di kunjungi lebih seringkan Fred?" Bisik Leo.
Fredy menepuk lembut bahu Leo, "bisa bang! Tapi jangan aktif kali! Kasihan kakak!" Kekeh Fredy kembali berbisik.
Tawa keduanya pecah, membuat Maride dan Berlin menaruh curiga.
B e r s a m b u n g....
ππππππ
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
__ADS_1
Setidaknya kalian penyemangatku!
Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....π€π₯