Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Bergejolak..


__ADS_3

Kehangatan terlihat jelas saat masih berada dilantai dasar Langhai Group. Beberapa security berdiri dibelakang Paras dan Leo untuk mengamankan sang majikan yang loyal pada mereka.


"Tuan, mobilnya mau saya parkir disini?" tanya security pada Leo.


Leo melirik kearah Paras, "boleh, minta satu supir untuk mengantarkan kami. Saya mau makan siang dengan Pak Sandoro dan Albert di Pasifik Place, tolong yah," perintahnya.


Security menundukkan kepalanya, berlalu meninggalkan para petinggi.


Amy masih melirik kearah Leo dan Albert, tanpa mau melepaskan tangan dari lengan Sandoro yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Paras tengah sibuk dengan telfon selulernya.


"Pi, kita makan masakan Jepang yah?" bisik Amy pada Sandoro.


"Iya sayang, tapi selesai makan kita balik ke kantor, jujur aku masih kenyang, habis disuguhin cream soup, tapi enggak apa apalah," jawab Sandoro.


Mereka memang ditahan Leo, karena Albert yang meminta untuk mengajak serta Sandoro.Terkadang bisnis itu harus menggunakan tindakan licik.


Amy seorang wanita panggilan pada zamannya, masih menggoda Albert dan Leo tanpa ada perasaan sungkan dihadapan Sandoro.


Albert melihat kehadiran Yani, menghampirinya memeluk mesra tubuh mungil tengah berbadan dua itu.


"Wife, kenalkan ini Amy dan Tuan Sandoro. Kami ingin makan diluar, tadi kurang nendang spaghettinya, kamu mau makan apa?" kecup Albert pada kepala istrinya.


Yani menyambut tangan Sandoro dan Amy, melirik kearah Paras masih sibuk dengan panggilan teleponnya.


"Ya udah, hayuk," ajak Yani mencolek tubuh gembul Paras sang direktur Langhai.


Paras menggandeng lengan Leo, menutup telfonnya, mengajak partner bisnis mereka untuk jalan bersama menggunakan mobil yang berbeda.


"Tumben? kamu ngajak mereka Bowl?" tanya Paras memasang kaca mata hitam dengan sangat elegan, membuat Amy terkesima melihat semua barang-barang branded yang digunakan istri Leo.


Tentu jiwa masa lalunya bergejolak panas, bahkan meledak ledak seperti bom atom, menuntut pada Sandoro agar dibelikan barang branded seperti yang dikenakan Paras.


"Pi, lihat tuh si gendut. Semua barangnya branded. Masak aku sudah dua tahun sama kamu masih pake tas itu itu saja. Perhiasan juga nggak pernah yang berkualitas kelas satu seperti dia," rungut Amy pada Sandoro, membuat hati pria itu sedikit kesal.


"Kok kamu malah menuntut yang aneh aneh, bukankah kamu tahu, bahwa perusahaan dikendalikan istriku? mana bisa aku membelikanmu semua itu. Kau menjadi secretaris ku saja, sudah sangat cukup bagiku, mau minta aneh aneh," jelas Sandoro pada Amy.

__ADS_1


Amy semakin merungut, memajukan bibir seksinya, "apa salahnya kamu korupsi sedikit dikantor, buat aku!" perintahnya tanpa ada perasaan bersalah.


Sandoro melirik kearah Amy, "kamu kenapa? ada apa denganmu? bukankah kamu tahu semua laporan keuangan perusahaan sudah diatur Bety? aneh."


Mereka menembus jalanan kota metropolitan menuju Pasifik Place, cukup jauh dari Langhai karena arus padat merayap.


Leo justru tengah sibuk membalas satu persatu email dari beberapa rekan yang akan menerima unit Airbus beberapa hari lagi.


"Ndut, kita selesai ini langsung belanja saja yah? setelah dari sini aku mau bertemu Bang Simon," jelas Leo.


Paras mengangguk, "kita nggak lama kok, hanya mengambil pesanan adik kamu Berlin saja. Oya, nanti kamu bayarin dulu yah? Berlin yang ganti uangnya nanti. Uang ku nggak cukup, karena ATM tinggal dirumah," jujurnya.


Leo hanya menggelengkan kepalanya melirik kearah Paras, "selama ini yang bayar belanjaan kalian siapa seeh Ndut? pernah aku nggak bayar tagihan Berlin. Emang dia bayar, tapi kan ke baby four," kekehnya.


Paras meringkuk kepelukan Leo, mengecup mesra leher suami terkasih, mengelus lembut wajah yang ditumbuhi bulu-bulu sangat menggelitik hati.


"Hmmm udah deh Nduut, aku jadi mau nih," goda Leo melirik wajah istri tercinta.


Paras mencubit gemas perut sispack terawat milik Leo. Walau sudah memiliki baby four masih tetap metroseksual.


Leo mengangguk patuh, "kebiasaan manja," godanya pada puncak hidung Paras.


Mobil Marsedez Benz GLB-class berwarna putih seri terbaru itu terparkir di depan loby Pasifik Place, dengan sangat elegan Paras dan Leo turun dari mobil yang memiliki plat nomor cukup dua digit.


Tubuh gendut dibalut mini dress berwarna hitam dengan leher lebih terbuka tanpa lengan sangat pas ditubuh Paras yang tidak seksi menurut orang yang tidak menyukainya, tapi sangat sempurna bagi Leonal.


Rambut panjang kecoklatan, sengaja dicepol tinggi oleh Leo, saat mereka menunggu Albert dan Yani dipintu masuk mall.


"Thankyou Bowl," bisik Paras memeluk manja tubuh pria lebih muda itu.


Leo hanya mengusap lembut punggung Paras, saat menunggu Amy dan Sandoro.


Wanita penggoda itu semakin terbakar rasa cemburu, melihat kemesraan Leo dan Paras, "iiigh kenapa bukan aku yang menjadi ratu Leo. Padahal dulu dia sangat rajin mengunjungiku, bahkan menjanjikan apartemen mewah didaerah Kuningan. Semua karena Berlin yang tidak menyukai aku," rungutnya semakin menggenggam jemari Sandoro dengan sangat keras.


"Kamu kenapa?" tanya Sandoro.

__ADS_1


"Hmmm lihat tuh, tas si gendut, baranded Pap, aku?" rengeknya.


Sandoro hanya tersenyum tipis, geleng-geleng kepala, melirik Amy selingkuhannya yang semakin menuntut kemewahan akhir akhir ini.


"Kemaren kan aku sudah membelikan kamu tas, please, jangan terlalu banyak menuntut. Mereka sangat mengenal istriku. Bisakah kita propesional? walau mereka tahu kamu adalah selingkuhanku," jelas Sandoro membuat Amy semakin berfikir keras untuk menggoda Albert atau Leo.


Mereka saling bercerita sepanjang jalan, saat akan memasuki area restoran Prancis pilihan Paras. Tentu Amy semakin memberontak kesal pada Sandoro.


"Pap, aku mau restoran Jepang! bukan Prancis, iiiighs," rungutnya semakin dalam.


Sandoro semakin kesal melihat ulah selingannya, "kamu bisa diam dulu nggak? saya atasan kamu saat ini," tegasnya meremas kuat tangan Amy.


Albert dan Yani yang melihat reaksi Sandoro dan Amy tersenyum puas, karena dia berhasil membuat Sandoro semakin tahu akal bulus simpanannya yang tidak pernah bersyukur.


Yani masih sedikit bingung, hanya melirik Albert yang tersenyum penuh makna pada Leonal.


"Hubby, nanti kita masuk kesana yah?" tunjuk Yani pada salah satu toko perhiasan.


Albert memeluk Yani, mengusap lembut punggung istri tercinta dengan penuh kasih sayang, "iya, sudah ditanya harganya berapa sama Berlin?" tanyanya santai.


Yani membisikkan sesuatu, membuat suami tersayang membelalakkan kedua bola matanya, menelan saliva berkali kali.


"Are you kidding me?" tanya Albert geram.


Yani tertawa terbahak-bahak melihat reaksi wajah Albert Einstein, yang hanya menggeleng tanda kurang setuju.


Bagaimana tidak, Yani meminta perhiasan dengan nilai fantastis dan tidak masuk akal.


"Bercanda sayang," kecup Yani pada pipi Albert.


"Kalau harga dua milyar lebih baik aku membeli mobil seperti mobil keluarga Leo."


Albert merangkul Yani, memasuki restoran dengan wajah tersenyum sumringah.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2