Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Perubahan status.


__ADS_3

Ssssst, dicerita ini agak-agak kumaha kitu, mohon jangan diambil hati atau dipikirkan.


Ingat ini hanya karya Author yah, mohon maaf jika tidak sesuai dengan hati dan perasaan.πŸ™


Jangan lupa minum kopi biar lebih rilex...πŸ™πŸ˜˜


_________________


Leo menghabiskan malam bersama Paras diapartemen Kuningan, membuat Paras memohon pada Leo agar menghentikan permainannya. Si dede unyun seperti tidak ingin berhenti saat memasuki incubator Paras yang sangat berbeda.



Visual Leo dan Paras.


"Maaf sayang, kau sangat indah bagi ku!" Kecup Leo pada punggung telanjang Paras.


"Hmmm!" Paras memejamkan matanya. Jujur dia tak bisa mengimbangi Leo, karena baginya Leo pria yang kuat dan sangat menggairahkan di ran jang.


"Tidurlah, aku akan menjagamu!" Bisik Leo. "Ternyata kamu nggak sanggup dengan kelihaian si unyunku sayang!" Kekeh Leo membatin.


Paras masuk ke dunia mimpinya, tentu dalam dekapan Leonal.


Berlin memilih pulang ke Kalibata, atas permintaan Leo. Ponsel Leo yang selalu tidak ada jawaban membuat Berlin kesal, karena Maride berkali kali menelfon Leo tidak ada jawaban sama sekali.


πŸ“ž "Ya Mi!" Jawab Berlin tengan bersantai diranjang kingsize sang kakak.



Kamar Leo di Kalibata.


πŸ“ž "Mana Leo? Mami telfon nggak diangkatnya! Kemana dia?" Tanya Maride di nada do tinggi.


πŸ“ž "Hmm, aku nggak tau Mami! Kak Leo tadi lagi sama Kak Paras!" Jelas Berlin.


πŸ“ž "Kau dimana?" Tanya Maride terdengar penasaran.


πŸ“ž "Kalibata!" Jujur Berlin.


πŸ“ž "Hmmm, laki-laki kalau udah kenak incubator, nggak akan berhenti sampai muak!" Geram Maride.


πŸ“ž "Ya, dia juga nggak jawab telfonku!" Rengek Berlin mengadu pada Maride.


πŸ“ž "Tenang! Besok pagi mamak dobrak apartemen kuningan itu." Kekeh Maride menutup telfonnya.


Berlin meletakkan ponselnya kembali, melanjutkan komunikasinya dengan Kennedy melalui laptop hingga terlelap.


Saat hiruk pikuk kendaraan sudah mulai memadati kota metropolitan, Maride sudah menginjakkan kaki di apartemen Kuningan.


Benar sekali, pagi sekali Maride sudah tiba di Jakarta. Baros dan Maride berangkat dari Bandung pukul 04.00 dini hari, karena nggak ada kegiatan. Bukan karena ingin menggerebek, melainkan menggoda putra putrinya.



Visual Maride nyelonong masuk ke apartemen Leonal.


Maride masuk ke apartemen dengan akses yang dia miliki. Baros tersenyum melihat istrinya yang sangat penasaran dengan putranya Leo.

__ADS_1


Tok tok tok, gedor Maride dikamar Leo.


"Hmmm!" Jawab Leo masih enggan membuka pintu.


"Leonal, bangun! Sebelum Mamak dobrak pintu ini!" Tegas Maride.


Paras terkejut mendengar suara Maride, "Aaaaaugh! Kamu kok nggak ngasih tau Ibu kesini? Aku mesti jawab apa? Iiighs!" Kesal Paras pada Leo sedikit takut dan segan.


"Uuups, tenang aja!" Leo melihat jam masih pukul 06.00 waktu Jakarta. "Aku sambut Mami dulu kamu mandi yah!" Kecup Leo di kepala Paras.


"Leo!!! Nggak keluar juga dia Pi!" Terdengar sayup sayup suara Maride merepet bak kaset kusut di balik pintu.


Paras masuk ke kamar mandi, Leo melangkah menuju pintu kamar, menatap wajah imut sama Mami.


"Apa seeeh Mi! Masih pagi! Mami ngapain pagi-pagi kesini?" Leo memeluk tubuh gembul Maride menyandarkan kepalanya didada sang Ibu.


"Mana Paras?" Tanya Maride.


"Ada tuh dikamar mandi!" Jujur Leo.


"Ooogh, Mamak pikir udah loncat dia dari gedung ini karena takut jumpa aku!" Kekeh Maride.


"Mamak kesini untuk mendatangi catatan sipil! Pernikahan kalian sudah kami daftarkan. Jadi siang ini kalian akan menikah." Jelas Maride tanpa expresi menatap Baros.


"What?" Mata Leo melotot. "Secepat inikah? Aku belum selesaikan urusanku dengan Sintya! Pasti dia akan menyakiti ku dan Paras jika dia mendengar pernikahan kami." Jelas Leo.


"Dari pada kalian begini? Aku tak mau yah, punya cucu di luar kandungan!" Tegas Maride.


"Di luar nikah Mi!" Jelas Baros sambil terkekeh.


"Ya udah! Kapan? Biar beres! Aku ikut aja." Ucap Leo mengalah.


"Cok kau tanya dulu si Paras! Mau dia nikah macam gitu untuk sekarang? Jangan kau tanya Mamak!" Maride mencari-cari makanan di kulkas milik Leo.


"Mi, buatin aku kopi!" Pinta Leo manja mengalihkan pembicaraan orang tuanya.


"Ya! Calon menantu Mamak mau apa? Biar Mamak buatkan!" Ucap Maride masih dengan nada do tinggi.


"Biasa kopi susu tanpa gula!" Jelas Leo.


"Woooii! Yang namanya kopi susu, memang tak pakai gula! Karna susu kental itu creamer yang sudah manis. Masak itu aja kau nggak tahu. Jauh-jauh sekolah ke Australi, masih bodoh juganya otak mu Leo!" Kekeh Maride.


"Udah aaagh, aku mau mandi! Mami buatin aku sarapan yah?" Pinta Leo manja.


"Hmmm! Kayak pembantu Mamak di apartemen mu yah!" Gerutu Maride.


Leo memeluk Maride, "Bukan Mami sayang, aku rindu kali masakan Mami! Walau tak enak dilidahku, tetap enak dilidah Papi! Aku rindu asin kecut masakan Mami!" Kekeh Leo merengek.


"Hmm! Iya, Mamak buat pakai asam tembem ni nanti!" Tawa Maride.


"Aaaagh, Mami jorok aaagh, masih pagi!" Kecup Leo pada pipi Maride.


"Mandi kau cepat, yang bersih! Gosok ************ mu itu! Biar nggak itam!" Tawanya.


"Enak aja! ************ aku bersih yah! Kan sering ke salon sama Berlin!" Jelas Leo membuka boxernya tanpa malu.

__ADS_1


"Oooogh Mak, besarnya si unyun mu! Hmmm, itu dah tidur? Gimana bangun! Bisa menjerit jerit Paras kau buat!" Kekehnya.


"Bukan menjerit lagi Mi! Justru minta ampun!" Leo semakin tertawa.


"Hmmm, bagus itu! Sama kali lah anak Mamak ini sama bapaknya. Pandai membuat gila!" Senyum Maride mengangkat kedua alisnya.


Leo tertawa, "ngelayanin Mami maaah, nggak ada habisnya. Aku mandi!" Leo berlalu meninggalkan Maride di dapur yang tengah meracik sarapan untuk putra kesayangannya.


Baros justru tengah terlelap di sofa. Daripada sakit kepala mendengar bacotan sang istri lebih baik tidur, batin Baros.


Paras masih menunggu Leo didalam kamar, "apa mesti aku jawab sama Ibu! Dia pasti akan mengacak rambutku!" Batin Paras merengek didepan cermin.


Leo keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan sehelai benangpun, membuat mata Paras tertegun menatap si unyun yang gondal gandul bak lonceng sapi dikampungnya.


Paras menelan salivanya, "Itu masih tidur sayang?" Ucap Paras menunjuk dengan tangan kanan, tangan kiri menutup mata dengan tapak melebar.


"Iya! Ini yang membuatmu menjerit keenakan tadi malam!" Kekeh Leo memakai segitiga bermudanya.


"Iiighs, pantes, banyak wanita yang gila sama kamu!" Rungut Paras.


Leo menaikkan alisnya, menatap lekat manik mata Paras, sudah tau tujuan pembicaraan ke arah mana, yang pasti bukan ke arah Cicaheum Ledeng, apalagi Cimahi Dago, hehehehe.


"Maksud kamu?" Tanya Leo kembali cool.


"Yaa! Ngapain mantan istri kamu nganterin makanan kesini? Pasti karena rindu unyun kamu kan?" Jawab Paras merungut.


Leo tersenyum tipis, mendekat ke arah Paras. "Dia kesini karena aku menjanjikan sesuatu padanya. Aku akan menyelesaikannya! Siang ini kita akan menikah di catatan sipil. Mungkin lusa atau minggu depan kita ke Australia memperkuat pernikahan kita. Lepas lah status dudaku!" Senyum Leo menatap wajah Paras. "Apa kamu bersedia?" Tanya Leo menatap hezel mata Paras yang indah.


"Hmm, ya aku bersedia! Tapi bagaimana aku menghadapi keluarga?" Tunduknya.


"Kita akan menghadapi berdua! Yang pasti kamu milikku saat ini! Selamanya." Senyum Leo.


"Iya!" Tunduk Paras tersenyum bahagia.


Setidaknya dia sudah menyandang status sebagai istri yang sah tidak seperti saat ini.


"Mami di dapur sedang buat sarapan, kamu mau membantu?" Tanya Leo pelan.


"Ya! Aku keluar yah! Kasihan Ibu!" Senyum Paras mencium pipi Leo.


Leo tersenyum menatap punggung Paras berlalu meninggalkan kamarnya.



Visual Maride dan Paras mencicipi masakan yang asin manis kecut, πŸ˜πŸ˜‚


Leo bergegas menyusul Paras di dapur, hari ini schdul Leo ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Sintya masih gagal.


"Setidaknya, aku harus selesaikan dulu pernikahan ku! Agar status ku berubah." Kekehnya membatin.


********************


Semoga suka yah... Jangan lupa bahagia... happy weekend...😘😘


Read and wait... πŸ€­πŸ€—

__ADS_1


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...πŸ™πŸ₯°β€οΈ


__ADS_2