
Ina ternyata berbohong pada Maride dan Baros. Leo mendapatkan pemalsuan semua berkas Ina. Silutak Panjaitan di belakangnya. Ina adalah istri kedua Silutak selama di penjara. Kepolosan wajah cantiknya hanya berniat untuk menarik perhatian Leonal suami Parassani. Tentu Leo dan Luqman terkejut, apalagi Paras. Dia hanya termenung mendengar penuturan orang suruhan Keluarga Baros.
"Kenapa dia masih ingin mengganggu kebahagian kita Bowl?" rundung Paras.
"Silutak sangat paham kelemahan Mami dan Papi Ndut. Tenanglah, kita ikutkan dulu permainannya, aku akan membuat dia jujur di depan Mami dan Papi," tegas Leo.
"Aku takut kamu akan menghukum Ina di ranjang," sungut Paras di hadapan Luqman.
"Hmmmm aku tidak akan melakukannya selain sama kamu, percayalah," kecup Leo di kepala Paras.
Luqman hanya menyaksikan Paras dan Leo memijat pelan pelipisnya.
"Kenapa mereka tega sama keluarga mu Leo? bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan?" tanya Luqman.
"Dia ingin merebut kebun qu Bro, kau tahu berapa luas kebun sawit di Medan sana? hingga membutakan matanya, jika aku hitung, tidak akan habis oleh keturunan kita. Aku akan merelakan itu semua, karena aku hanya fokus pada Langhai Group, tidak ada yang lain," jelas Leo mendekap erat tubuh padat Paras.
"Jangan mau mengalah, Opung Pardede sudah memberikan pada mu dan anak laki laki kita Bowl," tegas Paras.
"Aaagh sayang, kalau aku ingin menang sendiri, sudah aku lakukan sejak awal, tapi aku hanya ingin Mami dan Papi tenang tanpa gangguan dari mereka. Padahal mereka sudah mendapatkan apa yang sudah ditetapkan. Ternyata masih belum puas, bahkan ingin lebih," senyum Leo.
"Kita ke ruangan Papi? semua udah bereskan?" ajak Leo menarik tangan Paras.
"Hmmmm,"
Paras menggenggam jemari Leo, menuju ruangan Baros.
Saat mereka memasuki ruangan sang owner Langhai Group, terlihat Ina tengah menatap wajah berbulu Leo dengan tatapan penuh perasaan ingin mendekati pria macho itu.
"Eeeegh aku pikir buat adegan horor lagi kalian," kekeh Maride.
"Hmmmm Mami, nanti malam sambung lagi," goda Leo mencium bibir Paras di hadapan semua tanpa perasaan sungkan.
Sheeeer,
Perasaan cemburu di hati Ina tengah menghantui. Bagaimanapun sejak pertama kali bertemu di salon dia sangat ingin merawat Leo, menyentuh tubuh sispack yang menggiurkan. Lebih kekar dari tubuh Silutak, batinnya.
"Beruntung sekali Mba Paras mendapatkan Bang Leo," ucapnya menatap kearah Paras.
"Hmmmm ini pasangan terhot di Langhai Group," puji Laura.
Paras tak bergeming, baginya pujian hanya untuk menjatuhkan. Jadi tidak akan meluluhkan hatinya dengan sanjungan orang luar, kecuali dari mertua dan suaminya.
Ina sedikit menyindir, "apa nggak takut mba, Bang Leo naksir dengan wanita langsing?" ucapnya.
Paras menatap penuh selidik pada Ina, "saya di bela oleh Mami dan Papi. Jika berani berhadapan dengan keluarga, silahkan saja," ucapnya ketus.
Ina tersentak, Laura tertegun, Maride dan Baros saling tatap.
"Apa maksud ucapan Paras?" batin mereka.
Berbeda dengan Ina, dia justru menantang diri sendiri bahwa Leo akan tunduk di hadapannya.
__ADS_1
"Bagaimana Leo, bisa kau berangkat?" tanya Baros.
Leo menatap Paras minta persetujuan, istrinya hanya mengangguk memberi izin dengan sedikit kekhawatiran.
"Bisa Pi, besok kami ke Bogor dulu," ucap Leo.
Maride dan Laura mengangguk setuju, "baby four jangan di bawa yah? Mami besok mau main sama mereka," jelasnya.
"Hmmmm,"
Leo mendekati Paras sedikit berbisik mesra, "kita pulang Ndut? kangen," kekehnya.
"Kau yah Leonal, nggak bisa kali menahan," geram Maride.
"Tadi buru buru Mami, hari ini mau all out," goda Leo di puncak hidung istrinya.
Paras tak ingin berbasa basi, lama lama melihat Ina seperti melihat penjilat bagi keluarganya.
"Paras deluan yaah Mi, Pi, Laura. Leo sudah sangat ingin di puaskan. Mi, jangan ada yang tahu kelemahan keluarga, kita akan jumpa di rumah saat makan malam," tegas Paras mencubit hati Ina.
Maride dan Baros hanya bingung dengan sikap menantunya, "kenapa dia seperti wanita penggoda," batin Maride dan Baros sama.
Leo merangkul bahu Paras dihadapan semua, berlalu meninggalkan ruangan Baros.
Sheeeer,
Ina sedikit ketar ketir mendengar kalimat Paras yang terucap, "kenapa Mba Paras jadi jutek banget sama aku?" batinnya.
"Ya sudah, kita pulang. Sudah jam 17.00, karyawan juga udah menghilang satu satu," ucap Maride tersenyum menggandeng lengan Baros.
"Kau pulang sama siapa?" tanya Maride tanpa senyum.
"Di jemput Bu," ucap Ina keceplosan.
Maride dan Laura saling tatap, "ooogh,"
Mereka tak memperpanjang pembicaraan, hanya memiliki insting yang sama. Baros sedikit penasaran melihat gerak gerik Ina, memilih lebih dulu memasuki mobil saat pintu lift terbuka.
"Pak, kita ikuti wanita itu," bisik Baros saat tiba didalam mobil.
"Baik Tuan," jawab sopir patuh.
Maride memilih ikut bersama Laura, dengan tujuan memecah konsentrasi Ina.
"Dasar janda bina tang," geram Maride saat melihat mobil BMW seri terbaru menjemput Ina seperti maling ketangkap basah.
Maride merogoh tas kecilnya menghubungi Baros.
📞"Janda itu pakai BMW putih, kau suruh orang per ko sa dia, aku tidak ingin melihatnya lagi, Sinta akan ke Kalimantan bersama ku besok," tegas Maride membuat Laura ternganga.
"Nan tulang?" bisik Laura.
__ADS_1
📞"........"
Baros dan Maride menutup telpon berkerja sesuai pemikiran mereka sejak dulu.
Baros membereskan Ina, sementara Maride kembali kekediaman Leonal membawa serta Laura.
"Mana si Will? jangan jangan Baros menyuruh Will, memper ko sa Ina?" gerutu Maride.
"Ck biar sajalah nan tulang, biar tahu rasa perempuan itu," ucap Laura pasrah.
"Eeeegh bagus aku suruh petugas sampah atau pemadam kebakaran, dari pada menantuku jadi pelakunya, kau!"
Maride mencubit lengan Laura yang asal bicara.
"Iiighs aku udah capek nan tulang, mikirin Will, aku hanya menikmati saja sampai kapan aku mampu," ucap Laura.
Maride mengangguk, hanya tersenyum tipis menatap wajah Laura.
"Kalau ku lihat, kau nggak jelek. Kenapa mesti jatuh hati sama Will yang urakan bahkan tidak setia?" tanya Maride sedikit penasaran.
"Nan tulang, Will itu sebatang kara. Orang tuanya udah meninggal, dia orang baik, walau tingkahnya seperti itu, dia jujur. Dia nggak berani bermain main lebih dalam. Makanya nggak tega aku melepaskannya," jujur Laura.
"Sampai kapan nggak tega mu itu? hidup dalam perselingkuhan, nanti dia bawa penyakit baru kau tahu rasa," jelas Maride.
Laura mengerti apa maksud Maride, "semenjak dia dan Sintya berakhir, dia memang tidak pernah melakukannya dengan siapapun lagi selain sama aku," jelas Laura.
"Syukurlah, semoga dia selalu baik pada mu," senyum Maride lirih.
Saat mereka tiba di kediaman Leo, justru mata Maride dan Laura di kejutkan oleh Willion yang sedang bermain bersama baby four di teras depan bersama Faisal dan Kirai.
"Ternyata dia lebih suka cucuku, dari pada wanita di luar sana," tawa Maride kencang saat melihat Willion sangat berbeda bersama baby four.
Maride dan Laura turun segera, menghampiri cucu, menantu dan besannya.
"Ala ala timang, opung sudah pulang, bawa Tante girang," kekeh Maride menggendong Baby Steiner.
"Aku fikir kau sudah pulang Will," tepuk Maride pada lengan menantu tidak berotaknya.
"Aaaagh pusing kepalaku di kantor, bagus aku main di rumah Bang Leo," kekehnya tanpa rasa berdosa.
"Ku potong gaji kau, biar nggak bisa kau beli k ol or," ucap Maride berlalu masuk kedalam rumah.
Willion mengejar Maride membawa dua keponakannya yang lebih mirip bule Stefan dan Stevie. Sementara Stela berada dalam dekapan Laura.
Leo dan Paras justru tengah bergulat panas didalam kamar tanpa ada perasaan sungkan.
"Leooonaaal, keluar kau! aku kasih ikat lah nanti perkutut mu yah," kekeh Maride dari balik pintu kamar anak menantunya.
"Dasar pasangan mesum, nggak pernah capek," kekeh Maride kembali berkumpul bersama besan menantunya.
"Hmmmm.... keluarga unik,"
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️