Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Keterpurukan..


__ADS_3

Ruangan bernuansa biru langit dipadu dengan gorden putih, terbaring Parassani Chaniago masih terlihat lemah. Leo dan Willion sudah tiga jam berada didalam ruangan menemani Paras.


"Aku akan menemui Sintya besok, Bang," jelas Will pada Leo.


"Ya, kau urus saja wanita laknat itu. Aku sudah tidak peduli dengannya. Kalau bisa kau masukkan dia kepenjara," ucap Leo masih menggenggam jemari Paras.


Will melihat Paras sudah menggerakkan tangannya.


"Bowl," panggil Paras.


"Aku disini sayang," bisik Leo masih menggenggam tangan Paras.


Paras mengerang, "baby twins sayang, maafkan aku. Sakit sekali Bowl," air matanya tumpah membasahi sudut mata indah bertubuh subur itu.


Leo mengecup kening Paras, "sabar Ndut, tenang yah. Kamu kuat, kita akan membesarkan baby four," jelasnya tenang.


Paras masih menangis sehingga seorang perawat mengetahui keadaan pasien.


"Pak Leo, tolong dibantu Ibu jangan sedih dulu yah? harus kuat, takutnya nanti ibu drop lagi. Lebih parah nanti keadaannya. Kami tahu, ini tidak mudah, tapi kita harus ikhlas menghadapi keterpurukan ini. Bapak tenang yah!" jelas salah satu perawat pada Leo.


Leo mengangguk patuh, dia hanya mengusap lembut punggung tangan istrinya.


"Sabar Ndut, aku disini," bisik Leo mengusap sudut mata istrinya.


Paras hanya berusaha tenang walau batinnya tergoncang. Bagaimana tidak, dia harus kehilangan baby-nya yang sudah berada didalam rahimnya selama empat bulan, hanya karena dendam yang tidak kunjung usai.


Berlin dan Luqman membawa Maride untuk masuk keruangan Paras atas izin Dokter Kevin.


Cekreeek,


Maride mendekati Leo dan Paras, tampak wajah sedih, marah dan kecewa bercampur aduk disana.


"Mami," Leo memeluk tubuh Maride menangis sesenggukan.


Maride mengusap lembut kepala sang putra, menangkup wajah berbulu yang buruk dimatanya.

__ADS_1


"Ikhlas, kuat dan sabar. Kita akan bereskan semua ini. Nantulang sudah menuju Jakarta, jangan menangis lagi. Aku akan mengurus Silutak dan Sintya karena sudah berani mengancam anak menantuku, sehingga kalian kehilangan baby twins," tegas Maride.


Leo mengangguk, membawa Maride mendekati Paras istrinya.


"Mi," tangis Paras pecah saat menyambut tangan mertuanya.


"Tenang yah, jangan sedih terus. Kau harus kuat. Baby twins sudah tenang, dia mengalah untuk menyelamatkan nyawamu. Besarkan saja baby four, agar dia tumbuh menjadi anak yang kuat seperti mu," hibur Maride.


Baros mendekati Paras, hanya melihat menantunya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


"Kalian sudah bisa pulang, tadi aku minta rawat dirumah saja. Mual perutku bauk rumah sakit ini. Rasa mau muntah aku, apalagi jika mengingat wajah Silutak, aku banting nanti semua barang yang ada disini," geram Maride.


Leo mengangguk setuju, jujur dia tidak ingin Paras berada dirumah sakit terlalu lama, karena akan mengalihkan pikiran mereka dari baby four.


"Besok pagi saja Mi, kasihan Kak Paras, baru operasi. Jadi besok pagi udah mendingan setelah istirahat," jelas Berlin.


Paras justru ingin segera pulang, karena tidak ingin jauh dari anak anaknya.


Beberapa kali Kirai menghubungi Leo agar segera pulang, karena baby four sangat gelisah hingga sulit tidur, karena memiliki feeling yang kuat pada kedua orangtuanya.


"Terserah Paras saja, Mami mau bicara sama Leo, kau Will ikut aku!" tegas Maride berlalu meninggalkan Laura, Berlin dan Luqman.


Maride membuka kursi untuk Baros agar duduk disampingnya. Leo dan Will ada dihadapannya.


"Pesankan aku kopi susu dan roti bakar srikaya. Aku belum makan dari tadi, lapar," tegas Maride menatap Leo dan Will secara bergantian.


"Kenapa kau ke Puncak? kau tahu kita sedang terancam, malah kau pergi dengan mobilmu! untung cuma bahu Paras yang terkena peluru, kalau kepalanya? gimana?" tanya Maride sedikit emosi.


Leo menarik nafas dalam, "kami lagi stress Mi, kan aku udah bilang mau jalan jalan, ternyata begini, bahkan aku kehilangan baby twins. Mami malah ngomel ngomel, kayak aku yang salah," rungutnya dengan mata memerah.


Maride mengusap wajahnya, melirik kearah Baros, "maaf yah Nak, lupa mamak, aku fikir kalian terluka semua. Udah panik aku. Pi, mana Simon? tadi dia bilang udah jalan, jalan kemana dia?" kesalnya pada Baros.


"Sabar! itu Simon," tunjuk Baros pada pria tampan berwajah lembut namun tegas.


"Sudah dapat mobil mereka?" tanya Baros.

__ADS_1


"Sudah Bang, tapi barang bukti masih disembunyikan mereka, kami lagi melacak keberadaan mereka. Tadi aku dengar Willion akan bertemu dengan Sintya! kalian akan menghabiskan waktu dimana?" tanya Simon pada Will.


"Aku ikut saja, dia mau dimana," jelas Will.


Maride menatap mata Will, "kau pancing dia keluar, terserah mau kau apakan dia, kau jebak dia buat jujur pada mu, aku mau dia mendekam didalam penjara. Sesuai rencana ku, Mami Laura akan tiba disini besok. Kami akan memberikan semua keinginan Silutak, sebelum Papi Pardede tidak ada nafas," jelasnya tegas.


"Mi," bantah Leo.


"Aku nggak akan setuju Mami ngasih mereka, dia sudah keterlaluan melukai keluarga kita. Terserah dia maunya apa. Begitu Sintya ketangkap, secara otomatis Silutak juga akan terjerat. Ini pembunuhan berencana kepada keluarga kita. Sukur sukur mereka dideportasi dan tidak boleh menginjakkan kaki sini," tegas Leo.


Maride dan Baros saling tatap, "aku ikut ajalah mana bagusnya, gimana menurut Papi? aku sudah muak berurusan sama Silutak itu. Dia maunya kita ini susah dan mengadu padanya. Itulah pariban bodoh itu," jelas Maride.


"Papi ikut kata Leo, lebih bagus dia tidak mendapatkan apa-apa, karena dia telah melukai menantu dan cucu kita," jelas Baros.


Willion menepuk pundak Leo, "besok aku hubungi Sintya, aku jemput dia, aku share hotel tempat kami berada. Dia pasti di apartemennya atau di Rich Carlton. Biasa kami menghabiskan waktu bersama disana," jujurnya tanpa wajah berdosa.


Leo mengangguk, "atur sajalah, aku ikut aja. Aku mau mencekik lehernya jika bertemu dia," tegasnya geram.


"Mami besok ikut menggerebek aku?" tanya Will polos.


Maride menyunggingkan senyumnya, "emang kalian mau begituan? masih nafsu kau sama dia?" tanyanya terlihat jijik.


Will hanya tersenyum tipis, menaikkan kedua bahunya, "setidaknya aku sudah berusaha untuk menjebaknya Mi. Jika aku melakukanya sudah mendapat izin dari Laura. Jadi aku aman," ucapnya tanpa sungkan.


Maride geleng-geleng kepala, "kenapa lah Laura sangat mencintaimu, udah bodoh, tak setia, tapi bisa keponakan ku tergila gila padamu," rungutnya menatap kesal.


"Ya, aku ini penyayang Mami, Laura tu wanita yang mau mencintai aku tulus dengan segala kebodohan dan kejujuran ku," ucap Willion membela diri.


"Kepala kau! cinta, cinta bodoh iya," kekeh Maride masih terdengar kesal.


Leo masih berbisik bisik dengan Simon, agar tidak terdengar oleh siapapun yang berada ditempat makan itu.


Sesekali mereka saling bertukar pikiran, tantang tuntutan apa yang akan mereka berikan pada Silutak dan Sintya.


Semoga yah, sesuai rencana, 🤧

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2