Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Menghabiskan malam


__ADS_3

Leonal mengikuti langkah kaki sang direktur memasuki apartemennya, membantu membawa beberapa kantong belanjaan mereka. Paras menekan password, mempersilahkan Leo masuk meletakkan belanjaan mereka diatas meja makan.


"Kamu mau minum apa?" tanya Paras lembut, menaikkan rambutnnya kemudian mengikatnya.


Leo tertegun, menelan salivanya, menatap sang Direktur sangat menarik walau bertubuh gendut.


"Pantas saja Silutak menyukai wanita ini. Walau gendut, sangat terawat," batin Leo, berlalu menuju sofa ruang keluarga apartemen milik Paras.


"Leo!" Panggil Paras membuat Leo berdiri menghampiri sang direktur.


"Ya!" Leo manatap Paras.


"Kamu mau minum apa? juice, soft drink atau kopi?" tanya Paras.


"Hmm soft drink aja," Leo menghampiri plastik belanjaan, mencari bir yang dia beli tadi.


"Aku minta es batu! aku minum ini!" tunjuk Leo pada Paras.


Paras menyetujui, mengambil gelas lebih rendah mengisi es batu sesuai permintaan Leo, mendekati Leo duduk disebelahnya.


"Thankyou!" senyum Leo.


Paras tersenyum menyalakan televisi yang ada dihadapannya.


"Besok kita berangkat pagi Leo! Jangan sampai terlambat!" tegas Paras, memasukkan keripik kentang ke bibir sexinya.


"Iya, besok aku minta Berlin mengantarku ke bandara," ucap Leo keceplosan.


Paras menaikkan alisnya, "Berlin?" tanyanya sedikit curiga.


"Apa kalian tinggal bersama?" tambahnya lagi.


Leo terkekeh melihat raut wajah Paras yang sangat lucu baginya.


"Ya kenapa? nggak boleh?" kekeh Leo lagi.


Jika ingin pria ini jujur, pasti ini adalah hal terlucu yang pernah dia alami semasa hidupnya. Seseorang cemburu pada adiknya sendiri.


"Lo sengaja buat gue cemburu yah? heran gue sama lo!" kesal Paras memilih berlalu.


"Heii, mau kemana?" tanya Leo masih terkekeh.


"Mandi, gerah!" jawab Paras jutek, berlalu masuk ke kamarnya membanting pintu sedikit keras.


Leo semakin tertawa keras, "Paras, come on! jangan cemburu!" kekeh Leo.


"Berlin itu adikku!" tambahnya sambil menyeruput bir digenggamannya.


Leo sibuk berbalas pesan dengan Berlin dan beberapa temannya, melalui wattshApp, tanpa perduli dengan Paras. Sudah lebih 30 menit Leo duduk sendiri, hanya ditemani suara televisi.


Cekreeek,


Paras keluar dari kamar, mendekati Leo, menggunakan handuk kecil dikepalanya dan piyama berbahan satin polos, dada sedikit menonjol membuat Leo sibuk menelan salivanya.


"Kok nggak ngejar gue?" tanya Paras berkacak pinggang.


Leo tengah bersantai di sofa, terperangah menatap Paras penuh pesona.


"Ngapain gue mesti ngejar? toh nggak ada yang mesti gue jelasin ke lo!" senyum Leo menahan dede unyun yang terjaga.


"Iiighs ya adalah, tentang hubungan lo sama Berlin, Leonal!" Paras semakin kesal menatap Leo.


"What? Berlin? hmmm," Leonal menyandarkan tubuhnya menutup bagian bawahnya menggunakan bantal kecil.

__ADS_1


"Ooogh shiiiit! kenapa gue jadi pengen gini!" Leonal menutup kedua matanya, agar tidak terpancing dengan pesona sang dkrektur.


Leo cowok normal, dia tertarik dengan sosok Paras, Ya. Baginya Paras walau gendut, tapi ****. Dia mampu membangkitkan gairah kaum Adam.


"Busyeeet! mati gue, masak gue pulang dari sini harus ke club!" batin Leo.


Paras duduk disebelah Leo, "Lo mau nginep disini?" tanyanya dengan nada lembut mengusap rambut Leo.


Leo manoleh kearah Paras dengan kepala masih bersandar disofa,


"Hmm jangan sekarang, gue belum mempersiapkan kebutuhan besok. Gue udah suruh sopir buat jemput gue kesini," Leo tersenyum sangat manis membuat Paras merasa gelisah.


"Lo nggak mau menghabiskan malam sama gue?" pertanyaan Paras menjebak birahi dirinya sendiri dan juga Leo.


"Apa gue nggak salah denger? gue bukan orang sembarangan yang suka gonta ganti cewek Paras! gue duda, tapi gue setia."


Leo menutup matanya.


"Hmm ya udah deh. It means you don't have feelings for me," Paras mengubah posisi duduknya memilih berlalu.


Leo menahan tangan Paras, "should we spend the night now?" tanyanya membuka matanya menatap manik hezel Paras yang juga sedang menatapnya.


Mereka saling menatap, tapi tidak berani untuk memulai.


Drrrrt, drrrt,


"Private nomber."


"Ya,"-Leo.


"Gue diparkiran," suara Berlin.


"Ok! Wait,"-Leo.


"Gue balik yah, besok kita ketemu di bandara!" usap Leo lembut pada kepala Paras.


Paras menahan tangan Leo yang berada dikepalanya.


"Kiss me!" bisiknya pelan.


"You seriuos? bukannya tadi kamu menolak aku? kali ini aku nggak mau di tampar hanya karena ciuman," tegas Leo meyakinkan Paras.


Paras hanya menjawab melalui tatapan mata, membuat gairah Leo semakin bergejolak.


"Jangan sekarang! aku pulang!" Leo bergegas mengambil handphone, tas tangannya, merangkul bahu Paras mencium keningnya lembut.


Sheeerrr,


Deg deg deg...


Jantung Paras rasa mau copot, merasakan kedamaian, kelembutan seorang Leo memperlakukannya.


"Aku balik!" Leo memberanikan diri mengecup bibir **** Paras, cup. Kemudian berlalu meninggalkan apartemen Paras.


"Leo, Leonal!" Paras berharap malam ini adalah malam panjang bersama seorang Leonal, tapi bukan Leo namanya, dia harus menjaga karena keadaan tidak memungkinkan untuk melakukan itu sekarang.


Leo berlalu, dengan perasaan bahagia. tersenyum sendiri menuju lift untuk turun menuju basemen apartemen Paras.


Berlin telah menunggu sejak tadi.


Tiiing, pintu lift terbuka.


Mata Leo beradu tatap dengan Sintya, ya Sintya mantan istrinya yang menceraikannya setelah 3 hari pernikahan mereka.

__ADS_1


Leo semakin tidak karuan menatap Sintya, ingin rasanya dia mencekik gadis di hadapannya, tapi dia bukanlah Leo yang kejam seperti Baros.


"Haii!" sapa Sintya gugup.


"Haai kamu tinggal disini?" tanya Leo, karena mereka hanya berdua didalam lift dan ini akan menjadi moment yang pas.


"Bedebah dengan semua pekerjaan besok! aku harus menyelesaikan semua permasalahanku dengan Sintya." batin Leo.


"Hmm ya, dilantai 32," senyum Sintya.


Leo menekan tombol menuju lantai 32.


"Bisa kita bicara? agar kamu tidak terus menghindar!" tegas Leo menatap Sintya.


"Tapi Leo!" bantah Sintya.


Leo merapatkan tubuhnya pada Sintya. Merogoh handphone miliknya, menghubungi Berlin agar pulang lebih dulu.


"Gue akan pulang dengan taxi!" tegas Leo.


Sintya kalah, tak bisa menghindar. Bagaimanapun dia harus membicarakan semua, kenapa mereka berpisah.


Leo kaku menatap Sintya. Ada perasaan kesal pada diri sendiri, merasa tak di hargai oleh wanita yang telah menjadi status istrinya kala itu. Leo menggandeng tangan Sintya sangat erat, agar dia tidak kabur seperti sebelumnya.


"Lepas Leo!" ucap Sintya merasa kurang nyaman dengan genggaman Leo.


"Kamu diam! aku tidak akan menyakiti mu!" sarkas Leo tanpa menoleh.


Pintu lift terbuka, Sintya dan Leo melangkah keluar dengan tangan masih bergandengan.


Sintya merasa terjebak kali ini, "aku harus bagaimana? mengatakan pada Leo!" sesalnya dalam hati.


Sintya menekan password menarik nafas dalam, masuk keapartemen yang sangat luas dan beraroma therapi bunga mawar.


"Hmmm good. Dia sendiri disini," batin Leo.


"Masuklah," ucap Sintya melepas sepatu booth, mengganti dengan sandal bonekanya.


Leo menatap semua sisi ruangan yang sangat tertata rapi, matanya tertuju pada foto pernikahan mereka yang masih terpajang jelas.


"Apa kamu tidak membakar foto pernikahan kita Sin?" kesal Leo menatap foto mereka yang tengah berciuman.


Sintya hanya tersenyum mengambilkan minuman kesukaan Leo dan beberapa cemilan.


"Duduklah, aku masih memajangnya, karena aku yakin kita masih memiliki perasaan yang sama Leonal!" ucapan lembut Sintya mengejutkan Leo.


Deg,


"Anjiiing! kunaon kalau masih cinta minta cerai! bodoh maneeh teh!" Leo semakin kesal dalam hati.


"Bisa bilang sama aku kenapa kita berpisah? agar aku tidak salah dan mati penasaran dan kenapa pernyataan mu menyatakan jika kamu hamil menjadi tanggung jawab aku? emang sebelumnya kita pernah melakukan Sintya? jangan jangan kamu telah melakukannya dengan pria lain dan menjebak aku agar bertanggung jawab? jujur lebih baik hari ini pada ku, sebelum aku benar benar membencimu dan menuntut mu!" tegas Leo menatap kearah Sintya yang masih tertunduk kaku.


"Maafkan aku, Leo," tangisnya.


"Beeegh, pakai nangis segala ni bocah!" batin Leo, mendekati Sintya yang nangis tersedu.


Leo mengusap lembut bahu Sintya, membawa ke pelukannya. Merasakan kedamaian dalam hati Leo, memeluknya, walau saat ini mereka sudah menjadi mantan.


Timbul penyesalan dihati keduanya, tak menampik, benih benih cinta perjodohan itu masih ada, hikz...


Tampang Leonal. Membuat Author jatuh hati.🤭❤️🤗


Simak khuuuii... cerita ku... 'Ugly 'n Fat Girl'...❤️❤️

__ADS_1


_____ Like and comment_______


__ADS_2