Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Delapan bulan..


__ADS_3

Laura benar benar kesal karena dikejutkan dengan pemandangan yang sangat menyebalkannya. Dia berteriak sepanjang jalan dengan tangisan yang tidak terbendung.


"Laura, Laura," Will menarik lengan Laura membawa istri tercinta masuk kepelukannya.


"Ada apa denganmu? kenapa kamu seperti ini sayang? apa yang mengganjal dihati mu? bisa kita bicara?" tanya Will lemah lembut.


Laura mendekap erat tubuh Will, inilah yang membuat dia enggan berpisah dari pria Netherland playboy itu, karena mampu memenangkan pikirannya. Dia menangis sejadi jadinya dipelukan Will, tanpa mau menjelaskan bagaimana perasaannya hancur jika mengingat semua kejadian Mami dan Papinya yang berdebat panjang tentang cinta Linslei yang tidak pernah Kolin dapatkan.


"Bawa aku kesesuatu tempat, aku tidak mau disini. Aku akan menceritakan padamu, bagaimana Mami menyakiti Papi. Sehingga aku memutuskan untuk menikah denganmu, Will," isak Laura menyeka air mata dipipi mulusnya.


Will mencium kening Laura, "kita ke puncak? atau makan moci di Bogor?" tanyanya dengan nada lembut.


"Moci itu di Sukabumi, Will, bukan Bogor. Kita ke puncak saja. Aku rindu botol kecap disana, sambil makan mie rebus dan minum wedang jahe," rengeknya manja pada Will.


"Hmmm, baiklah. Hanya sampai botol kecap yah? tidak sampai Cianjur," goda Will pada puncak hidung istrinya.


Laura mengangguk.


Willion mengajak istrinya masuk ke mobil, melajukan kecepatan mobil menuju puncak sesuai permintaan Laura istri tercinta.


Dia juga telah memberi kabar kepada Leonal, tentang kejadian hari ini, sehingga dapat menikmati keindahan bersama Laura yang tengah dilanda kegundahan hati yang tidak berkesudahan.


.


Tidak butuh waktu lama membuat Sintya buka mulut, jika dalam keadaan tertekan. Benar benar kerja ringan, dengan segala drama yang diciptakan Willilon untuk menjebak Sintya dan Silutak keluar dari persembunyiannya.


Sintya sudah mendekam di penjara sesuai rencana Keluarga Baros untuk memancing Silutak agar kembali mendekam di sejuknya lantai prodeo.


Disebuah hotel daerah Cikarang, tempat persembunyian dua pria garang berhati hello kitty itu, Silutak dan Kennedy tengah khawatir karena belum mendapatkan kabar dari Sintya.


Alea masih terlelap ditangan kekar Kennedy, dibantu oleh baby sitter mereka. Hotel yang memiliki kamar lebih besar sama persis seperti apartemen milik keluarga mereka, memudahkan Silutak hidup berpindah-pindah menjalankan rencana busuk mereka.


"Bisa kau telfon Sintya," perintah Silutak pada Kennedy.


Kennedy mendengus kesal, karena sudah berkali-kali dia menghubungi Sintya, tapi tidak ada jawaban dari istrinya.

__ADS_1


"Kenapa handphone miliknya tidak aktif? perasaan aku dari tadi tidak tenang, apa terjadi sesuatu pada Sintya, Bang?" tanya Kennedy tampak mencemaskan Sintya.


Silutak mendengus kesal, "dia sudah menjadi bulan bulanan pihak berwajib, aku takut mereka menemukan putriku, sehingga membawa kita semua," jelasnya cemas.


Kennedy menautkan kedua alisnya, "kita?" tanyanya semakin bingung.


Silutak mengangguk, "ya, kita. Kau pikir kalau Sintya tertangkap karena telah melukai keluarga Baros, dia akan melindungi kau dan aku?" tanyanya semakin frustasi.


"Aaaagh! shiiit! bagaimana dengan putriku? bukan aku pelaku penembakan Leo dan Paras, tapi kau yang melakukannya. Kalian begitu bodoh!" kesal Kennedy memilih meninggalkan Silutak membawa Alea bersamanya.


"Anjiiing! dasar mertua bodoh, aku tidak ingin terlibat dalam kasus ini. Ini akan berdampak pada putriku. Biarkan mereka yang menyelesaikan semua permasalahan mereka. Ternyata jika diikutkan gaya hidup Silutak ini, gila aku dibuatnya," rungut Kennedy membawa baby sitter dan Alea ikut bersamanya.


Silutak terkejut melihat kepergian menantunya, "Ken, kau mau kemana?" teriaknya saat melihat Kennedy berlalu meninggalkan kamar hotel mereka.


"Sory Bang! kau memang keluarga ku, kau bapak dari istriku, tapi aku tidak ingin terjebak dalam masalah dan dendammu. Maafkan aku, kita berbeda visi dan misi dalam menyelesaikan masalah. Aku pergi," tegas Kennedy mantap meninggalkan kamar hotel.


Silutak ternganga mendengar ucapan Kennedy, "aaaagh, kau!" saat dia akan melemparkan asbak, pintu kamar telah ditutup rapat oleh Kennedy.


Kennedy bergegas meninggalkan hotel sebelum terjadi sesuatu pada mereka, karena beberapa kali dia melihat gerak gerik pihak berwajib yang lalu lalang mendatangi hotel tempat mereka menginap.


"Ada apa ini? kenapa mereka seperti memperhatikan gerak-gerik aku?" batin Kennedy.


"Jangan berteriak, ataupun melawan, anda ditangkap, karena telah mengancam penculikan kepada keempat cucu Baros dan Maride," bisik polisi bernama Anjas.


Deg,


Seketika dunia Kennedy runtuh, "baik, aku tidak akan melawan, tapi bagaimana dengan putriku Alea? dia masih baby, berumur delapan bulan, baby sitter ku tidak bersalah. Tolong selamatkan anakku," bisiknya berharap belas kasih dari polisi.


Anjas tidak bergeming, "jalan," perintahnya menggiring Kennedy masuk ke mobil Fortuner mereka.


Sementara Silutak dikamar, diringkus tanpa ada perlawanan, sesuai perintah Komandan mereka. Pria berwajah bengis itu untuk kedua kalinya akan mendekam di penjara sesuai tuntutan Baros dan Maride.


.


Willion tersenyum lega, "akhirnya mereka tertangkap sayang," kecupnya pada punggung tangan Laura.

__ADS_1


Laura mengangguk bahagia, "setidaknya kita bisa tenang, Will," jelasnya mengusap lembut punggung Will.


Will mengangguk.


Mobil terparkir di sebuah belokan pendakian Puncak. Dengan mesra Will, membukakan pintu mobil untuk istri tercinta.


"Selamat datang di Puncak, istri tercinta ku," goda Will membuat Laura terkekeh geli.


Laura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku hanya ingin makan mie rebus, Will. Bukan mau berkencan dengan makanan mewah," rungutnya.


Willion menaikkan kedua alisnya, "jangan bicara begitu, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu menjadi pasangan paling romantis di dunia. Aku ingin kau merasakan cintaku yang telah lama aku simpan sendiri, karena kau telalu sibuk dengan duniamu," jelasnya membuat Laura mencubit geram pada perut suami tercinta.


"Kau tidak akan merahasiakan sesuatu dari ku kan? aku membenci mu jika kau terlalu banyak rahasia," rungut Laura.


Will merangkul bahu Laura, "apa aku pernah menyembunyikan sesuatu darimu dari awal kita menikah? sudah lima tahun bahkan, kau tahu kegilaan ku diluar sana. Aku tahu setiap malam kau menangis, meratapi aku, hingga akhirnya aku sadar, kau sangat bodoh telah mencintai ku, Sintya," ucapnya tulus.


"Maksudmu?" tanya Laura mengikuti langkah kaki Will yang sedang membukakan kursi untuknya.


Will menarik nafas panjang, "aku pernah mendengar kau membelaku dihadapan Papi dan Mami. Kau selalu membelaku, sehingga aku berulang kali melakukan kesalahan yang sama, membuat hatimu menjadi beku. Ingat Laura, aku selalu mengatakan padamu agar kau melepas ku. Aku tahu, kau wanita paling baik dan sempurna. Semenjak kau membawa Sintya dan mengurungnya, aku sadar, kau tidak akan pernah berhenti mencintai aku. Hingga Paras kehilangan baby twins, kau pasrahkan aku untuk tidur dengan Sintya. Aku berfikir, terbuat dari apa istriku? hingga dia terus menerus memaafkan aku. Aku sangat mencintaimu Laura. Sangat, semoga setelah ini kita menikmati keindahan hari hari kita sebagai pasangan normal seperti Paras dan Leo. Mereka menjadi contoh untukku. Paras yang tidak sexseh, tapi mampu menutup hati Leo untuk tetap setia padanya," jelas Will panjang lebar.


"Yaaah, aku mengerti," Laura menggenggam jemari Will.


Laura menaikkan kedua alisnya, "apakah kau sedang meyakinkan aku, akan melakukan pengecekan kesehatan pada dirimu untuk memiliki keturunan? karena hanya kau yang belum diperiksa," tanyanya penuh selidik.


Will tertawa, "aku takut sayang, mesti menjalani pemeriksaan menggunakan metode tusuk jarum, sakit Laura! biar aku menghadapi pedasnya mulutmu, daripada harus ditusuk jarum suntik," rungutnya menatap wajah cantik Laura.


Mereka tertawa berdua, saling mendekap mesra.


"Hmmm, I love you Will," ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.


"I love you too Laura," bisiknya.


Air mata Will jatuh membasahi kepala Laura. Cinta keduanya sangat berbeda.


Bahagianya, 🤧

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2