Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Ngeles kayak bajai.


__ADS_3

Leo kembali dari toilet, dicegat oleh Yani bagian HRD.


"Mba Paras diparkiran nungguin lo," ucap Yani masih sibuk dengan jari di keyboard laptop milik Leo.


Leo tak menjawab, hanya tersenyum tipis, "naksir kan sama gue. Hmm, dasar bos muna, ngeles aja kayak bajai," gerutunya membatin.


Leo sengaja berlama-lama, hingga pesan masuk di ponsel milik Yani.


"Heeei dud, Mba Paras nungguin lo," ucap Yani ke Leo memperlihatkan pesannya.


^^^"Mana Leo, Yan? saya di parkiran,"-Paras.^^^


"Diemin, nggak usah dibalas," kekeh Leo, bersiap menyusul Paras.


Leo membawa tas tangannya, penampilan sedikit cool, dengan kemeja lengan pendek menggunakan dasi, ditutup sweater berwarna hitam. Celana levis, tentu, sedikit ketat. Rambut gondrong seperti biasa di rapihin dengan mengikat lebih tinggi. Wajah yang sengaja di tumbuhin bulu, membuat penampilan semakin tegas dan macho.


Leo selalu dikatakan jelek oleh Mami dan para sahabatnya, karena bulu diwajahnya. Membuat dia terlihat lebih dewasa, dari usianya. Tentu hanya untuk bahan candaan dan guyonan. Rahang yang tegas, seperti pria berdarah Jerman, membuat dia semakin dikatakan warga negara asing bagi yang baru mengenalnya.


Leo berjalan melalui lorong koridor melewati beberapa divisi menuju lift VIP, selalu di isengin oleh teman pria dan wanita yang lain, karena mereka memang saling menggoda.


"Kemana bro?" tanya Luqman salah satu divisi marketing.


"Biasa si mba ada dibawah, minta," kekeh Leo.


"Hajar bro, jangan kasih nafas," jawab Luqman penuh tawa.


"Mati dong doi. Kalau nggak kasih nafas," kekeh Leo, menekan tombol lift kemudian masuk menuju basemen.


Tiiiing,


Pintu lift terhenti kemudian terbuka, ternyata Paras ada dihadapan Leo.


"Nggak sabaran banget!" ucap Leo sedikit mendekatkan wajahnya di cerug leher Paras.


Wajah Paras berubah merah, ingin marah karena kesal telah membuat dia terlalu lama menunggu. Dia hanya tersenyum tipis mendengar bisikan Leo, memberi kunci mobil didada Leo.


"Nih nanti dibilang aku nggak sopan," ucapan Paras berubah lembut.


Leo menaikkan alisnya, menerima kunci dengan baik sengaja menyentuh punggung tangan milik Paras.


"Mau kemana hmm?" Leo menaikkan dagu Paras yang menunduk.


Mereka masih belum beranjak dari depan pintu lift tiba tiba,


"Kak Leo!" suara Berlin mengejutkan lamunan keduanya.


Wajah Paras berubah menjadi monster, menatap Berlin dengan tatapan sinis yang menakutkan.


"Berlin, mau kemana?" tanya Leo, tanpa peduli perasaan Paras.


"Mau ke ruangan, semua udah beres kak. Selamat berkerja besok, kakak hati hati,"


Berlin sengaja memeluk dan mencium pipi Leo dihadapan Paras.


Membuat buku-buku tangan milik Paras mengepal hingga memutih menahan rasa sakit hati yang teramat sangat.


"Leo, ikut saya!" Paras menarik lengan Leo dengan kasar.


"Oke bye Berlin, I love you!" teriak Leo lebih keras.


"I love you too!" jawab Berlin dengan sangat bahagia tanpa rasa canggung.


Leo menekan remote, membiarkan Paras masuk lebih dulu ke dalam mobil.


Leo menuju stir kemudi, "kenapa nggak pake sopir seeh? kalau kerjaan gue ngerangkap gini gue minta naik gaji, jadi 85 juta," ucap Leo seenak perutnya.


Paras membelalakkan matanya, menatap kearah Leo.


Leo tersenyum memberanikan diri menatap, "kenapa? marah? cemburu? nggak capek apa marah terus sama aku?" kekeh Leo memberanikan menyentuh pipi Paras yang tembem.

__ADS_1


"Kamu pacaran sama Berlin?" wajah Paras berubah menjadi sendu.


"Emang kalau aku pacaran kenapa? Berlin cantik, body padat, kaki kaki oke! dia cewek, aku cowok! wajar dong, aku free, dia free tambah wajar!"


Leo terkekeh, menanti reaksi Paras.


"Aku akan pecat Berlin jika dia masih suka ngerayu kamu!" kesal Paras.


"Dia nggak ngerayu aku! dia itu, hmm! sudahlah! kita mau kemana? apartemen kamu? atau apartemen aku?" tembak Leo seperti pria kesepian.


Mata Paras melotot menatap Leo,


"Lo yah, grrrrrgh!" geram Paras semakin kesal.


"Tak tau dia aku juga mau, tapi nggak mungkin aku deluan yang memulai!" batin Paras semakin menahan perasaannya.


"Kita belanja aja, bahan masakan ku habis di kulkas," ucap Paras.


Leo menaikkan bahunya, "jangan suruh gue beli pembalut lagi!" sindir Leo, mulai fokus mengendarai kendaraannya.


Paras diam tak berkutik, "kala itu aku memang tak tau malu, aku period tiba tiba," batinnya menatap lurus ke depan.


Tangan Leo menyalakan audio agar tidak merasa sepi. Mendengar degupan jantung keduanya, tanpa tau perasaan mereka berdua.


Leo bernyanyi kecil mengikuti lirik lagu, "aku bisa membuatmu, jatuh cinta kepada ku, meski kau tak cintaaaa! kepadaku! beri sedikit waktu, biar cinta datang, karena telah terbiasa!"


Leo menepuk pelan pahanya, sesekali melirik kearah Paras.


"Kita karaoke yuks?" Paras menatap Leo minta persetujuan.


"Dimana? hotel?" tanya Leo, mau menerima ajakan sang direktur.


"Hmm terserah," ucap Paras.


"Aku ikut aja," tambahnya lagi.


"Yakin mau main-main sekarang? besok kita ke Pekanbaru, Duri dan Dumai. Kamu yakin mba?" tanya Leo.


Dihati Leo belum ada yang namanya benih cinta itu, tapi mengagumi kepintaran Paras, menikmati kejutekannya itu paling unik bagi Leo, ditambah rasa cemburu yang berlebihan padanya, sangat unik. Apalagi dengan status free keduanya, semakin jalan otak iseng Leo.


Leo bukan pria suci, selama di Australia dia memiliki hubungan khusus dengan seorang wanita blesteran Pakistan, tapi harus kandas karena perjodohan Mami Maride.



Nama: Alicia Felicio Alondo


Usia: 24 tahun


Status: Single


Berdarah Pakistan dan Prancis.


Pemilik treding saham emas


Tinggal: Australia


Karakter: Baik, cuek, keras kepala, penyayang.


Mantan kekasih Leonal Alkhairi Baros.


Jika dia ingin memutar waktu kembali, Leo lebih memilih tetap stay di Australia, dari pada harus kecewa seperti ini. Mungkin ini juga sebagai karma telah meninggalkan Alicia tanpa kata.


Jika dia mencintai Sintya terlalu cepat, YA. Leo tipe pria yang tidak bisa berlama-lama tanpa kekasih. Ingin rasanya dia menjalin hubungan serius dengan wanita saat ini, tapi dia harus menyelesaikan misinya. Membawa Sintya kembali, walau sebenarnya tidak mungkin, tapi tidak ada salahnya mencoba dan berharap dia kembali. Bukan Leo namanya jika tidak bisa menyelesaikan apa maunya.


Mobil telah terparkir disalah satu pusat belanjaan ditengah kota metropolitan. Leo melepas seatbelt, tanpa sengaja menyentuh tangan Paras saat akan mematikan audio.


"Hmm, stop!" tahan Leo pada tangan Paras, menatap wajah Paras yang sangat merah berhadapan dengan Leo kali ini.


"Apa Leonal?" tanya Paras lembut.

__ADS_1


Membuat Leo ingin tertawa, "jawab, lo suka sama gue?" tanyanya menatap wajah Paras yang menggemaskan.


"Mesti diucapkan? gue rasa lo udah dewasa dan kita bukan anak kecil lagi Leonal," senyum Paras.


"Soo lo mau just flow tanpa status? atau?" ucap Leo meyakinkan dirinya.


"Just flow, not play!" Paras memilih keluar lebih dulu, untuk menghembuskan nafas yang dari tadi dia tahan.


"Aaaagrrrh seorang Paras, wanita galak aja bisa gue takhlukin, apalagi Sintya," kekeh Leo merasakan kemenangan.


Berlalu keluar, menyusul Paras yang lebih dulu masuk ke swalayan. Leo mengikuti langkah Paras dari belakang tengah mendorong troli. mencari-cari kebutuhannya sendiri.


Leo pria cuek, tapi perhatian. Dia bukan pria yang mau berbasa basi apalagi masalah hati. Dia hanya butuh kejujuran, selanjutnya jalani saja. Baginya, kejujuran tentang perasaan akan membuat lebih mudah memperjuangkan suatu hubungan.


Paras mengisi troli dengan berbagai macam makanan, kebutuhan pribadi dan juga keperluan dapur.


"Sepertinya akan rajin masakin aku ni," goda Leo pada Paras.


"Emang kamu suka masakan apa?" tanya Paras menatap ke arah Leo.


"Yaaah rendang, udang belado, gulai cumi," senyum Leo mengambil kopi kesukaannya di rak swalayan.


Secara lidah Leo lidah Sumatra, hehe.


"Yaaah, aku akan membuatkan untukmu," ucap Paras berbisik dapat didengar oleh Leo.


"Good," senyum Leo picik.


Setelah lebih 1 jam mereka berdua berkeliling swalayan, memilih udang, cumi, daging segar dan bahan lainnya. Mereka menuju kasir.


Leo masih berada di belakang Paras, mendengar kasir menyebutkan nominal belanjaan mereka.


"Totalnya ............ Bu!" ucap kasir.


Paras merogoh dompet dari tas miliknya.


Tapi Leo lebih dulu memberi card miliknya.


Paras tertegun, membesarkan bola mata kearah Leo.


"Udah gue traktir kali ini," senyum Leo mengusap lembut bahu Paras.


Sheeer,


Darah Paras seakan mengalir lebih deras menuju kaki, jika itu bukan di swalayan, mungkin dia akan berteriak bahagia karena Leo adalah pria gentel menurut pikirannya.


"Thankyou," senyum Paras mengembang menatap Leo.


"Your welcome," jawab Leo.


Paras nggak habis pikir, "kenapa dia mau membayar semua belanjaan aku? jika dia tidak menyukaiku!" batinnya tersenyum senang.


Selesai pembayaran, Leo mendorong troli, menuju parkiran.


Paras melihat durian montong, membuat dia tak bisa menahan rasa.


Leo mengetahui arah mata Paras, merangkul bahu Paras.


"Di Riau durian lebih enak dari pada montong," senyum Leo berbisik.


Paras tersenyum.


"Oke!"


Mereka segera meninggalkan swalayan kembali ke apartemen Paras.


Wanita mana yang nggak terbuai, jika berhadapan dengan pria pengertian.


Tampang Leonal. Membuat Author jatuh hati.🤭❤️🤗

__ADS_1


Simak khuuuii... cerita ku... 'Ugly 'n Fat Girl'...❤️❤️


_____ Like and comment_______


__ADS_2