
Luqman dan Berlin akhirnya melepas masa lajang mereka melakukan pernikahan di catatan sipil. Berlin mengikut kepercayaan Luqman demi keutuhan keduanya. Tentu menjadi hal yang tidak biasa bagi keluarga Maride. Walau berbeda beda tetap satu jua demi keutuhan rumah tangga. Bukan kesatuan NKRI yah.... hehehe.
"Selamat yah Nak Berlin, Nak Luqman,"' ucap Mpok Alpa pada putra dan menantunya.
"Mami kamu kenapa nggak ikut hadir nak?" tanya Mpok Alpa.
Berlin tersenyum, "mami jagain baby four, ma," jelas Berlin.
Mpok Alpa mengangguk menggandeng tangan Brandon.
"Pa, kita ke kediaman Keluarga Baros. Rumahnya Leo. Mereka ada syukuran. Sekalian bawa seperangkat perhiasan yang kita beli untuk anak kembarnya Leo. Cowok 3 cewek 1. Mama udah siapin semuanya, ada di mobil," bisik Alpa.
"Hmmm uang yang 150 juta udah kamu kasih ke Berlin? buat pegangan dia. Kita nggak ada kasih apa apa lhoo, aku jadi sungkan. Luqman ngapain nikah sama gadis kaya. Apa salahnya nikah tuh sama gadis tetangga rumah, jadi kita aman," kekeh Brandon.
"Ooogh iya, lupa. Bentar,"
Alpa berlari menuju mobil Luqman di parkiran, mengetuk kaca mobil.
"Buka pintunya!" teriak Alpa dari luar masih mengetuk.
Luqman menurunkan jendela, "kenapa ma?" tanya Luqman.
Alpa masuk kedalam mobil putra satu satunya, mengeluarkan amplop coklat keemasan yang di beri pita merah.
"Berlin, ini dari Mama buat kamu. Maaf cuma bisa ngasih ini nak," senyum Alpa.
Berlin dan Luqman saling tatap, mereka berdua tampak bingung.
"Ini apa Ma?" tanya Berlin.
Alpa tersenyum mengambil tangan menantunya.
"Ini uang pegangan buat kamu nak, Mama dan Papa tidak punya uang bermiliar-miliar. Kalau ratusan masih bisa Mama kasih. Sebenarnya kami mau ngasih 200 juta, tapi 50 juta kami beliin perhiasan buat si kembar. Kita datang kemaren tangan kosong. Mama malu sekali," rungut Alpa menatap anak menantunya.
Berlin mengusap lembut lengan Alpa, tersenyum sedih menatap Luqman.
"Ma, aku menerima Luqman karena dia laki laki baik, nggak bawel, setia, dia juga mampu menjadi sahabat sekaligus teman untuk ku. Kalau uang aku butuh, tapi gaji kami cukup Ma. Jangan gini dong, tapi aku terima ini. Terimakasih, kita pulang yah? Mami dan Papi udah nungguin kita di rumah Kak Leo. Mama mau sama aku atau Papa?" tanya Berlin.
"Hmmm sama Papa saja, kasihan bule itu. Nanti susah dia nemuin jalan lurus," kekeh Alpa.
Berlin mengusap lembut punggung tangan Alpa, menciumi punggung tangannya sebelum mertua itu turun dari mobil mereka.
Berlin menatap punggung Alpa saat sudah mendekati Brandon.
"Ini uang apaan honey? kita punya uang lhoo, hmmm. Aku masukin rekening aku yah? kalau kamu butuh minta saja ke aku," jelas Berlin.
Luqman mengacak rambut Berlin, "kiss me," pinta pria tampan itu.
Berlin tertegun, selama mereka dekat belum pernah ciuman, apalagi sampai ehem ehem. Ada perasaan canggung di hati Berlin.
"Mesum aaaagh," ucap Berlin di wajah Luqman.
Luqman menaikkan kedua alisnya.
"Sudah halal lhoo, masak kita mesti kayak berteman!" sungut Luqman mengalihkan pandangannya.
Berlin menggigit bibir bawahnya, merasa tidak nyaman jika melakukan itu di mobil.
"Berlin Alkhairi Baros, kiss me please," ucap Luqman meminta.
Deg,
Berlin semakin gugup, ada perasaan takut.
"Kamu nggak akan ninggalin aku?" tanya Berlin meyakinkan hati.
Luqman mengambil tangan wanita bertubuh sintal, mengecup punggung tangan, kemudian menangkup wajah mulus berkulit sawo matang yang sangat manis, cup cup cup.
Terakhir, Luqman mencium bibir Berlin penuh perasaan tanpa ada penolakan dari wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Perlahan Luqman melepas ciumannya, tersenyum ke arah Berlin.
"Terimakasih karena sudah mau menjadi istriku Berlin. Ini ciuman pertama kita, mungkin akan ada ciuman lain nantinya," kekeh Luqman melepas tangannya.
Berlin menutup matanya, seketika hati terasa bahagia. Baru kali ini seorang pria mengucapkan terimakasih padanya setelah berciuman.
"Are you oke darling?" tanya Luqman.
Berlin menyentuh lengan Luqman, "everything is oke hubby," kecup Berlin ke pipi kiri suami.
Luqman tersenyum sumringah, ada perasaan lega setelah menikahi adik sahabat sendiri.
"Tidak sehoror yang aku bayangkan," batin Luqman melajukan kecepatan menuju kediaman Leonal.
⏳45 menit Luqman dan Berlin tiba di kediaman Leo. Tentu pasangan Leo dan Paras sudah lebih dulu tiba di kediamannya. Karyawan Langhai Group menyambut pasangan baru putri Baros dan Maride dengan penuh suka cita.
Tiupan terompet, alunan musik piano menyambut kedatangan pasangan baru menikah Luqman dan Berlin. Tentu menjadi suatu kejutan bagi keduanya.
"Bukannya cuma makan siang doang? kok malah ada pesta kecil?" tanya Berlin bingung menatap wajah Luqman.
Luqman tersenyum merangkul istrinya, memasuki ruang tamu. Mendekati Baros dan Maride.
"Terimakasih Mami, Papi. Aku akan menjaga Berlin sepenuh hati ku," tunduk Luqman menciumi punggung tangan Baros dan Maride secara bergantian.
Baros menepuk bahu menantu barunya, "bahagiakan putriku, jangan kau khianati dia," tegas Baros.
Luqman mengangguk mengerti, menatap Maride.
"Jaga diri kalian, apalagi perkutut mu itu," ucap Maride melirik ke wajah Berlin yang terisak penuh haru.
"Kenapa kau menangis Butet, sini peluk Mami," Maride memeluk putrinya.
"Ingat kau yah, sebagai istri harus patuh seperti Kak Paras. Lihat itu Leo nggak boleh berhenti mengunyah di buatnya," tunjuk Maride pada pasangan Leo dan Paras yang tengah sibuk bercengkrama bersama baby four dan orang tua Luqman.
"Tapi aku nggak bisa masak Mi," rengek Berlin.
"Belajar harus bisa," ucap Maride menggoda puncak hidung putrinya.
"Hmmm, Kak Leo kasih apartemen Kalibata. Aku akan disana biar lebih deket kesini. Tinggal lurus aja," jelas Berlin.
"Nggak usahlah, itu punya Leo. Nanti apa cakap Paras kau tinggal di sana. Mami belikan aja di Pejaten? atau Lebak bulus?" tanya Maride lagi.
"Enggak apa apa Mami, tadi Kak Leo yang ngomong depan Kak Paras. Justru dia setuju aja. Dari pada kosong, disana enak, lebih luas," ucap Berlin.
"Aaagh macam nggak bisa Mamak belikan yang lebih luas. Suruh jual aja apartemen Kalibata itu sama Leonal, jual murah kalau perlu. Agar terbuang sial kita dari sosok Sintya," rungut Maride.
"Terus aku tinggal dimana?" tanya Berlin tampak bingung.
"Nanti cok kita runding setelah tamu balek ke kantor," bisik Maride.
Berlin mengangguk, mencari Luqman yang menghilang dari hadapannya.
"Hubby," panggil Berlin.
Terlihat Luqman tengah berpelukan erat dengan Yani. Seketika ada perasaan bersalah di hati Berlin. Yani sahabatnya di kantor, juga mencintai Luqman. Berlin melangkah agar lebih dekat.
"Hubby," suara Berlin sedikit serak.
Ada cemburu, perasaan bersalah, merasa sedih dan sedikit kecewa semua bercampur aduk seperti gado gado.
"Haiii," Yani melepas pelukannya.
"Yaa haiii," senyum Berlin kaku.
"Maaf, yang kamu lihat barusan hanya sebuah pelukan persahabatan. Nggak lebih," Yani mendekati Berlin kemudian memeluk tubuh sintal itu.
"Jangan marah yah? gue cuma minta maaf doang, selama ini sering kasar sama Luqman," jelas Yani.
Berlin tersenyum mengusap lembut punggung Yani.
__ADS_1
"Gue nggak marah, cuma cemburu!" kekeh Berlin.
Yani mendengus kesal, "sama aja cee'," geramnya meremas lengan Berlin.
"Lo lapar? kita makan yuuk," ajak Berlin.
Berlin mengambil tangan Luqman dan Yani menuju hidangan prasmanan yang sudah di sediakan oleh Maid kediaman Leonal.
"Haiii cantik," sapa Paras merangkul Yani dan Berlin.
"Eeeh mba mesum," kekeh Yani.
"Kamu yah? gue cubit ni," geram Paras mencubit lengan Yani.
"Tenang, aman kok. Mba kan menantu kesayangan, pasti Tuan Baros bolehin kok ehem ehem di kantor," tawa Yani semakin kencang.
"Iiiighs gue sumpel pakai tisyu yah lambenya," kekeh Paras.
"Jangan mba yuu. Makan bareng, kita duduk disana," tunjuk Yani di salah satu meja yang tersedia.
Paras mengangguk melirik Berlin.
"Banyak makan, nanti malam mau kerja berat kan?" tanya Paras menggoda adik ipar.
"Iiiigh kakak, aku udah lama nggak lhoo. Sakit nggak kak?" tanya Berlin berbisik di telinga Paras.
"Hmmm enaaaak," kekeh Paras mengusap lembut punggung Berlin.
"Gemeeez deh aaagh sama kakak, mesum banget seeh semenjak jadi istri Kak Leo!" geram Berlin.
Paras tertawa.
"Kakak semakin hari semakin cantik, apa seeh resepnya?" tanya Berlin.
"Bahagia, selalu bahagia bersama pasangan mu. Jangan remehkan dia, karena suami itu harus di hargai sayang," kecup Paras di kepala Berlin.
Berlin mengangguk, "nanti malam aku belah semangka di sini yah? siap siap aja dengar rintihan ku," kekeh Berlin berlalu meninggalkan Paras.
"Dasar mesum,"
Paras mengambil beberapa makanan mengikuti Berlin. Ternyata Luqman sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.
"Bowl," panggil Paras.
Leo menoleh meninggalkan baby four bersama Faisal dan Kirai. Baby sitter mereka terus mengawasi ke empat buah hati Leo dan Paras.
Leo mendekati Paras mengusap sekaligus mencium kepala istrinya, mencepol tinggi rambut yang tergerai.
"Biar tambah se*xy," bisik Leo.
"Hmmm mau lagi Ndut," pinta Leo sedikit menundukkan kepalanya.
Paras menyuapkan sayuran dan udang ke mulut Leo.
"Duduk, tarik kursi itu kesini," ucap Paras.
Leo mengikuti perintah Paras, meraih minuman yang terhidang tidak jauh dari duduknya.
Mereka menikmati hidangan makan siang, penuh canda tawa dan saling menggoda. Tanpa ada angin atau hujan bahkan petir, seseorang mendekati Leonal.
"Siang Bang Leo..." ucap gadis se*xy menggunakan rok mini, da*da sedikit menonjol membuat mata terarah padanya.
Paras melongo,
Yani ternganga, karena sulit menutup mulutnya,
Berlin dan Luqman saling tatap menelan saliva secara bersamaan.
Leo terkekeh geli.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️