Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Mampuslah aku'


__ADS_3

Paras tak henti-hentinya menangis di pelukan Leo, hingga membuat dia tertidur di dada tegas sang suami. Menangis adalah cara ampuh untuk menghilangkan rasa kecewa sakit bahkan mampu membuat lebih lega.


Drrrrt drrrrt,


"Mami," batin Leo.


πŸ“ž"Ya Mi," Leo.


πŸ“ž"Bagaimana? sudah selesai? kapan kalian pulang?" tanya Maride.


πŸ“ž"Hmmmm palingan minggu depan," jujur Leo.


πŸ“ž"Mana Paras? aku mau bicara," tanya Maride.


πŸ“ž"Paras udah tidur Mami, kami ada sedikit masalah," cerita Leo.


πŸ“ž"Haaaaah masalah apa? becewek kau sama bule Jerman?" tawa Maride.


πŸ“ž"Aaaagh Mami, bukan! Luna menyerang Paras ke hotel," ucap Leo.


πŸ“ž"Luna? Luna cewek mu? bukannya cewekmu dulu Alondo? kenapa Luna?" tanya Maride tidak mengerti.


πŸ“ž"Hadeeeh, bukan Mami!" geram Leo.


πŸ“ž"Jadi?" kekeh Maride.


πŸ“ž"Hmmm payah cerita di telfon, bisa naik tensi Mami nanti. Telpon Berlin aja, jangan aku," tegas Leo.


πŸ“ž"Iiiighs lagi di dalam incubator si unyun mu?" bisik Maride.


πŸ“ž"Aaaagh Mami jangan buat kesal aaagh," kesal Leo.


πŸ“ž"Ya, ya, cok aku telpon istrinya Luqman dulu yah? cetak anak yang banyak, jangan kalian ribut ribut yah nak? jangan selingkuh," jelas Maride.


πŸ“ž"Hmmm,"


Leo dan Maride menutup telpon mereka. Tentu Maride merasa penasaran, langsung menelpon Berlin yang tengah berada di atas Luqman.


"Aaaaagh oooogh," desah Berlin.


Drrrrt drrrrt,


Luqman meraih telpon tanpa melihat nama siapa yang tertera di layar malah memberikan pada Berli yang tengah keenakan.


πŸ“ž"Aaaaagh oooogh aaaaagh," suara ******* Berlin membuat bulu kuduk Maride meremang.


"Pi, Pi, cok kau dengar,"


Maride memberikan telfon ke telinga Baros.


πŸ“ž"Aaaaaagh oooogh uhuuugh hmmmfgh, you very great," ucap Berlin masih memegang handphone di tangan tanpa dia sadari.


Mata Baros dan Maride saling tatap. Menutup telfon hingga meraup mesra tubuh Maride.


"Aaaaugh Papi, kok kau pula yang minta?" teriak Maride.


"Iiiiighs nggak kuat Papi, Mi! de sa h an mereka membuat si unyun menggigil,"


Baros melepas semua pakaian yang menempel di tubuh mereka hingga melakukan manuver sesuai yang di dengar barusan tanpa memberi waktu bernafas untuk Maride.

__ADS_1


"Oooogh Papi, lain kali aku nggak akan kasih handphone sama mu, aku jadi korban kali ini," rengeknya di atas tubuh Baros.


"Hmmmm,"


Baros terus melahap tubuh sang istri hingga keduanya mencapai pelepasan di landasan cinta mereka.


"Makasih sayang," kecup Baros pada bahu telanjang Maride.


"Hmmmm,"


Maride melepas si unyun dari incubator, meluruskan tubuhnya dengan menghembuskan nafas panjang.


"Kok enak kali punya Mami?" tanya Baros menyambut tubuh istrinya di lengan kirinya.


"Iya lah enak, kan aku rapatin terus pakai ramuan Maid nya si Leo," tawa Maride semakin membuat pekak telinga Baros.


"Hmmmmm mandi berdua kita yah? pergi makan di luar kita bawa Faisal dan baby four," usap Baros pada bahu Maride.


"Ya, yuuk lah kita mandi. Nanti baby four tidur pula,"


Maride beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, ternyata Baros lebih dulu berada di dalam dengan wajah kembali memelas.


"Papi yah, kalau mandi berdua cepat kali! coba aku minta belikan baju, banyak kali hitung hitung mu," repetan Maride menjadi asupan tersendiri bagi Baros.


"Sini Papi gosokkan, biar semakin bersinar punggung Mami," kekeh Baros.


Maride mendengus kesal kali ini, walau lambenya tidak bisa berhenti merepet, Baros selalu menggodanya dari enggak menjadi iya. Bagaimanapun cinta dan perasaan butuh tidak bisa lepas dari benak keduanya. Beda tipislah, saling membutuhkan sama saling menyayangi.


Mereka menghabiskan waktu bersama hingga larut melupakan tentang curhatan Leonal, bahkan hingga terlupa menelfon Berlin kembali. Bagi Maride, anak anak sudah dewasa. Mau cerita syukur jika tidak yah nggak masalah.


Tapi untuk urusan Luna, jika Maride mendengar, bisa terbelah dua istri tercinta Juan atas tindakannya.


.


.


.


"Hubby, ini punya siapa?" tanya Berlin pada Luqman saat terjaga.


"Punya kamu,"


Luqman mengusap matanya, mengecup lembut bibir Berlin.


"Kita pulang aja yah, Mama udah rindu sama aku dan kamu," jelas Luqman.


"Terus? nggak jadi lihat MotoGP?" tanya Berlin.


"Jawab aku, handphone ku kok ada sama aku? siapa yang nelfon?" tanyanya semakin penasaran.


"Nggak usahlah, kita jalan jalan disini saja. Aku sebenarnya mau ngajak kamu ke Netherland, biar kita bisa jumpa keluarga Papa, tapi lagi begini nggak enak sama Mba Paras dan Leonal," jelas Luqman.


"Coba kamu cek aja sayang, aku rasa Leo," tambah Luqman saat Berlin masih berfikir tanpa menjawab pernyataannya kemudian beranjak dari ranjang peraduan mereka.


Berlin melihat panggilan telpon, matanya membulat.


"Hubby bukan Kak Leo, tapi Mami. Mampuslah aku,"


Barlin menepuk keningnya.

__ADS_1


Luqman malah tersedak, terkejut mendengar bahwa yang nelpon adalah mertuanya.


"Serius Mami?" tanya Luqman kembali ke ranjang.


"Serius, hmmmm aku jadi malu," rengek Berlin memeluk Luqman.


"Iya seeeh, tapi aku rasa Mami pasti ngerti kita udah nikah, jadi nggak masalah lah," kekeh Luqman.


"Nggak apa apa seeh, cuma aku segan hubby. Kak Paras aja malu malu terus kalau di godain Mami, gimana aku dan kamu," ucapan Berlin membuat Luqman semakin senang.


Setidaknya dia mampu membahagiakan Berlin lahir dan batin sesuai keinginan Baros dan Maride.


Di kamar Leo dan Paras, justru tangan gembul itu masih nyenyak saling berpelukan. Kembali harus terjaga karena pelayan mengantarkan sarapan pagi ke kamar mereka.


Tok tok tok,


"Room service," teriak pelayan dari luar kamar.


Perlahan Paras membuka mata, mengusap wajah sembabnya, beranjak turun dari ranjang segera membukakan pintu.


Cekreeek,


"Selamat pagi Nyonya, saya mau mengantarkan sarapan pagi sesuai perintah Tuan Leonal tadi malam," jelas pelayan.


"Hmmm silahkan," ucap Paras membiarkan pelayan meletakkan makanan mereka di atas meja.


Paras mengambil beberapa lembar uang kertas, memberi pada pelayan sebagai tips di pagi hari.


"Tidak usah Nyonya," tolak pelayan.


"Ambil saja, saya ikhlas," senyum Paras mengusap pipinya.


Leo yang sudah terjaga langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Paras terlonjak kaget karena menerima serangan fajar secara mendadak.


"Bowl," tepuk Paras menepuk lengan Leo.


Leo tidak menghiraukan ucapan istrinya, dia langsung melahap leher belakang Paras dengan sedikit maruk. Pelan tapi pasti mereka saling melepas perasaan kecewa, bahkan saling ingin memberikan yang terbaik.


"Makasih Ndut," kecup Leo saat sudah kembali dari angkasa dengan wajah segar dan tersenyum sumringah.


"Aku yang harus bilang makasih Bowl, kamu udah baik banget sama aku," jelas Paras.


Leo mengecup kening Paras mendekap erat tubuh yang masih berada di bawahnya.


"Kita pulang aja yah Bowl ke Jakarta, agar Luna lebih tenang. Biar Amak sama Apak yang beresin Luna," jelas Paras..


"Berarti Amak ke Jerman lagi?" tanya Leo.


"Ya," jawab Paras mengusap wajahnya, mendorong tubuh Leo.


"Mandi yah,"


Paras berlalu meninggalkan Leo, tapi pria itu malah mengejar ingin menikmati guyuran shower secara bersamaan.


"Bowl, jangaaaan," rengek Paras saat suaminya mulai bergerak aktif.


"Huuuufgh,"


Bleeeez...

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️


__ADS_2