
Paras sedari tadi menahan mualnya, menikmati acara syukuran mereka. Paras memilih duduk lebih jauh dari para pria termasuk Leo. Yani terus menggoda Paras, dia tak menyangka sang direktur dan secretaris yang menyamar akan berjodoh.
"Akhirnya pria berbulu itu jadi suami mba?" Kekeh Yani menggenggam jemari Paras.
Paras tersenyum mengangguk, "kamu gimana sama Luqman?" Goda Paras pada Yani.
Yani melirik ke arah Luqman, "dia naksirnya sama Berlin, Mba! Bukan sama aku!" Kekehnya.
Paras mengusap lembut bahu Yani, "sabar aja! Nanti juga ketemu yang pas!" Senyum Paras memijat pelan pelipisnya.
Leo beberapa kali menatap wajah sang istri yang saat ini masih berstatus Direktur di Langhai Group milik Baros. Baros berniat mengalihkan semua pada Leo, tapi dia enggan menerima.
"Biar Paras yang melanjutkan dulu Pi! Sampai dia benar benar menyerahkan pada ku! Lagian besok aku akan ke Padang membawa Paras bertemu keluarganya." Jelas Leo pada Baros.
Baros mengangguk mengerti, "baiklah, untuk sementara Papi dan Mami akan disini dulu! Menunggu kamu kembali." Baros melahap hidangan kecil dihadapannya.
"Hmm, kan ada Luqman dan Berlin, Pi! Sistem juga aman! Perusahaan aman! Aku cek dari jauh! Paras pasti akan memantau terus. Aku mau Paras masih bekerja! Agar otaknya terus update, nggak marah marah kalau nganggur!" Leo menjelaskan pada Baros.
Baros mengangguk, "Ya, aku setuju! Aku nginap dimana malam ini? Kalian di Pejaten atau Kuningan?" Tanya Baros.
"Kuningan lah Pi! Aku pulang sebentar ke Pejaten, mau ambil beberapa keperluan Paras." Jelas Leo lagi.
Baros mengangguk, Berarti aku dan mami ke Kalibata saja! Berlin ikut dengan ku! Kalian berdua lah dulu! Ingat, jangan capek capek! Mau dipakai lama masalahnya." Goda Baros pada putranya.
"Hmm!" Leo hanya mendehem.
Maride yang tengah bernyanyi riang bersama karyawannya, mendekati Leo.
"Ayooklah nak! Duet maut kita, nyanyi apa sayang!" Goda Maride pada Leo dan Baros.
"Sekarang sampai 50 tahun lagi Mi! Biar menggelegar kantor ini!" Kekeh Baros.
Eng ing eng,
Music menyala, Maride bergaya bak Yuni Sarah, Baros berdiri bak Raffi Ahmad. Sontak karyawan mengabadikan moment indah Owner Perusahaan Langhai Group mereka yang cetar menggelora untuk di jadikan kenangan terindah. Hal yang jarang bagi Baros dan Maride mau berbahagia seperti saat ini.
🎶Kau bilang kini kau tak menarik lagi
Tapi 'ku merasa kau tidak
Kau selalu bertanya apa 'ku masih cinta?
Dari pertanya'anmu, sepertinya kau takut
🎼Sekarang atau 50 tahun lagi
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
🎵Ku ingin tahu, pernahkah kau duakan ku?
(Pernahkah? 'ku tak pernah)
Bermain cinta di belakangku bersenang-senang (Huu)
Dari pertanya'anmu, sepertinya kau takut
🎼Sekarang atau 50 tahun lagi
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
🎼Sekarang atau 50 tahun lagi
__ADS_1
Ku masih akan tetap mencintaimu
Tak ada bedanya rasa cintaku
Masih sama seperti pertama bertemu
🎵Cobalah percaya padaku
Itu hanya ketakutanmu saja
Cobalah percaya
Leo dan Paras ikut bergoyang, saling bergembira bersama hingga time pulang kantor.
Suatu kebahagiaan luar biasa bagi Baros dan Maride memiliki menantu yang sangat baik seperti Parassani Chaniago, orang kepercayaannya selama 8 tahun mengabdikan diri diperusahaan mereka, mampu menakhlukkan putra kesayangan Leonal Alkhairi Baros yang seleranya wanita bule.
Paras mencium punggung tangan Maride saat berpamitan untuk ke dokter kandungan.
"Aku ikutlah, mau lihat cucuku!" Teriak Maride meminta persetujuan Baros.
Tentu satu kebanggaan untuk Paras jika Maride mau menemaninya.
"Aku ikut Mi," Berlin merangkul bahu Leo.
"Hmm! Kita ke dokter lho! Bukan ke mall!" Kekeh Leo.
"Iya, kami mau ikut!" Berlin melirik ke arah Baros.
Baros mengangguk setuju, "Yuk, pakai sopir saja! Nanti mobil kalian sopir yang antar ke apartemen." Jelas Baros merangkul mesra tubuh gembul Maride.
"Ciie, kau mau lihat cucu kesayangan kan Pi? Kali aja cowok! Iiighs senang kali aku maaak oooiii! Leo Leo, pandai kali kau buat anak!" Kekehnya sepanjang jalan menuju lift.
Paras terkekeh, melirik ke arah Leo.
"Pandailah, goyangannya pas Mami!" Goda Leo mengecup pipi Maride. "Hmmm, goyangan patah patah, kayak si Anisa yang pernah isi acara di Bandung!" Tambah Leo semakin m*esum.
Maride tertawa, Baros sangat bahagia akan menjadi opung tampan. Begitu juga Berlin, akan menjadi Aunty untuk anak Kakaknya Leo.
Mereka saling bersenda gurau selama diperjalanan. Paras lebih banyak diam karena dia merasa pusing. Tibalah mereka di rumah sakit swasta daerah Jakarta Selatan. Paras lebih dulu keluar dari vellfire milik Maride, aromanya dalam mobil mewah itu mampu mengacak isi perutnya.
Leo mengejar sang istri, "Kamu kenapa sayang?" Tanya Leo agak khawatir.
"Hmm, nggak apa apa sedikit pusing!" Ucap Paras menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami.
Leo tersenyum, "ternyata kamu lagi bucin!" Kekeh Leo menggoda sang istri.
"Iiiighs, udah deh Leo! Aku bucin karena hamil! Kalau nggak mana pernah aku begini! Apa lagi sama Bowl ku yang jelek, nyebelin, tapi bisa buat aku jatuh hati!" Paras meraba rahang tegas milik Leo.
"Yuukz, kita kedalam! Berlin udah daftarin tuh!" Leo merangkul tubuh lebar Paras.
Baros dan Maride yang memperhatikan kemesraan anak menantunya dari kejauhan, sangat bahagia. "Ternyata mereka jodoh yah Pi!" Ucap Maride mengusap sudut matanya.
"Aku pikir Leo nggak mau sama Paras karena fisik! Ternyata dia lebih mencintai Paras dari pada si Londo!" Kekeh Baros.
"Eeeh Pi, si Alondo itu anak siapa? Sebab kata si Leo ndak jelas keluarganya! Nggak pernah di kenalkan ke Leo! Untung nggak cinta mati anak kita sama dia! Kalau cinta mati kayak kemaren, bisa mati tegang aku punya menantu bule nggak jelas macam Sintya itu!" Bisik Maride pada Baros melihat anak menantu sudah mulai mendekat.
"Huuush, Mami bilang jangan omongin anak orang! Kita ada anak cewek! Diamlah, nggak usah bahas bahas yang udah udah! Kasihan Paras dan cucu kita nanti! Nggak ngembang dia!" Baros terkekeh masuk ke rumah sakit menuju tempat yang sudah di persiapkan sambil menunggu panggilan Paras menantu barunya.
Berlin menerima panggilan telfon dari Luqman secara diam diam. Paras yang mengetahui hanya tersenyum menatap sang adik ipar sedang pendekatan atau bahkan jatuh cinta.
Terdengar suara panggilan suster, "Nyonya Parassani Leonal!" Teriak suster melihat kiri dan kanan.
Leo dan Paras bergegas menghampiri perawat.
"Sore ibu, silahkan!" Senyum perawat membukakan pintu ruangan lebih lebar.
Baros dan Maride ikut mencicit mengikuti langkah Leo dan Paras. Saat masuk ruangan dokter spesialis itu, mata Maride penuh dengan cinta. ❤️💞💘.
__ADS_1
"Omak Papih, dokternya kok mirip kau sayang! Ganteng!" Bisik Maride pada Baros.
"Huuush! Jangan buat aku cemburu!" Kekeh Baros mencubit pipi Maride.
Suster yang mendengar celoteh Maride tertawa, menutup pintu ruangan.
Dokter menatap Leo dan Paras yang sudah ada dihadapannya. "Selamat sore Ibu, Bapak!" Sapa sang dokter tampan yang membuat Maride jatuh hati.
"Sore dok!" Jawab Leo.
"Gimana? Hmm, terakhir period 2 bulan lalu! Oke kita cek yuk USG disana!" Dokter membaca story Paras kemudian mengajak untuk rebahan di tempat yang telah disiapkan.
Suster membantu Paras, berbaring, membuka bagian perut Paras terlihat sangat bersih dan mulus walau berlemak. Suster memberikan gel, untuk mempermudah melakukan USG.
Jantung Paras dan Leo tidak baik baik saja, jujur ada perasaan sangat mendebarkan. Ini anak pertama bagi keduanya. Leo menggenggam jemari Paras yang lembut.
Dokter mengarahkan alat usg ke bawah perutnya,
Deg deg deg deg, jantung keduanya sedang berpacu berharap harap cemas.
"Hmmm, ini janinnya yah Ibu, sudah berusia 9 minggu! Kondisinya baik, sempurna! Nggak ada keluhan kan?" Tanya dokter tampan itu.
Paras menggeleng menatap Leo disampingnya. Jujur tak kuasa menahan rasa bahagianya. Beberapa kali Paras mengusap lembut sudut matanya.
Leo mengecup punggung tangan Paras, "Makasih yah sayang! Makasih banget, udah bersedia jadi ibu dari anak ku!" Ucap Leo penuh cinta.
"Oya dokter, apa jenis kelaminnya?" Tanya Maride penasaran.
"Nanti yah Bu! Lebih baik menjadi kejutan!" Senyum dokter menatap Maride.
"Jangan Ibu lah! Tante aja kau panggil aku!" Kekehnya melirik Baros.
Dokter dan suster kembali tertawa lucu mendengar Maride yang sangat bahagia.
Paras dibantu suster membersihkan gel yang tersisa dan membantu duduk ketempat semula, tangan Leo tak lepas darinya.
"Ini vitamin dan bulan depan kontrol lagi! Lebih baik perbanyak istirahat, kalau tidak penting jangan melakukan perjalan jauh yah Bu!" Pesan dokter pada Paras menatap Leo juga.
"Kalau berhubungan gimana dokter?" Tanya Leo penasaran.
Tentu Maride menjitak kepala putranya, "pertanyaan apa itu?" Geram Maride pada Leo.
Dokter tersenyum, "Boleh pak, asal ibunya nyaman!" Jelas dokter pada Leo.
"Yeeez!" Leo merasa kemenangan dan si unyun akan bekerja keras setelah halal.
Paras menatap Leo yang penuh semangat.
"Ada lagi?" Tanya dokter, "Jika mau konsultasi, ini nomor whatsApp saya, silahkan hubungi disini yah Pak Leonal! Bisa mendaftar disini juga." Jelas dokter memberi kartu nama.
Tok tok tok,
Berlin mendongakkan kepalanya, beradu tatap dengan sang dokter. Deg, "Ganteng banget! Aku mau!" Batin Berlin menatap bling bling.
Maride mengetahui kehadiran sang putri, "hayuuuklah! Kenalan sama dokter tampan itu. Namanya Dokter Fredy." Senyum Maride.
Dokter hanya menunduk pada Berlin. "Salam kenal!" Ucapnya.
Leo yang tak sabaran ingin segera memadu kasih dengan Paras, mengajak keluarganya meninggalkan ruangan sang dokter segera.
"Terimakasih Dokter Fredy! Nggak bisa sama aku, sama putri ku!" Goda Maride menaikkan kedua alisnya.
Dokter dan suster tersipu malu. Jujur Fredy juga ingin berkenalan dengan Berlin, tapi nggak sekarang. Masih dinas, batinnya.
Mereka meninggalkan rumah sakit, stelah mengambil beberapa vitamin menuju apartemen Leo di Kuningan, mengurungkan niat untuk pulang ke Pejaten, karena Paras kembali merasa mual.
Setelah mengantarkan anak menantunya, Baros dan Maride juga Berlin meninggalkan anak menantunya untuk menghabiskan masa indah mereka.
Bahagianya....❤️🤗
__ADS_1
__________***********
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️