
Flashback on...
Waktu terus berputar, hidup terus berjalan, tak terasa 7 tahun berlalu. Maride dan Silutak tidak pernah menjalin komunikasi semenjak pertikaian Margareta di kantor milik Baros yang menyerang Paras secara brutal.
Baros telah mempercayai Paras memegang kendali Perusahaan Langhai Group secara keseluruhan di Jakarta. Saat sudah merasa mapan, Paras memberikan sebuah kado terindah untuk Baros sebuah jam tangan buatan Swiss, menggunakan material emas, perak, kristal dalam jam tangannya, mirip dengan konsep mewah seperti Vertu dalam telepon genggam. Yah, Jam tangan Rolex sebagai entry-level kado yang diberi Paras untuk Baros dihadapan Maride.
Rolex kado ulang tahun untuk Baros.
"Ooogh my God! Ini mahal sekali Paras!" Bibir Baros tak mampu berucap.
Maride tersenyum kecut, mengerti maksud sang wanita dihadapannya.
"Saya minta maaf, sebelumnya Tuan, Ibu! Ini bentuk terimakasih dan rasa cinta saya pada Tuan! Terimalah, setidaknya ini saya pesan langsung dari Swiss untuk Anda Tuan." Jelas Paras menunduk malu.
"Hmmm, cinta rupanya kau sama suami ku!" Maride tertawa, ada perasaan getir getir asam, tapi Maride tidak gentar. Dia menganggap Paras wanita baik baik selama ini.
Maride juga telah memberikan apartemen untuk Paras di Pejaten, tentu persetujuan Baros. Jika dibandingkan semua pemberian keluarga ini pada Paras, tidaklah sedikit. Jadi wajar Paras memberikan hadiah ulang tahun yang terbaik untuk Baros, walau agak sungkan awalnya. Takut, jika Maride akan cemburu atau bahkan memakinya.
"Maafkan saya Bu! Saya hanya mengagumi Tuan! Bukan ingin memilikinya! Lebih baik saya jujur, saya juga tau selama ini kalian terlalu baik pada saya! Saya sangat senang karena kalian juga saya bisa menjadi seperti sekarang." Jawab Paras tenang.
"Mengagumi bukan untuk memiliki! Begitu? Tapi jika saya mati lebih dulu, kau bisa memiliki! Gitu maksudmu kan?" Kekeh Maride mencubit geram paha Baros disampingnya.
"Aaaaaaugh! Mami? Sakit!" Rengek Baros dibahu Maride.
Paras tersenyum, menatap kedua insan yang lebih pantas menjadi keluarganya ini. "Saya kan sudah bilang Bu, saya hanya mengagumi! Bukan mau merebut Tuan! Pasti Tuan lebih memilih Ibu, yang sangat menyayangi Tuan! Saya lihat kalian sangat romantis! Jika Ibu sama Tuan memiliki anak laki laki, saya mau jadi menantu kalian!" Kekeh Paras memecah kecemburuan Maride dan Baros.
"Hmmm!" Maride dan Baros saling menatap, "Apakah dia tak tau kita punya anak Pi?" Tanya Maride berbisik pada Baros disela makan siang mereka.
"Hhhuuush! Leonal tidak akan mau dengan dia! Putra kita itu seleranya buleeeee terus! Itu aja udah beberapa tahun dia menjalin hubungan sama Londo, nggak jelas anak siapa! Aku berencana akan mencarikannya wanita disini! Yani cantik, Cina sipit gitu!" Kekeh Baros membalas berbisik pada Maride.
"Hmm!" Jawab Maride masih garing menikmati makanan mereka di restoran ternama di Jakarta.
__ADS_1
Setelah makan siang mereka selesai, Maride dan Baros memilih berpisah. Paras kembali ke kantor, sementara Baros dan Maride tidak memberi tahu kemana mereka.
Paras memberi pelukan hangat pada Maride, mencium punggung tangan Maride dan berpamitan tanpa bersalaman pada Baros. Bagi Paras, dia tidak akan pernah mau menyentuh tangan Baros, takut khilaf, batinnya.
Maride dan Barros kembali ke apartemen Leo di Kuningan, menatap pemberian Paras yang sangat indah dan elegant yang mereka letak di meja.
"Ku pikir dia ngasih baju! Kalau baju ku bakar yah Pi!" Kekeh Maride.
"Apa aku boleh memakainya Mi?" Goda Baros.
"Ya pakailah! Biar ganteng suamiku! Sayang kalau nggak dipakai. Bisa menangis darah si Paras nanti kayak pilem di tipi tu! Nyanyi kekasih tak di anggap pula dia meraung raung!" Tawa Maride.
"Kau tak cemburu?" Tanya Baros penasaran.
"Apa? Cemburu? Bisa tinggal kolor kau jika macam macam Baros!" Tawanya terbahak bahak. "Jujur aku cemburu, tapi aku tidak ingin bersaing dengan anak bawang. Aku akan cemburu jika diam diam kau memberikan sesuatu padanya. Ini kita selalu berdua! Mana ada kesempatan untuk wanita lain mendekati mu! Jikapun ada mereka akan takluk pada ku! Karena pesonaku akan menggigit yang menggoda mu! Selama ini kita udah berjuang bersama membesarkan Leonal dan Berlin, tanpa siapapun, aku tak ingin ada pihak ketiga dirumah tangga kita." Jelas Maride pada Baros, memeluk tubuh kekar suami tercintanya.
"Selamat ulang tahun yah Pih! Aku mencintaimu!" Tambah Maride mengecup bibir suami tersayangnya.
Baros tersenyum, "kita buat ade untuk Berlin?" Goda Baros.
"Ya udah, produksi aja! Aku pengen, kau belum memberi ku kado! Aku rindu tembemmu!" Kecup Baros tak berhenti pada wajah Maride.
"Kamaar! Jangan disini! Kemaren jatuh dari sofa tu sakit kali bahu ku! Untung lagi on fire, nggak kerasa kali lah sakitnya!" Rengek Maride.
"Iya! Aku gendong atau kau yang gendong?" Tawa Baros.
Maride berdiri diatas sofa empuk itu berharap Baros menggendongnya bak bridal, tapi hanya mampu setengah tiang Baros teregah.
"Gendong belakang ajalah! Lemah kali pun!" Kekeh Maride.
Baros menatap Maride, "jalan aja yah? Biar cepat sampai!" Pujuk Baros.
"Ya!" Maride mengambil cemilan untuk dibawa ke kamar.
__ADS_1
"Aduuuh! Nggak jadi in the hooii lah kita!" Peluk Baros pada tubuh gembul sang istri.
Maride terkekeh geli menatap wajah suaminya yang lagi on, "Iya, jadi!" Maride menggandeng tangan Baros mengusap lembut punggung suaminya.
Terjadilah pertempuran panas nan romantis, membuat Baros terlelap karena kelelahan. Maride tersenyum puas, menatap manja wajah suaminya. "I love you Dinata Baros Alkhairi." Bisik Maride di telinga Baros.
Baros hanya mendehem, memejamkan matanya.
Drrrt, drrrt....
π"Silutak?" Batin Maride.
π"Ya!" Maride.
π"Apa kabar Eda! Baikkan? Bagimana Lae?" Tanya Silutak tanpa rasa malu.
π"Baik! Tumben kau nelfon pariban? Tinggalkan perangai kau rupanya?" Kekeh Maride seketika dapat melupakan kejadian beberapa tahun lalu.
π"Rindu aku! Udah lama kali kita nggak jumpa! Kita langsungkan aja pernikahan anak kita? Kebetulan kami lagi di Bali! Langsung lah yah? Nggak usah pakai pakai adat! Kita udah modern! Masalah babi kita ganti banteng aja!" Goda Silutak membuat Maride tersenyum sumringah.
π"Aaagh, kau! Giliran udah perawan tua anak mu kau kasih dengan aku! Kemaren kemaren kau campakkan aku! Udah miskin kau rupanya? Berharap jadi besan ku?" Kekeh Maride membuat Silutak ikut terkekeh.
π"Miskin kalipun aku semenjak kapal pesiar ku ditahan satu! Mau ku jual aja! Kau jualkan lah yah? Nanti kita buat MOU-nya. Nggak usah kau takut! Masalah uang aku nggak pernah bohong! Masalah hati aja aku suka bohong sama Margareta! Cemana, besan? Bisanya Leonal menyusul kami? Eda juga ikutlah! Biar semakin kuat kita! Bersatu padu semakin kokoh. Bisa makan saksang bersama setiap hari!" Jelas Silutak merayu Maride.
π"Cobalah dulu aku tanya Leo yah? Dia sibuk kerja disana! Nggak mau kali dia pulang! Udah rindu kali aku sama anak bujang ku! Pengen kali lah aku punya cucu! Apa yang mesti ku siapkan untuk martupol? Cukuplah seharga banteng Brazil yah?" Maride semakin tertawa membuat hatinya berbunga bunga karena bisa bertemu Leonal dengan cara begini.
π"Iya, Eda tanyalah! Kami rencana dua minggu disini! Nggak usah pakai pacaran pacaran lah! Justru enak pacaran pas udah nikah! Bisa langsung tancap gas tanpa basa basi!" Rayu Silutak membuat Maride semakin semangat 45.
π"Yalah! Ku telfon lah dulu Leo yah pariban! Nanti aku kabari pariban ku yang ganteng dan kaya raya ini. Salam buat Itok Margaret yah! Jaga kesehatan kalian! Aku udah rindu juga berjemur dipinggir pantai itu! Biar semakin matang kulitku!" Maride semakin terkekeh.
π"Iya! Aku tunggu yah! Bye." Silutak menutup sambungan telfonnya.
Maride memijat pipinya yang lelah tertawa bersama Silutak Lamhot yang otaknya rada rada setengah, "Perjodohan? Kata Papi tadi Leo pacaran sama Londo! Aaaagh, kawinkan ajalah dia, rindu aku menimang cucu!" Batin Maride meletakkan handphone miliknya dinakas, kembali memeluk Baros yang masih terlelap, hingga Maride pun ikut terlelap. Masuk ke dunia mimpi antah berantah, hehehe.
__ADS_1
Read and wait... π€π€
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...ππ₯°β€οΈ