
Leo dan Sintya menghabiskan malam bersama. Sintya menceritakan semua dari awal. Kecewa Leo semakin dalam pada Parassani Chaniago dan tak kuasa menahan amarahnya.
Sejujurnya dia mengagumi Paras, tapi kenapa Paras tega pada keluarganya. Dia wanita yang pintar dan selalu bermain sangat rapi.
"Apakah dia tidak tau keluarga ku? apa selama ini dia juga berusaha merebut hati Papi? hingga dia benar benar mendapatkan semua keinginannya," batin Leo.
"Apa salah kita pada mereka Sin? ini tak adil bagiku!" Leo menggeram memeluk Sintya.
"Aku tidak tahu Leo! bagi ku perjodohan kita adalah suatu kebetulan. Aku tidak pernah mempermasalahkan suku dan agamamu. Aku mengagumi mu, jujur aku mencintaimu. Aku menghindar, karena kemaren kau bersamanya," jelas Sintya.
"Jawab aku? apakah kau pernah bersama pria lain selain aku?" tanya Leo sedikit ingin tahu.
"Leo, semenjak kita menikah, hingga kita berpisah, aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Aku tidak peduli orang mengatakan aku kuper atau apa. Aku menjadi introvert karena masalah ini. Media belum tau tentang perceraian kita. Tidak mudah bagiku untuk menerima pria lain dihidupku! Karena aku menginginkan mu," isak Sintya di dada Leo.
"Tapi kenapa keluargamu mengatakan jika kau hamil, itu adalah anak ku? kita belum melakukannya Sin!" tegas Leo semakin penasaran.
"Papi menginginkan aku hamil anakmu. Aku masih menunggu mu dan berharap padamu Leonal." tegas Sintya.
Leo seakan mendapat ikan segar, dari Sintya seperti akan memakannya malam itu.
"Apa kamu mau kita melakukannya sekarang?" goda Leo mendekap Sintya.
"Hmm aku masih period Leonal!" kekeh Sintya menyeka pipi mulusnya.
Leo menghembuskan nafas dalam.
"Jujur gue sangap hari ini!" batin Leo menahan hasratnya.
"Apa kamu marah?" tanya Sintya menangkup wajah Leo dengan tangan lembutnya.
Leo tersenyum, "bertahanlah Sin. Aku akan menyelesaikan semua ini demi kita. Kita akan ke Bali setelah aku pulang dari Riau. Tanpa sepengetahuan siapapun! Siapapun!" tegas Leo.
"Hmm aku akan menunggumu disini. Datanglah kapan kamu mau. Aku akan membukakan pintu untukmu. Wanita itu ada dilantai 18. Apa kamu bersamanya hari ini?" tanya Sintya sedikit penasaran.
"Ya dia berusaha menggoda ku. Jujur aku tergoda, tapi aku tidak mampu Sin! karena aku ingin kau kembali! Aku juga masih mencintaimu!" kecup Leo pada bibir manis mantan istrinya.
"Apa kau akan tidur dengannya?" Sintya ingin tahu.
"Keinginan itu ada Sin, tapi aku tidak ingin terjebak di situasi ini. Aku dan Berlin sedang merencanakan sesuatu. Jika dia memang ingin merebut Papi Baros dari Mami, wanita itu salah. Karena kami akan menjaga Keluarga kami Sin!" Leo menikmati wangi tubuh Sintya. Baginya Sintya adalah jodoh terbaik yang diberi Maride untuknya.
Begitu menyakitkan baginya, hingga dia mesti berpura-pura menjadi penyusup di perusahaan keluarga sendiri, tanpa membuka identitas pribadi sebenarnya.
"Apa kamu akan menghabiskan malam bersamanya Leo?" tanya Sintya lagi menatap hezel mata mantan suaminya, menyentuh bulu wajah yang tumbuh subur.
"Jika itu terjadi, hanya karena nafsu sayang. Bukan cinta. Aku laki laki normal, itu hal yang biasa, tapi aku akan menjaga semua untukmu. Percayalah pada ku."
Leo semakin larut, memeluk tubuh Sintya. Selama menikah 3 hari, mereka tidak pernah menghabiskan waktu seintim ini.
"Kenapa baru sekarang hal indah ini aku alami bersamamu Sin. Aku sangat nyaman memelukmu!" tak terasa ada sebening air yang akan keluar dari pelupuk mata Leo, tapi cepat dia bendung.
__ADS_1
Sangat sakit, teramat sakit. Leo jatuh semakin dalam karena pertikaian merebutkan seorang Paras. Dia bukan wanita biasa, dia wanita luar biasa. Membuat kedua pria yang berpengaruh di negeri ini memperebutkan dirinya.
Maride bukan wanita bodoh, semua dalam pengawasannya. Maride lah yang selama ini berjasa pada karier Baros, dialah yang selalu memperjuangkan Baros agar dipandang semua orang. Baros bukanlah pria yang mampu berjuang tanpa Maride. Hingga Baros mengikuti saran Maride memberi kepercayaan pada Paras sepenuhnya untuk menjalankan perusahaan. Bukan hal yang mudah bagi Maride, hingga dia fokus pada bisnis yang sama di Bandung, tanpa sepengetahuan Paras.
Leo mengetahui sistem dana yang mengalir pesat ke rekening pribadi Paras. Dia wanita hebat, mampu melakukan semua, tanpa ada bukti yang berarti.
Jebakan mereka baru dimulai untuk seorang Paras, yang mana diam diam masih menjalin hubungan gelap dengan Silutak orang tua Sintya. Semenjak perceraian Putrinya dan Leo, Sintya memilih menghindar dari Silutak.
Silutak saat ini stay di Singapura, mengurus semua bisnisnya. Paraslah yang mengelola semua keuangan perusahaan keluarga Silutak tanpa sepengetahuan Margaret istrinya.
Sangat rumit, jika semua digabungkan. Perusahaan yang sedang berkembang pesat dengan sistem dari Leo, dapat mengetahui siapa Paras. Luar biasa, kedua orang pintar bersatu diperusahaan untuk mempertahankan dan menghancurkan. Hanya karena ambisi dan kepicikan Paras.
Leo dan Sintya tertidur dalam kehangatan mereka di sofa. Tak terbayangkan oleh Leo, jika malam ini dia menghabiskan malam bersama Paras. Mungkin dia akan kehilangan Sintya, cinta sekaligus mantan istrinya yang lembut dan baik hati.
Leo tidak menyangka Sintya tinggal di apartemen yang sama. Ini satu kebetulan karena Paras dan Sintya memang tidak saling mengenal.
Pagi yang cerah menyinari kota metropolitan. Perlahan sinar mentari masuk manyinari ruang keluarga apartemen Sintya. Ada setitik harapan pagi itu, untuk mereka selalu bersama.
Drrrt, drrrt,
Nada handphone milik Leo berdering.
Leo perlahan membuka matanya, melihat ada sosok gadis cantik didadanya yang masih terlelap. Dia menggapai handphone dinakas, melihat siapa yang memanggil pagi ini.
"Berlin," batin Leo.
Leo masih enggan melepas Sintya, yang masih mendengkur pelan.
Drrrt, drrrt,
Ponsel berdering kembali.
"Ya," suara Leo masih berat, rasanya semakin enggan untuk membuka mata.
"Kak, lo dimana? si gendut nelfon lo berkali kali malah ngamuknya ke gue!" jelas Berlin.
"Hmm astaga, aduuuh. Aku lupa aku berangkat pagi ini. Jam berapa Berlin?" tanya Leo segera bergegas bangkit melepas Sintya dari dekapannya.
"Jam 06.30 kak!" jelas Berlin mendengus kesal.
"Lo dimana? jemput gue, tunggu gue di parkiran tadi malam. Pakai mobil sport gue. Biar wanita itu tidak curiga," jelas Leo lagi.
"Iya, lo dimana seeh? bukannya kemaren lo sama Paras? kok malah minta jemput ama gue ditempat yang sama?" tanya Berlin penasaran.
"Nggak usah banyak bacot. Lo jemput gue. Gue siap siap dulu," Leo menutup telfonnya, bergegas masuk kekamar mandi.
Sintya sedikit kaget, mendengar percakapan Leo di telfon membuka matanya, memeluk Leo dari belakang.
"Kamu mau kemana?" tanya Sintya lembut.
__ADS_1
Deg,
Leo membalikkan tubuhnya menatap wajah manja Sintya.
"Aku akan ke Pekanbaru. Kamu disini dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku. Pulang dari sana kita bertemu. Aku akan menjemputmu!" kecup Leo lembut pada kening Sintya.
"Hmm apa yang mesti aku siapkan? baju kamu hanya beberapa yang aku bawa saat itu," jelas Sintya dengan suara serak sangat **** terdengar ditelinga Leo.
"Aku hanya beberapa hari disana, tidak lama! siapkan saja, jika urgent aku akan membeli disana!" senyum Leo mengedipkan mata pada Sintya bergegas masuk kekamar mandi.
Sintya tersenyum bahagia.
"Ternyata dia tidak pernah berubah. Masih manja." bisik Sintya bergegas mempersiapkan kebutuhan Leo.
Sintya menyiapkan baju kaos berkerah, celana jeans dan parfum kesukaan Leo. Jam tangan yang dia beli beberapa waktu lalu, sebagai tanda cintanya pada Leo diletakkan diatas ranjang kamar miliknya.
10 menit Leo keluar dari kamar mandi, Sintya menatap tubuh sispack Leo yang sangat menggoda, beberapa kali matanya tak berkedip menatap tubuh atletis mantan suaminya.
"Ni, aku ingin kamu tampil lebih menawan," senyum Sintya mengecup pipi Leo.
Ooogh inikah rasanya memiliki istri yang penuh perhatian, batin Leo.
"Makasih sayang," Leo mengecup dalam cerug leher Sintya, sengaja meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Aaaaghss Leo, kamu di tunggu," terdengar suara manja Sintya ditelinga Leo, membuat si unyun terjaga.
Leo mendekap tubuh Sintya, "tunggu aku! please." bisik Leo ditelinga Sintya, membuat bulu halus gadis itu semakin meremang.
"Ya bersiaplah, aku akan membuatkan sarapan untukmu," jelas Sintya melepas lembut pelukan Leo.
Leo menghembus nafas dalam, bergegas memakai semua yang telah dipersiapkan pujaan hati.
"Hmm, sangat menawan. Dia wanita sempurna untuk ku," batinnya mengagumi tubuhnya di depan cermin.
Sintya tengah sibuk menyiapkan sandwich tuna mozzarella kesukaan Leo, segelas kopi aceh yang telah dikemas dalam cup tersusun rapi.
"Ni, kamu bisa sarapan di mobil. Semua kesukaan kamu," senyum Sintya menatap wajah Leo penuh cinta.
"Hmm kamu wanita terbaik yang sangat pengertian. Thankyou darling, I love you,"
Leo kembali memeluk tubuh Sintya, mengecup wajah manja sang mantan istri.
"Jangan menelfonku. Jika aku tidak menghubungimu," jelas Leo.
Sintya mengangguk, "kamu hati-hati. I love you too Leonal," kecup Sintya pada leher Leo, meninggalkan jejak yang sama.
Leo tersenyum, menatap penuh cinta pada sosok Sintya. Bergegas meninggalkan apartemen menuju parkiran, karena Berlin telah menunggu dan meracau lewat whatsApp yang sengaja tidak dibuka Leo.
Entah apa yang ada dikepala Leonal saat ini, yang pasti dia sangat bahagia. Bahagia akan terbukanya siapa Paras di mata Baros dan Maride.
__ADS_1
Simak cerita cinta, 'Ugly 'n Fat Girl'.❤️
_____ Like and comment___❤️❤️