
Kediaman Keluarga Leonal tampak panik karena baby four tak kunjung tenang dari tangisnya. Willion dan Laura tengah sibuk mengajak baby four bermain bersama, tapi mereka masih gelisah mencari suara Paras dan Leo.
"Nak Will, jam berapa Leo kembali?" tanya Kirai menggendong Baby Stela.
Willion melihat jam di dinding, "mungkin sebentar lagi Bu, tadi malam Kak Paras sudah siuman, palingan sebentar lagi sampai rumah," jelasnya masih membantu Kirai memberikan kue ataupun makanan kecil didalam mulut mungil keponakannya yang sangat menggemaskan.
Kirai meminta Faisal agar membantunya menggendong Stela yang sudah terlelap tapi enggan diletakkan diranjang kamar.
"Pak, letakkan Stela diranjang. Ndak laloknyo sejak malam. Mungkin panek badannyo kini," jelas Kirai pada Faisal.
Bergegas Faisal meletakkan Stela dengan sangat hati-hati, "ssssst, lalok lah sayang, jangan rewel lagi, cucu kakek tersayang," bisiknya ditelinga Stela.
Benar saja, Stela terlelap setelah merasa tenang. Entah kekuatan dari mana, keempat anak Leo dan Paras merasa tenang setelah sarapan pagi dan didendangkan oleh Will dan Kirai.
Laura merasa lega karena suaminya sangat telaten membantu Kirai menenangkan baby four.
"Makasih yah Will, sudah mau membantu Amak menenangkan baby four," ucap Kirai pada Willion.
Willion mengusap lembut lengan Kirai, "iya Mak, saya senang membantu Leo dan Paras. Oya, kami permisi dulu yah, Mak? sebab ada janji sama teman," ucapnya melegakan Kirai.
"Ndak sarapan dulu? Maid sudah menyediakan buat kalian bubur kampiun dan lontong gulai tunjang kesukaan Paras," jelas Kirai mengajak menantunya ke ruang makan.
Will dan Laura saling tatap, bagaimana mereka harus menolak. Dia sangat menyukai masakan Maid dikediaman Leo, karena sesuai dengan lidahnya.
"Gimana? mau sarapan disini? Mami nyampe jam berapa? siapa yang jemput kebandara?" tanya Will.
Laura merogoh handphone miliknya dari dalam tas, menghubungi sopir pribadinya, memastikan bahwa Linslei dijemput tepat waktu.
Beberapa menit kemudian, Laura duduk dimeja makan menemani Will dan Faisal yang sudah lebih dulu berada disana.
Hidangan yang sangat menggugah seleranya sudah terhidang diatas meja, menyambut kedatangan Leo dan Paras, tentu membawa Maride dan Baros.
Lebih dari 20 menit mereka bercerita tentang kejadian yang menimpa Leo dan Paras, akhirnya Paras tiba dirumah. Dibantu oleh Leo dan Baros yang memapah tubuh gendut sang direktur Langhai Group.
Kirai dan Faisal mendekati Paras, membukakan pintu kamar lebih lebar.
Kirai tampak khawatir melihat anak bungsunya, mesti tersiksa seperti sekarang, karena kelakuan bejat Silutak yang sejak dulu memang sudah ingin menghancurkan kehidupan Paras.
"Nak, nio makan? kamu alah sarapan?" tanya Kirai mendekati Paras.
__ADS_1
"Buliah Mak, Amak buek apo?" tanya Paras lembut.
"Amak buek lontong gulai tunjang kesukaan mu, mau?" tanya Kirai mengusap lembut kepala putrinya.
Faisal yang tampak tidak terima melihat keadaan putrinya, menarik tangan Leo, sementara Paras masih bersama Kirai dan Maride didalam kamar.
"Besan nio makan? bia saya siapkan," tanya Kirai.
Maride hanya tersenyum, "ndak usah jeng, saya ambil sendiri saja nanti. Bareng sama Papi Leonal," ucapnya tegas.
Kirai berlalu meninggalkan Paras dikamar bersama Maride.
"Mami keluar dulu yah? kamu istirahat saja, jangan banyak pikiran. Nanti kenapa napa lagi," jelas Maride mengusap lembut kepala menantunya.
"Iya Mi, pinta Laura kesini yah? buat nemanin aku," pinta Paras melihat Maride yang tengah bernyanyi kecil memandang kearah cermin kamar Paras.
"Hmmm, nanti Mami kasih tahu. Nantulang Linslei sudah sampai Jakarta, mungkin sebentar lagi akan tiba disini. Mami suruh mereka kesini dulu," jelas Maride diangguki mengerti oleh Paras.
Paras mengangguk mengerti, menatap tubuh mertuanya yang tampak lelah, "Mami nggak istirahat dulu?" tanyanya.
"Kenapa? capek yah wajahku?" Maride balik bertanya pada menantunya.
Maride mendekati Paras, "sudahlah, berarti belum rejeki," ucapnya mengusap tangan Paras yang berada diperut menantu kesayangan itu.
"Jangan banyak pikiran, Albert dan Yani tadi nelfon, dia mau membelikan sesuatu buat kamu, tapi karena mendengar keadaan kamu, mereka mau kesini. Jadi hari ini banyak tamu dirumah, karyawan Langhai juga mau menjenguk mu. Semoga selesai ini, kamu kembali tenang bersama Leo," ucap Maride menenangkan perasaan Paras.
Paras mengangguk mengerti, "terimakasih yah Mi," senyumnya.
Maride berlalu keluar kamar, saat melihat besannya sudah membawa nampan, berisikan lontong gulai tunjang dan teh manis hangat.
"Makan dulu yah, Nak. Biar Amak suapkan," ucap Kirai duduk dipinggir kasur agar lebih dekat dengan putrinya.
Air mata Paras kembali mengalir, "maafkan Paras, Mak," isaknya meringkuk di perut Kirai.
"Maaf untuk apo? kau cepat sembuh, anak anak kangen samo Mama dan Papanya," ucap Kirai.
Paras tersenyum sumringah, setidaknya keluarga sangat peduli padanya disaat genting seperti ini. Kehilangan baby twins sangat menyakitkan bagi Paras dan Keluarga Baros, karena ada beberapa harapan yang telah dipersiapkan oleh keluarga untuk menyambut kelahiran baby twins, semua mesti pupus karena dendam keluarga yang tidak tahu kapan akan berakhir.
.
__ADS_1
Tepat pukul 09.10 waktu Linslei hadir dikediaman Leo, turun dari mobil vellfire milik Laura dengan wajah tersenyum sumringah. Wanita gendut tampak lebih segar dan energik, sama seperti Maride masuk melalui pintu depan.
"Permisi," teriak Linslei dengan suara sedikit melengking.
Maride dan Laura tengah duduk diruang makan, berdiri mencari asal suara. Benar saja, Linslei disambut oleh Maride dan Laura dengan penuh perasaan rindu.
"Aaaaagh, apa kabar Linslei Panjaitan!" teriak Maride mendekap erat tubuh sepupunya.
Ya, Maride, Linslei dan Silutak adalah saudara sepupu, sudah berkembang memiliki kehidupan masing masing karena menikah dengan pilihan hati.
Linslei menikah dengan pria keturunan Australia berdarah Batak, marga Sibuea. Sementara Silutak menikah dengan Margareta. Mereka berpisah karena memperebutkan lahan sawit keluarga Maride yang terhampar luas ditengah Sumatera Utara.
"Baiklah sayang! mana menantuku yang banyak anak itu? mau aku bawa dia ke Australia biar beranak saja kerjanya disana," kekehnya memeluk Maride.
Kerinduan yang sangat besar membuat keduanya larut dalam air mata kebahagiaan. Sudah hampir tiga tahun mereka tidak bertemu, sehingga lupa dengan kata rindu.
Maride melepas pelukannya, menatap Linslei, "kangen sekali aku sama mu! sampe sampe Kevin bertanya tentang mu saja, susah aku menjawabnya," kekehnya membawa Linslei ke ruang makan.
"Siapa ini Kak?" tanya Linslei menatap Kirai.
Maride terkekeh, "ini besan kita, cantikkan? mirip Sophia Latjuba," kekeh Maride.
"Jangan bilang yang mirip Ariel No ah itu suaminya," tawa Linslei, saat melihat Faisal dan Leo masih duduk berhadapan berbicara mengenai kecelakaan yang menimpa anak menantunya.
"Leonal! kau sapa dulu Nantulang! lupa kau sama aku? dulu kau peluk peluk aku, sekarang kau lupakan aku! bawa dulu aku makan yang Harem, sudah rindu kali aku," teriak Linslei tak ubah dari Maride.
"Sebentar yah Nantulang, nanti kita melepas rindu," jawab Leo sopan.
Maride tertawa terbahak-bahak melihat Linslei yang tidak pernah berubah pada anak anaknya.
Mata Linslei liar mencari keberadaan anak menantunya, "mana Berlin? mana menantuku Paras? Mamaknya baby four?" tanya Linslei.
"Heeeeh, nantilah aku ceritakan, udah panas kepalaku," jawab Maride membawa Linslei bergabung dimeja makan bersama Laura dan Willion.
Mereka berpelukan erat, saling merindukan. Bagaimana tidak, Linslei menghabiskan sisa hidupnya dengan membuka restoran khas Batak di Australia, semenjak kepergian suaminya.
Indahnya kebersamaan,❤️
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️