Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kebaikanmu...


__ADS_3

Mohon maaf yang sebesar besarnya Author sampaikan pada pembaca Ugly 'n Fat Girl, bahwa setiap hari othor akan update satu bab perhari, karena kejar tayangnya untuk judul yang lain. Doakan othor selalu sehat dan bahagia bisa melanjutkan karya dengan baik.


Karya othor yang lain,


...👻Nature's Other Relationship,...


...🧑‍✈️My Wife is a Military,...


...👲Hasrat Harimau Tua,...


...👰CEO, Gadis Bersyarat....


Semua sedang on going begitu juga karya ini. Terimakasih dukungan NT dan semua readers.


_____________


🌹🌹🌹


Paras memasakkan makan malam untuk keluarga, sesuai selera Leo sang suami tercinta. Tentu di suguhkan smur jengkol yang di bawa mertua Berlin ke apartemen Kalibata. Kebersamaan yang jarang mereka nikmati sangat berkesan bagi Keluarga Baros.


Tentu Paras meminta sopir pribadi Maride agar menjemput Faisal dan Kirai beserta Maid agar dapat membantu di apartemen Kalibata. Berlin sangat bahagia di tambah hadirnya Laura dan Willion selaku keponakan Maride.


"Besok jangan lupa rapat besar untuk penentuan posisi Paras," jelas Baros.


"Untuk cabang yang dimana Pi?" tanya Paras.


"Kalimantan dan Sulawesi," jelas Baros.


"Siapa yang di Sulawesi Pi?" tanya Paras.


"Aku mau menarik Loide untuk Sulawesi, Luqman di Kalimantan. Leo dan kamu masih tetap disini, biar Ina membantu kalian, karena Yani akan aku tarok mengisi posisi Luqman. Berlin akan ikut Luqman. Sistem akan aku buat sama seperti di Bandung, Surabaya dan Jakarta. Semua sudah di urus Leonal beberapa waktu lalu," jelas Baros diangguki mengerti oleh Paras.


"Berarti Sinta masih posisi keuangan Pi?"


Paras memastikan.


"Ya, Berlin dan Luqman bisa pulang sekali sebulan atau kita yang ke sana,"


Baros tersenyum.


Maride melihat menantunya tengah ngobrol serius dengan Baros tentu mendekati mereka berdua.


"Apa yang kalian bicarakan? buat aku cemburu saja," kekeh Maride.


"Aaagh Mami, apaan seeh," tunduk Paras malu sedikit kesal.


"Kau jangan marah, aku tuh sayang samamu," goda Maride.


"Ini Mi, Papi ngasih tahu keputusan besok, apalagi sebentar lagi mau Ramadhan, pasti mereka mau buat acara silaturahmi," jelas Baros.


"Iya seeh," jawab Maride.


"Leonal mana Paras?" tanya Maride mencari putranya.


"Lagi di kamar Mi, sama Berlin dan Luqman. Nggak tahu mereka ngomongin apa," senyum Paras.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.30 waktu Jakarta.


"Kita pulang Mi?" tanya Baros pada Maride.

__ADS_1


"Iyalah, malas aku nginap disini. Ada pengantin baru, nanti dengar jerit jerit lagi," kekeh Maride mengenang kejadian putrinya di telfon beberapa waktu lalu.


Leo mencari keberadaan istrinya yang tengah ngobrol sama Baros dan Maride.


"Pi, Berlin keberatan pindah ke Kalimantan," jelas Leo.


"Untuk sementara waktu saja, bukan selamanya. Kita akan rolling 6 bulan sekali. Lagian disana lumayan menjanjikan," ucap Baros.


"Kenapa nggak Willion, Tulang?" tanya Laura.


"Aaaaagh yang ada pindah si unyun Will itu kekepalanya karena sering becewek," jawab Maride asal.


"Aku fokus di Bandung aja, udah nyaman juga. Sama kayak Kak Paras dan Leonal," senyum Laura melirik Paras.


Paras tersenyum memilih berlalu mencari ke empat anaknya ke kamar yang tengah tertidur pulas bersama Kirai dan Faisal.


"Mak, kita pulang. Besok ada meeting besar," jelas Paras.


"Yuuuk, Amak pikir tadi nginap di sini," ucap Kirai.


"Nggak Mak, pulang saja," usap Paras pada punggung Kirai.


Faisal menggendong Stevie, Kirai baby Steiner, Paras baby Stela, Maid baby Stefan.


Maride dan Baros bergegas mengambil cucu mereka dari tangan Paras dan Maid, menuju mobil yang sudah berada di loby apartemen, sementara Paras, Maid dan Leo pulang menggunakan mobil mereka.


Saat di perjalanan pulang, Maid memberanikan diri untuk pulang ke rumah menjelang puasa selama 2 hari. Tentu Paras menolak, karena kesibukan mereka 3 hari ini akan menyita perhatian Paras mempersiapkan makanan untuk keluarganya.


"Aku kasih tunjangan saja Mba, sama sembako buat keluarga," jelas Paras.


"Iiiighs jangan Bu, bulan ini udah banyak banget aku nerima uang," jujur Maid.


"Kirim pakai banking aku aja Ndut, bulan ini aku belum ngirim ke kamu. Kemaren aku lihat kamu ngasih Amak? emang masih ada uang kamu?" tanya Leo.


"Hmmmm ada dong, kamu kan ngasih terus, sampe aku bingung makanya aku kasih ke Amak," senyum Paras mengembang.


"Udah, kirim pakai banking aku aja. Punya kamu di simpan. Oya, berapa kita jual apartemen Kalibata sama Yani?" tanya Leo.


"Terserah kamu saja, toh udah lengkap besar pula," jelas Leo.


"Kita tanya Yani saja yah? dia sanggup berapa. Pasti mereka pakai bank ngelunasinnya. Aku rencana ngasih Berlin saja buat pegangan dia. Maklum pengantin baru,"


Leo mengusap lembut punggung istrinya di depan Maid.


"Iiiighs ada Mba lhoo, malu," kekeh Paras.


"Mesra terus yah Mba Paras sama Bang Leo. Saya lihat kalian semenjak nikah bahagia banget, kayak Mba Laura dan Bang Will, mereka walau banyak masalah tetap saja saling mengisi. Pentingnya keluarga ini unik," puji Maid.


"Hmmmm sebenarnya yang di lihat belum tentu seperti yang di rasakan Mba, terlalu banyak masalah di dalamnya. Hanya kita bisa menutupi saja. Ya kan Bowl?" tanya Paras.


"Hmmmm yang penting saling mengerti, titik," ucap Leo.


Saat mobil terparkir di depan rumah, keempat baby sitter menyambut baby four yang sudah terlelap.


Paras menahan tangan Leo agar tidak keluar dari mobil.


"Kenapa Ndut?" tanya Leo menatap wajah cantik Paras.


"Makasih yah Bowl, kamu sangat baik sama aku dan keluargaku," rundung Paras.

__ADS_1


"Kenapa, kok?" tanya Leo bingung.


"Aku melihat laporan banking kamu tadi sore, kamu mengirim uang buat Luna, itu banyak banget Bowl dan dia akan menjadikan kita ATM berjalannya," jelas Paras.


"Aku sudah membuat perjanjian sama Juan dan Luna, dia tidak akan mengganggu kita lagi. Percaya sama aku, uang segitu masih bisa kita cari. Lagian Yani akan membeli apartemen kita, aku rasa kita bisa membeli rumah di Bogor sesuai keinginan kamu," kecup Leo pada kening Paras.


"Kamu baik banget seeh sama aku," isak Paras pecah.


"Ndut, anak anak aku lahir dari rahim kamu. Kita udah terlalu banyak masalah dan rasanya sangat impas aku melepaskan kamu dari semua problematika yang ada. Aku juga tahu teror Silutak ke handphone Mami dan kamu, aku tahu semua. Saat ini aku ingin melindungi keluargaku dan keluarga kamu, keluarga kita Ndut. Kita mau menyambut Bulan Ramadhan, nggak mungkin akan bermusuhan dong," jelas Leo.


"Kebaikan kamu sama semua keluarga ku membuat aku semakin cinta Bowl," jujur Paras tersipu-sipu.


"Hmmmm aku tahu arah kamu kemana," kekeh Leo mengecup lembut bibir istrinya, tapi.....


Tok tok tok,


Paras kaget melihat Maride berdiri di luar, Leo menurunkan jendelanya.


"Cok kelen turun, ciumannya di kamar kelen. Jangan di mobil lampu dalam kalian nyalakan, malu sama Pak secur," goda Maride.


Paras dan Leo terkekeh, melihat maminya sudah berdiri manis menunggu anak menantunya keluar.


"Iya Mi," jawab Leo mematikan lampu berlalu keluar.


"Mesum kali kalian berdua, nggak lihat tempat," goda Maride.


"Mami pengen bilang," jawab Leo asal.


"Hmmmmm,"


Maride mencari keberadaan Baros yang lebih dulu memasuki rumah.


"Kita ke Medan kapan Mi," tanya Leo.


"Tunggu kalian punya anak lagi," kekeh Maride.


"Mamiiii,"


Paras mendengus kesal mendengar penuturan mertuanya.


Maride dan Leo tertawa melirik wajah Paras yang sudah berubah merah.


"Kita buat yah Ndut," goda Leo.


"Produksi aja, aku nggak mau hamil, kayak biasa," sungut Paras.


"Hmmmm sesekali Ndut," rengek Leo.


"Nggak,"


Paras berlalu menuju kamar baby four, mengecup keempat anaknya, sambil berbisik.


"I love you nak, sehatlah, cerialah, Mama sayang kalian," bisiknya dapat di dengar Leonal.


"Jatah aku kapan di bisikin gitu?" goda Leo lagi.


"Uhuuugh," geram Paras.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2