Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Pensil alis..


__ADS_3

Leo tengah terbaring menikmati sentuhan bibir mungil sang direktur Parassani Chaniago, sangat indah dunianya, mata enggan terbuka membuat dia semakin meracau entah akan berucap apa menikmati pijatan lembut dibawah sana. Bagi Leo Paras sangat spesial dalam melengkapi hidupnya.


"Oooough Ndut, aaaaagrrh," er angn ya semakin menjadi.


Permainan Paras sangat menusuk kalbu hingga meremukkan seluruh persendian. Saat akan mencapai puncak kebahagiaan, saat itu pula Leo semakin menekan kepala Paras agar melakukan lebih dahsyat, tapi tiba tiba....


Braaaaak,


Pintu ruangan Paras yang lupa terkunci membuat Maride dan Berlin dengan mudah masuk tanpa mengetuk.


"Oooough My God," teriak Maride melihat posisi keduanya tampak seperti pasangan terhot dunia, tanpa mengunci pintu seperti ruangan itu milik mereka, yang lain hanya ngontrak untuk melanjutkan kehidupan dan membayar pasutri me s u m di Langhai.


"Kak," mulut Berlin ternganga.


"Apa kalian tidak mendengar kita meeting jam 10 sampai perkutut mu nggak bisa menahan Leonal?"


Maride benar benar kesal melihat kelakuan putranya.


"Oooough shiiit, kenapa nggak ngetuk dulu atau apa seeh. Keluar dulu aaagh," kesal Leo karena tertangkap basah sedang enak enakan di ruangan istrinya.


Paras justru bersembunyi di belakang bahu Leo suaminya, takut di marahin oleh owner Langhai Group.


"Apa aku bilang," cubit Paras di lengan Leo.


Maride mengurut dada, memilih menunggu di depan pintu luar ruangan sebelum Baros menghampiri anak menantunya.


Benar saja, belum Maride menutup rapat pintu ruangan, Baros sudah hampir masuk ke ruangan yang panas bergelora bahkan melebihi panasnya wilayah khatulistiwa.


"Jangan masuk, mereka masih sibuk," geram Maride.


Baros menaikkan kedua alisnya, "maksud Mami?" tanyanya.


"Ada perkutut lepas landas," kesal Maride.


"Hmmmm ya sudah, kita tunggu mereka di lantai 10, jangan di sini. Kali saja tadi malam masih puasa, jadi bukanya sekarang," kekeh Baros mengerti akan putranya.


"Iiiighs mana percaya aku Leonal mau nganggur semalaman," ucap Maride menggandeng lengan suaminya.


Maride menghubungi ruangan Paras melalui intercom dengan kata kata yang mengejutkan Leo dan Paras.


"Mami tunggu dalam waktu sesingkat singkatnya, jika kalian nggak datang di lantai 10 aku pindahkan kalian ke lantai dasar," ancam Maride disambut tawa oleh Baros dan Berlin.


"Jangan kalian ketawa,"


Maride melenggak lenggok menuju lift bersama Baros dan Berlin.

__ADS_1


"Sama persis Leo itu seperti mu. Nggak bisa nahan kalau tersesak," rungut Maride.


"Sayang, dia masih muda. Biarlah, dulu kita sampai ngelakuin di mobil, apa kamu lupa?" goda Baros pada puncak hidung Maride.


Berlin yang mendengar seperti ingin tertawa lepas mendengar kelakuan orang tua dan kakaknya. Membayangkan jika Luqman tidak seganas keluarganya.


"Mungkin belum dapat peluang saja," kekeh Berlin dalam hati.


.


.


Leo justru tak menghiraukan ucapan Maride melainkan dia melanjutkan perkejaannya demi menyelamatkan jiwa yang tenang sebelum meeting besar berlanjut.


Paras sedikit kewalahan menghadapi Leo, tetap menikmati sentuhan suaminya di babak akhir menyemburkan lumpur lapindo di incubator hangatnya.


Tentu mereka melanjutkan ritual mandi bersama tanpa mengeringkan rambut bahkan alis Paras yang hilang sebelah karena ulah suaminya.


"Aduuuh, aku nggak bawa pensil alis Bowl," ucap Paras bergegas mengganti bajunya.


Rambut yang basah tergerai di punggung menambah keseksian wajah cantiknya di mata Leonal.


"Nggak apa apa, nanti kita sulam alis selesai meeting," ucap Leo bergegas menarik tangan istrinya.


Tentu menjadi pemandangan yang aneh bagi karyawan Langhai Group melihat kedua pasutri yang tampak segar bahkan sedikit aneh di mata para tamu yang hadir.


"Basah lagi," godanya membuat Paras menunduk malu.


Maride hanya menatap lucu ke arah menantunya.


"Gara gara perkutut Leonal lepas, mandi juga kau jadinya Paras," tawanya pecah membuat Paras semakin malu.


"Mami iighs,"


Paras menutup wajahnya saat Baros, Luqman, Yani dan Loide menatap ke arah mereka.


Acara di buka oleh Dila wanita sexseh di Langhai Group dengan segala pesonanya membuka acara meeting besar dengan segala kepiawaiannya dalam bertutur kata. Dila sangat pintar dalam mengalihkan pandangan para tamu ke padanya.


"Kasihan aku sama Mba Paras," batin Dila saat menjadi bahan bulian oleh Maride dan Berlin.


Mereka mengadakan rapat hingga siang pukul 14.00 waktu setempat dengan berbagai macam polemik penolakan penempatan. Tentu menjadi hal yang menarik saat Baros menantang semua karyawan dengan gaji yang fantastis.


Ina sebagai team yang baru mengajukan diri untuk penempatan di Kalimantan, tentu begitu banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Baros dan Leo dalam menempatkan posisi untuk orang baru wanita pula. Akan menjadi satu tantangan bagi Baros dan Maride. Gaji yang di tawarkan oleh Baros tidak tanggung tanggung, 80 juta per bulan dengan target luar biasa memutar otak.


Perencanaan kerja yang di tawarkan oleh Ina selaku lulusan management bisnis membuat seluruh mata di ruangan semakin terbuka.

__ADS_1


"Hmmmm wanita pintar," batin Maride tersenyum ke arah Ina.


Loide yang terpukau sejak awal berjumpa, membuat melupakan kekasihnya yang berada di Singapura secretaris Silutak yang selalu menuntut segala macam untuk segera di nikahi.


Akhirnya Baros memberi peluang pada Ina meletakkannya di Kalimantan bersama Sinta dalam pengawasan Owner Langhai. Semua bertepuk tangan mendengar keputusan Baros dan Maride.


Willion yang terkesima melihat wanita cerdas itu, mencoba mendekati saat break makan siang. Tentu Maride dengan sigap menepis niat buruk Willion agar tetap setia pada Laura.


Laura memberi pensil alis pada Paras saat melihat Kakak tersayangnya menjadi bulan bulanan karyawan yang lain.


"Nih kak, perbaiki alisnya," ucap Laura.


Paras segera memperbaiki dandanan wajahnya agar tidak menjadi bahan gunjingan karyawan. Bagi Baros, jika itu tidak menggangu tidak masalah, apalagi menantu sendiri, pasti ada dispensasi, he-he-he.


Leo tanpa sengaja mendekati Paras membantu mengikat rambut yang masih terasa lembab agar lebih terlihat rapi dan sensual.


"Maaf yah Ndut," bisik Leo di telinga Paras.


Paras memeluk tubuh suaminya, "buat apa minta maaf, bagi aku kamu tuh segalanya," kecupnya pada pipi Leonal.


"Oooough so sweet, kalian memang pasangan romantis walau banyak polemik yah," goda Laura.


Paras mengusap bahu Leo yang berdiri di sebelahnya, "dia Papa baby four, apapun keadaannya tetap paling hebat dalam mengatur waktu," jelasnya lembut.


Laura sangat simpatik pada Paras, beberapa media masih membicarakan aibnya tentang Silutak, walau sudah di bungkam tetap saja ada pihak lain yang ingin merusak nama baik dan kebahagiaan keluarga mereka.


"Aku salut sama kalian berdua, Will tak seperti Bang Leo, perkututnya asal terbang saja. Sulit buat aku menerima, tapi cinta ku sangat besar padanya, hingga aku melupakan rasa sakit ku," jelas Laura.


"Sabar," ucap Paras memeluk Laura.


"Ntahlah kak. Sekarang saja dia bisa baik sama aku, tapi aku sulit melupakan apa yang sudah dia perbuat," senyum Laura lirih.


"Hmmmm kalian akan selalu bahagia, jika mau mengalah dan sabar," senyum Paras melepas pelukannya.


"Selesai meeting kita ngerayain direktur baru Kalimantan yah? biar lebih akrab," ajak Laura.


"Iya, di ruangan aku saja yah? sebab mau tanda tangan kontrak sama beberapa perusahaan yang sudah deadline," jelas Paras.


"Oke,"


Laura mendekati Ina yang tengah sibuk mendengar celotehan Maride yang tidak pernah berhenti. Nasehat, kekuatan dan strategi yang di lontarkan Maride membuat Ina semakin semangat menerima tantangan dari Langhai Group.


Selamat Ina, semoga kamu berjaya....


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2