Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Life goes on


__ADS_3

Leo kembali ke Jakarta, mengalihkan rasa sebak di dada, kembali menata hidup baru dengan status barunya. Duda jelek yang menjadi bahan tertawaan oleh Maride untuk menghibur sang pewaris tahta.


⏳1 bulan


⏳2 bulan


⏳3 bulan,


Benar, Leo semakin membaik dan percaya diri menata masa depan di Perusahaan milik Baros. Kedekatannya dengan Sang Direktur, merubah kehidupan dan cara berfikirnya, tapi harus kembali menelan pil pahit oleh kelakuan Silutak yang sengaja memfitnah Parassani Chaniago.


Kennedy sang penjilat, yang ingin merebut hati Sintya akhirnya membongkar sendiri siapa dia.


Kennedy membocorkan pada Keluarga Silutak tentang kedekatan Leo dengan Paras. Musuh dalam selimut ternyata, untuk menguasai Maride. Semua terbongkar saat orang suruhan Leo, menyelidiki hingga tuntas atas fitnah yang mereka tujukan ke Paras.


Leo mengetahui semua setelah beberapa minggu pertikaiannya dengan Paras, membuat dia gagal menikahi sang direktur karena kebodohannya. Timbullah niat buruk Leo melakukan hal lebih gila, membalas sakit hatinya. Leo kembali mendekati Sintya, setelah mendapat bukti dari Loide.


Leo menyambangi apartemen Sintya di Pejaten siang itu. Melihat sosok gadis yang pura pura lugu membuat Leo semakin ingin menyakiti Sintya lebih dalam.


"Haaaii!" Sapa Sintya saat membuka pintu apartemen, melihat Leo berdiri dihadapannya tanpa perasaan berdosa.


Leo menatap wajah sendu Sintya, "cantik!" Batinnya memuji.


"Maaf, aku baru datang mengunjungimu!" Bisik Leo ke telinga Sintya membuat bulu kuduk Sintya meremang.


Sintya terlihat gugup, bahkan salah tingkah saat berhadapan dengan Leo. "Aku mencarimu! Kenapa kau baru hadir hari ini?" Ucap Sintya setela Leo masuk ke apartemennya.


"Aku sibuk! Mengurus pekerjaanku!" Bohongnya.


Sintya berlalu ke dapur, mengambilkan minuman dan cemilan untuk Leo. "Bagaimana pekerjaanmu? Apakah semua berjalan lancar?" Tanya Sintya memecah kekakuan mereka.


"Ya! Aku terlalu sibuk, hingga sedikit melupakanmu." Bohong Leo.


"Hmm!" Sintya menaikkan kedua bahunya duduk disebelah Leo. "Apa kau merindukan aku?" Goda Sintya melirik Leo disampingnya.


Leo tersenyum bak devil, "of course, aku sangat merindukanmu! Aku ingin bersamamu!" Bisik Leo yang sudah berada di bahu Sintya.


Sintya yang berharap Leo akan melakukannya dan akan kembali kepelukannya merasa sangat bahagia. "Ternyata tak mudah membuatmu kembali pada ku, Leonal!" Batin Sintya tersenyum tipis.


"Apa kau bersedia mendampingi ku? Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku!" Bisik Leo pada cuping Sintya kemudian menj*ilatnya.


"Aaaagh sayang!" Sintya meremang, merasakan tersengat listrik cinta Leo.


Leo tak mau tinggal diam, perlahan dia menj*ilati leher mulus Sintya, "apa kau masih mencintai ku?" Bisik Leo lagi menatap mata Sintya yang menikmati tingkah nakal sang pujaan hati.


"Aaagh Leo, aku masih mengharapkanmu!" Ucap Sintya tanpa ragu.


Leo menggendong tubuh Sintya ala bridal, membawanya kekamar untuk memadu kasih disana.


Sintya mengalungkan tangannya dileher Leo dengan manjanya. Dia tau, kali ini Leo tidak akan meninggalkannya.


Leo mulai beraksi diatas tubuh Sintya, menikmati setiap inci tubuh se*xy sang gadis dihadapannya. Leo menyentuh benda kenyal yang tak sebesar milik Paras mel*umatnya dengan penuh na*fsu dan ga*irah.

__ADS_1


"Aaagh," Sintya meng*geliat menantikan kejutan yang akan dilakukan Leo berikutnya.


Leo menatap kembali mata Sintya, "apa aku boleh menyentuhnya?" Bisik Leo lagi dengan tidak sabar.


"Hmm!" Sintya hanya memejamkan mata, menanti kehadiran jemari Leo bermain di daerah lebih inti miliknya.


Leo bergegas membuka baju Sintya, menatap mangsanya seperti orang kehausan dan lapar. Dia menj*ilati semua hingga ke bagian belahan Sintya.


"Ooogh Leo!" Des*ahan Sintya terdengar se*xy di telinga Leo yang sedang haus akan hal itu.


Leo memaikan jarinya, melihat sedikit belahan yang tak seperti Sintya janjikan padanya. "Fix, segel telah terbuka!" Batin Leo.


Tak mau bermain disana, Leo menghujamkan dengan penuh nafsu membuat Sintya menjerit. Ternyata dede unyun Leo lebih besar dibanding punya kekasih gelapnya Kennedy.


"Aaaaugh Leo!" Teriaknya sangat menikmati. Merasa miliknya kepenuhan menerima si unyun Leo yang keras dan beru*rat.


"Mendesahlah! Aku akan membuatmu gila hari ini sayang." Leo memompa pinggulnya dengan cepat.


"Aaaagh, uuuuugh, hmmm, Leo, aaaagah!" Sintya benar benar gila oleh kelakuan si unyun didalam sana.


⏳10 menit


⏳20 menit,


Leo membolak balikkan tubuh Sintya seperti pela*cur, dengan kasar tanpa perasaan, beberapa kali Sintya menegang mencapai pelepasannya. Membuat Leo enggan menghentikan permainannya.


⏳25 menit,


Leo mengatur nafasnya. Sintya terengah, berharap Leo akan membisikkan kata cinta ataupun terimakasih.


Leo justru menatap sinis mata Sintya. "Kenapa kau membohingi ku?" Ucap Leo diatas tubuh Sintya.


Sintya tak sanggup berucap, dia mengusap lembut punggung Leo, karena merasa terpuaskan.


"Maafkan aku Leo!" Air matanya mengalir tanpa ada perasaan kasihan dari Leo.


"Maaf untuk apa?" Tanya Leo merebahkan tubuhnya, mencabut si unyun yang enggan berada lama di kepemilikan Sintya.


"Maaf, aku membuatmu kecewa!" Isaknya dibahu Leo.


Leo tersenyum tipis, "aku tidak kecewa, aku hanya salah menilai Paras demi wanita seperti mu!" Sarkas Leo, beranjak mengambil semua pakaiannya menuju kamar mandi untuk bersih bersih.


"Leo, Leonal!" Teriak Sintya yang tak diacuhkan oleh pria impiannya untuk kembali bersama.


⏳10 menit, Leo keluar dari kamar mandi, kemudian meninggalkan Sintya dikamarnya, mengambil kunci mobil dan tas tangannya. "Setidaknya aku tidak mati penasaran setelah tau siapa kau!" Batin Leo berlalu meninggalkan aprtemen Sintya.


"Bagaimana rasanya ditinggal seperti itu?" Batin Leo menaruh dendam pada Sintya sepanjang perjalanan.


Sintya menjerit dikamar tanpa dipedulikan Leo, menyesali semua perbuatannya. "Aku tidak akan tinggal diam Leonal! Kau akan kembali pada ku!" Isak Sintya masih terbalut selimut. "Kau buat aku seperti wanita mur*ahan!" Teriaknya frustasi.


Leo pergi mencari Luqman sahabatnya, mengajak Luqman untuk bercerita. Begitu banyak kekecewaan di kepalanya kala itu. Dia telah kehilangan Paras yang ternyata wanita jujur dan tidak akan pernah mau mengalah. Dia wanita tegas dan sangat baik.

__ADS_1


Paras selalu mengurung diri didalam ruangan tanpa mau bertemu dengan siapapun. 2 bulan, yaaah 2 bulan Paras terpuruk atas fitnah yang ditujukan padanya.


Leo dan Luqman duduk disebuah cafe yang tidak begitu ramai pengunjung siang itu. Mereka menghabiskan waktu membahas pekerjaan dan menanyakan kabar Paras.


"Lo terlalu ceroboh, tak mau menyelidiki dulu!" Ucap Luqman pada Leo.


Leo tersenyum tipis, "gue gagal dalam percintaan! Gue bingung harus mulai dari mana bro!" Rungutnya megusap kesal wajahnya.


"Hmmm, setidaknya lo goda saja dia! Ajak nikah lagi! Pasti dia mau! Jangan buang kesempatan! Time is money. Jangan menunggu terlalu lama! Sebelum Mba Paras diambil Om Om tajir, kayak Baros!" Goda Luqman.


"Ban*gsat lo! Kau pikir keluarga gue seperti itu apa!" Kekeh Leo. "Bisa dikulitin Mami aku si Paras!" Tawa keduanya pecah karena mereka memang sudah lama tidak bertemu.


"Balik ke kantor! Kami semua kangen, apalagi Yani, nanyain mulu!" Senyum Luqman.


Leo menghela nafas dalam, "nantilah, akan gue fikirkan semuanya. Gue semedi dulu!" Ucap Leo meninggalkan Luqman kemudian berlalu.


"Heeeiii, life goes on! Jangan terlalu lama semedi! Semua harus di selesaikan dan butuh penjelasan!" Teriak Luqman mengingatkan sahabatnya.


Leo mangacungkan jempol, tanpa menoleh.


Leo benar benar pergi kembali ke apartemennya menunggu kabar dari Berlin. Setidaknya Berlin akan memberi berita lebih dalam lagi pada ku, setelah gagalnya pertunangan dengan Kennedy.


Awalnya Leo tidak mengetahui tentang perselingkuhan Kennedy dengan Sintya.


Berlin menceritakan semua dengan deraian air mata. Membuat Leo semakin membenci mereka.


"Sahabat seperti apa mereka hingga tega melakukan itu pada keluarga ku?" Batin Leo menenangkan Berlin.


Berlin sesengukan didada sang kakak. "Gue udah nggak suci kak!" Tangisnya pecah di pelukan Leo.


Leo memijat pelan pelipisnya. "Tenanglah! Akan datang cinta yang indah pada lo! Mau menerima dengan tulus!" Pujuk Leo.


"Iya!" Berlin menyeka air matanya, menatap hezel Leo yang sangat tampan. "Truus, lo mau balik kepelukan Kak Paras?" Tanya Berlin serius.


Leo hanya tersenyum, "semoga saja! Gue mesti berjuang untuk Paras! Karena kita sangat berbeda. Gue nggak yakin mampu melewati adat istiadat." Cerita Leo.


"Hmm! Gue percaya sama lo kak. Pasti yang terbaik!" Senyum Berlin.


"Luqman gimana?" Goda Leo.


"What? Luqman?" Berlin membelalakkan matanya menatap Leo kesal.


"Hmmm, setidaknya dia baik dan sahabat gue!" Goda Leo di puncak hidung Berlin.


"Aaaaagrh!" Rengeknya memeluk kembali Leo.


______________*******


Read and wait... 🤭🤗


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2