Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Semakin ilfil.


__ADS_3

Perlahan Sintya siuman dari pengaruh obat bius yang diberi oleh pengawal Laura. Sintya melihat tubuhnya sudah terbalut baju piyama dan punggung tangannya sudah terpasang infus sebagai asupan makanan paling utama bagi wanita hamil.


Mbok Karmin masih menemani Sintya yang masih terbaring lemah. "Anda sudah bangun Nyonya?" Tanya Mbok Karmin mendekati Sintya.


"Hmmm, saya dimana? Kenapa kalian bawa saya kesini? Kamu siapa?" Tanya Sintya menyentuh kepalanya masih terasa pusing.


"Udah jangan banyak pikiran, kamu lagi hamil 4 bulan!" Jelas Mbok Karmin pada Sintya memilih menyuapkan Sintya sesuai anjuran Laura sang majikan.


"Apa? Aku hamil 4 bulan? Aaaagrh," Bisik Sintya menggeram.


"Iya, kamu hamil 4 bulan Nyonya dan saat ini kamu dalam pengawasan saya." Jelas Mbok Karmin menyuapkan Sintya perlahan.


Sintya berfikir, "4 bulan lalu aku bersama Kennedy! Ini anak Kennedy, bukan anak Willion!" Batin Sintya menutup matanya menikmati suapan dari Mbok Karmin yang sangat lembut iya rasakan.


"Mbok, ini rumah siapa? Kenapa aku ada disini? Aku mau menghubungi Papi ku!" Jelas Sintya pada Mbok Karmin.


"Nggak usah banyak protes dulu Nyonya. Nantu majikan saya akan menemui anda." Senyum Mbo Karmin.


"Hmm!" Sintya hanya mendehem kesal. Melirik kearah luar jendela, ternyata dia berada dilantai paling atas mansion ini. Jika dia kabur, tentu akan menyakiti dirinya dan janin yang dia kandung. "Kediaman siapa ini?" Batin Sintya menggeram.


Mbok Karmin masih sibuk dengan layar handphonenya memberi kabar perkembangan Sintya pada Laura. "Nyonya, kamu kenal Tuan Will dimana?" Pertanyaan Mbok Karmin sesuai perintah Laura.


"Ck, pria itu ternyata bajingan! Dia tidak mencintai saya, ternyata dia sudah menikah! Saya ditipu! Apakah Mbok kenal sama Will?" Tanya Sintya kembali pada Mbok Karmin.


Mbok karmin mengirim percakapannya pada Laura. "Terus apakah yang Nyonya kandung anak Tuan Will?" Tanya Mbok Karmin seolah olah menjadi sahabat yang baik.


"Nggak Mbok, Will mengira aku hamil sama dia. Aku hamil sama pacar ku Mbok, dia menipu ku! Memilih kembali mengejar mantan kekasihnya!" Isak Sintya.


"Ooogh, sabar Nyonya! Jika Nyonya tidak ingin anak ini, kasih ke saya aja nyonya! Saya akan merawatnya dengan baik, saya tidak memiliki anak Nyonya." Jelas Mbok Karmin agar hati Sintya tersentuh.


"Ntahlah mbok! Aku terlalu mengikuti kemauan keluarga ku! Hingga aku kehilangan kebahagiaan ku." Isaknya.


"Cup cup cup, jangan nangis Nyonya! Nggak baik buat ibu hamil!" Senyum Mbok Karmin menatap mata Sintya.

__ADS_1


"Tapi aku sudah terlanjur sakit oleh keluargaku. Sekarang mereka justru menyalahkan ku! Mereka tidak ingin mengurusku! Aku ingin kembali ke pelukan suami pertama ku mbok!" Tangisnya semakin pecah dibahu Mbok Karmin.


Mbok Karmin mengusap bahu Sintya, "kasihan sekali dia, cantik cantik kesepian." Batin mbok karmin.


Sintya menangis sejadi jadinya, rasa kecewa dan penyesalan yang mendalam didalam hatinya sendiri. Dia tidak ingin melihat mantan suaminya Leonal bahagia bersama Paras, apalagi hingga mendengar Leo dan Paras membeli rumah megah di Jagakarsa. "Seharusnya aku yang mendampingi Leonal, bukan wanita gendut perusak rumah tangga keluargaku!" Isaknya dalam hati meremas selimut yang menutup tubuhnya.


Setelah lelah menangis, Sintya tertidur dengan wajah sembab. Ada perasaan kasihan dihati Mbok Karmin, tapi tentu tidak bagi keluarga Maride dan Laura.


Dikediaman berbeda takkalah mewahnya, masih berserakan pecahan kaca botol minuman. Silutak tertidur dengan tumpukan botol vodka dan bir. Tentu menjadi pemandangan yang sangat luar biasa mengejutkan bagi Kennedy saat menyambangi kediaman Silutak.


"Ada apa dengan mu Bang?" Kejut Kennedy membantu Silutak yang tampak sangat urakan.


"Baros membawa berlianku Ken! Paras meninggalkan ku! Memilih anak bawang itu! Aku menyesal telah menyakitinya saat itu! Kini aku terjerat hukum! Aku akan dipenjara! Maride menuntut keluargaku!" Racau Silutak pada Kennedy.


"Sintya dimana? Aku mendatangi apartemennya dia tidak ada!" Tanya Kennedy pada Silutak.


"Ntahlah, anak ku satu itu bodoh sekali. Menakhlukkan hati Leonal saja susah sekali!" Kesal Silutak tanpa tahu hubungan gelap putrinya dengan sahabat sendiri.


Kennedy menelan salivanya, jujur dia khawatir, karena kondisi Sintya yang tengah hamil. "Abang mandi dulu, kita cari Sintya!" Pujuk Kennedy.


Kennedy melihat seisi ruangan, pembantupun tidak di izinkan masuk oleh Silutak. Jadi tidak bisa walau hanya untuk membersihkan ruangan, yang bau alkohol sangat menyengat dan kepulan asap rokok akan memperburuk kesehatan Silutak.


Kennedy bergegas meminta pengawal Silutak membawa pria keras kepala ini kekamarnya. Menggantikan baju, dan membersihkan majikan mereka.


Kennedy menghubungi Leonal melalui telfon selulernya.


πŸ“ž"Leonal! Kau dimana?" Tanya Kennedy.


πŸ“ž"....."


πŸ“ž"Bisa kita bertemu? Berdua saja!" Mohon Kennedy.


πŸ“ž"........"

__ADS_1


πŸ“ž"Aku kesana sekarang!" Jawab Kennedy bergegas menuju tempat yang dia janjikan bersama Leonal.


⏳35 menit mereka bertemu disebuah restoran tidak begitu jauh dari kediaman masing masing.


Kennedy menatap wajah Leonal semakin tenang dan tampan.


"Auramu semakin berubah semenjak menikahi gadis gendut itu!" Goda Kennedy.


Leo tertawa, "setidaknya aku sangat bahagia! Oya, ada apa kau mengejar Berlin membawa buket hingga membuat adik kecil ku ketakutan?" Tanya Leo basa basi.


Kennedy tertawa, "aku minta maaf karena telah menyakiti adikmu Leonal? Aku menyesalinya! Tapi aku juga harus bertanggung jawab pada Sintya! Walau sebenarnya aku semakin ilfil dengan dia yang tidak setia." Curhat Kennedy.


Leo tertawa lepas, "jika kau ingin pasanganmu setia, seharusnya kau dulu yang setia bro! Jangan memaksa orang lain harus setia sementara kau sendiri tidak setia!" Kekeh Leonal.


Kennedy tentu merasa tersindir dengan ucapan Leonal. Baginya sangat menyakitkan. Putus dari Berlin harus mendapatkan Sintya yang lebih buruk dari Berlin. "Apa tidak ada kesempatan untuk aku kembali dengan Berlin?" Tanya Kennedy menatap lekat manik mata Leo.


Leo tersenyum, "nikahinlah Sintya, bawa dia pergi dari sini! Jauhkan dia dari Mami! Karena akan berdampak buruk pada dia dan anak mu nanti! Bagaimana pun Sintya mengandung anak mu bro! Jangan Sakitin keluarga kita! Kita ini satu rumpun. Kau pria sukses sama seperti Papi dan Silutak. Jangan kau sia siakan kehidupanmu." Jelas Leo panjang lebar.


Kennedy menarik nafas dalam, "aku kehilangan Sintya hari ini! Apa kau tau dia dimana?" Tanya Kennedy serius.


"Hmmm!" Leo memijat pelan pelipisnya, "mungkin dia sedang ke dokter, atau ke supermarket!" Jelas Leo menangkan Kennedy.


"Ya!" Kennedy tersenyum menatap Leo. "Mungkin aku akan membawa Sintya stay di Singapura. Apa kau keberatan?" Tanya Kennedy pada Leo.


"Tentu aku sangat senang mendengarnya. Aku bisa tenang membawa Paras menemui kakaknya Luna di Nurnberg." Jelas Leo. "Karena kami akan mengadakan pesta adat. Semoga kau bisa menghadiri acara kami." tambah Leo.


Kennedy mengangguk mengerti. Mereka kembali menceritakan pergerakan air bus yang semakin melonjak pesat dengan adanya tol di Pekabaru Dumai.


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!

__ADS_1


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯


__ADS_2