Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Kau tak tau malu.


__ADS_3

Tiiiing, terdengar suara lift terbuka.


Ternyata eeeeeh ternyata,


Maride, Baros, Kennedy dan beberapa pelayan hotel berlenggak lenggok bak model catwalk mendekati Leo dan Paras.


"Huuuufgh! Tadi katanya pergi! Rupanya kesini pula!" Batin Leo, menyandarkan kepala ke bahu Paras.


Paras segera menyeka wajahnya, agar tidak ketahuan oleh Baros dan Maride.


Kennedy tersenyum, menatap dua sejoli yang tampak panik. "Hmm! Sepertinya sedang ada perang badar!" Bisik Kennedy di telinga Leo, karena melihat travelbag Paras dalam genggamannya.


Leo tersenyum garing menatap Maride dan Baros, "Mami, Papi!" Senyum Leo berlalu menuju kamar menggandeng tangan Paras.


Tentu Maride kaget, menatap Baros dengan seksama. "Secepat itukah dia membuka dirinya dihadapan Paras? Matilah kau Pi! Lagi perang mereka rupanya!" Kekeh Maride menatap Kennedy.


Bukan Maride namanya jika tidak mampu menghadapi semua masalah.


Maride masuk ke kamar putranya, "hmmm! Ada aroma-aroma malam pertama yah Pi!" Kekeh Maride.


Paras menggenggam erat tangan Leo, jujur perasaannya berkecamuk, tak bisa jauh dari Leo, tapi perjuangan ini takkan mudah baginya.


"Mami! Udah deh," Rengek Leo.


"Iya! Aku tau kalian belum sarapan, udah jam berapa ini!" Maride menatap jam ditangan Baros. "Apaaa??? Sudah jam 13.00! Ooogh amang, cepat kali waktu berlalu. Makan disini ajalah kita! Cepat lah! Hayuuk makan!" Ajak Maride ke Paras.


"Hmm, iya bu!" Paras menunduk hormat, menatap Leo dengan wajah sendu mengambil makanan di meja, membawakan untuk Leo.


Maride tersenyum menatap Baros. "Punya cucu minang kita Pi!" Senyum Maride penuh bahagia.


Leo dan Paras yang duduk disofa hanya bisa diam saling menatap antara satu dengan yang lain.


"Kamu mau aku suapin?" Tanya Leo pelan tapi dapat didengar oleh Kennedy, Baros dan Maride.


Paras menggeleng, perlahan memasukkan makanan ke mulut indahnya.


Leo benar-benar terpesona dengan Paras, walau dia kasar, tapi dia sangat penurut. Paras wanita baik. Beberapa kali Leo membersihkan bibir Paras dengan jarinya dihadapan Baros dan Maride. Kedua orang tua Leo tampak bahagia, menikmati beberapa hidangan pesanan mereka.


"Oya Paras! Cek sudah bisa dicairkan hari ini! Kamu mau cairkan dimana?" Tanya Baros mengalihkan pikiran mereka yang ada dikamar.


"Ooogh, iya Tuan! Tadi saya pikir akan mencairkan di Jakarta, tapi karena kita masih disini, ya disini saja!" Jawab Paras.


"Baiklah! Kita ke Bank selesai makan! Udah siang juga, pencairannya nggak bisa hari ini yah Ken?" Tanya Baros pada Kennedy.


"Bisa bang! Kita kan prioritas!" Senyum Kennedy.


"Hmm, ya!" Senyum Baros.


"Aku mau pergi sama Leo yah Paras! Nanti kalian kabari dibank mana! Biar kami menyusul!" Jelas Maride pada Paras menatap Baros.


Paras mengangguk, tak berani berkata tidak.


Leo melahap makanannya dengan cepat, karena perutnya memanglah sangat lapar.


"Aku pergi sebentar sama Mami. Kamu sama Papi dulu! Oya, Kennedy itu, calonnya Berlin! Mereka akan segera menikah. Minggu depan acara lamaran di Bandung! Kita pergi yah!" Jelas Leo pada Paras mencium punggung tangannya tanpa perasaan canggung dan malu.


Paras mengangguk pelan, air matanya kembali tak terbendung. Leo memeluk tubuh kekasihnya itu. "Maafkan aku! Aku benar-benar mencintaimu!" Ucap Leo mengusap lembut punggung Paras.


"Ya! I love you too, Leo!" Paras terisak dicerug leher Leo.


"Ssst! Kamu udah selesai makannya? Kalau sudah, kita jalan sekarang! Nanti jam 3 bank tutup!" Senyum Leo menatap wajah lembut Paras.


Leo mengecup bibir Paras 'cup', menyeka wajah kekasihnya yang terlihat sembab.


"Udah?" Tanya Maride tersenyum menatap kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.

__ADS_1


"Maaf Bu! Ya, kita jalan sekarang Tuan!" Tunduk Paras hormat pada Baros.


"Ya yuuk!" Maride menggandeng lengan Baros menuju lift. Kennedy berada dibelakan Leo dan Paras.


"Ken, Kakak belanja di Mall sini saja yah sama Leo! Suruh saja sopirmu menunggu di restoran. Mana tau dia belum makan siang! Kasihan! Mati dia nanti, hilang asetmu!" Kekeh Maride.


"Iya kak! Aku telfon sopir ku dulu yah!" Jelas Kennedy.


Mereka memasuki lift menuju loby hotel, kemudian berpisah.


"Leo, semua berkas ada di tas ini kan?" Tanya Paras pada Leo menunjukkan tas yang ada di genggamannya.


"Ya, ada semua!" Jelas Leo.


"Aku pergi yah! Bye, Love you!" Senyumnya dengan rona wajah memerah.


Leo menaikkan alisnya satu, tersenyum lega.


Maride menatap putra jeleknya sedikit aneh, "hmmm! Cemana sama wanita gendut? Enak kan? Mati kau karena cinta! Kemaren kau bilang, main-main! Sekarang udah masuk perkututmu love you love you kata mu!" Ejek Maride diwajah Leo.


"Mami! Hayuuuk, kita mau kemana?" Rengek Leo.


"Toko perhiasan di dalam itu! Berlin minta pilihkan perhiasan bagus. Buat tunangan. Kau nggak sekalian?" Goda Maride pada Leo.


"Hmm, ya!" Tunduk Leo.


"Ck! Coba kau senyum, jangan kau tekuk wajah mu! Biar tampak ganteng mu sama cina didalam itu! Ku tokok kepalamu pakai kemoceng nanti!" Geram Maride.


"Iiighs Mami! Ya udah hayuuuk! Heeeem! Dah senyum aku!" Leo menggandeng lengan Maride, menuju Mall yang ada didepan hotel.


Leo sesekali tampak menggoda Maride menyusuri Mall, kemudian mereka memasuki salah satu toko perhiasan ternama di Mall itu.



Maride memilih beberapa contoh cincin untuk di foto dan di kirim ke Berlin. Pilihan Berlin jatuh pada,



Akan ditulis nama indah Kennedy dan Berlin.


Leo memilih beberapa perhiasan, untuk Paras.



Cincin berlian sangat indah.


Dan sebuah kalung indah untuk Parassani.



Kalung dengan liontin indah.


"Iiighs, romantis kali lah kau sama Paras! Ini baru dikasih enak yah? Gimana kalau dikasih anak oleh Paras! Mungkin akan kau beri dunia ini padanya!" Goda Maride pada Leo.


"Mami!" Leo kembali merengek dibawah ketiak Maride.


"Manja kali lah anak kesayangan mamak ni! Nggak tega aku mau pisahkan kau sama wanita gendut itu!" Kekeh Maride saat memberi black card miliknya pada kasir.


"No! Kali ini aku yang bayar!" Leo enggan menggunakan uang Maride.


Maride menepis. "Apa pula! Jangan kau buat malu aku! Belikan toko ni aja untuk Paras asal kau bahagia sanggup aku Leo." Ucap Maride memeluk tubuh tegap sang putra kesayangan.


"Iiighs, Mami! Aku juga tanggung jawab kok Mi!" Tegas Leo.


"Kalau kau tanggung jawab, selesaikan urusan mu dengan Sintya! Aku nggak mau kau memberi harapan pada wanita wanita lain! Ingat Leo, karma itu ada! Kau punya adik perempuan, jangan menyakiti hati wanita! Yang pasti aku tidak mau kau kembali pada Sintya! Kalau kau tak mau sama Paras, kau ambil pelayan toko ini satu untuk menikah dengan mu! Karena dengan menikahkan mu, Opung akan memberi semua pada mu! Rumah di Medan, Villa di Puncak, Apartemen di Melbourne, dan depositonya! Perusahaan Opung sudah hidup segan mati tak mau akan menjadi milikmu! Kau pertimbangkan itu!" Tegas Maride menerima paperbag dari pelayan toko.

__ADS_1


"Iiighs, kenapa nggak ke Papi aja seeeh! Aku malas, ngurusin warisan Mi!" Tolak Leo masih nada lembut.


"Wooiii bodat! Kalau Papi mana bisa! Itu warisan ku, karena kau cucu satu-satunya laki laki, kau lebih berhak. Makanya cepat kau hamili Paras, kasih aku cucu cowok! Biar semakin kuat kita dari serangan Silutak yang ingin menguasai ku!" Maride berlalu meninggalkan Leo yang masih ternganga mendengar penjelasannya.


Maride kembali menoleh, "Kau mau tinggal disini? atau mau ikut aku?" Nada Maride naik 3 oktaf membuat Leo tersadar, beberapa pelayan ikut tertawa mendengar ibu dan anak ini.


Mereka menyusul Baros, Kennedy dan Paras, disebuah bank swasta.


Leo membawa paperbag, untuk segera memberi ke Paras, tidak lupa membeli cake untuk surprise.


Saat tiba diruangan prioritas, Maride sudah ditunggu untuk menandatangani beberapa berkas, hadir dengan gayanya.


"Kirain tadi tak butuh aku!" Kekehnya tanpa rasa bersalah.


"Ya udah cepat tanda tangan! Nanti kita terlambat!" Ucap Baros membukakan kursi disebelahnya.


"Hmm!" Jawab Maride duduk dengan manis menatap berkas dihadapannya.


Leo menatap Paras, yang duduk disampingnya, degupan jantungnya tidak biasa kali ini. Dia memberanikan diri untuk melamar gadisnya dihadapan pegawai Bank dan orang tuanya.


Memberikan sebuah kotak.



Paras membuka kotak, membuat Paras tak kuasa menahan rasa bahagianya.


"Leo! You serius!" Ucap Paras disela sela Maride menandatangani berkasnya.


Mata Baros dan Maride semakin membesar, setelah membaca tulisan yang ada di cake itu.


Leo mengangguk meyakinkan Paras, menyematkan cincin indah pilihannya ke jari manis Paras.



"Leo...." Ucap Paras tak sanggup berucap.


"Ooogh amang! Rupanya udah pengen kawin kali anak kita Pi!" Bisik Maride pada Baros mengusap sudut matanya penuh haru.


Baros tersenyum tipis, ikut merasakan kebahagiaan putranya.


Kennedy terkejut takjub, melihat keberanian calon abang iparnya.



Leo memberikan bingkisan ini pada Paras. Jujur bibir Paras tak mampu berucap, tak mampu membendung kebahagiaan yang dilamar secretarisnya Leonal Alkhairi.


"Secepat ini kah?" Bisik Paras pada Leo.


Leo mengangguk pelan, mengecup kening Paras dihadapan pegawai bank, yang turut bahagia dengan kisah romantis dari Putra Baros Alkhairi.


"Selamat Tuan Leo!" Ucap salah satu pegawai. "Semoga lancar hingga pelaminan. Baru kali ini ada sesi lamaran di kantor kita!" Tawa pimpinan cabang.


Baros tertawa, "Sepertinya Jakarta sudah tak bisa menunggu Pak!" Sindir Baros.


Paras semakin salah tingkah, memeluk tubuh Leo. "Kau tak tau malu!" Bisik Paras ke telinga Leo.


Leo mengusap lembut punggung Paras. "Ini lah aku! Maafkan aku Paras, aku terlalu mencintaimu! Kita akan pulang hari ini bareng Mami!" Jawab Leo.


Paras mengangguk pelan. Mengikuti semua perkataan Leo.


******************_______❤️🥰


Read and wait... 🤭🤗


Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2