Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Keegoisan..


__ADS_3

Kebersamaan Will dan Laura, hanya menghabiskan waktu bersama di Puncak hingga larut malam. Suasana sejuk kembali menghangatkan hubungan antara mereka. Sudah hampir dua tahun hubungan keduanya membeku seperti gunung es raksasa yang sulit untuk diruntuhkan, tanpa mau memperdulikan perasaan masing masing.


Malam itu adalah kenangan terindah untuk pasangan romantis Will dan Laura. Kepedulian pria berdarah Netherland itu, mampu mendamaikan hati Laura yang sedang dibalut kegundahan karena harus menghadapi perbedaan dengan Maride dan Baros, tentang hubungan Linslei dan Kevin tampak mesra dihadapannya.


"Ada apa denganmu? apakah Mami pernah mengkhianati Papi Kolin semasa hidupnya?" tanya Will masih penasaran.


Laura menarik nafas panjang, "ck, sebenarnya aku malas untuk membahas ini, karena aku telah melupakannya, Will," rungutnya masuk kedekapan William.


Will tersenyum, "cerita sedikit saja. Aku tidak ingin mendengar semua. Apakah Mami pernah mengkhianati Papi?" tanyanya lagi.


"Hmmmm, Papi mengalami kecelakaan setelah berdebat panjang dengan Mami. Aku sangat ingat apa yang mereka ributkan. Saat itu kamu sedang mandi, atau lagi keluar aku juga lupa. Papi merasa bahwa Mami tidak pernah mencintainya. Padahal Mami mengabdikan diri untuknya, Papi sempat menyebut nama Dokter Kevin dipertikaian mereka. Aku juga malas Will, mendengar suara lengkingan Mami," jelas Laura panjang lebar.


William terdiam, tangannya mengusap lembut punggung istrinya, "Mami hanya ingin melakukan hal yang baik, dengan menikahi pria yang mencintainya. Lebih bagus jika Mami menikah sayang, akan ada yang menjaganya. Kamu tahu sendiri, kita jauh, terus kesibukan Mami juga hanya diresto. Kamu masak nggak percaya sama Mami seeh? jika Mami tidak mencintai Papi Kolin, mana mungkin kamu lahir dari kisah cinta yang disulap. Bener nggak?" godanya pada puncak hidung Laura.


Laura mendengus dingin, "berarti kamu setuju Mami menikah? bagaimana jika laki laki itu hanya menginginkan harta? bagaimana jika laki laki itu tidak sayang sama Mami, bahkan untuk balas dendam karena dulu dia lebih memilih Papi? kenapa nggak mereka pertahankan hubungan yang dulu? kenapa tunggu Papi nggak ada, baru gencar saling bertemu, bahkan ingin dekat lagi," kesalnya.


Will yang sangat memahami bagaimana Laura hanya tertawa, sesekali dia menggulungkan garpu dimangkok mie, menyuapkan kemulut Laura.


"Dengar sayang, jika dulu mereka tidak berjodoh, karena Mami lebih mencintai Papi untuk mendapatkan kamu. Saat ini Mami ingin bahagia dengan dunianya. Bayangin, dia janda sudah hampir tiga tahun, menjalani hari hari sebagai single fighter tanpa kamu menemaninya. Kamu harus paham itu sayang. Dia juga pengen merasakan indahnya dicintai oleh pria masa lalu. Apalagi Dokter Kevin single kan? belum pernah menikah?" jelas Will dengan pemikiran yang sangat dewasa.


Laura menaikkan kedua alisnya, "kamu lagi dibayar Mami untuk merayu aku, Will?" tanyanya penuh selidik.


Will tersenyum, dia merangkul bahu Laura, "tidak pernah aku berfikir untuk menjadi orang bayaran, apalagi untuk meyakinkan hati kamu," kekehnya menggoda hidung mancung itu.


Laura mengangguk, dia tahu bahwa Will bukanlah orang yang mudah untuk disogok, ataupun mau melakukan hal diluar nalarnya. Pria Netherland itu hanya berusaha menjadi sahabat istrinya saat ini, agar mengerti dengan keadaan Linslei sang Bunda yang tengah berbunga-bunga.


.


Dikediaman Leo, pihak kepolisian menyambangi Keluarga Baros membawa serta anak Sintya dan seorang baby sitter. Suasana malam tengah diguyur hujan gerimis membuat Leo dan Maride sedikit terkejut dengan kehadiran tamu tidak diundang.


"Selamat malam Nyonya, bisakah saya bertemu dengan Tuan Leonal atau Ibu Maride?" sapa polisi berdiri tegap dihadapan Maid.

__ADS_1


Maid tampak bingung, melihat jam dinding menunjukkan pukul 22.10 waktu setempat.


"Maaf Pak, Tuan Leo sedang istirahat. Ibu Maride menginap di kediaman anaknya," jelas Maid sopan.


Polisi sedikit bingung, kembali berfikir untuk membawa Baby Alea kemana, karena kedua orang tuanya berada dipenjara.


"Bisa bangunkan Tuan Leo? katakan bahwa Bang Tanjung menunggu disini. Ada urusan penting," ucap Beni pada Maid keluarga Leo.


Maid segera menuju kamar Leonal, untuk membangunkan sang majikan, "Bang Leo, ada Pak Beni di depan ingin bertemu Abang," panggilnya didepan pintu kamar Leo.


Lebih dari sepuluh menit Maid mengetuk pintu kamar Leo, tapi belum ada jawaban.


Kirai yang mendengar suara Maid mengetuk, terjaga dari tidurnya, "ada apa Mba? Leo capek mungkin. Makanya nggak bisa bangun," ucapnya.


"Ooogh itu Bu, didepan ada Bang Beni dan baby sitter, nggak tahu mau ngapain. Mereka butuh Bang Leo, saya nggak tahu ambil keputusan Bu," bisiknya.


Kirai membangunkan Faisal, agar mau menemui pihak kepolisian yang sejak tadi menunggu Leo atau Maride.


Faisal bangkit dari ranjang, mengusap lembut wajahnya, "siapa? polisi?" tanyanya penasaran.


Kirai mengangguk, "mereka nunggu didepan," jelasnya lagi.


Faisal bergegas mendekati Beni, melihat canggung kearah anak dalam gendongan baby sitter.


"Ya," ucap Faisal sedikit kaku.


"Selamat malam Pak. Saya Beny Tanjung rekan Tuan Baros dan Leonal. Kami kesini untuk memberitahu bahwasanya Nyonya Sintya, Kennedy dan Silutak sudah berada di kantor polisi. Tengah dilakukan penahanan dan pemeriksaan lebih lanjut. Ini ada baby Sintya dan Kennedy. Kami membawa kesini karena bingung mau dibawa kemana. Kondisinya kedua orang tua anak ini harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka kepada keluarga anak anda. Sejak tadi anak ini rewel dan gelisah, Pak. Saya baru ingat bahwa Leo memiliki anak kembar, mungkin beliau bersedia menjaga anak ini untuk sementara waktu," jelas Beni panjang lebar membuat Kirai dan Faisal ternganga.


Faisal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit kebingungan, "gimana yah? nggak ditolong, kasihan, serba salah," batinnya.


"Gini saja pak, karena sudah malam, anaknya saya terima dulu, tunggu keputusan besok dari Leo dan Paras. Ini saya lakukan atas dasar kemanusiaan, karena kita bukan panti asuhan," tegas Faisal.

__ADS_1


Pihak kepolisian mengerti dengan pemikiran Faisal, "baiklah, besok kami akan kembali kesini, untuk menjemput mereka," jelasnya.


Faisal mengangguk, mempersilahkan Maid membawa anak Sintya dan baby sitter masuk menuju kamar tamu yang berada dibelakang.


"Terimakasih Pak Faisal, selamat malam," ucap Beni kemudian berlalu meninggalkan kediaman Leo.


Faisal menarik nafas dalam, memijat pelan pelipisnya, menatap Kirai dengan tatapan teduh.


"Anaknyo masih ketek, harus menerima kenyataan supo iko," bisik Faisal pada Kirai.


Kirai mengangguk, "biarlah Pak, yang penting mereka sudah menerima ganjaran atas apa yang telah mereka lakukan kepada anak menantu kita. Akhirnya yang menyelamatkan anaknya adalah orang yang dilukai mereka," ucapnya sambil berlalu mengikuti langkah suaminya menuju kamar tamu.


Mata Kirai berkaca kaca seketika, melihat Baby Alea, tertawa lepas saat berada di ranjang.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Kirai basa basi.


"Hmmm sudah Bu, tadi polisi itu yang memberi saya makan," jelas baby sitter pada Kirai.


Kirai tersenyum lega, "apa susu anak masih ada?" tanyanya merasa kasihan.


"Ada Bu, Tuan Kennedy memberi saya uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya," jelas baby sitter.


Kirai mengangguk, mengusap lembut bahu baby sitter, "istirahatlah, jika butuh apa apa, panggil saja Maid dikamarnya," jelasnya.


"Baik Bu," tunduk baby sitter.


Kirai berlalu meninggalkan kamar, "kasihan sekali hanya karena keegoisan," batinnya.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2