
Leo menggenggam kertas dalam genggaman. Yah, surat gugatan perceraian dari Pengadilan Negeri yang dia terima pagi itu ada ditangan Leo. Dia menutup matanya, "kenapa Sintya begini pada ku? apa salahku padanya?" Batinnya. Dia benar benar meratapi kepergian Sintya yang tidak adil untuknya.
Maride mengusap lembut punggung sang putra. Sudah 2 hari kepergian Sintya, terlihat wajah Leo seperti orang yang tidak punya tujuan hidup. Bahkan lebih tepatnya, hidup segan mati tak mau.
2 hari tubuh Leo tidak menyentuh air, hanya menghabiskan waktu meringkuk di ranjang kamarnya. Tentu Baros khawatir, menelfon pengacara keluarga untuk mengurus semua tuntutan Sintya pada Leo.
"Naak, mandilah! Jangan kau siksa dirimu hanya karena Sintya! Dia sudah menggugatmu! Berarti dia tidak ingin bersama mu!" Pujuk Maride.
"Pengacara akan mengurusnya! Lebih baik kau refreshing! Kita pulang ke Bandung! Tambah Maride memujuk sang putra pada pewaris Opung Pardede itu.
Leo mengalungkan tangannya di perut Maride yang lebar, "Mi, maafkan aku! Aku banyak salah sama Mami! Jangan kutuk aku macam gini Mi! Sakit Mi!" Isak Leo pada Maride.
Maride mengusap lembut tangan sang putra yang memeluknya, "Akan Mamak maafkan jika kau mandi! Cepatlah mandi! Kita ke Bandung! Tulang Simon akan mengurus perceraianmu." Maride mengusap lembut punggung sang putra.
Leo mengangguk, "emang bauk aku Mi? Rengeknya seperti anak kecil.
"Bauk kali pyuuun! Pasti kau nggak ganti ganti celkot kan?" Goda Maride. Cekot itu (Celana kotok\=c*d alias sem*pak).
Leo semakin menyembunyikan wajahnya di perut Maride, memainkan pusar pusar sang Ibu yang membuat Leo merasa nyaman sejak kecil menyentuhnya. "Mandikan!" Isaknya.
Maride mengangguk setuju, "cepatlah, buka bajumu! Mamak mandikan! Biar cepat kita pulang. Berlin sudah menunggumu sejak tadi." Usap Maride kekepala Leo.
Maride mengajak bak anak kecil, Leo yang sangat manja padanya dan Baros. Tapi walau kedua orang tuanya sangat memanjakan, Leo bukanlah anak tak memiliki masa depan. Dia pria tampan dan baik juga setia disuport otak pintarnya.
Maride menyalakan air hangat mengisi betthub yang terbuat dari marmer terbaik dan lumayan besar untuk tubuh fat seperti Maride. Dia menyalakan lilin beraroma therapi dan memberikan sabun beraroma yang sama.
Maride membukakan pakaian Leo, menjadikan Leo putra kecilnya. "Tunggu disini, Mamak ngomong dulu sama Papi! Jangan masuk deluan, nanti terpeleset kau!" Kekehnya.
Leo mengangguk, dia menunggu Maride duduk di tepi ranjang.
Setela Maride meminta izin pada Baros, suaminya menyusul kekamar. "Cepat mandi! Jangan nga*ceng pula si unyun mu dipegang Mami!" Goda Baros pada Leo.
"Aaaagh Papi! Aku mau mandi!" Rengeknya manja.
"Mandilah nak! Mandi! Biar Papi siapkan bajumu! Kita pulang yah, jangan nangis terus kau! Masih banyak wanita cantik di luar sana yang mau sama kau! Jangan strees! Nanti aku carikan wanita baik nan rupawan untuk mu di Bandung." Pujuk Baros.
"Jangan kau cari bule atau batak lagi yah!" Ancam Maride membuat Baros terkekeh.
"Kemaren yang nyuguhin siapa? Kau apa aku? Sudah, jangan saling menyalahkan! Kau urus Leo, aku minta Maid membuatkan makan siang untuk anak bujang kita." Tambah Baros berlalu meninggalkan Maride dan Leo yang sudah menuju kamar mandi.
Maride memandikan Leo dengan lembut, tanpa ada perasaan lelah. Baginya ini kesalahannya menerima anak Silutak tapi menyakitkan putranya yang gampang jatuh cinta. "Tak apalah! Bisa aku jodohkan sama orang kantor! Pasti ada yang mau sama Leo! Dia tampan, mirip Pria Jerman! Pasti banyak wanita yang mau. Silutak saja yang tidak punya otak, menyuruh putrinya mencampakkan putra ku yang gagah ini." Batin Maride masih mengusap spuns yang lembut di tubuh Leo.
⏳30 menit berlalu memandikan sang putra, Maride dan Leo keluar dari kamar mandi.
Leo memasang baju kaos dan celana levis selutut, mengikat rambut yang gondrong setelah Maride menolong mengeringkan dengan hair dryer yang menempel di dinding kamar mandi.
Maride menyemprotkan parfum pada kulit anak kesayangan, membersihkan bulu yang sengaja dirawat oleh Leo. "Jelek kali anak ku! Aku rasa, coba kau cukur bulu mu ini agar terlihat macho!" Goda Maride mengecup kening Leo.
"Udah ganteng, bersih dan wangi. Mamak maafkan kau! Kita ke Bandung dan istirahat kau disana. Kalau sudah baikkan, kau kerja saja di perusahaan Papi! Kau mau gaji berapa? 100 juta? 200 juta? Atau 1 milyar?" Tambah Maride semakin menggoda putranya.
"Hmm! Nantilah, aku pikirkan! Mami suapkan aku yah! Maid masak apa? Seafood?" Bisik Leo.
"Iya, tadi Mamak minta belikan cumi dengan udang! Pasti lezaaaatos dilidahmu!" Kekeh Maride.
Leo keluar kamar menuju kursi makan. Menatap sisi ruangan, yang sangat berkesan dikepalanya bersama Sintya, sungguh menyakitkan kehilangan wanita yang baru dia cintai. "Apa salahku?" Batin Leo lagi dengan pertanyaan yang sama.
Maride mengambilkan sedikit nasi untuk Leo, menyendokkan lauk pauk sesuka hati sang putra.
"Papi mana Mi?" Tanya Leo.
"Hmm, Papi disini!" Ucap Baros menuju ruang makan.
"Kita makan bareng Pi!" Ucap Leo sudah mulai ramah.
__ADS_1
Maride dan Baros saling tatap, mengerti akan maksud putranya.
Leo makan dengan lahap, 2 hari dia down, separuh jiwanya pergi seperti lagu Anang saat kehilangan Krisdayanti, hahaha. Ditemani Maride dan Baros yang ikut menyantap makanan berkolesterol tinggi itu dan berkabo untuk tubuh kedua orang tua Leo.
Maid yang kocak, menghibur hati sang majikan menyalakan music agar suasana tidak sepi sunyi seperti di kuburan.
Terdengarlah lirik lagu Anang,
🎵Separuh jiwaku pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka
Kau main hati dengan sadarmu
Kau tinggal aku
🎼Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
🎼Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua
🎼Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
🎼Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
🎶Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
__ADS_1
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku
🎶Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati
Kau curangi aku
Kau dustai hati
Maride bangkit dari duduknya, meminta Maid memberi mic yang tersedia. Menyanyikan tembang sambil menatap sang putra yang sedang makan.
"Hmmm, Mami memang pintar menghibur aku!" Batin Leo terkekeh menatap Maride menggoda Baros yang semakin klepek klepek di usap oleh Maride.
"Ayoo, ambil mic satu lagi! Kita nyanyi bersama!" Ucap Maride saat melihat Leo sudah semakin cerah berseri seri.
Maid membawakan mic, memberikan pada Leo.
Duet mautlah Ibu dan Anak agar terlepas beban didada. Suara keduanya sangatlah indah, dapat dikatakan Maride penyanyi saat muda. Leo memiliki hoby yang sama, begitu juga Baros.
🎶Benar 'ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati
Kau curangi aku
Kau dustai hati
Leo menghayati ref akhir karya Anang itu, hingga tak terasa air matanya mengalir kembali, dengan cepat Maride menghapus air mata yang membasahi pipi putra kesayangan sambil memeluk dengan kasih sayang.
"Jika anak gagal, akan ada Ibu yang selalu menghibur, apapun kelakuan Ibu tetaplah dia pelipur lara. Setujuuuuu!"
Oke next...
Maride membawa Leo pulang ke Bandung, untuk beristirahat selama sebulan.
Persidangan perceraian Leo dan Sintya diwakilkan oleh Pengacara handal Baros. Sintya membuka mulut saat persidangan, mengatakan dia tidak bahagia selama pernikahan yang seumur popcorn. Kembang sebentar, habis itu layu kenak angin. Begitu mudahnya Sintya mengatakan tidak bahagia. Sementara Leo perlahan mengakui telah mencintainya, bahkan merencanakan bulan madu ke Maldives, sanggah pengacara Baros.
Sintya juga membawa bawa nama Parassani Chaniago, orang yang telah menghancurkan keluarga dan bisnis orang tuanya.
Pengacara Baros menaikkan kedua alisnya, begitu banyak alasan. Bahkan untuk mediasipun Sintya enggan. Tidak menunggu waktu lama, Majelis Hakim mengetuk palu, dengan status baru bagi keduanya Duda dan Janda.
Sangat lucu bukan? Saat hakim memutuskan, "jika Sintya hamil, akan menjadi tanggung jawab Leonal Alkhairi Baros!"
PLOK PLOK PLOK,
Palu di ketok, sah Leo dan Sintya tidak suami istri lagi. Mata keluarga tertuju pada keluarga itu, ingin rasanya mereka saling serang, tapi hanya orang bodoh yang mau melakukannya.
Leo mengatur dirinya agar lebih tenang, merawat tubuh bersama Berlin, dengan status barunya.
Sebulan menghabiskan waktu tanpa melakukan apapun timbul kejenuhan dikepala putra Maride dan Baros, Leo meminta izin pada kedua orang tuanya untuk berkarier di perusahaan kelaurga, menyelidiki siapa Paras yang di sebut oleh pengacara mereka.
Maride menyetujui keputusan Leo, menyamar di perusahaan keluarga dengan posisi sebagai secretaris Paras yang akan di rekomendasikan oleh Baros. Tanpa terfikir oleh kedua orang tua Leo tentang putranya yang gampang jatuh cinta.
Benar ku mencintaimu....🎶🔥
Read and wait... 🤭🤗
__ADS_1
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️