
2 bulan berlalu dari pertikaiannya dengan Leo, Paras berkutat didunia kerjanya tanpa perduli dengan kegagalan pernikahannya. Sangat menyayat hati, menjalin hubungan dengan pria lebih muda ternyata lebih sulit, batinnya.
Trauma? Tentu tidak, Paras bukan wanita cengeng yang harus meratapi nasibnya. "Jika aku meratap bahagia sekali Leo, dia akan menertawakan ku hingga terkencing kencing!" Sungutnya.
Paras menghabiskan waktu dengan salah satu sahabatnya.
Tampak polos, berusaha bahagia walau hati teriris tipis karena perlakuan Leo yang tidak mempercayainya.
Paras memarkirkan mobilnya di apartemen miliknya, melihat sebuah mobil sport milik Leo terparkir disana. "Hmm! Ini kan punya Leo! Ngapain dia disini? Apa dia ada di apartemen ku?" Batin Paras menaikkan satu alisnya, berlalu meninggalkan basemen.
Paras menekan tombol lift menuju lantai 18. Beberapa kali dia menguap, menahan kantuknya. Tanpa dia ketahui, Sintya berada dibelakang Paras berdiri merapat paling sudut.
Paras keluar lebih dulu tak menyadari mantan istri Leo ada disana. Dengan langkah sedikit tergesa gesa Paras menekan pasword ruangannnya, berharap akan ada surprise dari Leo untuknya, tapi semua hanya harapan. Leo benar-benar telah melupakannya, batinnya merebahkan badan di ranjang indahnya.
"Kau terlalu menyebalkan Leo!" Bisiknya menggerutu.
Ada setitik keriduan dilubuk hatinya, ingin bertanya pada Berlin keberadaan Leo, tapi diurungkannya. "Jika aku bertanya pada Berlin, pastir dia akan besar kepala dan memberi tahu pada Leo! Mereka kan keluarga paling kompak!" Sungutnya lagi.
"Ck, udahlah! Lebih baik aku sendiri dulu! I'm single and very happy!" Tawanya.
Dia melanjutkan lagu Opi Andaresta,
🎶Aku baik baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I'm single and very happy
🎵Mengejar mimpi mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I'm single and very happy.
Paras tersadar, pembalutnya dari bulan kemaren masih full. Perlahan dia menatap cermin, melihat adakah perubahan didirinya, batinnya.
"Bagian dada memang sebesar ini dari dulu, perut, beli tespack aagh. Jika gue hamil, Leo menghilang apa kata Amak samo Apak! Kanai lampang lah ambo!" Kekehnya tertawa sendiri, jika mengenang kedua orang tuanya.
Paras bergegas menuju supermarket di area apartemen, menggunakan baju santai dan sendal jepit buatan Bukit Tinggi.
Untuk sendal rumah sangat nyaman.
Memilih beberapa makanan ringan, sayuran dan tentu mengambil tespack, agar hilang rasa penasarannya. "Lebih cepat lebih baik." Batinnya.
Paras menuju kasir melakukan pembayaran, mengambil beberapa coklat kesukaannya.
__ADS_1
Kasir menghitung semua belanjaan Paras, "Totalnya bla bla bla Mba!" Ucap Kasir.
Paras merogoh cardnya dari dompet, tapi seorang pria berbulu hadir disampingnya memberi uang cash pada kasir.
Deg, debaran jantung Paras semakin tak beraturan. Perlahan Paras melirik kesampingnya, "Leonal?" Paras menatap wajah tampan itu, menelan salivanya.
"Kau masih tanggung jawabku! Permisi!" Leo memilih berlalu meninggalkan Paras lebih dulu.
Paras menarik nafas dalam, mengejarnya, "Leo, Leonal! Bisa kita bicara?" Ucap Paras berusaha menahan lengan Leo.
"Ikut aku! Aku tidak ingin kita bicara disini! Kita ke apartemenku di Kuningan!" Leo meremas lengan Paras sedikit kasar dengan cepat.
"Iiiighs, sakit! Pelan dong!" Kesal Paras membawa paperbag belanjaannya.
Leo melepas genggamannya, memilih jalan lebih dulu menuju basemen, melewati tangga.
Paras memilih diam saat memasuki mobil Leo. "Dari mana dia? Kenapa tiba tiba ada di supermarket? Mobilnya sejak tadi ada disini!" Batin Paras sedikit penasaran tapi enggan bertanya.
Mereka diam tak bicara, menikmati kemacetan kota Jakarta disore hari. Tanpa mereka sadari hati mereka sangat merindukan satu sama lain. Bukan hal mudah bagi keduanya untuk kembali memulai, apalagi Leo tak memberi kabar sama sekali pada Paras. Begitu berkecamuk pikiran negati dikepalanya.
"Eheem!" Paras mendehem, melirik kearah Leo.
"Kamu lapar?" Tanya Leo tak menatap.
"Ck! Gue kenyang!" Rungut Paras.
"Bisa nggak bicara sama aku nggak usah pakai Lo Gue! Aku ini suami kamu!" Jelasnya.
"Idih! Ngotot jadi suami, masalah dikit aja ngilang! Suami kayak apa itu?" Kesal Paras menatap marah pada Leo.
Paras tersenyum, "ternyata dia yang lapar! Contoh pria gengsi tinggi!" Kekehnya dalam hati.
Paras merendahkan egonya sembari menunggu antrian mereka. "Bisa kita bicara serius?" Tanya Paras mengalihkan tubuhnya menghadap Leo.
"Emang dari tadi kita nggak serius?" Kesal Leo menatap Paras sinis.
"Hmmm! Kamu kenapa seeh? Kemana aja? Terus, kenapa tiba-tiba ada diarea apartemen aku? Mobil mu sejak tadi parkir disana dan kita baru bertemu!" Tanya Paras pada Leo.
"Emang kamu peduli?" Sarkas Leo.
"Ya pedulilah! Kamu ngapain disitu! Lebih baik kamu jujur, daripada aku mendengar dari pihak lain sepertimu mencari tahu sendiri, tanpa mendengar penjelasanku!" Kesal Paras.
"Ck! Sintya ada disana! Dia tadi bertemu denganmu! Selama ini aku disana! Tapi aku udah nggak betah! Kepikiran kamu mulu!" Jujur Leo tanpa merasa berdosa.
"What? You spent time with Sintya, slept with her, made out with her for 2 months?" Teriak Paras tersulut cemburu dan emosi.
"Ya! Lebih baik aku jujur dari pada bohong sama kamu! Setidaknya kita impas Paras!" Kesal Leo
Paras menggeram kesal, "huuuuufgh! antar gue pulang, gue nggak mau ikut lo! Iiighs, ada yah cowok yang nggak ada otak gini! Ngeselin!" Paras mengambil paperbag belanjaannya memilih membuka pintu, berlalu meninggalkan Leo, tapi.
"Paras! Paras!" Teriak Leo mengejar hingga dia ikut berlari tak ingin kehilangannya lagi. "Setidaknya wanita itu tidak sebaik dirimu! Dia membohongi ku Paras! Dia tidak seenak punya mu, Ndut!" Teriak Leo tanpa malu.
Paras terhenti, menunduk malu menggeram kesal. "Iiiighs, kenapa lo bicarain itu teriak teriak! Setidaknya orang ngedenger Leo!" Bentak Paras masih betah diposisinya.
__ADS_1
"Gue mencintai lo! Gue rindu sama punya lo yang tembem." Tambah Leo lagi.
PLAAAK,🩴🩴kedua sendal jepit Paras melayang kearah Leo seperti seorang sedang melempar tumpukan kaleng di game hiburan malam, mengenai wajah Leo yang masih berbulu tebal.
"Aduuuuh! Aaaaagh, sakit Ndut! Please jangan tinggalkan aku lagi! Aku mencintaimu! Aku suami mu!" Teriak Leo sambil merengek, tak terima dilempar sendal jepit oleh Paras.
Beberapa mata melihat kelucuan pasangan itu, "Mba, jangan tinggalin suaminya! Kasihan dileparin gitu!" Goda seorang wanita dan pria sambil terkekeh.
Paras menghela nafas panjang, mendengus kesal. "Iiighs, kenapa aku mau ngikutin apa kata dia! Dia bukan siapa siapa aku! Ngaku ngaku jadi suami!" Geram Paras memilih mengalah menuju mobil Leo.
Leo tersenyum menang, "yeeeess! I'm the winner!" Kekehnya menanti kehadiran Paras memasuki mobilnya.
Paras menggeram, saat melihat Leo memasuki mobilnya. "Uuuuugh! Gggrrrgh!" Geram Paras melihat senyum picik Leo.
"Aku akan cerita sama kamu! Yang penting besok kita berangkat ke Melbourne! Mungkin kita akan stay disana untuk beberapa waktu. Papi sudah mengizinkan ku membawamu! Luqman dan Berlin akan menggantikan kita." Jelas Leo memajukan mobilnya.
Memesan beberapa makanan, kemudian membayarnya. Leo memberanikan diri menggenggam tangan Paras, "I love you! Maafkan aku telah melukai mu!" Senyum Leo mengecup punggung tangan Paras, yang masih menggunakan cincin pemberiannya.
Paras masih diam, tak menjawab. Ada perasaan senang, kesal dan muak. "Untung dia tampan, jika tidak sudah aku lempar dia dari mobil ini!" Batinnya.
"Kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Leo melirik wajah Paras yang polos tanpa make up.
"Ck, emang mesti di omongin kalau kangen!" Jawab Paras memgalihkan pandangannya.
"Setidaknya kamu membuat aku galau lebih parah 2 bulan ini!" Jujur Leo tulus.
"Gombal! Bohong!" Elak Paras menepis rasa bahagianya.
Leo tersenyum, "setidaknya aku melihat kamu juga merindukan ku!" Goda Leo menyentuh dagu cantik sang direktur.
"Iiighs, jangan pegang-pegang!" Sinis Paras.
Leo memarkirkan mobilnya diparkiran, membukakan pintu mobil untuk pujaan hati. "Welcome my dear!" Ucap Leo tersenyum senang.
Paras memeluk paperbagnya, mengikuti langakah Leo sangat aktif menggodanya.
"Kamu tinggal disini yah! Malam ini aku suruh orang ku untuk mengambil semua pakaianmu!" Mohon Leo menempelkan card dipintu apartemennya.
"Nggak usah! Nanti barang berhargaku hilang!" Jawab Paras asal.
Leo melirik kearah Paras, "barang berhargamu kan sudah kamu bawa sayang!" Leo mendekati kekasihnya. Menangkup kedua pipi cubi itu, mencium lembut bibirnya yang sangat dia rindukan, cup.
"Jangan marah lagi! Aku yang salah! Aku minta maaf! Aku menjadikan Sintya sebagai pelarian, karena aku tak mewujudkan janjiku! Aku benar-benar telah berpisah dengannya. Dia tak sebaik dirimu! Duduklah! Aku akan jujur padamu!" Leo memberi beberapa makanan ke tangan Paras, meminta Paras menyuapkannya.
"Hmmm! Untung sayang, kalau nggak udah aku lempar kamu dari gedung ini!" Ucap Paras membuat Leo terkekeh geli menerima suapan mungil dari tangan sang direktur. "Udah cepet cerita, jangan senyum senyum gitu! Nanti aku berubah pikiran!" Rungutnya lagi.
"Iya, ceritanya di Part sebelah dong! Jangan disini! Ntar kepanjangan, marah readers sama kita, cukup punya aku aja yang panjang bisa buat kamu makin sayang!" Kekeh Leo...😂
Menyebalkan yah....🔥🤭
__________**********
Semoga suka yah... Jangan lupa bahagia... happy weekend...😘😘
__ADS_1
Read and wait... 🤭🤗
Like and Vote... Fillen danke, Thankyou, and terimakasih...🙏🥰❤️