Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Berburu durian.


__ADS_3

Pagi yang cerah menyinari Puncak, matahari masih tersipu malu menunjukkan sinar dari balik jendela kamar hotel Leo dan Paras. Paras yang sudah rapi di balut dress longgar diatas lutut, memperlihatkan betis yang indah walau tampak besar tapi menunjukkan kesexian wanita bertubuh gendut itu.


Paras masih membungkus rambutnya dengan handuk kecil, menunggu pelayan hotel membawa sarapan ke kamar mereka. Paras melihat Luqman dan Berlin masih terlelap saling beradu punggung. "Katanya saling cinta, tapi beradu punggung!" Kekeh Paras dalam hati.


"Ndut," Panggil Leo dengan nada suara sedikit berat.


Paras mendekat, mengecup wajah berbulu Leonal yang masih bauk iler di pagi hari.


Perlahan Leo membuka mata, melihat wajah sang istri sudah segar dan wangi. "Kamu mau kemana Ndut?" Tanya Leo.


"Berburu durian! Dari tadi malam anak kamu mintak durian! Makanya aku siap siap!" Kekeh Paras kembali mengecup kening suaminya.


"Bibir dong!" Rengek Leonal mendekap Paras dari belakang.


"Hmmm, bauk iler aaagh! Mandi sana!" Ucap Paras menutup wajah suaminya menggunakan bantal sebelah Leo.


Leo sengaja mencuri bibir Paras yang masih polos belum dipoles lipstik, cup. Kekeh Leo beranjak dari ranjang mereka.


"Leonal, bauk lhoo!" Kesel Paras mengusap pelan bibirnya.


Leo tertawa, masuk ke kamar mandi.


Paras memoles wajahnya sedikit natural hari ini. Dia tidak begitu suka berdandan lebih tebal, karena Leo melarang demi kesehatan baby four di dalam kandungannya.


⏳15 menit, Leo keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Mata Paras tak bisa memungkiri, dia sangat mengagumi tubuh sispack sang suami. Perlahan Paras mendekat ke arah Leo yang masih berdiri dengan wajah mempesona di depan pintu kamar mandi.


Paras memeluk tubuh Leo yang masih terasa dingin, "hmmm.... Aku suka kamu begini, se*xy!" Bisik Paras.


Leo mengusap punggung istrinya, "kamu mau lagi?" Tanya Leo.


Paras mengangguk, perlahan Paras mengarahkan bibirnya agar Leo mengecup lagi bibir yang beraroma mint itu. Perlahan mereka saling mendecap nik*mat. Paras mengalungkan tangannya keleher Leo, tanpa ada perasaan malu.


"Hmmmfgh!" Keduanya saling menikmati ciuman segar pagi itu, bertukar saliva dan penuh ga*irah. Perlahan des*ahan keluar dari keduanya.


Leo mendekap punggung istrinya, agar masih seimbang menikmati ciuman mereka yang semakin hangat.


"Kak," Sapa Berlin.


Keduanya saling melepas ciuman karena kaget. "Ganggu aja lo!" Kesal Leo masih mendekap tubuh Paras.


"Mau ke kamar mandi!" Rengek Berlin.


Leo menarik nafas kesal, "di luar kan ada kamar mandi Berlin." Jelas Leo.


"Ada Luqman. Minggir, gue sesak pipis!" Perintah Berlin menggeser tubuh kedua kakaknya dengan pelan.


Paras dan Leo saling tatap, tersenyum. "Terus kita gimana?" Kekeh Paras.


"Di mobil aja nanti, kita lanjut!" Jawab Leo asal.


Paras menautkan kedua alisnya, "nggak ada tempat yang asik gitu Bowl?" Geram Paras mencubit perut suaminya yang selalu menggampangkan situasi.

__ADS_1


Leo terkekeh, "baju aku mana Ndut? Pasangin boleh nggak?" Leo menarik tangan Paras menuju travel bag mereka.


"Hmm, ini yah. Biar agak santai." Paras mengambil satu baju kaos dan celana pendek milik Leo.


Leo mengangguk setuju, "kita sarapan habis itu langsung cek out yah! Makan durian di bogor, langsung pulang. Karena besok aku ada meeting! Takut kemaleman kita sampai Jakarta!" Jelas Leo.


Paras mengangguk, memasangkan baju Leo, menyisir rambut yang masih panjang kemudian mengeringkannya. "Kalau baby udah lahir, di potong yah Bowl. Biar lebih berwibawa." Pinta Paras.


"Hmm, jangan dong! Ciri khas aku kan emang begini Ndut!" Senyum Leo menatap dari kaca.


Paras mengangguk mengerti, "dirapihin aja boleh dong. Biar makin tampan suami brondong ku ini." Kekeh Paras.


Leo mengangguk setuju, megusap lembut punggung tangan Paras, yang sangat telaten memperhatikan dirinya.


*******



Mereka berburu durian di salah satu tempat kawasan Bogor. Sebelumnya Leo dan Paras berburu yoghurt di Cimory karena Leo selalu mengkonsumsi rasa strawberi semenjak Paras mengandung baby four.


⏳Drrrt, drrrt...


"Mami!" Batin Leo.


πŸ“ž"Ya Mi!" Ucap Leo.


πŸ“ž"Kau dimana? Mamak udah di Bogor bersama Laura dan Willion, dan mertuamu." Jelas Maride.


πŸ“ž"Kau pikir ini kampung upin ipin!" Kekeh Maride.


Leo tertawa mendengar racauan sang Mami yang masih heboh dan perhatian padanya walau dia sudah menikah.


πŸ“ž"Leonal, cepat lah! Mamak udah ngences ini!" Teriak Maride.


πŸ“ž"Iya, ini udah dekat! Sabar yah Mami sayang!" Kecup Leo pada ponselnya.


Maride menutup telfonnya.


Leo memberi ponselnya pada Paras, sesekali melirik kendaraan Luqman dari spion yang mengikuti mereka dari belakang.


⏳20 menit, akhirnya Keluarga Maride berkumpul untuk berburu durian. Buah kegemaran keluarga Paras dan Leonal. Mereka menikmati durian yang sangat manis dan lezat itu. Beberapa kali Maride meminta lagi dan lagi pada pedagang.


"Paras, alah tu." Ucap Kirai takut jika durian ini akan mengganggu kehamilan putrinya.


Paras tersenyum, "nggak apa apa Amak! Paras alah menghubungi dokter, ndak baa do!" Ucapnya mengusap lembut tangan Kirai.


Leo beberapa kali menyuapkan ke mulut istri gendutnya, "manis nggak?" Tanya Leo mengusap lembut bibir Paras.


Paras mengangguk, merasa sungkan di hadapan orang tuanya karena perhatian Leo sangat berlebihan baginya.


Faisal menyarankan Paras agar meminum air putih dari wadah durian itu agar tidak panas dalam. Itu sudah tradisi bagi mereka orang Sumatra Barat.

__ADS_1


Paras dan Leo mengikuti saran Faisal, beberapa kali mencoba meminum dari wadah durian yang sangat segar. "Hmmm, enak yah Bowl!" Ucap Paras menyeka peluh dari wajah suaminya.


"Iya mau bungkus nggak?" Tanya Leo pada Berlin dan Luqman.


"Hmm, nggak usah! Kecuali kalau mau buat tempoyak." Ucap Faisal.


"Tempoyak?" Tanya Maride dan Laura bertatapan.


"Asam durian jeng!" Jelas Kirai pada Maride dan Laura.


"Hmmm, kita beli aja! Di Medan banyak itu besan!" Kekeh Maride. "Tunggu lahiran menantu kita pesta adat di Medan dan Padang yah besan." Tambah Maride.


Paras menatap Faisal dan Kirai, kedua orang tua Paras hanya tersenyum. "Kita potong jawi yah Pak, sekalian syukuran!" Jelas Paras lembut.


Faisal dan Kirai mengangguk setuju. "Semoga keempat anak kau sehat Paras! Kita bawa Luna pulang. Alah 6 tahun nyo ndak nio pulang kasiko!" Ucap Faisal sedikit berbisik tapi dapat di dengar oleh Leo dan Baros.


Paras tersenyum mengerti maksud Faisal. "Apak susul aja Uni dulu! Sampai Paras melahirkan. Biar Amak pulang kampung. Alah lamo Amak ndak pulang kan Mak?" Goda Paras pada Kirai.


Baros dan Leo mengangguk setuju. Faisal dan Kirai hanya saling tatap.


"Bara biaya kasitu kini?" Tanya Faisal pada Paras.


Leo menjawab dengan cepat, "nggak usah pikirkan biaya Pak! Leo tanggung semua. Apak mau dimana, akan Leo tanggung." Tegas Leo.


Faisal menarik nafas dalam, "nantilah Apak rundiangkan dulu samo Amak." Senyum Faisal ada rasa sungkan pada besan dan menantunya.


Laura dan Willion hanya mendengar, baginya keluarga Paras sangat baik pada Leo, "biar aku temanin lah. Sekalian bulan madu kami!" Kekeh Laura menatap wajah Willion.


"Iiighs, aku ikut jugalah." Jawab Maride.


"Mami nggak usah, temanin Paras disini!" Pinta Leo menatap Maride dan Baros.


"Kan ada gue, kak?" Tegas Berlin.


"Lo sibuk mulu sama Luqman!" Pancing Leo melihat reaksi Maride dan Baros, setelah mendengar curhatan kedua insan yang terhalang restu ini, Leo berusaha membuka jalan untuk Luqman.


Maride menatap Leo dan Berlin, sesekali mencuri pandang pada Luqman. "Kalau suka langsung minta yah! Jangan macam pulut malu malu congok!" Sindir Maride menatap Berlin dan Luqman yang ada dihadapannya.


Baros mengusap lembut bahu putrinya, "jangan lama lama berduka!" Goda Baros.


"Papi..." Rengek Berlin.


B e r s a m b u n g....


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯

__ADS_1


__ADS_2