
Albert merasa sangat bahagia setelah membawa gadis kecil itu berada didekatnya. Kupu kupu berterbangan, bintang bintang bersemayam bahkan ada love love di kepala Albert saat mencuri pandang dengan gadis kecil benafsu besar menurutnya.
“Kita makan dulu? atau ngopi, ngejuice, steak steak, hmmmm shoping?” tanya Albert salah tingkah.
Yani menautkan kedua alisnya, “kamu belum makan?” tanyanya bingung.
“Hmmmm belum seeeh, tadi cuma ngemil saja di kantor kalian,' jelas Albert.
“Oke, kita makan di cafe biasa saja, karena uang ku tinggal 20 ribu di dompet, aku mau traktir kamu. Kita mampir di ATM dulu,” tunjuk Yani pada salah satu ATM drivetru.
Mereka tidak turun dari mobil, Yani memberi card pada Albet untuk membantunya mengambil uang karena posisi lebih mempermudah Albert melakukannya.
“Kamu enggak suruh aku transfer kan? jika aku tahu saldo kamu?” goda Albert.
Yani membesarkan bola matanya, “saya minta tolong Pak Albert, bukan minta transfer, kalau saldo saya sedikit emang masalah? namanya pertengahan bulan, belum gajian, bonus dan tunjangan kan disatuin,” jelasnya dengan bibir maju terlihat sangat manis.
Albert membantu dengan senang hati, menekan tombol dan pin sesuai arahan Yani.
“Berapa?” uji Albert sambil tersenyum.
“Hmmmm satu juta saja, siang menjelang sore ini saya traktir anda, nanti malam anda traktir saya. Bule kan biasa begitu,” senyum Yani mengembang.
Albert mengangguk, dia suka wanita mandiri seperti Yani, nggak nyusahin bahkan lebih terbuka dalam bersikap, “good,” batinnya.
Albert menarik uang satu juta menekan tombol keluar memperlihatkan saldo Yani yang sangat miris dan tragis.
“Saldo kamu sadis amat, bahkan lebih tragis dari bayangan saya,” kekeh Albert.
“Iiighs masih syukur ada sisa! daripada nol,” kekehnya membela diri.
Albert tersenyum sumringah geleng geleng kepala, mengacak asal rambut gadis nan lucu telah membius hatinya.
“Kalau ada apa apa jangan sungkan, aku bisa bantu kamu kok,” ucap Albert melajukan kendaraannya.
“Hmmmm terimakasih, aku belum membutuhkannya. Ini masih cukup sampai akhir bulan, karena makan siang biasa di bawain Mba Paras,” ceritanya polos.
__ADS_1
“Oke, mulai besok aku akan mengantarkan makan siang untuk mu melalui aplikasi. Kamu mau?” tanya Albert tanpa memaksa.
Yani berfikir sejenak, “hmmm bayarannya gimana? enggak ada yang gratis kan?” tanyanya menatap mata Albert yang sedang meliriknya.
Albert semakin senang mendengar wanita disebelahnya lebih unyu unyu dibanding Paras.
“Bayarannya kamu mau enggak jadi istri aku? kita menikah di kota kamu dan kembali kesini, bulan madu kemudian pulang ke Jerman beberapa minggu, balik lagi kesini, kerja?” tanya Albert tanpa basa basi.
Jedeeeer, jedeeeer, ⚡
Yani berhenti bernafas seketika, hanya selisih beberapa jam dia diajak menikah oleh dua orang pria bule tampan, yang satu dokter kandungan, yang satu orang penting di Marsedez Benz. Bibir mungil itu ternganga membayangkan laras panjang bule Jerman akan menerobos masuk kedalam syurganya.
“Pasti besar, pasti enggak muat sama punya aku iiiiighs,” batin Yani membayangkan adegan jorok bersemayam di kepalanya membuat dia meringis ngeri.
“Yan, hei,” tanya Albert menyentuh bahu Yani.
“Ooogh ya sory, aku sedikit kaget,” senyumnya menyeringai bak kuda poni.
“Mau enggak?” tanya Albert memastikan.
Yani mengangguk setuju, tapi bagaimana dengan Fredy? batinnya.
Yani tersenyum, “sebenarnya lagi deket sama seseorang, tapi kayaknya sulit buat bersama, karena dia di jodohkan dengan karier yang sama, sama sama dokter,” jelas Yani tersenyum tipis.
Albert mengangguk mengerti, “kamu pernah making love?” tanyanya hanya sekedar ingin tahu.
Yani tertawa terbahak-bahak, “gimana mau making love oon, cowok aja gue enggak punya,” tawanya geleng-geleng kepala.
Albert tersenyum smirk, “berarti aku yang pertama dong, kalau kita menikah?” tanya Albert sangat menggoda.
“Kalau sudah menikah ya iyalah, kalau sekarang aku nggak bisa, maaf,” senyum Yani menegaskan.
“Oke, aku janji enggak akan ganggu kamu sampai kita menikah, karena aku juga masih perjaka tenggen,” jujur Albert polos.
Yani termenung, merubah posisi duduknya, menatap lekat mata pria yang mengaku perjaka.
__ADS_1
“Serius? terus yang dikantor kemaren siapa? masak bule masih perjaka, Lo mau bohongin gue?” rungut Yani tidak percaya atas kejujuran Albert.
Albert menatap hezel mata Yani, “gue oral doang, enggak sampai berhubungan badan, itu cewek bayaran, kan gue bilang ayam ayaman. Gue bayar mereka sejuta, buat nemanin di kantor, karena kerjaan buat pusing kepala. Gue janji kalau Lo nerima pernikahan kita, semua ayam yang ada di contac handphone dihapus,”
Albert memberi dua jari pada Yani sebagai komiten awal mereka.
Yani menautkan kedua alisnya, berfikir sedikit licik, “termasuk jangan gangguin Mba Paras?” tunjuknya ke wajah Albert.
Albert menolak, “no, Paras sahabat gue, dia orang baik dan pintar. Jangan suruh gue jauhin dia, Leo itu hanya karena anak Mami Maride you know! jika tidak gue jamin, Paras tidak akan memilih Leonal. Gue tahu Leo dari dulu, dia enggak bisa hidup tanpa ehem sangat berbeda dengan Paras, dia wanita baik, sopan, lugas,” tegasnya.
Yani terdiam, semua yang dikatakan Albert tentang Leo ada benarnya, tapi tidak menambah rasa sungkan karena kebaikan Leo dan Paras yang sudah memberikan apartemen murah pada Yani.
“Ya itukan masa lalu, kita semua punya story’ life bahkan akan menjadi sejarah, baik atau buruknya,” senyum Yani memberi pengertian.
“Betul, aku setuju, tapi Paras itu terlalu baik banget mendapatkan laki laki sebajingan Leonal, dia itu hanya memanfaatkan keadaan dan kekuasaan, belum tentu dia mencintai Paras sepenuhnya,” rutuk Albert berapi api.
Yani mengangguk mengerti maksud Albert, tapi dia menjadi saksi bahwa Leo sangat mencintai sang direktur tanpa kenal lelah, walau mesti dihadapkan dengan beberapa polemik seperti saat ini.
“Udah jangan bahas mereka, kita makan di sini aja? gimana?” tunjuk Yani pada warung sate Madura dengan asap menyebar kemana mana.
“Kamu Muslim atau Kristen?” tanya Albert menghentikan mobilnya.
“Hmmm aku katolik,” senyumnya.
Albert tersenyum sumringah, membuka kedua tangannya untuk memeluk kali pertama tubuh mungil nan imut yang berada disampingnya, “kita seiman,” kekehnya.
Albert memeluk Yani penuh perasaan yang perlahan bersemayam rasa cinta, tak tahu kapan hadirnya benih benih cinta keduanya. Nyaman udah pasti, bahagia akan menyertai kebersamaan mereka.
Mereka turun bersama, saling menyambut tangan bergandengan menuju warung sate Madura yang biasa menjadi langganan saat dikantor.
Albert merasakan kenyamanan karena wanita didekatnya adalah wanita mandiri yang tidak neko neko, bahkan dia lebih jujur dan tampil apa adanya di banding wanita yang dia dekati semenjak tidak bertemu Paras.
"Mami akan bahagia jika mengetahui istri ku bekerja dan memiliki tabungan sendiri," kekehnya merasa bangga.
Keluarga Albert adalah keluarga yang taat aturan dan harus mengutamakan pendidikan untuk menjadi bagian dari mereka. Persyaratan yang dituliskan oleh Mami Fredy dan Albet lebih panjang dari struk belanjaan bulanan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️