Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Rejeki jangan di tolak...


__ADS_3

"APA???"


Paras seperti ingin meremas si unyun yang tidak pernah lelah diatas tubuhnya. Jika hamil lagi, kapan akan merawat tubuh, batinnya memeluk Leo.


"Kamu tenang saja, besok kita cek ke Fredy yah? pulang dari Bogor. Kita bawa Yani, biar kamu ada temen saat di pabrik," jelas Leo.


Paras mengangguk setuju.


Mereka segera menuju ruang makan, ternyata Baros sudah selesai dengan ritualnya membersihkan diri.


"Papi dari mana? kok baru kelihatan?" tanya Leo membukakan kursi untuk Paras.


"Habis nyelesain urusan receh," ucapnya santai.


Maride yang sudah mendengar cerita tentang Ina, masih menaruh curiga pada Baros.


"Awas kau yah Baros, sempat perkutut mu terbang, aku ikat di Monas," batin Maride menggeram.


Leo menatap Baros penuh selidik, "dari mana Papi?" batinnya.


Paras mengambilkan nasi dan lauk seperti biasa untuk Leo, udang saos tiram buatan Maid sangat menggugah selera suaminya.


"Mi, aku besok ke Bogor! mungkin akan segera ke Fredy untuk periksa, Paras udah telat seminggu," jelas Leo santai.


Tentu di sambut teriakkan senang oleh Baros dan Maride, Laura dan Willion masih berada disana turut bahagia.


"Oooough Tuhan, bahagianya aku punya cucu lagi dari kalian. Memang tokcer kali unyun kau Leonal," teriak Maride beranjak memeluk Paras dan Leo.


Paras yang mendengar kebahagiaan keluarganya sedikit risih.


"Mami, baby four masih kecil! jangan dulu lah," rengek Paras di lengan Maride masih berada di bahunya.


"Rejeki tidak boleh ditolak, apapun itu!" tegas Maride.


Baros menatap wajah cantik menantunya, "betul itu," sambungnya.


"Kan ada kami Kak," ucap Laura.


"Aku akan selalu menjaga keponakan ku Bang," ucap Willion.


"Hmmmm terimakasih," senyum Leo menatap wajah istrinya.


"Kamu nggak perlu khawatir, semuanya pasti yang terbaik. Aku janji setelah ini kita stop, semoga kembar lagi," kekeh Leo.


Paras hanya mengurut dada, jika benar kembar atau hamil lagi, semoga sehat dan bisa menjadi ibu yang baik menjaga buah cinta mereka.


"Kau nginap disini?" tanya Maride pada Laura.


"Iya, Will pengen main sama baby four besok pagi. Karena kami mau ke Bandung sebelum kenak warning sama owner Langhai Group," kekeh Laura.

__ADS_1


"Aaaaagh kau, percuma kalian jadi kaya kalau tidak pintar pintar,"


Maride terkekeh kembali ke kursinya melayani Baros.


Tentu orang yang paling bahagia jika Paras hamil adalah Baros dan Maride, karena Leo adalah anak kesayangan mereka untuk menjadi penerus Langhai Group.


.


.


Setelah asyik menikmati makan malam, suasana hangat semakin larut, Paras dan Leo memilih beristirahat. Begitu juga dengan Maride dan Baros. Mereka lebih membicarakan semua permasalahan Ina lebih terbuka.


"Siapa pelakunya Papi?" tanya Maride.


"Loide! Simon nggak mau. Dia hanya pegang pegang saja," jelas Baros jujur.


Maride menatap lekat wajah suami yang dia cintai, "kau nggak icip?" tanyanya penuh selidik.


Baros tersenyum, "nggak Mami," ucapnya jujur.


"Ya udah, berarti udah mati atau masih hidup betina itu?" tanya Maride.


"Loide yang nyimpan, aku nggak peduli. Biarkan saja, mana tahu jadi partner dia,"


Baros mendekap Maride, tahu apa yang ada di kepala istrinya. Bagi Baros, dia tidak akan pernah bermain nakal, apalagi menikmati tubuh yang tidak halal baginya. Baros dan Leo sama sama menjaga. Jika satu yah satu. Kecuali khilaf atau sangat mendesak, itupun tidak pernah mereka lakukan.


🌹🌹🤧🔥


Berbeda dengan Leo dan Paras, pasangan mesum itu justru tengah asyik menikmati malam yang panjang tanpa kenal lelah. Suara suara merdu sangat indah terdengar dikamar yang luas itu, sehingga mereka benar benar menyatakan CAPEK.


Paras enggan melepas siunyun dari incubator, baginya, hanya milik Leo yang sangat menyejukkan dunia persilatannya.


"Kamu kok manja lagi?" tanya Leo mengusap lembut punggung istrinya.


"Hmmmm aku takut kehilanganmu Leonal," rengeknya manja.


"Yang mau pergi dari kamu tu siapa? aku justru akan bahagia jika ada baby lagi sayang. Aku akan menjaga anak kita dan menyayangi kamu. Berilah aku anak yang banyak, biar kita bahagia. Kamu tahu Mami hanya satu, Papi sebatang kara. Anak Mami cuma dua. Naaah, anak aku masak cuma empat? kalau nambah lagi pasti kita akan bahagia. Sempurna menjadi keluarga besar. Anak anak juga sudah aman. Tinggal melanjutkan perusahaan Opung Pardede, jika kita sudah siap," jelas Leo panjang lebar.


"Aduuuh, kamu seeh enak! tinggal celupin, yang hamil tu aku, Bowl,"


Paras melepas si unyun dari miliknya, beralih meringkuk ke pelukan Leo.


"Yang hamil kamu, tapi yang ngumpulin pundi pundi siapa? yang mutar otak sampe pagi atau bahkan ngadapin orang iseng siapa? kamu hanya stay di rumah, nggak usah kerja juga aku senang. Bagi aku kamu adalah segalanya. Ratu ku, ibu dari anak anak kita. Stefan, Steiner, Stevie dan Stela. Aku benar benar bahagia jika kamu hamil lagi sayang. Percayalah, ini akan memperkuat pernikahan kita dari segala tantangan yang akan lebih besar muncul di kemudian hari," jelas Leo menenangkan istrinya.


"Hmmmm,"


Paras mendekap tubuh kekar itu, menikmati hembusan nafas Leonal yang sangat menyejukkan jiwanya.


"Tidurlah, besok kita ke pabrik!" kecup Leo pada bibir Paras.

__ADS_1


Cinta yang semakin dalam antara Paras dan Leo, tidak pernah menjadi masalah bagi Maride dan Baros. Begitu juga Faisal dan Kirai. Bagi mereka, anak anak bisa menyelesaikan masalah mereka dengan caranya.


🌤️Pagi menjelang menyambut kehangatan Keluarga kecil Leonal, semua di sibukkan dengan aktivitas masing masing dirumah mewah itu.


Paras seperti biasa telah menghabiskan waktu bersama baby four sebelum melanjutkan pekerjaannya. Tentu di temani Laura dan Willion yang sangat senang bermain bersama baby four.


Baros mendekati Paras yang tengah asyik berjemur di dekat kolam renang.


"Paras," sapa Baros.


Paras sedikit terkejut, karena sangat jarang Baros menghampirinya.


"Ya Pi,"


Paras meletakkan Baby Stela yang tengah berada di pangkuannya di dalam box baby.


"Leo mana?" tanya Baros.


"Hmmm di kamar sepertinya, baru selesai mandi," jelas Paras menatap wajah Baros yang masih gagah di matanya.


"Aku sudah mengamankan Ina, mungkin untuk sementara waktu Leo akan sering ke Kalimantan bersama Sinta dan Papi. Jadi, untuk sementara waktu kamu di sini dulu bersama Berlin dan Luqman. Mami juga akan ikut bersama," jelas Baros.


Paras terdiam, " bagaimana kalau aku benar benar hamil? nggak mungkin aku jauh dari Leo," jujurnya menatap lekat wajah mertua.


Baros terdiam, dia semakin bingung. Wajahnya tampak seperti memikirkan sesuatu. Tidak mungkin dia menjauhkan Leo dari istrinya. Sehari saja nggak ketemu mereka gila, apalagi berminggu-minggu, batinnya.


"Begini saja, jika kamu memang hamil, saya akan langsung pegang disana bersama Mami, atau kamu ada teman yang bisa di percaya untuk memegang Kalimantan. Sepertinya jika orang yang salah akan menjadi masalah baru untuk kita," jelas Baros masih berfikir.


"Gini saja Pi, untuk sementara Papi dulu yang pegang sama Mami. Cari disana orang kepercayaan. Aku yakin pasti ada yang mau mengabdi sama kita," senyum Paras menenangkan pikiran mertuanya.


"Hmmmm ya, jadi besok Papi dan Mami berangkat dulu sama Sinta. Kalian urus disini dulu," senyum Baros.


"Bawa Luqman saja Pi, biar Sinta ada temen juga," jelas Paras.


"Nggak usah kasihan Berlin," tepuk Baros pada bahu Paras.


Maride melenggak lenggok mendekati suami dan menantunya.


"Gimana? udah ada solusi?" tanya Maride melihat penuh cinta pada baby four yang tengah berada di pangkuan Willion dan Laura.


"Udah, kita berangkat besok. Tidak mungkin kita menunda opening disana," jelas Baros.


Maride mengangguk setuju, baginya apapun keputusannya, dia harus mengajarkan Sinta untuk menjadi wanita tangguh berikutnya.


Semangat Keluarga Baros, 😎


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2