
Berbeda dengan Baros di suatu tempat di sudut kota metropolitan. Dia tengah menghabiskan waktu bersama Ina, Loide dan Simon.
"Hayooo ngapain Papi Baros disana?"
Yah, dia ingin menghabisi si Ina tanpa belas kasih. Baros semakin sakit hati karena mendengar perkataan Ina dia ingin memiliki Leonal. Kejujuran dari bibir janda cantik, tapi memilih menjadi wanita sampah untuk menghancurkan Keluarga Baros bersama Silutak dengan bayaran tertinggi.
Bayaran yang di janjikan, menemani Silutak saat butuh asupan nutrisi selama mendekam di penjara, membuat hati nurani wanita itu tidak mampu berfikir jernih. Uang adalah segalanya bagi Ina. Mendengar Leonal pewaris tahta yang akan melanjutkan dunia bisnis Maride dengan segala kepiawaiannya membuat Ina sangat tertarik bahkan mau menjadi istri kedua untuk Leo.
Tentu menjadi kesakitan baru bagi Baros, mendengar kejujuran wanita itu. Ingin sekali dia menjadi pelaku memporak porandakan wanita itu, tapi dia mengingat Maride. Kekasih, sahabat, teman, istri, bahkan ibu dari kedua anaknya.
"Aku tidak akan mungkin melakukan ini sama dia," batin Baros.
"Loide, Simon, hajar! akan aku jaga, buat dia mendesah, aku pengen dengar," perintah Baros tanpa rasa belas kasih.
"Baik Bang,"
Orang suruhan Baros sangat lahap menikmati wanita dihadapannya. Dari berpakaian lengkap kini tanpa penghalang mempertontonkan lekuk tubuh yang sangat indah. Eneeen yang pas di tangan Loide dan Simon, bentuk incubator yang hmmmm, sangat terawat karena profesi.
"Hmmmmm, enak kali bang," racau Loide saat memasuki area lembah melewati pegunungan bebatuan hingga membuat matanya Ina enggan terbuka.
"Aaaaagh lepas," teriaknya.
"Lepas kau bilang! udah masuk semua baru minta lepas,"
"Aaaaagh," erang keduanya sama sama menikmati.
"Mana ada orang di perkaos bahagia, ini malah tersenyum. Bang ke bang ke!" ucap Simon.
"Kau mau? kalau nggak aku nambah ini!" ucap Loide masih bergoyang diatas tubuh Ina membuat wanita itu mendesah hebat.
Bagaimana tidak, milik Loide lebih besar dari kepunyaan Silutak, bahkan mampu memberi sensasi yang berbeda.
"Nggak aaagh, eneeennya nggak padat," tegas Simon membuat Loide memperhatikan eneen Ina.
"Lumayan ini, kalau mau cari kaki kaki padat, kau tanya Leo, anak Bang Baros. Aku lihat Kak Paras semakin padat semakin kencang, pantas dia di kejar kejar Silutak terus," racau Loide masih menggoyang.
Ina justru sangat terangs ang tanpa mendengar ucapan Loide dan Simon. Membuat tubuhnya benar benar berguncang hebat dibawah kungkungan Loide.
"Aaaagh Bang, lepas bang," ucapnya penuh keenakan.
Baros semakin jijik mendengar suara ******* Ina seperti tidak ingin berhenti.
"Apa kau akan menghubungi suamimu?" tanya Baros sedikit memelintir p ut i n g Ina yang terbuka lebar.
"Nggak Tuan, maafkan saya. Saya khilaf," ucapnya dengan mata sayu tanpa malu karena bagian bawahnya masih di nikmati oleh Loide.
"Aku peringatkan kau, jangan kau rusak Keluarga Baros! ini baru yang pertama, jika kau mengganggu kami, akan lebih sadis dari ini," ucap Baros memilih berlalu meninggalkan Loide dengan siunyun masih tertanam di incubator milik Ina.
"Aku pulang, kau selesaikan atau kau bunuh, kau atur, tanpa jejak," tepuk Baros pada bahu Loide.
__ADS_1
"Jangan di bunuh bang, aku bawa pulang yah, buat partner ranjang," ucapnya.
"Terserah, yang penting jangan sampai kau kenak penyakit,"
Baros meninggalkan Loide dan Ina, membawa Simon bersamanya.
"Bang, apa kita lepaskan saja Silutak?" kejar Simon saat keluar dari hotel.
"Nggak usah, tuntut dia 20 tahun penjara. Cari kesalahan. Kerja sama dengan petugas penjara. Aku tidak ingin melihat anjing itu bermain main aktif di luar hingga mengganggu anak dan cucuku," tegas Baros membuat Simon mengerti langkah apa yang akan dia lakukan.
"Baik bang, aku akan menuntutnya," jawab Simon.
"Aku pulang, kau cari wanita yang padat untuk diri sendiri! biar nggak macam tempoyak aku lihat wajah kau," kekeh Baros.
Simon terkekeh geli, mendengar ucapan Baros membuat bulu kuduknya sedikit meremang karena mengingat adegan hot Loide dan Ina.
Kacau kacau, itu ngasih pelajaran atau ngasih enak yah, ha-ha-ha.
.
.
Berbeda sekali dengan adegan hot Paras dan Leo. Entahlah, dari jam pulang kantor hingga pukul 21.30 mereka belum menampakkan puncak hidungnya. Angin apa yang membuat mereka enggan keluar dari kamar.
"Bang Leo," panggil Maid sambil mengetuk.
"Hmmmm apaan seeh?" teriak Leo dari dalam kamar.
"Ya, sebentar," jelas Leo.
Leo dan Paras hanya butuh ketenangan saat ini. Setelah lelah mendengar semua berita yang mereka terima, sepertinya kepala itu penuh dengan semua permasalahan hingga enggan untuk bersosialisasi dengan keluarga.
"Nduut," kecup Leo.
"Hmmm,"
Paras masih enggan membuka mata sedikit melirik ke arah Leo, mengecup bibir suami yang ada dihadapannya.
"Kita makan yuuuk, aku lapar. Mami dan Laura ada di sini," jelas Leo.
"Ya,"
Paras mengambil penutup tipis tubuhnya, mengikat rambut coklat sedikit tinggi.
Leo yang terpesona dengan leher mulus milik Paras membuat dia kembali mendekat, "kamu cantik Ndut," bisiknya.
Paras tersenyum, "mau makan atau nambah lagi?"
Paras membalikkan tubuh gemuknya.
__ADS_1
"Makan dulu, baru kerja lagi," kekeh Leonal mengecup lembut bibir istrinya.
"Yuuuk,"
Mereka keluar kamar, mencari keberadaan baby four ternyata sudah terlelap di kamar mereka. Paras mencium aroma baby sangat menyejukkan hati dan jiwanya.
"Sehat semua anak Mama," bisiknya.
Salah satu baby sitter mendekati Paras, "Bu, Stela sepertinya alergi susu yang ini," tunjuknya pada susu sapi yang sudah tersedia.
"Hmmmm,"
Paras melihat, kadar yang tertera, benar saja, terlalu banyak mengandung protein dan lemak hewani. Stela lebih ke kadar hewani dan protein rendah, tapi tidak bisa soya.
"Besok saya hubungi dokter anak, tanya susu mana yang bagus. Saya pikir Stela sama dengan yang lain, ternyata dia vegetarian," kecup Paras pada Stela.
"Baik Bu, jadi malam ini saya ngasih apa? asi ibu sudah habis, terakhir sore," jelas baby sitter.
"Saya bingung Mba, ASI saya tiba tiba berhenti semenjak pulang dari Jerman," jujur Paras.
"Coba Ibu periksa, biasanya emang sudah stop sendiri, ada juga faktor kehamilan," jelas baby sitter.
"What?? hamil???"
Paras berusaha mengingat kapan terakhir dia periode. Ini sangat membingungkan bahkan meresahkan.
"Nggak, aku nggak mau hamil! jangan kotorin pikiran aku dengan kehamilan! baby four masih kecil, masih juga 4 bulan, masak mau hamil lagi!" rungutnya.
Leo yang sejak tadi menunggu Paras di meja makan, menghampiri istrinya, "Nduut, kenapa?" tanyanya.
Paras menarik nafas panjang, menelan salivanya, membayangkan bagaimana kehamilannya setelah ini.
"Nggak mungkin aku nggak hamil kan Bowl?" tanya Paras panik menatap ke arah Leo.
Leo menaikkan kedua alisnya, mencoba mengingat kapan terakhir kali istrinya periode.
"Hmmmm baru telat seminggu kayaknya Ndut," jawab Leo enteng.
"APA???"
Paras seperti ingin meremas si unyun yang tidak pernah lelah diatas tubuhnya. Jika hamil lagi, kapan akan merawat tubuh, batinnya memeluk Leo.
"Kamu tenang saja, besok kita cek ke Fredy yah? pulang dari Bogor. Kita bawa Yani, biar kamu ada temen saat di pabrik," jelas Leo.
Paras mengangguk setuju.
"Jangan hamil dulu yah, baby four masih unyil,"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️