
Albert berlalu meninggalkan kediaman Leonal, menuju apartemen milik Yani. Dia tahu gadis Manado Sunda itu tidak akan membukakan pintu untuk dirinya. Perlahan Albert menekan password apartemen, mengendap endap memasuki apartemen seperti maling yang akan merebut sesuatu berharga disana.
“Apa yang kau lakukan dirumahku?” tanya Yani muncul dihadapan Albert.
Deg,
Albert tertegun melihat gadis cantik itu ada dihadapannya, dia menelan saliva menarik nafas dalam menatap mata Yani sangat lekat.
“Maafkan aku, aku hanya ingin minta maaf sama kamu, bukan untuk ribut. Aku akan kembali keapartemen Paras,” senyumnya menunduk dengan perasaan bersalah.
“Ya, silahkan pergi! karena aku tidak membutuhkanmu, selamat malam,” Yani berlalu meninggalkan Albert masuk kekamarnya.
Albert tidak bisa menahan wanitanya, dia sangat menyesal apa yang telah dia lakukan pada Yani. Keinginan pernikahan yang dia janjikan, gagal sudah. Yani justru tidak ingin meneruskan hubungan mereka.
“Damn! ****,” teriak Albert frustasi memilih untuk tetap tinggal diapartemen Yani, tanpa memikirkan wanita itu akan mengamuk esok pagi.
.
.
Dikediaman Leo justru kedatangan Berlin dan Luqman bermain dengan keponakannya. Selama ini Berlin lebih banyak menghabiskan waktu mengurus kediaman baru mereka, sehingga ketinggalan berita tentang Albert dan Yani.
“Lo serius kak? Yani gagal menikah? padahal aku sudah senang sekali dia menikah dengan Albert. Ganteng, mapan, lucu,” kekehnya menggoda Luqman.
Luqman menggelengkan kepala memilih meninggalkan Paras dan Berlin menuju kamar sahabatnya yang sedang dilanda mabuk akut tidak terkira.
Cekreeek,
Ya, saat memasuki kamar mewah itu terlihat Leonal tengah mabuk berat, sehingga tidak berhasil bangkit dari ranjang kingsizenya.
Luqman terkekeh geli melihat Leo tengah bergulung, meringkuk diranjang kamar, “kenapa Lo?” tanyanya terkekeh geli melihat sahabat seperti ayam potong akan menunggu kematian.
“Bangsat, gue doain Lo mabuk kayak begini kalau Berlin hamil,” ucap Leo kesal.
Luqman semakin terkekeh geli, justru dia senang melihat Leo tersiksa sepeti ini.
“Emang Mba Paras hamil berapa bulan? sampe Lo kayak gini dropnya,” tanya Luqman.
“Kalau enggak salah ini bulan ketiga, udah jangan bawa gue ngobrol, puyeng!” Leo melempar bantal kecil kearah Luqman yang tertawa sebelum meninggalkannya.
Luqman tersenyum mencari keberadaan Berlin dan Paras, dia bertanya pada Maid, ternyata istri dan kakak ipar sedang keluar membeli makanan cepat saji bersama sopir.
“Hmmm, terpaksa gue nunggu dikamar Leo saja. Dengerin bacotannya.”
__ADS_1
Luqman kembali kekamar Leo, melihat kembali sahabat yang tengah berbicara melalui telfon selulernya.
“Beliin aku ice cream yah, sama humburger,” ucapnya dibalik selimut.
“Aku ayam,” bisik Luqman dari arah belakang Leo.
“Hmmm, Luqman minta ayam empat, buat aku satu,” jelas Leo menutup telfon dan meletakkan handphone dinakas.
Leo mengalihkan pandangan pada sahabat yang selalu setia menemaninya disaat sakit ataupun kesulitan. Pandangan sendu bahkan enggan membuka mata kembali.
“Mau gue pijitin nggak?” tanya Luqman.
“Enggak usah, gue udah mendingan,” ucap Leo menolak tangan Luqman sudah sampai ditengkuk belakangnya.
Leo menolak, “sana! gue normal yah, jangan pegang pegang!” teriak Leo membuat Luqman semakin menggodanya.
“Aaaagh, Lo! diapartemen sering gue rawat kok, masak sekarang Lo bilang geli?” rungut Luqman menimpuk Leo pakai bantal yang ada didekatnya.
Leo berusaha duduk bersandar dikepala ranjang, menahan dengan bantal, mengambil air putih yang terletak dinakas, kemudian meminumnya.
Luqman yang tengah duduk dipinggir kasur menanyakan nasib percintaan sahabat mereka Yani.
“Gimana Yani? jadi nikah?” tanya Luqman penasaran.
“Jujur gue kasihan sama sahabat kita itu, dia lebih memendam rasa sakit hatinya dengan menghabiskan waktu bersama Paras dan baby four,” jelas Leo.
“Ck, gue juga denger dia nangis dari Berlin kemaren, biasa ada Sinta. Sekarang dia sendiri tanpa siapapun. Gue takut dia bunuh diri,” kekeh Luqman.
“Nggak mungkin Yani berani melakukan hal sebodoh itu,” bantah Leo.
“Hmmm, see mereka akan menikah,” ucap Luqman meyakinkan Leo.
“Kita tunggu saja, Yani itu wanita hebat. Sama seperti Paras,” jelas Leo.
Luqman mengangguk mengerti, kedekatannya beberapa waktu lalu dapat memahami bagaimana pribadi Yani dengan segala keegoisan yang dia miliki. Yani adalah wanita yang menginginkan kebebasan dalam berkarir dan meraih cita citanya sebagai seorang wanita tangguh luar biasa. Butuh waktu lima bulan Luqman bisa memahami gadis Manado Sunda itu. Tidak menunggu lama Berlin dan Paras kembali, membawa makanan yang dipesan Leo kekamar.
“Bowl, aku fikir kamu masih merasakan mual?” tanya Paras.
Leo memeluk perut, Paras meringkuk dipaha padat istrinya dengan sangat manja, “suapin Ndut,” rengeknya membuat Luqman dan Berlin merasa geli.
“Lo bangun kenapa seeh? geli gue,” rungut Luqman.
Leo semakin mencium perut Paras dengan segala kemanjaan yang ada. Seumur hidup tidak pernah dia dicintai seperti ini, kegagalan yang iya alami membuat memilih menikah dengan wanita dewasa sepuluh tahun diatasnya.
__ADS_1
Maride dan Baros baru selesai melakukan adegan ranjangnya, menghampiri anak menantu dikamar Leonal.
Cekreeeek,
“Mami?” sapa Berlin sedikit kaget dengan kehadiran Maride.
“Hmmm, kasih Mamak makanan kalian dulu, lapar aku setelah melayani Baros,” kekehnya tanpa ada perasaan berdosa.
Keempat anaknya saling tatap, merasa malu dengan kelakuan Maride yang tidak pernah menutupi apapun perasaannya.
“Mami mau apa?” tanya Paras.
“Berger saja, sudah lama aku enggak makan yang begini,” tawa Maride menggelegar ditiap sudut kamar.
“Papi mau apa sayang?” tanya Maride menyuapkan berger kemulut Baros.
“Ini saja, enggak mau makan malam yang banyak, nanti Papi gendut,” kekeh Baros.
Maride membulatkan kedua bola matanya, “kau nyindir aku, Baros?” geramnya.
Baros tertawa memeluk istri kesayangannya, mencium kening Maride membuat Paras dan Leo saling tatap, begitu juga dengan Luqman dan Berlin.
“Udah yah Papi tidur deluan, capek! besok mau ke Kalimantan mengurus Sinta dan Loide disana,” jelasnya pada anak menantunya.
“Mami ikut Pi?” tanya Berlin.
“Enggak, Mami mau ngurusin Yani dan Albert,” jawab Baros berlalu keluar dari kamar.
Mata keempat anak menantunya saling tatap. Seberat inikah masalah Yani dan Albert? pikiran mereka sama.
Tidak menyangka bahwa Albert akan mengecewakan Yani. Semoga ada jalan keluar yang baik bagi hubungan keduanya.
.
Disisi lain Fredy justru tengah berat berfikir untuk mengikhlaskan hubungan Albert dan Yani. Baginya pernikahan Yani dan Albert tidak boleh berlangsung karena perasaan Fredy yang tidak bisa terima kenyataan bahwa mereka saling berharap.
“Ini gila, jika dibiarkan pasti aku yang akan terluka dengan pernikahan keduanya. Aku harus menghentikan hubungan Albert dan Yani, harus!” batinnya menutup wajah tampan itu dengan kedua telapak tangan yang hangat.
Bukan hal yang mudah untuk melupakan Yani, jatuh cinta pada pandangan pertama sangat memilukan bagi Fredy jika harus membiarkan wanita itu menikahi orang lain, apalagi abang kandung sendiri.
Sabar yah Fredy, semua akan indah pada waktunya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️