Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Jalan jalan


__ADS_3

Paras mengelilingi rak cemilan sepanjang pusat perbelanjaan. Dia mengambil beberapa coklat dan minuman kotak mengandung buah. Baginya saat ini dia hanya ingin membahagiakan diri sendiri tanpa memikirkan Leonal yang sejak tadi berusaha menghibur hatinya.


"Ndut, aku beli ini yah?" Tanya Leo menunjuk salah satu minuman ber-alkohol.


Paras tak melarang, tidak juga berkata iya. Dia hanya diam tersenyum tipis acuh tak acuh. "Di rumah masih banyak, malah mau beli lagi! Pemborosan!" Bisik Paras dapat di dengar oleh Leo.


"Hmmm, ini deh!" Leo menunjuk susu UHT yang biasa di buat minuman segar oleh si mbak asisten rumah tangga mereka.


"Ya, ambil aja seeh! Biasanya juga nggak izin! Tumben sekarang minta izin!" Jawab Paras masih sinis.


"Eehm, ini deh!" Leo tidak mengacuhkan omelan istrinya.


"Terserah," Paras masih mengambil beberapa cemilan yang menggugah selera Leo.


"Ndut, kita jalan jalan yah? Ke Puncak? Nanti aku izin sama Mami! Aku kangen ngabisin waktu sama kamu berdua." Peluk Leo dari belakang membuat Paras merasa nyaman diperlakukan baik oleh Leo.


"Kamu enggak nyembunyiin apa apa dari aku kan Leonal?" Rungut Paras masih penasaran.


"Enggak Ndut, semua udah aku bereskan! Aku mau kamu saja saat ini sama aku! Jangan cemberut. Kamu mau beli apa lagi? Baju baby? atau baju kamu? Daster, daster, atau lingery?" Goda Leo.


Paras mencubit perut suami yang menyebalkan itu, "iiiighs genit, sana jauh jauh!" Geram Paras. "Kamu tuh suka banget ngegombal aku kalau lagi begini!" Sungut Paras masih kesal.


"Kan genitnya sama istri sendiri, lagi hamil pula! Semakin cantik dan bohai lagi!" Kekeh Leo menepuk bok*ong montok Paras.


Paras membelalakkan matanya, membuat Leo semakin gencar menggoda istri cantiknya itu. Rambut Paras yang tergerai, sengaja dicepol tinggi oleh Leo dengan sangat rapi dan telaten. Leo sengaja memberi perhatian kecil pada Paras saat ini lebih insecure dari sebelumnya.


"Hmmm, makasih Bowl!" Cubit Paras pada wajah berbulu suami terkasihnya.


"Sama sama sayang! Kamu mau beli apa lagi? Apak sama Amak dimana? Kok dari tadi ngilang?" Tanya Leo celingak celinguk mencari keberadaan mertuanya.


Mereka mencari keberadaan orang tua Paras, berjalan santai menghampiri mereka ternyata tengah memilih ikan dan sayuran.


"Mak, tolong pilihkan udang." Ucap Paras pada sang ibu.


"Yang gadang atau yang sedang?" Tanya Kirai memberi pilihan.


"Kamu mau yang mana Bowl?" Tanya Paras.


"Dua duanya aja! Aku mau yoghurt!" Leo mengambil beberapa cup yoghurt.

__ADS_1


"Tapi mau ke Puncak, ngapain beli disini!" Jelas Paras.


Leo menatap sendu wajah Paras, "maunya sekarang!" Tawa Leo.


Paras mengangguk.


Sekian lama mereka berkeliling supermarket membeli beberpa kebutuhan rumah dan pribadi, troli yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh, mereka menuju kasir. Tentu Faisal dan Kirai membeli beberapa makanan dan kebutuhan mereka tanpa perasaan sungkan. Mereka baru merasakan kedamaian dikota metropolitan itu.


Leo membayar semua belanjaan mereka, sopir membantu membawakan troli lebih dulu karena Paras ingin mengambil sesuatu pesanan dia dan Berlin di lantai yang berbeda.


Faisal dan Kirai mengikuti langkah anak menantunya dengan sangat santai. Hingga mereka memasuki salah satu butik milik sahabat Paras.


Leo membayar semua belanjaan Paras tanpa ada pertanyaan. Baginya Paras harus bahagia, tanpa ada perasaan curiga atau apapu.


"Mau beli apa lagi Ndut?" Tanya Leo mengusap lembut punggung istrinya.


"Kamu mau nggak beliin Apak dan Amak sesuatu?" Tanya Paras sedikit berbisik.


Leo terkekeh, melihat kedua mertuanya sangat romantis di belakang mereka. "Emang Apak mau apa, hmmm?" Tanya Leo menggoda puncak hidung Paras.


"Sapi dari Swiss!" Kekeh Paras berbohong.


"Iiighs, enggaklah! Aku bercanda. Apak mau sama kita dulu. Yah, nanti aja pas pulang kita ngasih apa gitu." Jelas Paras pada Leo.


"Ya udah, nanti kamu kasih tau aja sama aku mereka mau apa! Kalau aku mampu, aku akan kasih." Jelas Leo mengecup punggung tangan istri cantiknya itu.


Leo melirik jam di tangan kanan, menunjukkan pukul 17.45 waktu Jakarta. "Kita pulang yah?" Bisik Leo.


Paras mengangguk, tak lupa menelfon Berlin agar menyambangi rumah mereka untuk mengambil pesanannya.


Setelah mengantarkan kedua orang tua Paras, Leo melanjutkan perjalanan mereka ke Puncak. Tentu menghabiskan malam disana berdua untuk berbulan madu. Sekian lama mereka menikah bisa dikatakan jarang menghabiskan waktu berdua seperti saat ini.


"Kalau kamu capek kasih tahu yah! Aku pengen berdua aja sama kamu disini." Bisik Leo di telinga Paras menikmati keindahan Puncak malam ini.



Leo sengaja membawa Paras untuk menikmati dinner romantis di salah satu restoran hotel mewah tempat mereka menginap.


"Kamu temanin aku minum aja yah! Besok pas pulang, kita makan durian!" Bisik Leo di telinga Paras.

__ADS_1


"Kamu! Kamu kenapa buat acara begini Leonal! Indah banget." Rengek Paras pade lengan Leo, memeluk tubuh suami tercintanya.


"Selama kita menikah, kita hanya menghadapi masalah sayang! Aku nggak mau kamu sedih, nggak mau kamu strees, nggak mau kamu di sakitin orang lain. Kamu ibu dari anak anak ku Paras. I love you!" Kecup Leo pada punggung tangan Paras, membuka kursi untuk sang istri terbaiknya.


"Hmmm, I love you too Leonal! Aku benar benar tak ingin kau pergi dari ku!" Ucap Paras dengan mata berkaca kaca.


Leo tersenyum,



"Cheers..."πŸ₯‚❀️


Leo dan Paras menikmati makan malam romantis yang sangat indah.


Tak lupa Leonal memesan menu ringan untuk sang istri. "Jika baby four lahir, kita susul Uni Luna ke Jerman yah? Atau kamu telfon suruh pulang saat pesta adat kita!" Jelas Leo lagi.


Paras tersenyum. "Nanti akan aku hubungi Uni, jika itu mau kamu! Kita bicarakan baik baik!" Ucap Paras tak membantah.


"Jika kamu baik dengan saudara kandungmu, hidup kita akan semakin bahagia sayang! Aku akan membiayai semuanya." Senyum Leo meyakinkan istri tercinta.


Paras menunduk, "bukan soal biaya Bowl! Keadaannya aku pernah bilang sama Uni jangan pernah ganggu kehidupanku atau menghubungi ku, karena aku tidak akan peduli tentang dia. Uni Luna menikah sama orang sana juga nggak di bolehin Apak. Kami nggak di hargai sama orang di kampungku Bowl. Apalagi jika sampai tahu pernikahan kita ini."Jelas Para pada Leo membuat dia larut memikirkan nasib Apak dan Amaknya.


Leo tersenyum, menggenggam jemari istrinya yang berada di meja. "Aku tidak peduli apa kata mereka! Yang aku peduli kamu kamu dan kedua orang tuamu. Ditambah anak anak kita yang ada di kandungan kamu." Jelas Leo menenangkan perasaan Paras.


"Kenapa kamu mencintai ku Bowl?" Paras menatap hezel manik Leo.


"Apa mesti aku katakan kenapa aku mencintai mu?" Goda Leo. "Kamu tau jawabannya Ndut! Kamu tu unik dibanding wanita cantik di luar sana. Selain kamu pintar, kamu cemburuan!" Tawa Leo membuat Paras mencubit suami bulunya itu.


"Kamu tu aneh, nyebelin." Paras cemberut.


Dengan mudahnya Leo membelai rambut istri tercintanya, kemudian mendekatkan wajah mereka dan cup cup cup... "I love you Parassani." Bisik Leo lembut membuat bulu kuduk Paras meremang menginginkan suaminya malam ini.


B e r s a m b u n g....


πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...πŸ™


Setidaknya kalian penyemangatku!

__ADS_1


Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....πŸ€—πŸ”₯


__ADS_2