
Paras menghabiskan waktu bersama Leo dan keempat anaknya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di metropolitan. Sejenak ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya tanpa memikirkan permasalahan yang terjadi beberapa waktu lalu.
Leo sangat senang bermain bersama baby four di salah satu tempat khusus baby. Mereka berbelanja menikmati makanan khas Jepang dan membelikan beberapa mainan untuk buah hati mereka.
"Kita kemana lagi Ndut?" tanya Leo mendorong troli baby four.
"Ke salon yuuuk atau ke apartemen Berlin? kan ada Mami disana," ucap Paras.
"Ya udah, hayuuuk,"
Leo mendorong troli memasuki lift yang sepi menghindari halayak ramai demi kenyamanan baby four, tentu di kawal dua pengawal Keluarga Baros menemani mereka.
.
.
Sementara di kediaman Berlin di Kalibata, Maride asyik bergosip dengan putri bungsunya. Mengenai pertikaian Paras dengan Luna.
"Mamak rasa sudah muak Paras sama kelakuan kakaknya itu," geram Maride pada Berlin.
"Aku kasihan Mi, sama Kak Paras. Dia nangis aja selama di Berlin. Sampai kami nggak berani bertanya ataupun bercanda. Wajahnya sedih aja," kenang Berlin.
"Iiiighs pasti di hasutnya Amak nanti sama si Luna itu, dasar wanita nggak tau malu. Dia yang nyodorkan tembem sama Silutak, Paras yang sakit hati di permalukan Margareta," cerita Maride.
"Iya gitu? terus kenapa Mami bilang sama kami bahwa Kak Paras cinta sama Papi?" tanya Berlin ingin tahu.
"Yaaaa, dia kasih Papi jam tangan rolex terbaru, kau tahu harganya 250jt. Memang hadiah ulang tahun, yaaah aku kaget. Aku tanya, dia jujur cinta sama Papi. Tapi mana pernah dia mau salaman sama Papi, sampai sekarang. Ketemu Papi saja dia menunduk. Jadi aku suka gangguin Papi kalian, buat ketawa. Ternyata Leo yang jatuh hati ampe jungkir balik dibuat si Paras. Biarlah, toh dia gadis baik. Selama Langhai mereka pegang kan pemasukan kita diatas target. Kalau enggak mana bisa kita di undang pabrik sampai 6 orang ke Jerman. Satu kebanggaan untuk ku, nggak sia sia aku gembleng si Paras. Bisa dia aku banggakan. Itu yang membuat kakaknya iri sama Paras. Luna mana bisa kayak gitu, dia cuma bisa ngangkang dapat duit. Itu saja yang dia bisa," jelas Maride panjang lebar di depan Baros, Berlin dan Luqman.
"Huuuuush nggak boleh ngomong gitu. Cucu kita ada perempuan, anak kita perempuan, jangan menjudge orang lain,"
Baros mengingatkan Maride.
"Oooogh iya, lupa aku," kekeh Maride melendot ketubuh Baros.
"Papi nggak pernah suka sama wanita mana pun, hanya bercanda saja ngegodain dia biar Mami cemburu." kekeh Baros mengusap lembut bahu istrinya.
"Sudah hampir 27 tahun pernikahan kami, merintis Langhai Group selama 20 tahun, itu tidak mudah. Mencari orang pintar pintar itu susah di banding hanya orang pintar," tegas Maride.
"Paham kalian maksud ku?" tanya Maride.
"Pintar pintar, bukan pintar tapi bodoh kayak Silutak percuma. Mendekamlah dia di penjara," geram Maride.
"Hmmmm,"
Luqman tersenyum mendekap Berlin di hadapan Maride dan Baros.
Tiiiing tooong,
__ADS_1
Mata mereka saling tatap, "siapa?" pertanyaan mereka sama.
Luqman membuka pintu ternyata Mama dan Papanya bersama Paras dan Leonal membawa serta baby four.
"Oooough kalian ngapain ke sini?" sambut Maride pada baby four.
Baros mengambil kedua cucunya Stevie dan Steiner.
Berlin mengambil Stela, Alpa menggendong Stefan sejak berada di loby.
"Kalian dari mana?" tanya Maride.
"Dari mall Mi," jawab Leo.
Alpa dan Brandon menuju ruang tamu. Rencana mereka ingin menghabiskan waktu melepas rindu pada anak menantu, tapi mesti di kejutkan dengan besan hebring mereka.
"Amak nggak ikut Kak Paras?" tanya Alpa.
"Nggak Ma, Amak lagi ada urusan," senyum Paras.
Berlin bermain bersama baby four, sementara Maride duduk menemani besan.
Paras menyiapkan makanan kecil yang dia beli, dan minuman hangat untuk orang tuanya.
Leo duduk berdekatan dengan Berlin dan anaknya.
Tentu Leo dan Luqman terkejut, karena sebelum Berlin menikah akan memberi apartemen Kalibata untuk Berlin.
"Mi, kok?" tanya Leo.
"Kenapa? apartemen ini kan milik mu? harta itu harus di tetapkan, bukan di beri secara gratis. Mami nggak mau nanti kalian ribut jika umur kami sudah berakhir. Ya, kan Bu?" jelas Maride.
"Bukan gitu, aku memang mau mengurus apartemen ini untuk Berlin sebagai hadiah pernikahannya. Bukan mau bagi gitu saja. Rencana besok mau aku urus. Paras sudah setuju. Lagian apartment Kuningan juga masih ada, apartemen Paras mau di jual sama Yani," jelas Leo.
"Oooough jangan yang di Pejaten, bagus ini saja kau beri pada Yani," bantah Maride.
Paras menatap Leo, menghindangkan makanan dan minuman untuk keluarganya.
"Sini Ndut duduk,"
Leo menarik tangan Paras.
"Mami bilang Yani di suruh beli ini, Pejaten nggak boleh di jual," cerita Leo.
"Ya udah, nggak apa-apa. Lagian ini kan punya kamu sama Sintya," senyum Paras mengingatkan.
"Hmmmm," wajah Leo berubah seketika.
__ADS_1
"Jangan ngambek dong, nggak apa-apa ini buat Yani. Besok kita bilang, lagian Yani nggak ada uang sebanyak itu kan? kalau ini terserah kamu. Aku nerima uangnya saja," kekeh Paras.
Leo mencium pipi Paras di hadapan keluarganya.
"Aduuuh, mesra kali lah Bang Leo sama Kak Paras," goda Alpa.
Paras dan Leo hanya saling menatap.
Alpa menatap Brandon merasa tidak enak dengan pemberian Keluarga Baros yang terlalu berlebihan menurut mereka.
"Aduuuh besan, jangan terlalu. Jujur menikah dengan Berlin saja putra kami sudah sangat sesak dada ini, di tambah di kasih rumah. Nanti apa kata orang," jelas Alpa sungkan.
"Eeeh Mpok, jangan dengar kata orang di luar sana, yang penting anak anak bahagia dapat hidup tenang menjalani rumah tangga mereka dengan bimbingan kita. Saya memberikan rumah karena anak anak ini nggak pernah meminta, jadi saya inisiatif memberikan pada mereka. Jangan sungkan, Luqman menantu kami, berarti anak kami. Dia jadi suami yang baik saja buat putriku sudah sangat bahagia kali kami. Ya kan Pi?" ucap Maride.
Baros tersenyum mengangguk.
"Lagian kami tidak pernah menuntut Luqman untuk memberikan kemewahan pada Berlin. Jika dia mampu kami sangat bahagia. Lagian saya juga mau mendidik Luqman seperti Leo," jelas Baros.
"Syukurlah jika kalian mau menerima anak kami sangat baik," ucap Brandon tersenyum bangga pada besannya.
"Emang bagus sekali lah rejeki keluarga ini, walau banyak masalah yang di publikasikan media tapi kalian tetap kompak. Semoga selalu seperti ini yah Bu," senyum Alpa merasa bahagia.
"Amiin," jawab mereka serempak.
"Ooogh ya, smur jengkol tadi mana Pa?" tanya Alpa pada Brandon.
"Ada tuh, tadi Papa kasih sama Kak Paras," jelas Brandon.
"Oooogh itu smur yah Ma. Berlin kamu ada bahan masakan apa? udah belanja belum?" tanya Paras.
"Belum kak? mau beli apa? biar aku order," ucap Berlin.
"Kamu mau apa Bowl?" tanya Paras lembut.
"Hmmmm udang sama cumi deh," pinta Leo.
"Ya udah, udang sekilo, cumi sekilo, beli di supermarket biasa Berlin, minta drivernya," perintah Paras.
"Iya, baby four mau apa kak? ada kue mereka? eeeegh aku ada coklat dari Bendhard, boleh makan nggak mereka?" tanya Berlin.
"Boleh, tapi yang polos yah, jangan yang ada minuman," jelas Paras.
"Ya,"
Berlin memberi ponakannya beberapa coklat yang sudah di potong kecil, tentu keempat anak Leo semakin bahagia mendapatkan makanan manis dalam pengawasan Luqman.
Bahagiaaanya....🌹
__ADS_1