Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Permintaan maaf...


__ADS_3

Suasana rumah mewah dan megah itu sedang tidak baik baik saja. Terlihat Maride yang tengah menyampaikan permintaan maaf pada besannya atas sikap putranya kepada putri mereka. Begitu besar rasa kecewa Maride terhadap Leo. Hingga dia menangis dihadapan Kirai dan Faisal.


"Maafkan Leo besan, dia terlalu mencintai putri kalian. Tolong jangan membenci Leo putraku," isak Maride.


Kirai mendekati Maride, merangkul erat bahu besannya yang bertubuh subur.


"Jeng, mereka itu hanya salah paham, kami sangat mengerti bagaimana Leo, kami hanya kaget. Semua kaget karena Leo membentak Paras dan sangat mengejutkan. Selama ini mereka sangat romantis dan bahagia, tapi itulah. Terkadang kita tidak mengetahui tentang emosional seseorang bisa tersulut karena masalah kecil," jelas Kirai.


Maride mengangguk mengerti, ulah Leo membuat Paras hampir kehilangan baby twins dan semua karena Leo yang tidak mau mengerti perasaan istrinya dan dunia pekerjaan mereka.


.


Dikamar justru Baros tengah menghajar putranya menjadi rempeyek berderai.


Bhuuug,


Bhuuug,


"Aku sangat menyayangimu Leo! tapi aku tidak ingin kau menyakiti wanita apalagi itu istrimu. Empat anak mu yang di kandungnya susah payah, kau sakiti dia karena keegoisan mu? anak seperti apa kau!" ucap Baros masih memukul dalam perut Leonal.


Bhuuug,


"Am am ampun Pi, ampuuun! aku minta maaf," ucap Leo teebata bata.


Nafas terasa sesak bahkan tersengal karena hantaman keras dari tangan Baros.


"Hmmmm sakit? itu yang dirasakan oleh Paras, Leo," sinis Baros.


"Permintaan maaf saja tidak cukup kau ucapkan untuk istrimu! aku sudah hampir 27 tahun sama Maride, tidak pernah aku sakiti hatinya, tahu kau!" tegas Baros.


"Ta ta tahu Pi,"


Leo masih meringkuk menahan sakitnya bogeman dari Baros tepat di ulu hati.


"Sekali lagi kau buat seperti itu, aku m util asi kau Leonal!"


Baros masuk ke kamar mandi, untuk meredam emosinya.


"Anak ba ngsat! bisa bisanya dia menyakiti wanita lagi hamil. Sama kali kayak opungnya! emosi membludak tidak pakai otak! otak udang, isinya taiiik semua! capek capek aku sekolahkan tinggi, habiskan uang, malah buat malu!" geram Baros.


Baros membasuh wajahnya dan kepala agar merasa adem. Perlahan dia keluar dari kamar mandi, tidak terlihat Leo berada disana.


"Kemana dia?" batin Baros mencari keberadaan Leonal ditiap sisi ruangan.

__ADS_1


Matanya menatap Maride, Kirai dan Faisal di ruang keluarga.


"Mana anak itu?" tanya Baros pada Faisal.


"Lagi di kamar, biarlah dia menyelesaikan masalahnya. Kita hanya bisa menasehati agar dia tenang tanpa harus kita ikut campur Baros," ucap Faisal.


Baros menggeleng, "enggak bisa, dia sudah keterlaluan, seharusnya dia mencari tahu dulu baru bertindak," sanggahnya.


Faisal hanya mengangguk mengerti dengan pemikiran besannya. Baginya ketenangan dalam menghadapi semua tantangan harus dengan kepala dingin, bukan emosi.


.


.


Dikamar yang luas itu, Paras tengah bermain dengan baby four, saling tertawa menikmati kelincahan masing-masing anaknya, di temani baby sitter.


Leo yang tiba-tiba muncul membuat baby sitter segera meninggalkan kamar membawa serta baby four. Wajah lebam Leo membuat baby sitter sedikit takut saat berhadapan dengan majikan.


"Bowl, kamu kenapa?" tanya Paras lembut.


Leo hanya mendekap tubuh Paras, mengusap lembut perut gendut itu dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan aku Ndut, aku khilaf," bisiknya dengan tangisan yang tak terbendung.


"Hmmmm aku maafkan kamu, tapi demi anak anak. Berubah lah! jangan sampai terulang lagi. Selama ini aku sangat memahami mu Bowl, aku mengalah, tapi kamu nggak bisa memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan. Kalau masalah Albert atau Silutak, semua itu hanya masa lalu hidup ku Bowl. Kamu juga punya masa lalu yang aku bisa terima, bahkan bisa aku pahami. Kenapa giliran aku kamu membludak curiga bahkan menghancurkan harapan kita? kamu selalu dengan pikiran kamu! itu yang membuat aku kecewa. Sakit Bowl," isaknya memeluk Leo kembali.


Leo mengusap lembut punggung istrinya, membelai rambut yang tergerai indah dan wangi.


"Aku mencintaimu sehingga melupakan akal sehatku. Aku terlalu bodoh Ndut," kenangnya.


"Aku minta maaf karena ego ku, aku mau kamu masih mau menerima bahkan menutupi semua kekuranganku," mohon Leo lembut.


Paras tersenyum, "aku maafin kamu kok, aku sayang sama kamu, karena Yani sudah mentransfer uang apartemen ke aku," ucap Paras.


Leo melepas pelukannya, "ooogh ya? dari mana dia dapat uang dalam satu malam? apakah dia berkencan dengan Albert? atau Fredy?" tanyanya penasaran.


"Hmmmm aku enggak tahu, mereka ternyata adik kakak, aku juga baru tahu kemaren," cerita Paras.


Leo menaikkan kedua alisnya, "kamu tahu mereka kakak adik? Albert dan Fredy?" tanya Leo pura pura belum mengetahui.


Paras tersenyum tipis.


"Yani membisu, tapi sepertinya Albert serius, buktinya dia yang mengirim uang ke aku dan memberikan bukti transfer. Aku juga baru baca," kekeh Paras mencium bibir suaminya.

__ADS_1


"Maafkan aku Bowl, aku udah nggak jujur dari awal, karena menurut aku semua itu nggak penting," ucapnya.


Leo justru enggan membahas, "kiss me again," mohonnya.


Paras menyambut bibir Leo dengan kecupan terhangat mereka. Benar benar dua insan yang sulit terpisahkan walau masalah mendera. Hanya ada hati mengalah walau terasa patah.


"Makasi Ndut, aku mandi dulu yah? kamu enggak boleh turun dari ranjang sendirian. Kalau ada apa-apa panggil aku," kecup Leo pada kening Paras.


Paras memeluk tubuh suaminya yang sangat dia cintai. Mengalah bukan berarti kalah, memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi dengan cara meredakan emosi mementingkan urusan anak dan keutuhan rumah tangga itu paling utama. Dia melihat perut Leo yang sedikit memar.


"Bowl, itu kenapa?" tunjuk Paras pada perut atas Leo.


"Hmmmm enggak apa apa, hanya sakit sedikit," kecup Leo memasuki kamar mandi menangis disana.


Penyesalan yang mendalam masih terasa dalam benaknya. Coba saja dia mengalah bahkan memahami semua keadaan, mungkin tidak akan terjadi seperti ini, batinnya.


Guyuran air hangat dibawah shower yang mengalir deras dapat menyejukkan akal dan pikirannya saat ini. Mengingat kebahagiaan yang selalu dia ciptakan untuk membahagiakan Paras suatu kebanggaan tersendiri baginya. Hanya satu kesalahan, membuat kebaikan yang tercipta hilang seketika.


"Paras aku akan menebus semua kesalahanku," batinnya.


Lebih dari 20 menit Leo berada di kamar mandi, saat keluar betapa terkejutnya dia melihat Yani dan Albert ada didalam kamarnya.


"Aaaaugh, bisakah kalian keluar dulu?" tanya Leo sedikit terkejut.


Albert tersenyum tipis, "ambil bajumu, pasang di kamar mandi," ucapnya enggan untuk meninggalkan Paras.


"Ba ng ke," rungut Leo mengikuti semua perintah Albert.


Albert tersenyum sumringah, merasakan kemenangan berpihak padanya.


"Makanya, kalau mau bermain jangan sama aku," bisik Albert.


Yani yang mendengar suara kekasihnya hanya menatap sinis pada Albert yang langsung memeluk tubuh mungil itu dihadapan Paras.


"Jangan bilang kalian sudah menghabiskan malam?" goda Paras melihat kedekatan Albert.


"Hmmmmm coba tebak," kekehnya mengacak asal kepala Paras.


"Iiighs jangan pegang pegang," tolak Paras membuat Yani mencubit Albert.


"Genit dia Mba," sungut Yani.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️


__ADS_2