Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Menjelang terbiasa...


__ADS_3

Paras tengah menyusui Stevie di kamar baby four. Sementara Leo tidak muncul di hadapannya sejak pulang kantor. "Mba, Bang Leo udah pulang kan? Tadi aku mendengar suaranya?" Tanya Paras sedikit berbisik.


Babysitter mengangguk, membuka pintu memastikan majikannya sudah kembali atau belum."Mba, Bang Leo udah pulang belum?" Tanya babysitter pada asisten rumah tangga di rumah mewah itu.


"Ooogh, lagi mandi sepertinya! Tadi langsung masuk ke kamar, ada pesan?" Tanya asisten.


"Hmm, Kak Paras nyariin! Nanti kasih tahu aja! Kakak lagi nyusuin Stevie." Jelasnya lagi.


Asisten mengangguk, menghubungi Leo melalui intercom dapur tapi tidak ada jawaban.


Paras meletakkan Stevie diatas ranjang, perlahan keluar menuju kamar mereka. Paras tidak menemui Leo di kamar, "bowl," Panggil Paras dari balik pintu kamar mandi.


"Hmm," Leo membuka pintu dengan mata sedikit tertutup menahan pedih karena busa shampo menyelimuti wajah bulunya.


Paras tersenyum, "mandi dulu deh!" Perintah Paras tersenyum tipis. Jujur dia sangat merindukan si unyun yang menggemaskan. Tapi masih belum bisa mereka lakukan karena Paras masih berlanjut period setelah nifas beberapa hari lalu.


Baby four saat ini telah berusia 2 bulan. Tumbuh kembang baby four sangat signifikan. Ke empat anak Leo dan Paras mulai aktif dan sangat menggemaskan. Wangi mulut baby sangat khas saat mereka meng***** dot dan bern*afsu apalagi ketika tengah menyusu di krakatau milik Paras.


Paras memijat pelan pelipisnya, dia merasa tubuhnya sedikit lelah. Perlahan Paras terbaring di ranjang berharap Leo memeluknya. Perlahan Paras, memejamkan mata.


Paras merasakan kecupan lembut di atas tubuhnya. "Hmmm, uuugh!" Tangan Paras terasa hangat dalam genggaman pria yang sangat dia rindukan. Perlahan Paras membuka pelan kedua matanya, menatap wajah Leo tengah menciumi tubuhnya. "Bowl!" Bisik Paras pelan.


"Sepertinya kamu lelah banget sayang! Kapan kamu mau ke salon hmm?" Kecup Leo pada cerug leher Paras.


"Hmmm, aku masih period. Ntar dulu deh! Masih kasihan sama baby four!" Jawab Paras pelan menatap wajah Leo yang sangat menawan.


Leo tersenyum, "aku yang jagain. Kamu ke salon sama Berlin! Dia tau tuh. Biar kamu lebih rilex Ndut!" Ucap Leo masih membelai tubuh istrinya dengan lembut.


"Aku kangen kamu Bowl. Kangen banget, peluk." Mohon Paras manja.


Leo memeluk tubuh Paras erat. "Kamu kenapa? Kalau ada apa apa cerita yah? Jangan diam." Bisik Leo.


Paras menangis, "aku nggak tau. Aku merasa lelah aja pengen istirahat berdua sama kamu." Isak Paras.


Perlahan Leo mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Sabar yah? Kamu mau masuk lagi ke kantor?" Tanya Leo. "Lusa aku akan menghadiri acara unit baru kita di Jerman. Baru masuk undangan tadi pagi ke email kamu. Kamu mau ikut? Kita cuma seminggu disana." Jelas Leo panjang lebar.


"Kamu rencana pergi sama siapa? Aku mau pergi tapi kasihan baby Bowl." Ucap Paras.


"Kan ada Mami sama Amak, ada babysitter juga. Sekalian kita jalan jalan. Kita nggak pernah jalan keluar negeri time kerja lhoo Ndut! Lagian orang pusat taunya direktur Langhai kan masih kamu." Jelas Leo.


"Nanti deh, aku bicara dulu sama Amak dan Apak." Jawab Paras.


"Tadi aku udah ngomong sama Mami dan Papi, Mami justru senang kalau baby four sama mereka. Mumpung masih bisa di tinggal. Nanti kalau udah gedean dikit malah nangis minta ikut." Hibur Leo menggoda puncak hidung istrinya yang manja.

__ADS_1


"Hmmm, ya deh. Aku ngobrol dulu sama Amak. Biar mereka juga jagain baby four. Jujur berat sayang." Rengek Paras. "Su*su aku pasti akan sakit banget jika jauh dari mereka." Jelas Paras lagi.


"Kan ada pompa Ndut, bisa di bekukan. Aman kok. Jika kamu mau. Kita kerja sambil liburan. Kan bisa ketemu sama Uni juga." Senyum Leo mengusap lembut wajah Paras.


"Kamu bisa aja." Senyum Paras manja. "Cium dong, kangen." Ucap Paras memberikan pasrah bibir se*xynya.


Perlahan Leo mencium lembut bibir Paras. "Huuumfgh!" Paras sangat menikmati membelai lembut punggung Leo yang belum menggunakan apapun selain lilitan handuk di pinggangnya.


Pelan Leo melepas ciumannya. "Kamu semakin manis. Aku suka, nggak pernah berubah." Ucap Leo. "Kamu mau bantu aku hmm?" Bisik Leo pelan.


Paras menaikkan kedua alisnya memahami kemana arah suaminya. "Mes*um iighs!" Cubit Paras pada perut sispack Leonal.


"Aaaugh, sakit sayang. Mes*umnya cuma sama kamu kok. Udah 2 bulan nganggur Ndut!" Rengek Leo. "Kangen!" Tambahnya lagi.


Paras mengusap lembut punggung Leo, kembali mel*umat bibir lembut Leo yang selalu menjadi candu baginya. "Hmmmfgh!" Des*ahan mereka semakin terdengar di seluruh sisi kamar.


Perlahan Paras meraba si unyun, mengusap lembut membuat Leo meng*erang ni*kmat. "Aaagh Ndut!" Erang Leo membuka lebar handuk yang dia kenakan.


Paras mengurut pelan si unyun, merebahkan tubuh Leo di ranjang. Memberikan kepuasan pada suaminya dengan cara or*al. Leo sangat meni*kmati permainan Paras pada si unyun. Berkali kali dia meng*erang melepaskan rasa rindunya pada Paras. Dengan senang hati Paras menerima protein cinta dari Leo di dalam mulutnya.


"Uuuugh uuuweeeek!" Paras berlari meninggalkan Leo yang tampak tersenyum lega menuju kamar mandi. Membasuh mulutnya dari sisa si unyun. "Uuuweek!" Pipi paras meremang sambil terkekeh membayangkan kejadian barusan.


"Ndut, are you oke?" Tanya Leo menghampiri Paras dengan wajah terkekeh geli.


"Hmm, makanya aku ngajak kamu ke Jerman biar kita sekalian bulan madu di negeri panser itu." Kekeh Leo. "Makasih yah. Aku bahagia, kamu bisa membuat aku lega." Kecup Leo di kening Paras.


"Makasih buat apa? Aku yang harus bilang makasih sama kamu Leonal! Kamu udah baik banget sama aku, sama Apak dan Amak! Kamu selalu memberi aku perhatian lahir dan bathin. Kamu pemuda luar biasa Bowl!" Ucap Paras.


"Hei, dengar.... Kamu paling special, kamu ibu dari empat anak kita! Kamu hebat mengandung mereka! Itu mukjizat sayang! Aku sangat takjub padamu. Jika aku mampu membeli kota ini, mungkin tidak akan cukup Parassani. Kau ibu dari anak anak ku! Kamu wanita super hebat." Peluk Leo.


Paras membalas pelukan Leo, yang mampu menyejukkan jiwanya. "Kamu mau makan? Aku siapkan!" Ucap Paras manja.


"Udang ada? Kamu buatin yang simple mau nggak?" Pinta Leo manja.


"Hmm, Mba kemaren baru belanja. Mau smur jengkol nggak? Aku tadi pesen sama temen, baru mateng dia anter kesini!" Jelas Paras.


Leo meletakkan dagunya di bahu Paras, "apapun yang kamu hidangkan malam ini akan aku makan, asal jangan kaki meja aja kamu serut jadi parmesan di atas udang ku!" Kekeh Leonal.


"Iiiighs, apaan seeh. Kaki meja nggak di serut, tapi di soup!" Jawab Paras asal berlalu meninggalkan Leo.


"Aku di kamar baby four yah Ndut! Main sama mereka." Jelas Leo mengambil baju dalam lemari kemudian menata rambutnya.


Saat keluar kamar Leo melihat orang tua dan mertuanya tengah membawa baby four bermain di halaman belakang area kolam renang.

__ADS_1


"Mami, bukannya anak anak bobo?" Tanya Leo saat mendekat pada keempat anaknya yang anteng di dalam troli.


"Udah dari tadi cucu opung bangun yah nak!" Jawab Maride mengarah ke baby four. "Papa kalian sibuk sama Mama! Jadi opung yang jagain!" Kekeh Maride melirik Leonal.


Leo duduk di kursi santai pinggir kolam, "Aku ke Jerman bareng Paras yah Pi, Pak?" Tanya Leo pada kedua orang tuanya.


"Pergilah kalian, baby four aman. Kirim salam sama Mr.Armin Kube disana." Jelas Maride melirik pada Kirai dan Baros.


Leo memijat pelan pelipisnya, "Papi nggak mau ikut? Kan Papi juga di undang!" Ucap Leo.


"Ck, bilang saja kami sibuk sama cucu! Mereka tau itu. Kan mereka sudah memberi selamat pada Papi mu!" Tambah Maride. "Jangan lupa berkas unit yang rusak di bawa! Biar mereka memberi gantinya pada kalian. Langsung kirim ke Bogor." Jelas Maride lagi di angguki setuju oleh Baros.


Tak lama Paras mendekati Leo membawa sepiring nasi dan udang saos lada hitam. Lengkap dengan sayur dan krupuk udang kesukaan Leonal.


"Kamu makan sendiri atau aku suapin?" Tanya Paras.


"Suapin, pakai tangan!" Ucap Leo lembut.


"Hmmm, aku simbah kau pakai air kolam yah Leonal! Buat malu aja di depan anak mu!" Kekeh Maride geram.


Faisal, Kirai dan Baros tertawa mendengar repetan Maride. Tak pernah ada habisnya tawa canda Maride untuk putra kebanggannya Leonal.


"Pi," Ucap Berlin di hadapan semua keluarganya.


"Iiighs, kau yah butet! Suka kali buat aku jantungan! Mati Mamak kau, nggak ada lagi mainan si Baros!" Kesal Maride menatap Berlin yang datang tiba tiba seperti hantu.


"Kenapa sayang?" Tanya Baros pada Berlin.


"Hmmm, di luar ada hmmm! Eee, ada!" Jelas Berlin sedikit gugup.


"Ada apa? Cepatlah! Aku ceburin kau ke kolam yah?" Geram Maride kemudian berdiri mendekati Berlin.


Berlin menelan salivanya, menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Hmmm, ada orang tuanya Luqman Mi, Pi!" Jawab Berlin.


"APAAAA?" Teriak mereka serempak.


Maride mengacak rambut Berlin, karena kesal tidak memberi tahu terlebih dahulu. "Anak sama bapak sama aja! Sukak kali buru buru!" Omel Maride.


Baros menatap Berlin dan Leonal. "Hmmm, masak anak ku mau nikah secepat ini?" Batin Baros.


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2