
Fredy sesekali menatap ke arah Yani tengah duduk di samping Paras dan Sinta. Sementara Berlin dan Luqman masih sibuk dengan dunia mereka. Sesekali terkekeh berdua membuat para dua wanita berstatus jomblo terasa kesepian.
Leo yang tengah asyik ngobrol bersama Fredy tiba tiba di kejutkan dengan kehadiran Kenndey dan Sintya.
Leo sedikit berbisik pada Fredy beralih mendekati Paras. Tidak ingin terjadi sesuatu, Leo membawa Paras duduk agak menjauh dari Kennedy yang tengah menatap mereka satu persatu.
"Kenapa nggak di lounge aja siih Bowl, biar nggak ketemu sama cucunguk itu," rungut Paras.
Leo mengusap punggung istrinya agar tetap tenang.
Mata Sinta dan Yani tampak kebingungan menyaksikan perubahan Leo dan Paras.
"Itu mantan istri Bang Leo yah?" tanya Sinta pada Yani.
"Ssssst nanti Lo di suruh pulang naik angkot," kekeh Yani.
"Nanya doang cee'," geram Sinta.
Penerbangan menuju Frankfurt telah berkumandang di bandara internasional. Suasana hiruk pikuk penumpang saat mendengar pengumuman bergegas naik ke pesawat dengan segala drama.
Kennedy mendekati Berlin, tapi di tepis oleh Berlin dengan sangat kasar. Sintya tidak terima perlakuan kasar Berlin terhadap suami barunya itu.
"Ciiih, tak sudi gue nerima permintaan maaf laki laki seperti dia," gerutunya sepanjang perjalanan menuju pesawat.
Luqman tersenyum tipis merangkul bahu istrinya dengan sangat erat.
Berbeda dengan Leo dan Paras, mereka enggan menerima tangan Sintya yang berkali kali mengarah ke arah Paras.
"Apa mereka tidak punya malu Bowl? semudah itu meminta maaf tanpa tau dosa mereka?" tanya Paras.
"Sudah, jangan dipikirkan. Kita di pesawat tidur. Mereka nggak bareng kita kan?" tanya Leo sedikit membalikkan tubuh.
"Sepertinya tidak, mereka mau ke Singapura. Pasangan gila. Berdua pernah punya hubungan sama keluarga mu. Aku takut kamu kembali pada wanita cantik itu Bowl," rengek Paras.
Leo menghentikan langkah kakinya, menahan lengan Paras untuk menatapnya.
"Kamu pikir semudah itu untuk berpaling Ndut? dari gadis yang benar benar sempurna. Nggak segila itu Ndut, kita udah punya baby, banyak lagi, empaat! gimana aku mau tertarik sama gadis lain, kepikiran juga nggak Ndut! kamu segalanya bagi aku, nakal dikit boleh dong! naluri laki laki," goda Leo.
"Kalau kamu nakal, kamu tinggal pilih! keluar rumah pakai semp ak doang atau telanjang bulat tanpa sehelai benang pun!" tegas Paras mencubit perut sispack milik suaminya.
"Aaaaugh sakit sayang!"
Leo menangkup pipi Paras melu m at bibir Paras di lorong akan masuk pesawat di hadapan beberapa penumpang.
"Huuuufgh,"
Paras tidak menikmati ciuman yang di berikan Leo padanya, karena perasaan malu. Dia menepuk pelan dada Leo agar melepas perbuatan mesum suaminya. Tak menunggu lama Paras mencubit kembali pinggang Leonal agar melepas ciumannya.
"Aaaaugh sakit Nyonya Leonal," geramnya saat melihat Paras lebih dulu memasuki pesawat.
__ADS_1
Pramugari dan beberapa penumpang lain sempat tersenyum melihat wajah Paras yang memerah menahan malu karena perbuatan suaminya.
"Di kursi nomor berapa ibu?" tanya pramugari.
"Hmmmm 21 bisnis," tunjuk Paras.
"Silahkan ke lantai 2 ibu, nanti ada pihak kami yang membantu," senyum pramugari ramah.
Leo yang berlari mengejar Paras menahan lengan istri agar mereka ke lantai 2 bersamaan.
"Nduut, tunggu aku," peluk Leo di tubuh Paras dari belakang.
Tentu menjadi pemandangan yang sangat lucu bagi pramugari.
"Silahkan bapak, ibu. Saya antar," ucap seorang pramugari mendekati pasutri mesum itu.
Paras merasa tidak nyaman, dia terus berusaha melepas pelukan Leo dari tubuhnya.
"Lepas Bowl," geram Paras berbisik.
"Hmmm nggak," tegasnya.
Paras hanya memejamkan mata, menikmati kelucuan yang di ciptakan Leo sangat berkesan untuk dirinya setiap hari.
"Nomor berapa pak?" tanya pramugari.
"Silahkan," tunjuk pramugari saat tiba di kursi mereka.
Leo membantu Paras meletakkan beberapa makanan ada di tangan istrinya.
"Duduklah, aku letak di sini aja makanan kamu," jelas Leo mencari keberadaan sahabatnya.
"Kak, gue di sini," sapa Berlin.
"Ooogh,"
Leo mengangguk mencari keberadaan Yani dan Sinta.
"Gue di sini Pak Bos," sapa Yani duduk hanya beda 2 bangku dari Paras dan Leo.
Leo mengacungkan jempolnya, "selamat menikmati penerbangan," kekehnya.
Leo menggenggam jemari Paras, melirik istrinya yang tengah menatap keempat buah hati mereka.
"Udah, jangan nangis. Nanti rewel lho," usap Leo menenangkan Paras.
Paras memeluk tubuh Leo sedikit terisak.
"Nanti kalau anak anak udah besar kita ke Jerman lagi yah?" rengek Paras manja.
__ADS_1
"Iya sayang, kita ke rumah nan tulang di Australia, mereka pengen sekali bertemu baby four. Bersama Laura dan Willion kita kesana," janji Leonal.
Paras mengangguk, "bawanya pas musim salju yah, jangan musim panas," kekeh Paras.
"Kita ke sana pas musim durian," goda Leo.
Membuat Paras semakin geram akan kekonyolan suaminya. Paras kembali duduk di posisi semula, menikmati penerbangan yang akan tinggal landas.
Ini kali pertama Paras menginjakkan kaki di negara panser. Walau Kirai berasal dari sana, mereka tidak pernah berkunjung ke kediaman Opa dan Oma. Dia berniat akan menemui semua keluarga Kirai dan juga Luna. Bahkan berniat membawa Luna untuk menghadiri acara syukuran baby four.
Rencana syukuran masih terpending karena kondisi baby four beberapa waktu lalu tidak memungkinkan untuk melaksanakan acara di kediaman mereka.
Leo mengadakan syukuran potong sapi di salah satu panti asuhan dan memberi makan anak anak kurang beruntung atas saran Faisal dan Kirai. Leo melakukan dengan hati bahagia, sehingga baby four kembali ceria atas doa yang diberikan oleh anak panti.
Maride dan Baros sangat bahagia, melihat perubahan Leo menjadi lebih baik semenjak bersama Paras. Kebiasaan baik Paras memberikan dampak kesehatan dan kebaikan bagi keluarganya.
Maride dan Baros semakin di beri rezeki berlimpah dari bisnisnya, kini Baros tengah merekrut orang kepercayaan untuk memegang salah satu cabang di Kalimantan dan Sulawesi. Permintaan Air bus pariwisata tidak main main kepada keluarga mereka sehingga Maride tidak henti hentinya memberi kemewahan kepada baby four.
"Pi, kita pindah aja ke Bandung selesai mangadati yah? biar anak anak menikmati kehidupan mereka," jelas Maride.
Baros menaikkan kedua alisnya. Menatap aneh pada istri gendutnya yang lucu.
"Kenapa? emang kita ganggu mereka? justru aku mau bawa Mami ke Kalimantan setelah mereka kembali," jelas Baros menggigit kuku yang panjang belum di potong Maride.
"Iiiighs kau saja yang ke Kalimantan, aku mau jagain cucu," rungut Maride.
"Tadi Mami ngajak ke Bandung! giliran aku ajak ke Kalimantan cucu kata Mami," jawab Baros.
"Kita kalau ke Bandung bawa cucu lah, kalau ke Kalimantan mana boleh aku bawa cucu ku ini, ya nak! Opung itu jelek yah? berbulu sama kayak Papa, Mama juga gendut yah nak," kecup Maride pada Stefan, Steiner, Stevie dan Stela secara bergantian.
"Hmmm cok dulu Mami ambil gunting kuku anak itu, gunting kan kuku Papi, udah panjang ini," perintah Baros manja.
"Aaaaagh kau kebiasaan yah Pi," geram Maride.
Mengambil gunting kuku, memotong lembut kuku suami tercinta.
"Aaaaugh jangan dalam kali Mami! sakit," teriak Baros.
"Ke salon saja kita, biar besan jaga cucu," ucap Maride berlalu mengambil tasnya.
"Yeees,"
Baros mengangguk setuju karena menjadi suatu kesenangan yang luar biasa baginya. Bisa di elus elus manja oleh Mba salon yang selalu membelai lembut Baros, walau dalam pengawasan Maride....
Hahahaha.....😂
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1