
Maride dan Baros setelah ehem ehem. Matanya tertuju pada keponakannya Laura dan Willion. Melihat mereka tengah bermalas-malasan di depan televisi meringkuk di sofa di temani juice mangga dan chiken nuggets buatan Maid.
"Ngapain kalian tengah malam kesini? nggak ada kegiatan?" tanya Baros duduk di samping Laura.
"Hmmm,"
Laura melepaskan diri dari dekapan Will.
"Kangen sama anak Bang Leo, tapi mereka sudah tidur. Nyenyak kali pun mereka tidur. Nan Tulang, aku bawalah anak laki laki Bang Leo pulang yah? satu aja," rengek Laura.
Maride mendengar rengekan Laura langsung mengusap bahu keponakannya sangat geram.
"Kau pikir cucu ku itu anak kucing? bisa di bawa bawa seenak perutmu," ucap Maride.
"Sedih kali aku, pria mesum ini ternyata nggak bisa ngasih aku keturunan Nan Tulang, spe*rmanya encer karena sering main cewek. Dokter menyarankan kami berobat ke Jerman atau Singapura, tapi malas kali aku kesana. Sayang duit ku, bagus aku adopsi anak Kak Paras," racau Laura membuat Maride terkekeh.
"Jangan kau pelit sama kesehatan suami mu, mana tau sembuh dia langsung punya baby kalian. Cok kau ngomong sama Leo dan Paras, pasti langsung di masukkannya kau ke peti kemas habis itu di kirimnya kau ke Cina," tawa Maride semakin kencang.
Membayangkan wajah Laura dan Willion berada di dalam peti kemas, hahaha.
"Iiiiighs kejam kali lah keluarga ini, besok aku mau ketemu sama dokter preeed. Dia lagi ke Jerman ada pelatihan. Keren kali yah, pelatihan sampai ke Jerman. Ngapalah nggak dokter laki ku dulu, kenapa mesti jatuh hati aku sama suami yang otaknya 11 12 sama Silutak," geram Laura melirik Willion.
Wiilion mencium bahu Laura di depan Maride.
"Tapi sejak kau menghukum Sintya, nggak pernah aku keluar kenalan sama cewek sayang. Aku fokus hanya pada mu, Laura," ucap Willion tanpa malu.
Plaaaak,
Maride menepuk kepala menantu tak tahu diri yang duduk di samping Laura.
"Aaaaugh sakit lhoo," rengek Willion meringkuk ke pelukan Laura.
"Kenapa Nan Tulang tepuk dia?" tanya Laura sedikit kaget.
"Suka suka aku lah, tak ada otaknya suami kau ini! udah nggak bisa kasih anak, rajin selingkuh jujur pula sama istrinya. Eeeegh amang, makan apalah si Doli waktu hamil kau Laura," kesal Maride.
"Iiiighs," rungut Laura memajukan bibirnya.
"Kami nginap di sini, nggak mau pulang aku. Aku bawain ini buat keponakan ku yang tampan dan cantik itu,"
Laura memberi paper bag berisikan baju untuk baby four.
"Hmmmm tumben baik sekali kau?" tanya Maride mencubit paha Baros.
"Biar aku bawa satu keponakan itu," kekeh Laura.
"Hmmmm emang rindu dia masuk ke dalam peti kemas Pi," kekeh Maride dan Baros serempak.
"Tidurlah lagi, kau isi kamar tamu di sebelah kamar Berlin," tunjuk Maride.
__ADS_1
"Jangan merapat pula kalian, ganti sprei pula Maid ku besok,"
Maride semakin menggoda Laura yang masih menekuk kan wajahnya.
Jakarta sudah menunjukkan waktu pukul 01.25 dini hari, Maride meminta Laura menginap di kediaman Leo agar tidak terlihat sepi. Tentu di setujui Laura, karena dia memang kesepian di mansion besarnya tanpa suara anak dari pernikahannya.
Perlahan Maride menutup pintu kamar baby four, stelah mengantarkan Laura ke kamar mereka.
"Sedang apa baby four Mi?" tanya Baros mengusap lembut kepala Maride.
"Aku lihat lagi main bliard mereka," kekehnya menepuk lembut wajah suaminya.
"Apa pula bliard, golf kali," sambung Baros.
"Papiiii, nggak lucu! cukup Mami aja yang suka suka, kau nggak usah. Geli telinga ku mendengar canda tawamu," kekeh Maride.
"Hmmm, lama lama aku mematung ajalah! biar bahagia kau melihat suami mu kayak Willion bodoh itu," rungut Baros.
"Nggak lah sayang, kau pintar. Tadi saja, lama kali kau di pegang pegang Ina gadis salon itu," kekeh Maride.
"Kok?" tanya Baros kaget.
"Iyalah, tersipu sipu dia menggunting kuku mu Baros! meronta tembem ku melihat kau di sentuh wanita lain," rengek Maride memeluk tubuh gagah suaminya.
Baros teringat obrolan dia dan gadis berusia 27 tahun itu.
"Hmmmm boleh juga,"
Maride ikut memikirkan ide dari suami dalam menyusun strategi pengembangan bisnis keluarga mereka.
"Besok kita temuin dia. Gadis itu belum menikah, masih lugu dan Magister lhoo. Aku heran, kok mau dia jadi petugas salon. Sementara banyak perusahaan bonafit yang membutuhkan tenaga mereka, apakah mereka tidak yakin? atau bahkan tidak memiliki kemampuan dalam berbahasa Inggris dan Mandarin," jelas Baros.
"Hmmmm itulah bedanya anak sekarang sama kita dulu Papi, mereka hanya pasrah di suatu keadaan, tanpa melihat peluang besar di luar sana. Awal Paras juga monoton, kegiatannya itu itu saja. Kita kasih masukan akhirnya berhasil dia memegang peran di perusahaan Jakarta. Wanita tangguh seperti itu yang Mami butuh Pi,"
Maride ikut memikirkan.
"Tumben bener kali ini pikiranmu sayang? biasa masih loading," kekeh Baros.
"Udah di kasih enak tadi, tentu pintar aku,"
Tawa Maride memecah keheningan malam, membuat Baros membungkam bibir istrinya agar tidak mengagetkan warga seisi rumah tengah beristirahat.
"Huuuufgh,"
Maride menikmati sentuhan Baros hingga kembali di ranjang peraduan mereka.
.
.
__ADS_1
.
Cuaca yang cerah menyambut Leo dan team di Frankfurt Jerman. Rombongan tiba pukul 14.00 waktu Frankfurt. Suhu udara menunjukkan di angka 20 derajat Celcius, lumayan dingin bagi warga Indonesia untuk menghabiskan waktu disana.
Mereka di jemput oleh pihak yang mengundang, tentu sedikit terjadi masalah, karena ini kali pertama Paras, Yani dan Sinta melakukan perjalanan ke Eropa, membuat pihak imigrasi melakukan karantina kepada mereka bertiga hanya 2 jam.
Leo dan Luqman tidak bisa menolak, karena memang sudah peraturan negara panser seperti itu. Jika sudah menyelesaikan wawancara dan memeriksa keabsahan dokument, mereka akan di perbolehkan masuk ke negara tersebut. Peraturan tetap harus di jalankan, agar tidak terjadi sesuatu yang buruk di negara Eropa lainnya.
"Masuk Netherland begini juga yah, bro?" tanya Leo.
"Semua lah, tapi setelah dari sini kita bebas ke lima negara yang akan di kunjungi turis," jelas Luqman.
Leo mengangguk, memeriksa beberapa pesan dari pihak pabrik atas undangan mereka telah dikirim ke pihak Imigrasi.
"Hmmm sebentar lagi mereka selesai," jelas Leo.
Berlin tengah sibuk mencari cemilan karena perut terasa lapar dan haus.
Leo melirik ke arah ruangan, terlihat Paras dan kedua karyawan akan meninggalkan ruangan imigrasi.
"Hmmmm syukur deh nggak mesti lama," batin Leo.
Paras tersenyum lega memeluk Leonal lebih dulu.
"Aku fikir mereka nggak bisa bahasa Inggris, ternyata semua bahasa mereka bisa," kekeh Paras.
"Kan ada pihak kedutaan yang menangani Ndut, lagian kamu keturunan mereka. Pasti mereka kasih izin karena kamu pulang kampung,"
Leo mengusap lembut punggung Paras.
"Emang Mba Paras blesteran?" tanya Yani penasaran.
"Lo pikir bini gue orang mana?" tanya Leo tersenyum.
"Tapi Padang? kok bisa ke Jerman Mba?" tanya Yani semakin penasaran.
Leo dan Paras hanya tersenyum,
"Kita jalan, pihak pabrik sudah menunggu di depan," jelas Leo.
Leo membawa team keluar dari Bandara Internasional Frankfurt menuju Untertuerkheim lebih dulu. Memakan waktu lebih kurang 2 jam perjalanan.
Sangat indah, melakukan perjalanan dinas sekaligus jalan jalan, menikmati keindahan langit Eropa yang membuat nyaman.
Will come du Duetchland...
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1