Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Cemburu boleh, bego' jangan.


__ADS_3

Leo hanya termenung di ruang tamu. Duduk sendiri merutuki sikap posesifnya.


"Kenapa gue jadi begini? apa hebatnya bule somplak menyebalkan itu? uuuugh," kesalnya mengusap wajah kasar.


Paras yang sudah bersiap sedikit terkejut melihat Leo masih berada di ruang tamu. Wanita gendut itu lebih dewasa dalam menghadapi Leo dengan semua kecemburuannya.


"Mana kado dari dia?"


Leo menengadahkan tangan tanpa mau menatap Paras.


Paras tersenyum tipis, "kita balikin sama sama yuuk," pujuknya.


Leo terlihat sangat sensitif, "kamu mainkan aku Ndut? mana!" pintanya.


Paras merogoh dari dalam tas, menyentuh sebuah kotak kecil yang isinya memang belum dilihat olehnya karena sibuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Dia memberikan dengan sangat tenang di telapak tangan Leo.


Leo membuka kotak kecil berisikan cincin berlian dihiasi permata halus yang sangat indah.


"Woooowh, ini yang kamu bilang nggak ada hubungan, tiba tiba dia memberi cincin yang sangat indah,"


Leo melempar kotak yang berisi cincin kesembarang arah hingga mengenai satu vas bunga yang di beri Laura dari Australia.


Praaaank...


"Kamu pikir aku bodoh Paras! apa yang aku fikirkan baik semua tentang kamu ternyata ini balasan kamu ke aku? kamu anggap aku nggak sanggup beliin itu? lebih dari itu aku bisa belikan Paras. Kecewa aku sama kamu! cara kamu menghadapi dia sangat berbeda, jika kamu memang nggak suka kenapa kamu terima! kamu nggak lebih dari cewek matre di luar sana!" teriak Leo menggelegar di tiap sudut ruangan.


Faisal dan Kirai saling tatap, begitu juga Maid dan baby sitter. Baby four yang tengah tenang bersama nenek dan kakek tiba tiba menangis kencang merasa gelisah seperti perasaan kedua orang tuanya.


Cincin yang indah pemberian Albert sebagai kado entah dimana mendaratnya.


Bibir Paras seketika terkunci, hanya air mata yang mengalir deras tanpa dia sadari. Terkenang kejadian beberapa waktu lalu, saat Leo membatalkan pernikahan mereka karena transferan uang 2,5 milyar. Saat ini terulang kembali menghadapi Leo dengan pemikirannya.


"Aku malas ribut, hari masih pagi dan tidak baik untuk kesehatan ku. Terserah kamu, mau percaya atau nggak! yang pasti aku benar benar lelah sama sikap kamu Bowl. Ooogh my God! silahkan kamu pergi deh, nggak usah pulang! tenangin aja kepala kamu, aku nggak jadi ke kantor,"


Paras berlalu meninggalkan Leo yang masih mengatur nafas yang naik turun memilih benar benar pergi meninggalkan rumah. Entahlah, kemana kakinya akan melangkah, yang penting Leo pergi meninggalkan kediamannya untuk menenangkan pikiran dan perasaannya.


Kirai mengejar putrinya, karena kondisi Paras yang tengah berbadan tiga dengan hadirnya baby twins, sementara Faisal menenangkan baby four.


"Paras ado apo?" tanya Kirai.


Paras tersenyum tipis menatap wajah Kirai, "enggak apa apa Mak, cuma salah paham sajo, jangan ganggu Paras dulu yah Mak? Paras nio istirahat," ucapnya masuk kedalam kamar.


"Paras, jan disimpan masalah tu surang, ndak elok," senyum Kirai.


"Iyo Mak,"


Paras menutup pintu pelan, dia menangis sendiri di kamar menutup wajahnya, tanpa mau memikirkan perasaan siapapun. Saat ini yang dia butuhkan hanya ketenangan.


Dua jam Paras mendekam dikamar, tanpa memperdulikan siapapun selain dirinya sendiri, tiba tiba,


Tok tok tok,


"Bu, makan siang!" teriak Maid dari balik pintu.


"Hmmmm masuk saja Mba," jawab Paras enggan beranjak dari ranjang.


Maid masuk membawa beberapa makan siang untuk Paras karena kondisi kehamilan majikan.


"Silahkan Bu," senyum Maid menatap wajah Paras yang sembab.


"Makasih Mba,"


Paras kembali memeluk bantal menutup wajah gendutnya.

__ADS_1


"Makan dulu Bu, mungkin saja Bang Leo cemburu gitu karena ibu lagi hamil! jadi perasaan cemburunya meledak ledak kayak bom atom, jangan di lawan, diamin saja! nanti kalau Bang Leo pulang, Ibu layanin saja seperti biasa. Namanya suami terkadang dia butuh dihargai Bu, apalagi mengenai cincin di kasih mantan," senyum Maid.


"Albert bukan mantan Mba, dia teman saya. Mami tahu kok, udah aaagh, makasih yah Mba," ucap Paras membalikkan tubuhnya agar Maid cepat meninggalkan kamarnya.


πŸ“²Drrrrt drrrrt,


"Berlin," batin Paras.


Paras mengangkat dengan suara berat.


πŸ“ž"Hmmmm ya," Paras.


πŸ“ž"Kak, kakak dimana? Kak Leo ngamuk mulu di kantor, dari lantai 32 di marahin sampe lantai satu," rungut Berlin.


πŸ“ž"Ck biarin aja deh,"


Paras menutup telfonnya.


Handphone berdering kembali, membuat Paras semakin kesal.


πŸ“ž"Hmmmm," Paras.


πŸ“ž"Kak, ini berkas belum ditandatangani lhoo! hari ini mau di jemput pihak pabrik, Pak Albert sudah menuju kantor," rungut Berlin.


πŸ“ž"Ck ya udah aku kekantor sekarang,"


Paras bangkit dari ranjang, memakan beberapa suap makanan yang disediakan Maid, menutup kembali setelah perut terasa kenyang, bergegas menuju kantor. Tentu membawa bekal yang berisikan makanan kecil untuk dia santap selama perjalanan.


Sebelum berangkat Paras menghampiri baby four mengecup bibir anak anaknya secara bergantian dihadapan Kirai dan Faisal. Mengecup punggung tangan kedua orangtuanya, memeluk erat tubuh Faisal sambil menangis pilu.


Faisal hanya selalu berpesan, sabar menghadapi suami. Rumah tangga itu turun naik seperti rolecoster, kadang diatas terkadang dibawah. Bahkan kita juga harus melewati tikungan bahkan getaran hebat. Hanya kesabaran kunci kebahagiaan.


Paras termenung sepanjang jalan, mengusap lembut perutnya penuh kasih sayang.


"Kita turun di basemen atau loby Bu?" tanya sopir.


"Loby saja,"


Paras kembali menutup matanya, sedikit memijat pelipisnya.


πŸ“²Drrrrt drrrrt,


"Yani," bisik Paras.


πŸ“ž"Ya Yan," Paras.


πŸ“ž"Mba dimana? Leo marah marah aja iiighs, Albert sudah di loby, aku suruh tahan sama Dila jangan naik dulu," jelas Yani.


πŸ“ž"Ya, aku udah mau turun,"


Paras mengusap lembut wajahnya, turun dari mobil vellfire milik mertua dengan penuh percaya diri dan sangat tenang. Menarik nafas dalam, tersenyum sumringah dihadapan semua karyawan.


"Siang Mba," tunduk security.


"Hmmmm siang," senyum Paras.


"Mba, ada Pak Albert," bisik security.


"Hmmmm,"


Paras mendekati Albert yang tengah menikmati secangkir teh hangat disatu ruangan VIP. Langkah Paras mantap menuju ruang tamu khusus rekanan mereka.


Cekreeek,

__ADS_1


Albert menatap kehadiran Paras dengan penuh perasaan senang.


"Haaiiii Paras," sapa Albert tersenyum sumringah.


"Haiii yuuk, kita ke ruangan aku saja," ajak Paras basa basi.


Paras menghampiri Dila, membisikkan sesuatu pada reseptionis sexseh itu.


"Tolong security naik ke lantai 28, dua orang saja," bisik Paras.


"Oooough baik Bu," tunduk Dila patuh.


Paras tidak ingin ada keributan antara Albert dan Leo, bagaimana pun bule Jerman itu adalah rekanan perusahaan Langhai Group dan harus dilindungi dengan sangat profesional. Urusan pribadi tidak bisa disangkut pautkan dengan urusan pekerjaan.


"Kamu sudah makan cantik?" goda Albert saat memasuki lift bersama Paras.


"Sudah, kamu bawa apa?" tanya Paras melihat tentengan di tangan Albert.


"Oleh oleh dari Cimory buat kamu dan calon istri aku, gadis kecil yang nafsunya besar," kekehnya tanpa dosa.


Paras menaikkan kedua alisnya tersenyum senang.


"Setidaknya kamu sudah mencoba, Yani enggak Cina, dia Manado Sunda," jelas Paras.


Albert semakin antusias untuk bertemu dengan gadis kecil yang lucu itu.


Tiiiing, pintu lift terbuka dengan lebar.


Wajah Paras bersitatap dengan Leo yang terkejut dengan kehadiran istrinya dikantor bersama Albert. Didalam lift hanya mereka berdua, menyulut obor olimpiade kembali menyala.


"Siang Mba," sapa Luqman.


Paras tersenyum, mempersilahkan Albert keluar lift lebih dulu.


Seketika Leo menahan lengan Paras meminta penjelasan, "kenapa kamu bisa barengan sama dia? kamu janjian sama bule somplak itu Paras?" geramnya dengan rahang mengeras dan terdengar gigi yang beradu.


Paras tersenyum tipis, "Luqman kalian mau makan siang? take care yah! aku urusin Pak Albert dulu, bye," tepuknya pada bahu suami Berlin dan berlalu meninggalkan Leonal.


"Puyeng gue," batin Paras mendekati Albert yang menikmati kenyamanan kantor petinggi Langhai Group.


"Yuuuk," ajak Paras pada Albert menuju ruangannya.


Leo masih melihat istrinya sangat santai berlenggak lenggok dengan santai bahkan tidak takut dengan ancamannya.


"Ba ng ke ba ng ke, gue di cuekin njiiing," kesalnya.


Luqman tersenyum, menepuk pundak sahabatnya, "Lo kenapa? cemburu?" goda Luqman.


"Aaaaagh gue nggak jadi makan di bawah, kita balik ke ruangan Lo, buka cctv,"


Leo bergegas menuju ruangan Luqman, tapi ditahan keras oleh sahabat sekaligus adik iparnya.


"Santai dong, Mba Paras kerja bro. Lo boleh cemburu, tapi mesti smart boy! jangan terlihat kita cemburu, apalagi Mba Paras lagi hamil anak Lo, masak dia mau selingkuh! come on, cemburu boleh bego' jangan,"


Luqman membawa Leo turun ke lantai satu untuk menikmati makan siang dan secangkir kopi, agar lebih santai.


Tapi otak Leo masih menerawang dan menerka nerka apa yang dilakukan istrinya diruang kerja berdua.


Denger yah... cemburu boleh bego' jangan,πŸ˜‚


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2