
Baros membaca semua masukan dari Leo tentang mutasi Sinta ke Kalimantan bersama orang kepercayaan mereka yang lain, tentu Maride menolak. Berhubung Sinta masih terlalu muda dan belum menikah, dia hanya sekelas wanita manja yang nyaman dengan posisi accounting di perusahaan Langhai.
"Yang kita butuhkan wanita tegas seperti Paras, Pi!" tegas Maride menolak.
Baros terdiam.
"Apa Paras dan Leo kesana? biar Berlin di sini?" tanya Baros semakin galau.
"Hmmmm, jauh dari cucu ku, Mami nggak mau!" jawab Maride menikmati sebungkus kuaci.
"Jadi si Ina ikut saja, biar dia belajar sama Paras. Kalau menantu kita yang mendidik, pasti jadi, karena dia wanita galak," jelas Baros.
"Nantilah Mami obrolkan dengan Paras, tunggu mereka kembali dari Berlin, karena mereka masih di Jerman sampai minggu depan. Mereka mau nonton MotoGP kata si Berlin," jelas Maride.
"Oooogh,"
Baros semakin termenung melihat Maride tengah sibuk menggigit kuaci di bibir mungilnya.
"Cok dulu Mami bukakan kuaci itu, suapkan ke Papi," usap Baros pada punggung padat sang istri.
"Iiiighs suka kali mengganggu kesenangan ku! gimana kau mau jauh dari ku Baros," kesal Maride merasa ketenangannya terusik.
"Aaaagh sesekali aku mengganggu mu," kekeh Baros mencubit pipi tembem istrinya.
"Katanya si Ina mau ke rumah? mana dia? kok belum datang?" tanya Baros.
"Lagi di jalan dia," jawab Maride.
"Hmmm,"
"Waktu saja nggak bisa di manajemenkan nya, gimana mau kita pakai," ucap Baros.
"Diamlah, tunggu saja," jawab Maride menyuapkan kuaci yang sudah dia buka untuk Baros.
Baros menikmati jari gembul itu menyuapkannya.
Suasana sedikit rame, karena terdengar suara ketawa baby four tengah bermain dengan Faisal. Kirai masih saja berdendang nyanyian negara panser untuk baby four tetap tertawa.
"Aaaaaa aaaaa...." suara mungil mereka saling bersahutan mendengar Kirai berdendang lembut.
Maride merasa terhibur melihat besan, sangat telaten mengasuh baby four tentu di bantu keempat baby sitter mereka.
Maid, menghampiri Baros dan Maride yang masih sibuk menikmati kuaci.
"Bu, ada tamu," jelas Maid.
"Suruh kesini, dia sudah terlambat 10 menit," jawab Baros.
"Baik Tuan," tunduk Maid.
Faisal dan Kirai sengaja membawa baby four ke pinggir kolam agar tidak menggangu bahkan mendengar obrolan sang besan mungkin saja lebih privasi.
Gadis cantik berambut hitam, menggunakan rok span hitam selutut, di balut kemeja kotak kotak putih berpadu biru, hadir di hadapan Baros dan Maride.
__ADS_1
Ina pelayan salon yang bergelar Magister ekonomi akan menggantikan posisi Sinta atau Yani di Langhai Group.
"Kau terlambat 10 menit," tegas Baros.
Ina melihat jam di pergelangan tangan kiri, mengangguk membenarkan ucapan Baros.
"Maaf Tuan, perjalanan agak macet," jawabnya menunduk.
"Kau tinggal di Kuningan. Kita janjian jam 11.00, seharusnya kau sudah menentukan waktu mu agar tidak terlambat. Saya tidak suka dengan orang yang tidak on time. Jika kamu ingin berkerja di perusahaan saya, kamu harus punya manajemen waktu sendiri," tegas Baros.
Maride mengangguk setuju.
"Ingat, kami tidak ingin menunggu," tambah Baros menegaskan.
Ina benar benar-benar hilang akal, karena tidak menyangka masalah waktu menjadi problem serius bagi pengusaha hebat ini.
"Perusahaan saya jam 07.45 sudah aktif dan memulai briefing. Saya rasa kamu tahu waktu itu adalah uang," ucap Baros membuat Ina semakin tidak enak hati.
"Duduk," tegas Baros.
Ina memilih duduk di sofa, berhadapan dengan Maride yang tengah menatap gadis cantik itu.
"Mana berkas CV anda?" tanya Maride.
Ina mengeluarkan CV-nya dari dalam tas, meletakkan di atas meja. Menelan salivanya, sesekali melirik ke arah Faisal dan Kirai yang tengah asyik bercengkrama di pinggir kolam renang. Mata Ina melihat foto Leo dan Paras bersama baby four terpajang besar di tengah ruang keluarga dan foto keluarga besar Leo. Foto foto lucu baby four tertata rapi di bawah dengan nama tercantum diatasnya. Sangat sempurna.
Maride menarik nafas dalam, sesekali melihat Ina ternyata memiliki mata sedikit liar dan tidak fokus. Pelan Maride melirik ke arah Baros.
Ina tersadar, kembali fokus ke Maride dan Baros secara bergantian.
"Kamu di spa itu karyawan atau bagaimana?" tanya Maride.
"Hmmmm saya karyawan Bu, sudah setahun saya bekerja disana," jelasnya.
"Ekonomi apa yang kamu bisa? management, accounting atau apa?" tanya Maride.
"Saya Management bisnis Bu," jawabnya jujur.
"Kenapa tidak menciptakan satu keterampilan setelah lulus? kenapa memilih bekerja di salon?" tanya Maride.
Ina tertegun, kembali merasa gugup. Menelan salivanya berkali kali, mengatup kedua tangan yang terasa dingin.
"Keadaan Bu, saya di usir dari rumah keluarga karena kedua orang tua saya meninggal dunia akibat kecelakaan, saat di Tasikmalaya. Jadi Paman saya enggan menerima saya karena tidak pernah memberi mereka uang. Jadi saya bertekad untuk merantau ke Jakarta, kali aja bisa merubah hidup," jelas Ina.
"Ooogh baik, kemaren saya sudah berbicara sedikit tentang perusahaan Langhai. Kami bergerak di bidang bisnis, lebih tepatnya Airbus pariwisata. Saya tertarik dengan kamu, tapi masa traning hanya 2 bulan tidak lebih. Mulai Senin kamu masuk ke kantor saya tepat waktu, pukul 07.30, tidak boleh terlambat, ingat saya akan menilai kamu selama sebulan, lewat sebulan kita evaluasi dan kembali traning di bulan kedua," jelas Maride.
Ina mengangguk mengerti.
"Pekerjaan kamu adalah mempersiapkan kontrak kerja sama dengan data base yang sudah tersedia dan akan di bantu team di lantai 28, kamu berkerja di bawah Yani secretaris keluarga saya," tambah Maride.
"Untuk gaji, di bulan pertama saya akan member 4 juta, di bulan kedua 4,5 juta. Jika kamu lulus traning kita akan bernegosiasi," ucap Maride.
"Kamu mengerti? atau ada pertanyaan? silahkan,"
__ADS_1
Maride menatap lekat Ina, dengan tatapan lumayan sinis. Dia wanita tegas jika berhadapan dengan orang baru dan akan menjadi wanita ceria jika berhadapan dengan orang kepercayaannya. Seluruh karyawan Langhai Group sangat nyaman bekerja dengan mereka karena sangat menjanjikan hidup yang layak.
"Satu lagi kamu aktif berbahasa Inggris, Mandarin atau Jerman?" tanya Maride.
"Hmmmm saya aktif di dua bahasa Bu, Inggris dan Netherland, karena mantan suami saya orang sana," jujur Ina.
Seketika mata Maride membesar dan bibirnya membulat. Mencubit geram paha Baros yang duduk di sampingnya.
"Sudah berapa lama menjanda?" tanya Maride menaikkan kedua alisnya.
"Baru 6 bulan Bu, maaf kalau saya baru jujur sekarang. Saya malu dengan status baru itu," senyumnya.
"Apa kamu nikah kontrak?" tanya Maride.
"Panjang Bu kalau di ceritakan, yang penting saya di kejebak teman, tapi saya tidak memiliki anak. Makanya saya tidak sudi kembali ke Tasikmalaya, trauma," ucapnya sedikit menunduk.
"Kamu tinggal dimana? kos atau bagaimana?" tanya Maride sedikit prihatin.
"Kos Bu, di belakang mall ambassador. Saya mau belajar, tapi jangan ada yang tahu tentang status saya. Jujur saya malu," senyumnya tipis.
"Sudahlah, tidak usah berpikir malu. Yang penting kamu siap saya bimbing. Ingat, waktu saya tidak hanya menunggu kamu. Loyalitas dan tolong penampilan di rubah lebih modis. Saya akan memberi tunjangan untuk penampilan jika kamu benar-benar loyalitas dan jujur," tegas Maride.
"Satu lagi, tidak boleh mengganggu kebahagian rumah tangga karyawan," tambah Maride sedikit takut.
"Baik Bu, kalau itu saya tahu. Saya memang janda, tapi alhamdulillah masih bisa menjaga diri," ucapnya.
Maride bernafas lega, tapi tidak semudah itu untuk percaya, hehehehe.
"Ada pertanyaan?" ucap Maride memecah kekakuan mereka.
"Cukup Bu, gaji yang ibu berikan lebih dari cukup untuk saya," senyumnya tulus.
"Baik, silahkan pulang ingat tunjukkan kualitas dirimu untuk kita bernegosiasi di bulan ke tiga," senyum Baros.
"Baik Pak, Bu. Saya permisi," ucap Ina berlalu meninggalkan kediaman Leonal.
Maride memandang wajah Baros saat Ina sudah diantar oleh Maid keluar perkarangan.
"Janda?" ucap Maride.
Baros menatap lekat wajah istrinya, sedikit menggoda.
"Bolehkah?" tanya Baros menaik turunkan kedua alisnya.
"Boleh, asal siap aku kemas kirim ke Cina biar ku jual organ tubuh mu," jawab Maride membuat Baros tertawa ngakak.
"Butuh uang rupanya Mami?" goda Baros...
"Sangat butuh, buat beli brondong," kekehnya mencubit kesal Baros.
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1