
Suasana kota metropolitan sedikit sejuk, karena rintikan hujan gerimis membasahi jalanan kota dari sore hari. Albert tengah duduk distir kemudi melajukan mobil menuju rumah sakit Jakarta Selatan, daerah Lebak bulus. Albert menghentikan mobil didepan rumah sakit, menyaksikan kemesraan saudara kandungnya didepan pintu keluar rumah sakit. Betapa terkejutnya dia melihat kemesraan Fredy sangat intens dengan seorang gadis biasa.
Bergegas Albert turun dari mobil menghampiri Fredy tengah memeluk Larisa. Gadis muda cantik tinggi semampai, menikmati hangatnya pelukan dokter spesialis kandungan itu.
"Malam Fred," Albert mengejutkan dua insan tengah dilanda cinta yang baru tumbuh antara mereka.
Fredy melepaskan pelukannya, memperkenalkan Larisa pada Albert, "honey, kenalkan ini saudara kandungku Albert Einstein. Profesinya sebagai orang kepercayaan Marsedez Benz di Bogor."
Larisa mengulurkan tangannya pada Albert, tentu disambut hangat oleh wanita cantik itu, "Albert."
"Larisa."
Albert melepaskan tangannya dari kekasih baru Fredy, "ada waktu, kita makan dimana gitu. Resto yang dekat sini juga boleh."
Fredy dan Larisa saling tatap, "boleh, kebetulan aku lapar baby."
__ADS_1
Larisa merangkul lengan Fredy mengikuti langkah Albert yang jalan lebih dulu.
"Albert, Yani kenapa nggak ikut. Apa dia baik baik saja?" Fredy mengejar langkah saudara kandungnya, agar jalan beriringan, meninggalkan Larisa sendiri dibelakang.
Albert melirik Fredy, "dia lagi istirahat, kecapean. Aku mau bertanya tentang keputusan kamu Fredy, apa sudah kamu pikirkan?"
Fredy tersenyum tipis, "aku bingung, Larisa baik, Lauren penguasa. Aku berpikir terlalu singkat, tapi aku ingin mencoba menjalin hubungan dengan wanita biasa selama disini. Mungkin aku akan kembali dua hari lagi ke Jerman, bersama Larisa. Mama sangat menentang keras keputusanku ini."
Albert mempercepat langkahnya memasuki restoran, tidak menyangka keputusan Fredy benar benar mengancam kariernya, "apa yang harus aku lakukan jika semua berubah, apakah aku harus memohon pada Paras dan Mami Maride untuk ditempatkan di Langhai?" batinnya.
Fredy tersenyum tipis, "jika kau menghancurkan seluruh harapanku, maka aku akan sangat mudah menghancurkan masa depanmu," gerutunya menatap lekat punggung Albert.
Fredy menaikkan kedua alisnya, menatap lekat wajah cantik Larisa, "apakah kamu ingin meninggalkan aku disini?"
Larisa mengangguk, "aku ingin kamu menyelesaikan semua masalah dengan saudaramu."
__ADS_1
Fredy menghela nafas panjang, "baiklah, kamu pulang dulu, nanti aku akan menyusulmu. Kita akan membicarakan semua rencana masa depan kita. Tanpa memikirkan perasaan orang lain."
Keputusan Fredy malam itu, dapat didengar oleh Albert dengan sangat jelas. Rasa getir membayangkan karier akan hancur terekam sudah, "apa yang harus aku lakukan, jika Lauren kecewa akan keputusan Fredy, maka aku akan mundur dari jabatanku menjadi orang nomor dua di Marsedez Benz," batinnya.
Pelan tapi pasti dia mengirim pesan melalui whatsApp pada Paras, meminta waktu agar bisa menemuinya malam ini. Tentu balasan singkat padat dari wanita gendut salah satu orang kepercayaan Langhai Group memberi ketenangan bagi pikiran Albert.
"Apa kau tidak mendengar semua keputusan ku?" Fredy duduk dihadapan Abert.
Albert mengangguk, "ya, aku mendengar, aku yakin kamu sengaja melakukan kegilaan ini untuk menyakiti Lauren dan menghentikan karierku. Kenapa kamu sangat picik Fred, apa permintaan maaf ku kurang cukup bagimu?"
Fredy tertawa terbahak-bahak, "kamu boleh melakukan apa-apa yang disukai, tanpa perlawanan dari Mama. Sementara aku, harus menghadapi tantangan, harus menikah dengan Lauren, tanpa memikirkan perasaanku!"
Fredy mendengus kesal, menatap kesembarang arah, kecewa yang dia rasakan sangat nyata.
"Apa yang akan aku katakan pada Yani, jika semua keluarga mengizinkan Fredy menikahi Larisa," batin Albert dalam keheningan.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️