Ugly 'N Fat Girl

Ugly 'N Fat Girl
Gemuk dan langsing...


__ADS_3

Jakarta Selatan tidak kalah macetnya siang menjelang sore, Maride merasa kelelahan sepanjang perjalanan menuju salon langganan Keluarga Baros.


"Pak, cok dulu kau belikan aku kue itu," tunjuk Maride pada gerobak penjual keu apem.


"Kok itu seeh, nggak higenis sayang," jelas Baros.


"Hmmm udah sok kau rupanya Baros, udah lupa kau sama asal kita? stop Pak, belikan 100 ribu," tegas Maride tanpa ingin di bantah menatap sinis ke arah Baros.


"Baik Bu,"


Sopir bergegas turun menuju penjual kue yang di maksud Maride.


"Jangan pernah kau bicara higenis sama aku yah Papi, aku cabe mulut mu nanti," geram Maride.


"Kok Mami jadi marah? Papi kan takut Mami sakit perut atau kenapa kenapa, gitu aja," jelas Baros lembut.


"Dulu kita makan di emperan jalan emang pernah sakit aku? kita semakin mesra menyusuri semua Jakarta Selatan ini tanpa kenal lelah. Lupa kau?" tegas Maride.


"Mana aku lupa Mami? kenangan kita sangat banyak dalam berjuang membesarkan anak anak, aku khawatir karena usia kita tidak muda. Dulu kita masih muda, imun tubuh kita masih kuat, sakit sedikit kita lupakan. Beda kalau sekarang, kita harus tetap sehat, jaga makanan yang sehat demi cucu kita yang akan semakin bertambah banyak. Nggak rindu Mami melihat Stefan, Steiner, Stevie dan Stela menikah?" tanya Baros lembut.


"Ya udah, nanti biar aja pak sopir yang makan, tapi aku makan sedikit yah? aku pengen," mohon Maride.


"Iya,"


Baros mengusap lembut kepala istri tercintanya. Walau wanita ini terlihat merepet dengan lambe yang suka suka, itulah kerinduan Baros pada istri terkuatnya. Maride mau menerima saran apapun, jika dia tidak ingin di bantah. Tentu dengan caranya Baros memberi pengertian dengan kelembutan.


Sangat jarang dua insan ini berantem atau bersitegang. Keduanya mampu memahami pasangan masing masing. Patut di contoh, hehehe...


Next....


.


.


.


Di Untertuerkheim Jerman Leo dan Paras masih asyik bermadu kasih setelah melakukan ritualnya mengelilingi pabrik sesuai jadwal yang telah di atur oleh pihak penyelenggara program peluncuran air bus pariwisata terbaru buatan Marsedez Benz.


"Aaaaugh oooogh...."


Des*ahan Paras terdengar hingga mengganggu pendengaran Yani dan Sinta.


"Ngapain Mba Paras sama Bang Leo? kok sadis banget? emang begitu yah kalau udah nikah Yan? mesti menjerit mengganggu telinga tetangga?" tanya Sinta sedikit merinding.


"Hmmmm nikmati aja deh. Gimana kita keluar? kalau nunggu pasutri itu, nggak tau mesumnya sampai jam berapa. Mumpung kita di negara aman ini, kita jelong jelong, kali aja nemu bule cakep," kekeh Yani.


"Boleh juga ide Lo, ayoo," ajak Sinta.


Tok tok tok,


"Entschuldigung, ist das wirklich das Zimmer von Frau Parassani?" suara wanita dari balik pintu.


"Permisi, apakah ini kamar Nyonya Parassani?"-artinya.


Yani dan Sinta saling tatap, memiliki pikiran yang sama.


"Apaan tuh? kok sebut sebut nama Mba Paras?" tanya Yani penasaran.

__ADS_1


Sinta memberanikan diri membuka pintu kamar mereka melihat seorang wanita cantik berdiri di hadapan gadis abege itu.


"Ya," sapa Sinta.


"Kannst du Indonesisch sprechen?" tanya wanita dewasa itu.


"Apakah kamu bisa berbahasa Indonesia?"-artinya.


Mereka berdua geleng kepala kemudian mengangguk.


"Paras? Parassani? dimana Parassani?" jelasnya dengan memperjelas gerak bibir di hadapan Sinta dan Yani.


"Oooogh Mba Paras?" tanya Yani mengerti.


"Ya," jawab wanita itu tersenyum sumringah.


"Hmmm,"


Yani menatap Sinta dan wanita itu secara bergantian,


"Gimana ngejelasinnya? orang yang di cari lagi enak enak," batin Yani bingung.


"Halo, perkenalkan saya Luna. Kakak Paras," sapanya perlahan.


"Hmmmm ampuun bego banget kita, ya saya Yani, kak! ehmm Mba Paras lagi di kamar sama suaminya," jelas Yani menunjuk ke pintu kamar sebelah mereka.


Luna mengangguk mengerti,


"Ya udah, kita jalan jalan dulu di sekitar sini. Biarin mereka bulan madu," kekeh Luna ramah.


"Kok Mba Paras gemuk sementara kakaknya cantik seperti model kelas atas," batin keduanya.


Cekreeek,


Leo dan Paras keluar kamar, mata mereka beradu tatap. Tidak tersirat dendam di kedua insan kakak adik yang terpisah oleh jarak dan waktu. Hanya ada secercah kerinduan yang terdalam. Penyesalan masa lalu terlihat jelas di kedua bola mata nan indah saling menyimpan sejuta masa kecil. Ada suka, ada duka, ada keceriaan hingga akhirnya mereka berpisah hanya karena perasaan. Perasaan cemburu bahkan saling menghujat benci, kini sirnah sudah karena kedua insan mau mengalah dan memaafkan.


"Uni?" teriak Paras memeluk erat tubuh kakak satu satunya.


Tangis mereka pecah, mengisyaratkan kerinduan yang sangat luar biasa.


Luna mengusap erat punggung Paras,


"Maafkan Uni yo?" isak Luna melepas pelukannya.


Paras mengangguk, mengusap air mata di wajah Luna, kembali berpelukan erat karena mereka sudah lama tidak bertemu.


Yani dan Sinta saling berpelukan, sama sama menangis menyaksikan pertemuan kakak adik untuk pertama kali di Jerman pula. Tentu menjadi kenangan terindah bagi keduanya.


"Un, kenalkan ini Leonal, suami Paras," jelasnya.


"Ini Yani dan Sinta," senyum Paras merangkul lengan Luna.


"Hmmm masih muda suami mu," kekeh Luna menggoda adik kesayangannya.


"Suami Uni Luna mano?" tanya Paras.


"Ado di lua, tadi Uni pikir, dua gadis ini adalah wanita Jepang atau Korea. Mereka lebih mirip sama pendatang," kekeh Luna melirik ke arah Yani dan Sinta.

__ADS_1


Paras menggandeng tangan Leo menuju halaman Gasthaus mereka.


Luna memperkenalkan suaminya pada Paras dan Leo, begitu juga kepada dua gadis kecil yang masih unyu unyu bak anak SMA.


"Kemana kita Un?" tanya Paras penasaran.


"Terserah, kalian mau makan? atau ke rumah keluarga kita? atau mau gmana?" tanya Luna.


"Kita jalan jalan dulu," rengek Paras.


"Iya, kenapa anak nggak di bawa? Uni pengen sekali punya baby kayak kamu, rame banyak," kekeh Luna.


"Hmmm jadi rindu Bowl sama baby four," rengek Paras di dada Leo.


"Udah, nanti anak anak rewel," pujuk Leo.


Mereka menunggu Luqman dan Berlin yang bergegas menuju halaman Gasthaus.


"Sebel, nungguin pengantin baru nyebelin," gerutu Yani mencubit kecil perut Luqman dan Berlin.


"Aaaaugh sakit," teriak mereka serempak.


"Kasihan ni gue jomblo, nggak ada yang menemani," rengek Yani.


Tawa mereka pecah mengisyaratkan kebahagiaan walau tanpa pasangan. Mereka duduk di sebuah restoran yang menyediakan beberapa menu pilihan untuk lidah khas Indonesia.


Tentu Luna membawa ke salah satu restoran yang sangat ramah juga hangat.



Bar sekaligus tempat nongkrong saat menghabiskan malam.


Luna dan Paras duduk berdekatan, sementara Leo dan Juan duduk berhadapan.


Luqman dan Berlin memilih berpisah bersama Yani dan Sinta. Bagi mereka privasi insan dewasa sangat penting untuk di jaga, apa lagi dari bibir Yani dan Sinta. Dua gadis lugu sangat polos jika di cecar beribu pertanyaan. Mereka bukan team yang bisa menjaga lambe agar tetap aman.


Berlin memberi kode pada Leo agar segera membuka pesan yang di kirim Baros tentang kepindahannya ke Kalimantan, tapi Leo masih fokus dengan cerita masa lalu Luna dan Paras.


Berlin meletakkan kembali handphone di atas meja, kembali bercengkrama bersama sahabat dan suami tercinta.


"Semoga Papi bisa memilih antara Yani dan Sinta, jangan gue," batin Berlin memeluk mesra lengan Luqman.


Luqman mengecup tanpa malu puncak kepala Berlin di hadapan Sinta dan Yani.


"Oooogh jadi mupeng gue," rengek Yani.


"Makanya, cari dong," ucap Sinta.


"Hmmm masih senang mengagumi," kekeh Yani melirik ke arah Leonal.


"Uweeeek... Lo di tinggalin Mba Paras lhoo, atau di deportasi," hahahaha...


Tawa mereka pecah malam itu,


Bersambung...


Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2