
Mereka menghabiskan waktu di restoran Untertuerkheim hingga larut. Suhu semakin lama tidak bersahabat membuat tubuh Yani dan Sinta semakin menggigil kedinginan.
"Kita deluan saja pulang ke Gasthaus, gue kedinginan. Mereka ada penghangat, nah gue!" tunjuk Yani pada dirinya sendiri.
Sinta tertawa mendengar celotehan Yani.
"Emang gue ada penghangat? kita sama chiiin... jomblowati sejati," kekeh Sinta.
"Kak Luna, kak," panggil Yani pada Luna sedikit berbisik membuat Paras dan Leo sedikit penasaran.
"Ya, kalian manggil saya?" tanya Luna.
Sinta dan Yani saling tatap dan tertawa.
"Cariin kita bule Jerman dong Kak? kayak Bang Juan, biar kita berdua nggak jadi pengagum rahasia," kekeh Yani.
Sinta menatap aneh mengingat ucapan Yani barusan,
"Kita? Lo aja kali yang jadi pengagum rahasia Leonal," ucap Sinta membuat Paras dan Luna saling tatap.
Leo sejak awal sudah mengetahui perasaan Yani hanya tersenyum tipis agar gadis oriental itu tidak malu.
"Hanya kagum, bukan berarti cinta," jelas Leo.
"Be be benar tuh,"
Yani membenarkan ucapan Leonal sambil menunduk malu menatap Paras dan Luna.
"Kalau kamu mau, saya punya adik. Namanya Stanley, tapi dia tidak bisa bahasa Indonesia," jelas Juan.
Yani dan Sinta saling tatap.
"Embat aja, biar pulang ke Indo Lo nggak jomblo," kekeh Sinta.
"Sial," geram Yani mencubit perut Sinta.
Semua tertawa mendengar celotehan kedua gadis abege labil seharusnya sudah memiliki kekasih, tapi belum menemukan tambatan hati.
"Kenapa nggak Fredy?" goda Paras.
Yani tersedak, "uhuuugh uhuuugh,"
"Kenapa mesti Fredy mba? nggak ada yang lain yah?" tanya Yani.
Paras dan Leo tersenyum melihat gadis lucu itu menjadi salah tingkah. Paras memeluk lengan Luna, ada perasaan rindu teramat sangat.
"Un, 3 hari lagi lah kita bertemu. Baok Paras jumpa keluarga, karena kami ada rapat besok di Berlin. Selesai acara kita ketemu lagi yah?" jelas Paras.
__ADS_1
Luna tersenyum, mengangguk mencium pipi gembul adik kesayangan.
"Kabari saja jika sudah selesai, kami akan menjemput kalian. Kita mampir ke rumah Oma dan Opa." jelas Luna.
"Kami boleh ikut Kak Luna?" tanya Sinta.
Luna tersenyum, "boleh," senyum Luna.
Sinta dan Yani tertawa bahagia, setidaknya kalau ke Jerman lagi sudah ada Keluarga Mba Paras yang sangat hangat menyambut kedatangan mereka.
"Jangan lupa bawa baju dingin, karena akan lebih dingin di sana," tambah Juan.
Luna mengangguk, "udah kita pulang?" tanyanya.
Mereka bergegas meninggalkan restoran kembali ke Gasthaus.
Luna dan Paras masih berpelukan, setidaknya semua sudah jelas, tidak ada dendam atau pun pertikaian.
Leo merangkul bahu Paras memasuki kamar peraduannya.
"Ndut, ternyata Uni kamu ramah yah? cantik, sama kayak kamu. Aku terkesima Uni langsing kamu langsung," goda Leo.
Paras mendengus kesal, meninggalkan Leo menuju ranjang tidak begitu luas tapi mampu memberi kenyamanan.
"Kenapa kita nggak di hotel seeh Bowl? biar anak anak di sini," rungut Paras.
Paras mengangguk, memeriksa email masuk. Mata Paras membulat seketika, melihat keputusan yang di buat Baros untuk memindahkan Luqman dan Berlin ke Kalimantan.
"Ina? siapa Ina?" batin Paras menatap Leo.
"Kamu udah cek email Papi, Bowl? siapa Ina?" tanya Paras penasaran.
"Ini lagi cek email Ndut," senyum Leo.
"Kasihan Berlin mesti pindah kesana Bowl. Mereka baru menikah, kenapa nggak Yani atau Sinta? kita cari secretaris baru. Bisa rekrut Dila untuk naik level ke lantai 28. Usia dia juga udah cukup," jelas Paras.
"Hmmm coba aku sounding ke Papi secara pribadi. Semoga Papi mengerti, tapi jika Sinta yang ke Kalimantan, aku pasti sering ke sana Ndut," jelas Leo.
"Yaa seeh. Udah aaagh, kita hemat pikiran buat besok. Rapat besok sampai sore."
Paras menutup tubuh gendutnya menggunakan selimut tebal, berusaha masuk ke dunia mimpinya.
Leo beringsut tidur di samping istrinya, memeluk tubuh hangat yang menarik baginya. Telah memberikan dunia berbeda dan sensasi rasa luar biasa. Mencintai wanita gendut tidak sehoror pikiran Leo.
Saat ini mereka harus fokus pada keluarga kecil yang telah di bina hampir 2 tahun. Paras tidak pernah menuntut Leo agar menjadi yang dia mau, melainkan Leo selalu memberi apa yang dia butuhkan.
"Ingat yah readers... yang di butuhkan, bukan yang di inginkan..."
__ADS_1
.
.
.
Kediaman Juan dan Luna di Nurnberg justru sangat sepi. Tidak ada suara tangis baby atau bahkan kebahagiaan yang di ceritakan oleh Faisal dan Kirai. Luna lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, terkadang meratapi kehampaan hati yang benar benar kosong.
"Kenapa Paras lebih bahagia dari aku? kenapa dia mendapatkan pria yang lebih mencintai nya, bahkan memberikan kemewahan tanpa harus bekerja keras. Aku selalu iri atas apa yang dia raih, dia sangat beruntung dari aku. Pasti karena dia pandai menjual diri hingga brondong itu tergila gila padanya. Apa aku kurang cantik? atau bahkan kurang menarik?" batinnya meratapi nasib.
Kreeeek,
Juan menghampiri Luna tengah asyik berbaring sambil menikmati segelas wine.
"Kamu kenapa? wajahnya kok di tekuk begitu?" tanya Juan.
"Hmmmm, kenapa Paras lebih beruntung dari aku?" cerita Luna menatap langit kamar tanpa tahu jika Juan kaget mendengar perkataan Luna.
"Haaaaah? ada apa dengan kamu? apa kamu baik baik saja?"
Juan memastikan suhu badan istrinya.
"Apa kamu fikir aku tidak bisa membahagiakan mu?" tanya Juan lagi.
"Heiii kamu tidak pernah memberi aku kemewahan seperti suami Paras berikan. Kamu tidak pernah membawa aku kembali ke Indo. Lihat Paras, mereka mampu jalan jalan dengan rombongan, mendapat reward dan berbagai fasilitas mewah selama di sini. Lihat tadi mobil khusus yang di siapkan untuk mereka? apa kurang mewah?" jelas Luna semakin tidak terkontrol.
Juan semakin tidak mengerti, menatap lekat manik mata cantik Luna, benar benar memastikan wanita di hadapannya baik baik saja. Bukan kesurupan atau bahkan lebih dari syirik.
"Kamu yang nggak mau pulang Luna? berapa kali aku ajak kamu agar kembali ke Indo? kamu selalu menolak kan? setan apa yang merasuki pikiran mu hingga kamu jadi seperti ini? kamu seharusnya bersyukur dia mau baik sama kamu, memaafkan, mengikhlaskan, bahkan berusaha melupakan. Kegilaan kamu dulu sangat menyakitkan bagi dia, berapa tahun dia menutup diri dari kalian, sehingga dia menemukan jodoh lebih baik seperti sekarang. Kamu zholim Luna, terlalu egois. Tidak baik seperti itu. Percayalah, sifat kamu yang begini akan merusak kesehatan kamu, pikiran,"
Praaaank,
Luna melempar gelas ke dinding kamar tanpa mau mendengar nasehat dari Juan.
"Lunaaaa!" teriak Juan.
"Jangan menasehati ku Juan, kau tidak mengerti apa kebutuhan wanita."
Luna menarik selimut, tidak ingin berdebat dengan suaminya, karena dia tahu siapa Juan.
Juan akan berfikir positif bahkan membela Paras sehingga membuat Luna semakin terpojok.
"Kenapa tidak ada yang memahami ku?" batin Luna kesal menggeram di balik selimut.
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1