
Mobil sport seri terbaru Leonal terparkir diloby Langhai Group. Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Leo mengganti mobilnya ke seri lebih tinggi. Sesuai permintaan Paras berwarna putih dan lebih besar, jika membawa ke-empat anak mereka akan terasa nyaman.
Leo mengganti mobil sedannya, menjadi Marsedez Benz GLB-class keluaran terbaru dengan harga dua setengah milyar. Paras memberi kebebasan, agar Leo tidak terlarut kehilangan mobil merah Ferrari yang ditabrak Sintya dan teamnya.
"Selamat pagi menjelang siang Pak Leonal," sapa Amy secara tiba-tiba di pintu loby.
"Astaga! untung nggak gue maki Lo!" geram Leo mengusap dadanya, karena merasa kaget.
Paras yang tengah memeluk penuh kerinduan mantan sekretarisnya Yani, mengikuti langkah kaki Leo.
"Haii," sapa Paras pada Amy.
Amy tersenyum remeh, karena melihat Paras hanya berpenampilan sederhana tapi menarik perhatian Albert dan Sandoro.
"Ini Mba Paras direktur Langhai Group?" tanya Amy membusungkan dada yang tidak begitu besar.
Paras tersenyum tipis, "ya, kenalkan saya Parassani Chaniago, direktur sekaligus istri Leonal Alkhairi Baros," sapanya enggan menyambut tangan Amy.
Wajah Amy memerah saat Sandoro menyambar kemudian mengecup punggung tangan Paras dihadapan Leo dan Albert.
"Senang bertemu lagi dengan anda Nyonya Leo," sambut Sandoro.
Paras menunduk hormat, dia menggandeng lengan Leo menuju ruang meeting VIP yang berada dilantai dasar. Dia meminta Dila agar Luqman dan Berlin turun kebawah membawa semua keperluan untuk serah terima unit Marsedez Benz khusus air bus.
"Apa gue bilang, Jakarta ini kecil bro, nggak seluas pikiran Lo," Albert berbisik pada Leo.
"Diam Lo, ******," geram Leo.
Paras mempersilahkan Sandoro dan secretaris sepecialnya duduk disofa yang tersedia diruang meeting.
"Silahkan Mas," ucap Paras lembut tapi tegas.
Sandoro memang sudah lama ingin bertemu dengan direktur utama Langhai Group, baru kali ini mereka bisa duduk bersama, saat akan melakukan serah terima air bus yang akan dikirim ke Jogjakarta.
"Saya sudah lama pengen ketemu kamu Paras, tapi baru sekarang. Biasa kita bicara lewat virtual saja, tanpa komunikasi lebih intens," cerita Sandoro dihadapan Leo dan Albert.
Paras tersenyum tipis, "kan ada Luqman dan Tiwi, mereka yang membawa anda ke perusahaan kami," kenangnya.
Leo sedikit penasaran, "dari mana, dia mengenal istriku?" batinnya.
__ADS_1
Paras berbicara sesuai kapasitas dia sebagai pimpinan atas izin Baros dan Maride. Leo dan Albert mengecek semua berkas yang dibawa kedua belah pihak sebelum menanda tangani semua.
"Kapan kita ada time untuk dinner, Paras?" tanya Sandoro membuat Leo yang mendengar sedikit melirik Paras.
Wanita gendut itu justru sibuk dengan berkas yang akan dia tanda tangani. Cincin berlian pemberian Leo sangat menyilaukan mata Amy sebagai wanita yang menyukai perhiasan yang ada ditubuh Parassani Chaniago.
"Busyeeet, itu harga cincinnya lebih dari seratus juta, kalungnya saja keluaran terbaru. Apakah Leonal sangat memanjakan wanita gendut yang tidak berbentuk ini?" tanya Amy dalam hati.
Dila masuk keruang meeting membawa beberapa makanan dan minuman segar sesuai permintaan Paras.
"Dila, tolong pesenin makan siang yah? direstoran," pinta Paras melirik kearah Leo dan Albert.
Dila menunduk, "Ibu mau order apa?" tanyanya sopan.
Paras bertanya kearah Leo, menatap suaminya dengan tatapan hangat, "Bowl, kamu makan apa sayang?" tanyanya mesra melirik ke Sandoro dan Amy.
"Hmmm, aku spaghetti carbonara saja. Lo mau apa?" Leo melirik kearah Albert dan Amy.
"Eemm, sama saja," jawab Albert santai dengan tersenyum tipis melihat reaksi Amy dan Leo.
Amy wanita panggilan diusia sangat muda, kini harus menjadi wanita simpanan Sandoro tanpa harus ditutup tutupi.
Amy melirik Paras dan Leo, "saya sama saja dengan Mba Paras dan Leonal," senyumnya tipis.
Dila mendekati Sandoro, "maaf Tuan, anda pesan apa?" tanyanya sangat sopan.
Sandoro melirik kearah Paras, "berhubung saya tidak menyukai spaghetti, saya memesan cream soup asparagus dengan roti yang banyak," senyumnya.
Paras tersenyum lebar, "itu saja, tolong tidak pakai lama, karena ada pengantin baru yang sudah berbadan dua," godanya melirik kearah Albert.
Albert Einstein tersenyum tipis, "yang hamil Yani, Paras. Bukan gue," kekehnya.
Paras mengangguk mengerti, "Yaninya mana? perasaan tadi ada ngikutin aku masuk kesini, kok malah ngilang," tanyanya masih celingak-celinguk mencari keberadaan istri Albert.
"Dia dilantai dua delapan, bertemu Sinta," jelas Albert pada Paras.
Amy masih diam seribu bahasa, sesekali matanya melirik Sandoro yang lebih sering menatap Paras daripada dirinya.
Leo yang duduk bersebelahan dengan Paras, selalu menggenggam jemari tangan istrinya, membuat Albert sedikit menggoda pasangan termesum di Langhai.
__ADS_1
Luqman dan Tiwi masuk keruang meeting dengan berbagai drama panjang antara mereka berdua. Perdebatan panjang antara mereka membuat kepala divisi pemasaran itu benar benar kesal.
Paras yang mengetahui gerak gerik karyawannya, hanya diam dan menikmati mereka agar tetap propesional jika dihadapan dengan klien.
Sesekali juga Leo menggoda Luqman dan Albert tanpa peduli dengan semua drama yang diciptakan pagi menjelang siang oleh mereka.
Lebih dari tiga jam Paras berada diruang meeting VIP bersama Leo dan Albert, Sandoro dan Yani. Setelah makan siang, Amy melirik kearah Leo, memberikan sebuah kertas putih sebagai pesan darinya.
Paras yang melihat kejadian itu memilih jalan lebih dulu agar tidak menjadi saksi yang sangat menyakitkan bahkan menyayat hatinya.
"Paras, saya permisi. Nanti sopir akan menjemput airbus dan langsung membawa ke Jogja," jelas Sandoro.
"Ya, silahkan berikan kertas pink ini pada security, nanti mereka yang membukakan pintu sesuai kebutuhan anda Tuan," jelas Paras diangguki oleh Sandoro.
Sementara Leo dan Amy sedikit berbisik-bisik, hingga tidak didengar oleh. Paras mendekati mereka dengan lebih percaya diri.
"Ngomongin apa? kayaknya serius banget sayang, gimana Bowl? kita jadi ke mall? belanja semua perhiasan yang kamu janjikan ke aku," ucap Paras secara terbuka membuat kedua mata Amy membulat besar.
"Hmmm, senang yah. Bahagia terus Mba, hati hati lhoo! Bang Leo banyak yang mau," tawanya mendekati Sandoro.
Paras melirik kearah Leo, "hmmm kalau ada yang mau sama suami saya, sangat bersyukur Mba! gimana enggak, ada yang mengasuh anak kami kembar empat. Jadi saya lebih irit untuk tidak menghabiskan banyak uang membayar pembantu," ucapnya gampang, membuat Amy menelan salivanya.
Sandoro melirik kesal kearah Amy, karena dia mengetahui masa lalu selirnya dengan anak pemilik Langhai Group.
Sementara Albert merangkul bahu Leo agar tetap tenang berhadapan dengan mantan cem cemannya Amy Lee, gadis oriental nan tinggi semampai.
"Kita permisi Bang Leo, next time kita berjumpa lagi, saya senang sekali dapat bertemu dengan Paras yang sangat menarik perhatian," senyumnya.
Leo menaikkan kedua alisnya, merangkul Paras sangat mesra, "dia istri terbaik buat saya dan anak anak saya Pak, kebetulan kami mau keluar, kita deluan yah?" jelasnya, tapi ditahan oleh Albert.
"Tunggu Yani, gue mau ikut. Dia mau beli baju dan perhiasan seperti janji gue sama dia kemaren. Ngeri ngidamnya, masak minta durian Belanda tengah malam, sama kalung berlian kayak Berlin. Gue nggak tahu, gimana coba," cerita Albert dihadapan Amy dan Sandoro.
Membuat telinga Amy semakin tergelitik untuk merayu dua pria mapan yang sudah menikah.
Sekali penggoda, tetap selamanya jadi penggoda, 🤧
Bersambung...
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️
__ADS_1