
Apak dan Amak Paras sangat bahagia mendengar berita kehamilan putri bungsunya. Empat baby saat ini berada di kandungan Paras dengan sangat sehat yang sudah berusia 13 minggu. Lebih kurang memasuki bulan ke 4 memasuki trimester kedua.
Paras menyerahkan seluruh pekerjaan kantor pada Leo, karena tubuhnya semakin tidak kuat mengikuti acara kantor dalam bentuk apapun. Tentu Baros dan Leo kembali fokus mengelola perusahaan dibantu Berlin dan Luqman untuk perjalanan luar kota.
Leo tak pernah meninggalkan Paras yang semakin manja padanya. Dia berusaha memberikan yang terbaik untuk Paras dan baby four yang ada dirahim istri gendutnya itu.
"Aku ke kantor dulu yah Ndut! Ingat, jangan capek capek. Kamu makan yang banyak! Buat baby di dalam sini!" Kecup Leo saat akan berangkat ke kantor.
"Hmmm, aku kangen Bowl! Udah lama kita nggak melakukan itu! Hampir 2 bulan!" Rengek Paras mengusap lembut si unyun dari balik celana levis sang suami.
Leo mel*umat bibir se*xy istrinya. "Kita tanya Fredy dulu yah. Konsultasi! Aku nggak mau kehilangan lagi. Sudah cukup, sekarang saatnya kita berhemat hingga anak kita lahir!" Jelas Leo lembut perlahan menj*ilati leher yang semakin padat.
"Hmm, aku kangen! Sebentar aja!" Isak Paras.
Leo bergegas mengunci pintu kamar mereka agar tidak di dobrak paksa oleh Maride atau Kirai.
"5 menit aja yah! Aku juga rindu sama ini ni!" Leo menunjuk kemudian membuka krakatau Paras yang semakin big seperti buah semangka. Hingga mereka harus memesan khusus br*a untuk Paras di salah satu pembuat be*ha untuk wanita gemuk seperti istrinya.
Leo memulai aksinya, perlahan tapi pasti bermain memanjakan istrinya pagi itu. "Kalau sakit bilang yah Ndut!" Bisik Leo tengah menikmati sarapan diatas krakatau yang besar itu.
"Hmmmfgh, i iya!" Suara Paras semakin terdengar sedang mengatur des*ahannya yang tak tertahankan.
Perlahan Leo memainkan si unyun dibawah sana, menggesek gesekkan sebelum memasuki incubator syurga itu. "Kamu siap sayang?" Bisik Leo menahan tubuhnya diatas Paras.
Paras kembali mel*umat bibir suaminya tanpa berucap, terasa bulu bulu wajah Leo menyentuh pori pori lehernya membuat ga*irah keduanya semakin menggila.
Bleeez,
Unyun mendarat indah menembus incubator mengunjungi baby four di dalam sana dengan penuh keni*kmatan. Perlahan Leo menggerakkan pinggulnya, Paras sangat berg*airah. Dia benar benar lebih agresif. Ingin mengedalikan permainan panas mereka. Leo tak ingin istrinya merasa kecewa, memberi ruang agar Paras memegang kendali permainan.
"Kalau capek bilang yah!" Bisik Leo saat Paras berada diatasnya.
"Hmmm!" Paras memejamkan mata, menikmati siunyun didalam incubator miliknya.
5 menit,
10 menit,
15 menit,
Akhirnya Paras dan Leo mencapai pelepasannya secara bersamaan. Sangat indah rasanya, perlahan Leo membaringkan tubuh Paras agar merasa nyaman.
__ADS_1
"Sakit nggak sayang?" Tanya Leo.
Paras mengusap tubuh Leo yang semakin padat sejak bersamanya. "Nggak, justru baik baik aja." Ucap Paras jujur mencepol rambutnya tinggi.
"Mandi yuuk, aku bantu kamu!" Ajak Leo.
Paras mengangguk, tentu Leo membantu Paras, memandikan istri tersayang dengan penuh perasaan cinta.
10 menit kemudian keduanya keluar dari kamar mandi saling menggoda. Tiba tiba Maride menggedor pintu kamar anak menantunya.
"Leonal, ini udah jam berapa? Nggak ke kantor kamu?" Teriak Maride dari balik pintu.
"Iya, ini udah beres Mami!" Ucap Leo membuka pintu kamar untuk sang Mami.
Saat pintu terbuka, Maride sudah berdiri di depan pintu kamar. "Habis ngapain kalian? Udah jam berapa ini? Sudah jam 10.00 Leonal!" Tegas Maride melihat Paras yang sangat cantik dan segar. Terlihat beberapa kissmark di leher sang menantu, ulah sang putra tersayangnya.
"Biasalah Mami! Udah lama enggak! Kangen lhoo, sama tembem!" Rungut Leo memeluk sang Ibu.
"Kasar kasar kau yah?" Tanya Maride.
"Enggak Mi, lembut banget! Pokoknya baby four aman didalam." Jujur Leo mengusap punggung Maride.
"Ya udah makan cepat! Papi mu sudah menunggu dari tadi sampai tertidur lagi dia di sofa tu!" Jelas Maride menunjuk ke arah Baros yang ternganga sambil mendengkur.
"Leo, cok dulu kau larang mertua kau Ariel no ah tu membersihkan taman kalian! Nanti nggak ada kerjaan Bang Udin tu!" Tegas Maride.
"Mi, biarkan saja! Apak biasa seperti itu. Dia akan pusing jika tidak ada kegiatan! Biasanya dia kan bawa sapi jam segini ke sawah belakang rumah!" Jelas Paras.
"Apa perlu kita beli sapi untuk dirawat Apak mu di depan itu Paras?" Kekeh Maride.
"Mami, ada ada aja!" Kekeh Paras.
Paras menyiapkan bontot untuk Leo agar tidak jajan diluar kantor. Beberapa cemilan dan kopi hitam buatannya sendiri.
Leo menghampiri Paras mengecup punggung tangan Paras mengeluarkan kalung untuk di sematkan ke leher Paras. "Happy birthday Ndut!" Kecup Leo di kening Paras.
Paras terkejut, jujur dia lupa hari ini adalah ulang tahunnya. Tapi Leo mengingatnya. "Makasih Bowl! Kamu sangat romantis!" Peluk Paras pada Leo.
"Makasih apa? Aku yang mesti bilang makasih karena kamu mampu mengandung baby four di rahim kamu tanpa mengeluh saat ini!" Ucap Leo mengusap lembut perut Paras yang semakin membesar.
"Kamu suami terbaik yang dikirim Allah buat aku! Justru dulu aku berfikir aku nggak akan pernah menikah! Rupanya aku menikah sama brondong yang lebih muda tapi dewasa dari aku, duda jelek pula karena bulu mu ini!" Isak Paras dibahu Leo.
__ADS_1
Leo terkekeh geli mendengar kebucinan sang istri. Tidak menyangka wanita yang dulu garang malah sekarang jadi semanja ini padanya.
"Aku berangkat yah! Hari ini enggak sibuk banget di kantor, palingan nanti anak anak makan malam dirumah! Suruh Mba mempersiapkan catering. Kita syukuran tambah usia kamu, sekaligus untuk baby four!" Jelas Leo tidak ingin di bantah.
"Hmmm, kamu nggak usah ke kantor deh! Biar mereka yang kesini aja! Kita dikamar aja ngecek kerjaan!" Jelas Paras merengek manja.
Leo mengusap lembut kepala istrinya, menyematkan kalung yang dibelinya beberapa waktu lalu. "Aku bilang ke Papi dulu! Biar Papi sama Mami aja ke kantor!" Jelas Leo. "Di rumah kan ada Amak dan Apak. Biar Mami yang merepet membantu Mba memesan catering untuk acara nanti malam." Tambah Leo menghampiri Maride dan Baros.
Tentu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi Maride dan Baros atas rencana putranya. "Baiklah, Mamak urus catering dulu! Mamak pesan babi yah!" Goda Maride pada Leo.
"Janganlah Mi, segan ada Apak! Mami makan keluar aja! Aku bayarin, yah?" Pujuk Leo pada Maride.
Maride memeluk putranya, "Becanda Mamak. Seganlah Mamak makan itu bawa kesini!" Kekeh Maride. "Ya udah, jangan lasak kau yah! Mamak nggak mau cucu ku kenapa kenapa lagi!" Tegas Maride.
"Iya Mi! Aku tahan kok!" Ucap Leo mengecup pipi sang ibu.
"Pi, apa kita belikan buat Paras? Dia udah hamil cucuk kita lho!" Jelas Maride sedikit berbisik tapi dapat di dengar oleh Leo.
"Hmmm, apa yah? Mana ku tau! Kita kasih aja satu unit air bus untuk dia!" Ucap Baros.
Maride mengangguk, "villa ajalah di puncak kita kasih mereka! Oya, aku nanti undang Laura dan Willion! Cepatlah, kita bergerak! Sekalian cari kado buat menantuku yang cantik itu!" Ajak Maride menarik tangan Baros.
Kirai menghampiri Maride, "nio kamano besan?" Tanya Kirai.
"Hmmm, nio kakantua kami dulu jeng! Awak nio mandoa beko malam! Leo nio mangundang anak panti asuhan! Jadi kami nio maurus itu dulu yoo jeng!" Ucap Maride.
"Hati hati besan!" Senyum Kirai melihat Maride berlalu.
Maride melihat Faisal masih mengurusi bunga di taman Paras. "Jan panek bana Uda Faisal! Sasak lo angok tu beko!" Kekeh Maride.
Faisal hanya menggeleng, melihat besannya yang super cerewet dan ceria itu. "Alah biaso Ibu Jeng!" Kekeh Faisal membalas menggoda Maride.
"Uuuugh, Ariel no ah! Untung Baros ku lebih tampan, kalau enggak udah ku sikat bapak si Paras itu! Kekehnya dihadapan Baros.
"Mulaaaai!" Bisik Baros disambut tertawa oleh Maride.
πππππππ
Mohon dukungan Like dan Vote pada karya ku, jangan lupa comment yah...π
Setidaknya kalian penyemangatku!
__ADS_1
Tarimokasih, khamsiah, hatur nuhun....π€π₯