
Jakarta memiliki kesan yang indah terutama bagi Paras dan Leonal. Kini mereka telah memiliki baby four yang sangat menggemaskan. Leo yang awalnya main main akhirnya serius ke jenjang pernikahan bersama Paras. Begitu juga dengan Luqman dan Berlin. Awalnya hanya untuk menikmati status single yang sama dan kata nyaman. Kini mereka memutuskan untuk menikah di catatan sipil. Tapi bagi Maride dan Baros ini adalah hal paling menyebalkan.
"Pi, Mami nggak ikhlas lhoo. Baru kemaren kita timang timang Berlin, sekarang udah nikah dia sama Luqman sahabat Leonal!" Sungut Maride di pelukan Baros.
Baros tertawa mendengar rungutan istri tercinta.
"Jangan kesal, mereka menikah karena cinta. Jangan kita buat anak anak merasa bersalah. Mami sangat sayang sama Berlin dan Leo. Kenapa Leo menikah Mami izinin? Berlin Mami ngomel ngomel?" Goda Baros di puncak hidung Maride.
"Hmm, beda Pi! Leo laki laki, Berlin harusnya main main aja dulu, nikahnya nanti." Jawab Maride pada Baros.
Baros menarik nafas dalam.
"Lebih bagus mereka menikah. Mereka sering keluar kota berdua, walau ada Yani. Tetap saja enggak baik." Baros kembali menjelaskan.
Maride mengangguk mengerti, "iya siih." Ucapnya mengecup bibir Baros yang basah.
"Papi lama lama kayak Paras, banyak larangan." Goda Maride terkekeh.
Baros tertawa, "kok Paras, Mi? Dia semakin cantik yah, semenjak ngasih kita baby four. Pandai sekali Leo buat istrinya bahagia." Kekeh Baros.
"Hmmm, mulai! Buat aku cemburu Tuan Baros? Ku cabutin bulu wajahmu nanti pakai pingset, menjerit kau Papi!" Geram Maride.
Baros semakin tertawa lepas, memeluk tubuh istrinya yang padat dan berlemak.
Tok tok tok,
"Ya," Suara Maride lantang.
Paras dan Leo masuk ke kamar Maride,
"Mi, aku titip baby four yah? Kami ke kantor dulu. Ada yang mau di tanda tangani Paras untuk besok." Jelas Leo mendekat ke arah Maride dan Baros.
"Iiiigh, mana cucu ku? Kenapa nggak kalian bawa ke kamar? Biar aku timang timang di sini." Jawab Maride.
"Mereka bobo Mi!" jelas Paras mengambil tangan Maride mencium punggung tangan mertua terbaiknya itu.
"Ya sudah, nanti kami kamar mereka. Aku mau ngasih tahu Maid juga agar mempersiapkan catering siang ini. Kita makan di rumah saja yah Leo. Resepsi di Medan saja." Jelas Maride.
"Nggak apa apa kan? Kita makan makan di rumah mu? Rumah Mami di Bandung." Tambah Maride.
Paras tersenyum, "nggak apa apa Mami! Berlin kan adik ku juga." Senyum Paras.
"Ya sudah, pergilah kalian. Baby four aman sama aku." tegas Maride mengusap lembut lengan menantunya.
__ADS_1
Paras dan Leo berlalu meninggalkan Baros dan Maride yang masih mesra berpelukan.
"Kenapa Paras tidak mau bersalaman dengan ku?" Tanya Baros pada Maride.
Maride menaikkan kedua alisnya, "lebih bagus menghindari aku cemburu!" Kekeh Maride.
Baros semakin menggoda Maride, tentu meminta haknya pagi yang indah itu.
Paras dan Leo menemui Berlin di kamarnya tengah berhias menanti Luqman menjemputnya. Tentu Berlin sangat senang melihat Leo dan Paras.
"Kak, gue takut!" Peluk Berlin pada Leo yang juga mendekap adik satu satunya itu.
Pelan Leo mengusap punggung Berlin, memberi bingkisan kecil untuk adik kesayangan.
"Nih, kado pernikahan dari kami berdua. Selamat yah? Jangan galau. Lo pasti bahagia bersama Luqman karena dia sangat mencintai lo." Ucap Leo.
Berlin tersenyum memeluk erat Leo.
"Gue boleh tinggal di Kalibata?" Pinta Berlin menatap ke Paras.
Leo merenggangkan pelukannya, "boleh dong. Gue senang Lo mau tinggal disana. Dari pada gue jual!" Kekeh Leo.
"Gue akan beri apartemen itu buat Lo dan Luqman." Tambah Leo lagi.
Berlin teriak senang, "serius? Lo nggak bohong ngasih aset Lo ke gue?" Berlin menatap lekat manik mata Leonal agar lebih yakin.
"Kakak, gue senang banget. Makasih yah? Lo buat gue happy banget. Jadi gue fokus renov dikit aja." Ucap Berlin.
"Hmm, gue ke kantor dulu. Habis nikah, Lo langsung pulang. Kita makan makan sama orang kantor. Mami udah siapin catering." Jelas Leo.
Berlin mengangguk senang, "makasih yah kakak ipar ku yang baik." Peluk Berlin beralih pada Paras.
Paras mengusap lembut punggung Berlin.
"Selamat yah. Bahagia selalu. Setidaknya menikah dengan orang yang mencintai kita akan lebih baik." Bisik Paras.
Berlin mengangguk, "ini apa?" Tunjuknya menatap kotak kecil pemberian Leonal.
Leo mengusap kepala Berlin lembut.
"Buka aja, setidaknya Lo pasti suka pemberian gue." Leo menggandeng tangan Paras berlalu meninggalkan Berlin sendiri di kamar.
"Hmm, kebiasaan buat gue penasaran." Ucap Berlin melihat punggung Leo dan Paras berlalu.
__ADS_1
Setidaknya, Paras bukan kakak ipar yang pelit atau bahkan perhitungan. Walau banyak yang bilang orang Minangkabau itu pelit, tapi tidak untuk keluarga Chaniago seperti keluarga Paras.
"Hmmm, sangat menyenangkan." Hehehehe.
Leo dan Paras menuju gedung perkantoran mereka yang tidak begitu jauh dari rumah. Sepanjang jalan mereka tersenyum sumringah, entahlah sangat bahagia menyelimuti perasaan keduanya. Leo terus menggenggam jemari Paras. Sesekali memberi kecupan di punggung tangan yang sudah mulai beraturan besarnya.
"Ndut, makasih yah. Kamu baik banget sama keluarga ku." Ucap Leo membuat Paras sedikit menaikkan alisnya.
"Makasih buat apa?" tanya Paras.
"Hmm, kamu nggak keberatan aku kasih apartemen Kalibata ke Berlin." Jelas Leo.
Paras tertawa, "masak aku mau marah kamu ngasih apartemen sama adik kamu? Kecuali Berlin itu mantan kamu, atau selingkuhan kamu, baru aku ngamuk. Ini dia juga butuh tempat tinggal yang nyaman Bowl, dia juga adik ipar ku. Aku nggak punya adik, buat aku jika kamu bahagia, aku akan sangat bahagia." Jelas Paras panjang lebar.
Leo mengangguk, "kamu memang dewasa dalam berfikir. Tapi manjanya, hmmm... melebihi baby four." Goda Leo.
Paras meletakkan kepalanya di bahu Leo, "aku yang harus bilang makasih sama kamu. Kamu nggak pernah buat aku dan keluargaku kekurangan atau bahkan mengeluh. Aku senang memiliki kamu. Kamu memanjakan aku, anak kita sangat luar biasa. Tapi ingat, kamu ada hutang sama aku satu ronde." Kekeh Paras mengusap lembut wajah berbulu Leonal.
Leo menautkan kedua alis sambil menelan salivanya.
"Kamu udah bersih kan?" Tanya Leo.
Paras mengangguk, "tapi mau bulan madu di Jerman, jadi tahan dulu. Oya... pakai pengaman yah? Aku belum siap hamil lagi Bowl." Rengek Paras.
"Hmm, tambah satu lagi Ndut." Goda Leo.
Paras menggeram, "gila kamu! Baby four masih 2 bulan Leonal. Nggak aaagh, aku mau fokus ngurus Stefan, Steiner, Stevie dan Stela. Cukup empat saja. Jangan berharap lebih. Anak anak sudah sangat sehat dan bahagia. Ini kita berangkat besok aku udah galau gundah gulana. Jangan mikir aku siap hamil lagi." Tegas Paras membuat Leo semakin menggoda.
"Please... satu lagi aja. Biar seru Ndut!" Godanya.
"No!" Tegas Paras.
"Yees." Kekeh Leo.
"Terserah deh, kamu yang ngidam." Rungut Paras geram.
Leo tertawa, geleng geleng kepala mengacak rambut Paras agar semakin kesal.
"Leooo....!" teriak Paras semakin geram.
Bersambung...
___________
__ADS_1
Mohon maaf lambat update-nya... berhubung handphone author minta di Lembiru... Lempar ganti baru...🙄🙏
Jangan lupa Like and Fav... Jika kalian berbaik hati beri vote dong...❤️❤️